NovelToon NovelToon
PENYANGKALAN

PENYANGKALAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Single Mom / Cerai / Cintapertama / Tamat
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Emie_lia

Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?

Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 Terteguh: Ekspedisi waktu

"kakak ayo main ML"

Pesan darinya masuk selancar hembusan angin di sore hari, tanpa rasa menyesal tergurat atau terwakili.

"kakak?"

Aku hanya diam, mengabaikan kolom chat berisik itu.

"kakak!"

"kakak!"

"kakak!"

Spam chat miliknya terus berdatangan secara tumpang tindih.

"Ana, aku mau aktif di nomor satu lagi, terus di nomor ini semuanya mau aku hapus"

"heh, apanya? Jangan aneh-aneh, kamu mau ngapain?"

"gak ada, aku mau seakan ngeblokir nomor dia"

"astaga, iya deh, semangat ya, jangan sedih"

"iya gak papa kok"

Dia adalah salah satu buku yang sudah sangat lama aku tutup, aku bahkan sudah tidak pernah menulisnya kembali, tapi entah mengapa aku selalu penasaran dengan cerita pada lembar sebelumnya, mengapa aku sangat antusias menulis tentang mu, sajakku terpenuhi oleh kata kamu, kamu, dan kamu.

Wahai pembuat sajak nan indah, malamku terlalu riuh untuk mampu aku tangani sendiri, bahkan secangkir kopi yang sudah dingin tidak menjadi alasanku agar beranjak dari tempat ini, aku masih menunggu peristiwa dimana aku menemukan alasan agar bisa menuang kopi hangat kembali.

Oleh karena itu hadirmu adalah sebuah diksi yang mustahil akan pergi, sangat tidak mungkin aku hilangkan dari hidup ini. Walau dirimu secara sederhana bisa dijelaskan dengan kalimat bajingan, aku tetap menginginkan ajang keakraban.

.

.

.

"kak! Kak Pia kemana?"

"hah?"

"kok gak balas chat aku?"

"mana gua tau, emang gak sama elu?"

"tidak kak, dari tadi pesan ku tidak di baca sama sekali, centangnya juga hanya satu, profile kak Pia juga tidak ada, kak pia ke mana?"

"mana gua tau"

"kak, aku di blokir kah?"

"gua kagak tau nailong"

"kak, bagaimana ini"

"lu intropeksi diri deh, ada masalah apa yang buat sahabat gua jadi seperti itu?"

"El terlambat membalas pesan dari kak Pia karena ketiduran?"

"anjir lu kira teman gua se egois itu? Intropeksi diri aja lu kagak bener cok, gimana mau buktikan sama Pia lu sudah berubah?"

"maaf kak, El bingung, El gak tau salahnya yang mana"

"gak tau? Lu bilang ga tau? Lu bego atau gimana?"

"maksud kakak?"

"lu sadar diri lah anjir, siapa cewek yang lu nawa tadi saat pulang? Anak siapa?"

"itu adek Raka kak"

"bohong aja terus, Raka gak punya adek nailong"

"itu sepupu dia kak, El gak bohong sama kakak"

"cok, gini aja ya. Lu pernah mikir ga, alasan kalian bermasalah karena lu milih cewek lain dari pada Pia, lu seharusnya ngerti bahwa cewek lain akan sangat sensitif bagi Pia, lu ngerti kagak sih? yang lu bawa itu cewek cok, kalau Pia pulang bareng sama cowok lain perasaan lu gimana?"

"maaf kak, el tidak sempat berpikir seperti itu kak"

"gak sempat, gak sempat berpikir gimana cok? Yang iya lu gak pernah mikirin perasaan Pia, lu mau enak sendiri, lu melakukan semua sesuka hati"

"El tidak bermaksud..."

"halah bacot, dari dulu lu bilang ga bermaksud, gak bermaksud, tapi masalah lu itu aja"

"kak El...."

"udahlah lu kalau gak sanggup, kalau gak bisa, mending lu mundur dari sekarang. Gua sudah bilang kan kalau lu nyakitin hati Pia gua gak akan tinggal diam"

" El harus bagaimana kak?"

"Menurut lu?"

"kak, tolong El. Bilang sama kak Pia tidak memblokir nomor El lagi kak"

"urusan lu, selesaikan sendiri"

Pada ekspedisi waktu, kembali sawa menyediakan temu, bahkan saat hati menolak ingin bertemu, nada baskara hanyalah berupa melodi lagu.

"Pia?"

Aku kembali menggunakan nomor seperti biasanya, pesan chat dari El terbaca oleh ku, sembari membaca pesan dari guruku, chat ini bukanlah sembarang chat makanya aku mau menukar kembali akun whatsap kedalam nomor utama.

"kamu sudah izin kan kita pergi besok?"

"sudah bu, kata mama tidak masalah"

"baik kita berkumpul langsung di rumah ibu saja ya Pia"

"baik bu"

Lihatlah, padakala aku membaca pesan orang lain, mataku tetap melihat dalam membaca pesan dari dirimu, aku membacanya, dengan mata penuh akan terka, aku sudah tahu apa maksud sang pembicara, hanya saja aku selalu suka mencari-cari adakah tersirat kode rahasia pada kolom chat kita?

Nyatanya, aku hanya bisa mengetahui bahwa sapa mu bukanlah kata cinta, aku selalu salah mengartikan kalimat selamat pagi sebagai bagian dari taman hati. Aku bukanlah salah satu bunga yang ingin kau rawat sendiri, berbeda dengan ku, kau adalah satu-satunya bunga yang tidak akan aku biarkan terasingkan sendiri.

Kita adalah dua buah insan yang terlalu senang berkubang dalam lubang penuh angan, kita terlalu dalam menikmati kalimat kenyamanan, padahal kau menganggapku tidak lebih dari sekadar kakak atau teman.

Aku sudah tau, tubuh ini berlumur harapan palsu, tanganku menggapai-gapai mencari jalan keluar, sedangkan dia mencegahku untuk kemana -mana.

Ketidaktegasan adalah salah satu yang ada di antara aku dan kamu. Kurang ajarkah jika hatiku berharap setiap kali kau menyandarkan deritamu kepada diriku? Walau aku tidak pernah tahu sebenar-benarnya perasaanmu bermukim, menyayangimu adalah soal keikhlasan, bukan keinginan mutlak yang akan memberatkan.

"kak, kakak marah sama El? Kakak El minta maaf, tadi setelah pulang sekolah yang El bawa adalah saudara sepupu Raka kak, tolong jangan marah kak El minta maaf"

Bagiku dirimu adalah sebuah buku, aku menyukainya hingga aku terus menerus membacanya, aku selalu menerka-nerka apakah masih ada aku dalam bab selanjutnya?

Bahkan saat aku disuruh menjelaskan siapa kamu kepada orang lain, aku akan selalu menjawab, dia adalah paragraf terindah dalam kisah bernama hidup yang kerap aku tulis bersama pena bernama kepedihan, walau saat menulis dirinya kataku selalu saja terasa kurang, namun bagiku itu tidak menjadi suatu penghalang. Seperti denting kecil di rongga dada, mustahil bisa aku jelaskan dengan logika, tiada raga mampu menandingi caramu tinggal didalamku , diam, tenang, namun selalu terasa utuh, seakan semesta pernah jatuh cinta lalu menjelma dirimu.

"baiklah, tidak apa, kakak mengeri"

"kakak El benar-benar minta maaf, lain kali El akan bilang terlebih dahulu kepada kakak"

"iya El, terimakasih atas kesadaran kamu, kakak mengerti"

"kakak, El sayang sekali dengan kakak, oleh karena itu kakak tidak boleh pergi seperti tadi lagi"

"kakak tidak pergi, hanya istirahat untuk memperbaiki suara hati"

"kakak harus janji"

Bagaimana aku ingin berjanji sedangkan aku belum yakin apakah bisa menguatkan diri ini, aku memang mencintai namun jika berjuang sendiri mana mungkin pundakku tahan berdiri dalam waktu ribuan hari. Bibirku keluh, tanganku penuh akan peluh, bagaiman mengucapkan iya dengan rasa ragu yang sebenarnya sudah ada dari dahulu kala?

1
Nunu
mantap kak
NOname 💝
El itu cocoknya di buang aja, masukkan ke got
Wolfmoon
Hai kak, ceritanya baguss
Remi: thank you
total 1 replies
❦L͙o͙t͙u͙s͙ E͙m͙a͙s͙❦
ceitanya bagus, walau aku nggak terlalu paham sih
❦L͙o͙t͙u͙s͙ E͙m͙a͙s͙❦: sama²,
selamat berkarya
total 2 replies
Helen
Menggugah perasaan
Poplar Taneshima
Adem ayem baca cerita ini sampe hiatus menuju mesra sama buyer.
Remi: haloww nantikan terus ya chapter selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!