Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Beberapa kali Cici gagal membuat masakan seperti resep itu, tapi gadis itu tak menyerah sampai suatu pagi ia berhasil membuat masakan yang lezat seperti resep yang ia dapatkan dari seorang koki ternama. Cici sampai rela bangun pagi-pagi sekali untuk memasak yang dikhususkan untuk makan siang Justin nanti dikantor. Wajah Cici tampak ceria semeringah sambil menatapi masakan yang telah tersaji diatas meja. Gadis itu membatin.
"Yes! Pasti Justin suka masakan gue, dan gue akan masakin terus setiap hari buat dia, dan perlahan-lahan dia akan bosen sama masakan si Jihan. Disitu gue bisa ngambil hati si Justin!"
Sementara itu Jihan sudah menyelesaikan tugas membuat sarapan untuk suaminya, mereka sama-sama menikmati sarapan pagi dengan harmonis. Selesai menyantap sarapan, Justin mendekati Jihan yang masih duduk di bangku meja makan. Justi mengecup perut jihan yang sudah mengandung tiga bulan. Jihan menunduk tersenyum memandangi wajah bahagia suaminya.
"Cepet gede ya perut kamu sayang, biar cepet dedek bayinya lahir. Aku udah gak sabar jadi ayah!"
"Sabarlah sayang, tahun ini insya allah ada kedatangan anggota baru keluarga kita!"
Justin berdiri dan mengecup kening jihan. Mereka saling bertatap.
"Kamu jaga kondisi ya sayang, biar kandungan kamu sehat!"
Jihan mengangguk dan tersenyum.
Justin bersiap-siap pergi kekantor dengan penuh semangat. Jihan memakaikan sepatu suaminya dan mengalungkan dasi hitam keleher Justin, tak luput ia menepuk-nepuk dada suaminya memastikan kemeja yang dikenakan Justin bersih dan rapih. Mereka lalu berjalan keluar menuju mobil pribadi Justin.
Jihan mengiringi di belakang sambil membawa koper kecil milik suaminya. Seperti biasa Jihan memeluk Justin sebelum berangkat kekantor, setelah ia memberikan koper kerja Justin, Jihan langsung memeluk erat. Kali ini pelukan Jihan terasa lebih lama dari sebelumnya, seolah ada sesuatu yang membuat hatinya kembali bersedih tanpa sebab.
"Sayang, hati-hati kerja yah. Rileks aja jangan terlalu di forsir. Aku selalu menunggu dirumah," ucap Jihan sambil terus memeluk Justin.
"Iya sayang. Kamu tenang aja, cici udah berubah kok! Kamu jangan khawatirkan dia, aku selalu serius bekerja demi masa depan keluarga kita. Lagian Cici juga emang bener-bener niat kerja. Kasihan dia, sekarang sebatang kara, dan cici juga masih saudara aku, jadi aku wajar membantu dia. Pokoknya kamu jangan punya pikiran macam-macam yah!" jelas Justin.
Jihan melempas pelukannya, kedua matanya selalu sayup setiap habis memeluk suaminya.
"Ya sayang! Aku percaya sama kamu." Sahut Jihan.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu yah sayang!"
Jihan mencium tangan suaminya dan lagi, Justin mengecup kening istrinya dengan lembut. Jihan menutup pagar gerbang rumah dan ia masih berdiri memandangi mobil pribadi Justin yang semakin jauh berjalan.
Jam makan siang telah tiba. Cici terkesiap mengambil rantang masakannya yang di taruh di bawah meja kerja. Cici langsung bergegas keruangan Justin yang masih duduk bekerja. Cici merapikan dandanan hijabnya sambil menenteng rantang masakan.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu ruangan itu membuat Justin terkejut, namun ia tetap tenang.
"Ya masuk!"
Cici membuka pintu dan menghampiri Justin.
"Oh, cici. Ada apa?"
Cici tersenyum sambil masih berdiri.
"Ini aku bawain masakan buat kamu makan siang!"
Justin tertegun. Ia melihat rantang yang di taruh oleh Cici diatas meja kerjanya.
"Gak usah repot-repot, aku bisa makan diluar kok! Buat kamu aja," elak Justin.
"Aku masakin ini buat kamu, sekalian aku juga udah misahin buat makan siang aku juga. Please! Makan ya, anggap aja ini tanda terima kasih aku karena kamu udah nerima aku bekerja disini!"
Justin masih berpikir. Untuk menghargai jerih payah Cici, ia pun menerima masakan itu. Cici kembali permisi keluar untuk kembali keruangannya.
"Aku kembali keruanganku, yah. Selamat makan siang, Justin!"
"Oke. Terima kasih yah, ci!"
Cici mengangguk sambil senyum, lalu ia keluar dari ruangan bosnya.
Justin masih ragu untuk menyuap masakan yang di bawa cici. Pelan-pelan Justin menyantapnya, mendadak lidahnya semakin terus ingin mencicipi. Justin merasakan sensasi dari rasakan masakan cici yang begitu lezat dan sedap.
"Wah, enak banget masakan si Cici!" Justin membatin.
Justin memakannya sampai habis bahkan tak tersisa. Ia merasa puas atas masakan Cici.
Mulai hari itu, setiap hari Cici memasak dan memberiknnya untuk Justin makan siang, sehingga lidah Justin semakin terbiasa oleh masakan Cici yang begitu lezat. Dalam kurun satu minggu, serasa ia hanya sedikit makan dirumah. Biasanya
Justin selalu minta tambah, tapi kali ini ia sudah merasa cukup makan satu piring saja. Disitu Jihan mulai merasa ada satu keanehan dalam diri suaminya. Jihan kembali mencoba menyendoki lauk-pauk yang biasa ia sajikan ke piring Justin, tapi Justin menolaknya.
"Udah sayang, cukup. Perut aku udah kenyang banget!"
Jihan sontak sedikit bersedih. Ia coba menguak penjelasan suaminya.
"Biasanya kamu nambah, tapi belakangan ini kamu malah gak mau. Apa masakan aku udah gak enak lagi yah? Atau ada bumbu yang kurang? Bilang aja sama aku sayang!" Ucap Jihan sedikit meratap.
"Ah, enak kok! Aku lagi pengen ngurangin makan aja supaya kondisi tubuh aku tetap stabil. Lagian Allah itu gak suka sama yang berlebih-lebihan termasuk makan!"
Mendengar suaminya berkilah, jihan hanya diam dan pasrah.
Namun, hatinya masih tetap ada keganjalan. Seusai sholat tahajud, jihan berdoa dengan penuh kepiluan disaat Justin masih tertidur.
"Ya allah, jagalah selalu hati suami hamba untuk hamba istrinya. Jauhkanlah ia dari segala godaan. Hanya engkau yang maha tau dan maha pemilik hati siapapun!"
Cici kembali melancarkan rencana yang lain, disaat hati Justin sudah sedikit goyah. Cici bergabung dengn para anggota genk badik yang kini di ketuai oleh Jason. Malam itu mereka berbincang-bincang di kontrakan Cici. Intisari dari obrolan itu adalah membuat prakara dalam rumah tangga Justin dan Jihan.
"Lo intip terus, ketika si Jihan keluar nah lo pura-pura jatoh dari motor pas depan rumah dia. Gapapalah kalo cuma besut dikit doang, nah pasti si Jihan nolongin elu, disitu tugas si Edo buat motoin terus gue suruh salah satu orang kantor patner gue ngasih tau foto ke si Justin, bahwa istriya nerima tamu laki-laki asing tanpa seizinnya. Dan pasti gue yakin rumah tangga mereka pasti akang goyah!" Ujar Cici.
"Goyah si goyah, tapi badan gue yang ancur!" sahut Adil.
"Tenang aja, lo bakal dapet jatah gede dari gue. Muka lo kan belom dikenal si Jihan!" sambung kembali Cici.
"Udah turutin aja, bro. Gua juga puas kalo rumah tangga si Justin sama si Jihan ancur!" Kata Jason ketua baru genk badik.
"Oke dah, gua siap! Kapan kita mulai beraksi nih?" Tanya Adil.
"Besok ..." jawab Cici.
Mereka semua saling tersenyum jahat memandang.