Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pada tahun itu, Universitas Nan dan NTU mengadakan kegiatan sukarela gabungan untuk para mahasiswa.
Yurika sebenarnya tidak terlalu tertarik mengikuti acara semacam itu. Namun teman sekamarnya, Yuki, memaksa dirinya ikut.
Setelah bekerja sejak pagi di bawah terik matahari, panitia mulai membagikan minuman kepada para peserta.
Yuki menerima yogurt dinginnya dengan wajah berseri. Saat itu ia tiba-tiba menyenggol lengan Yurika.
"Coba lihat ke sana."
Yurika menoleh mengikuti arah pandangannya.
"Yang mana?"
"Pria yang memakai sepatu kets putih itu."
Yurika memperhatikan sosok yang dimaksud.
Di tengah kerumunan mahasiswa yang sibuk lalu-lalang, pria itu tampak mencolok tanpa perlu melakukan apa pun.
Matahari siang sangat menyengat. Udara panas membuat banyak orang terlihat lelah dan tidak sabar.
Namun Austin berdiri dengan tenang di bawah sinar matahari.
Rambut hitamnya tertiup angin tipis. Alisnya rapi, bulu matanya panjang dan gelap. Wajah tampannya tidak menunjukkan sedikit pun ketidaksabaran.
Yang paling mencolok bukanlah penampilannya. Melainkan aura tenang yang mengelilinginya, seolah keramaian di sekitarnya tidak mampu mengganggunya sedikit pun.
Yuki mendecakkan lidah kagum.
"Universitas Nan memang luar biasa."
Yurika hanya tersenyum kecil tanpa berkomentar. Tak lama kemudian setiap peserta menerima sebotol yogurt stroberi dingin.
Karena cuaca sangat panas, hampir semua orang langsung membukanya. Namun Yurika hanya memegang botol itu tanpa menyentuhnya.
Yuki memperhatikannya.
"Kenapa tidak diminum?"
"Aku tidak bisa minum rasa stroberi." jawab Yurika.
"Hah?"
Yurika menunjuk tenggorokannya. "Bisa menyebabkan alergi."
Yuki langsung berdiri dan berkata, "Tunggu di sini. Aku cari air mineral."
Setelah temannya pergi, Yurika tetap duduk di bawah tenda sambil menunggu kegiatan berikutnya dimulai.
Beberapa menit kemudian, sebuah bayangan jatuh di depannya.
Yurika mengangkat kepala dan mendapati seseorang berdiri di sana.
Itu adalah Austin, tangannya yang panjang memegang sebotol air mineral dingin yang belum dibuka.
"Minumlah ini." Suara rendahnya terdengar tenang.
Yurika sempat tertegun. Ia tidak menyangka Austin memperhatikannya.
"Oh... tidak perlu, Senior."
"Ini botol terakhir."
Jawaban itu membuat Yurika kehabisan alasan untuk menolak. Perlahan ia mengulurkan tangan.
Saat itulah ujung jari mereka bersentuhan, meski hanya sesaat. Namun entah mengapa, Yurika merasa sentuhan itu jauh lebih jelas daripada dinginnya botol air yang baru keluar dari pendingin.
Ia segera menarik tangannya. Sementara Austin sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah itu hanyalah tindakan biasa.
Setelah memberikan botol air tersebut, ia berbalik dan pergi.
Tidak ada percakapan panjang ataupun senyum khusus dengan makna tersembunyi. Namun entah mengapa, kenangan itu masih tersimpan jelas dalam ingatan Yurika hingga sekarang.
Kembali ke masa kini.
Yurika menatap Austin dengan sedikit heran.
Pria itu berkata santai, "Aku ingat kau tidak minum rasa stroberi."
Kalimat sederhana itu membuat Yurika benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka Austin masih mengingat kejadian bertahun-tahun lalu.
Padahal bahkan dirinya sendiri hampir melupakannya.
"Ya," jawabnya pelan. "Tadi pagi aku bertemu rekan kerja dari departemen pemasaran. Dia memberikannya padaku."
Austin mengangguk singkat. Ia tidak bertanya lebih jauh.
Kemudian ia melirik jam tangannya. "Jangan pulang terlalu malam."
Setelah mengatakan itu, Austin berbalik dan berjalan menuju lift.
Yurika memandangi punggungnya yang menjauh.
Kemeja putih yang dikenakannya terlihat sederhana, tetapi potongan pakaian itu jelas berasal dari merek mahal. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan langkahnya selalu tenang penuh keyakinan.
Entah kenapa, Yurika tiba-tiba teringat pada Livia. Ia tidak tahu bagaimana perkembangan hubungan wanita itu dengan Austin sekarang.
Mungkin mereka sudah semakin dekat atau mungkin tidak terjadi apa-apa.
Yurika segera menggelengkan kepala karna sadar bahwa itu bukan urusannya, yang lebih penting sekarang adalah pulang menghadapi kakaknya.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏