Berawal dari rasa penasaran, hingga berakhir dengan keseriusan. Saat tali cinta semakin kuat, tiba-tiba saja takdir menguji dengan teramat dahsyat.
Zoya dan Dimas, akankah mereka mampu melewati segala rintangan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.18
Sudah satu minggu berlalu dan suasana tiba-tiba saja menjadi Haning baik Dimas ataupun Zoya mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing sambil menata perasaan yang kian rumit belakangan ini.
Semenjak saya mengetahui fakta bahwa ibu Dimas menentang hubungan mereka, perlahan Zoya mulai menepi hingga hubungan yang tadinya terasa hangat kini menjadi hambar.
Pagi ini saja Zoya yang biasanya berangkat kerja bersama Dimas kini memilih untuk memesan taksi online. Dengan raut wajah yang begitu suram dia masuk ke dalam taksi tersebut.
"Biasa ya pak, tapi sebelum ke kantor saya mau ke apotek sebentar."
"Baik, Non."
Taksi itu melaju pergi. Zoya menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah seraya terus berpikir apa yang harus dia lakukan untuk kelanjutan hubungannya dan Dimas.
Setelah beberapa hari ini dia merasa tidak boleh terus diam dan harus mendiskusikan semuanya. Setidaknya hubungan mereka tidak boleh menggantung begitu saja tanpa sebuah kejelasan.
Namun saya bingung harus memulai dari mana karena sudah beberapa hari ini mereka bahkan tidak saling memberikam kabar. Jujur Zoya sangat rindu tetapi entah mengapa dia merasa rindunya telah terlarang.
Mengatakan rindu kepada Dimas seolah menambah harapan yang kian samar tanpa sebuah kejelasan. Namun jika dipendam maka semakin lama rasa sakit itu akan terus menggunung.
Sesampainya di apotek Zoya segera turun dan bergegas masuk. "Mbak tolong obat antasida nya ya."
"Baik, Ada lagi kak?"
"Minyak angin sekalian."
Akhir-akhir ini Zoya bahkan jatuh sakit namun dia tidak memberitahu di dan tetap pergi bekerja. Sakit maag-nya yang sudah jarang kampung kini perlahan mulai timbul lagi karena telat makan dan juga efek dari stres berkepanjangan.
Setelah mendapatkan obat dan membayar Zoya kembali masuk ke dalam taksi untuk pergi ke kantor.
Sementara itu Dimas yang baru saja sampai di kantor langsung bergegas menuju ruangannya. Sama seperti Zoya sudah satu minggu ini keceriaan hilang dari dirinya.
Dia terus bekerja bagai robot tanpa henti demi mengalihkan pikiran. Dia yang biasanya juga sangat ramah kini menjadi pendiam. Semuanya terjadi begitu saja dia juga tidak tahu harus memulai bicara bagaimana.
Dia takut mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan hingga menghindar adalah jalan satu-satunya sampai entah kapan mereka akan siap bicara untuk memperjelas hubungan.
Brak!
Seorang pria berkepala plontos mendekati Dimas raya menggebrak meja dengan raut wajah kesal. "Kenapa laporan kamu berantakan seperti ini? Sudah beberapa hari ini saya melihat kamu tidak konsen dalam bekerja kalau kamu sudah bosan bilang saja dan berhenti dari sini!"
Dimas meraih laporan tersebut sambil berdiri dari posisi duduknya. "Maaf pak akhir-akhir ini saya ada sedikit masalah saya akan perbaiki lagi secepatnya."
"Baiklah saya berikan kamu waktu sampai besok untuk menyelesaikan laporan ini. Dimas Kamu adalah salah satu karyawan yang sebentar lagi akan dipromosikan naik jabatan jadi saya mau kamu tingkatkan kualitas kerja kamu Jangan sampai kendor dan kalah dengan yang lain, mengerti?"
"Baik, Pak."
Pria tadi melangkah pergi meninggalkan meja Dimas. Dimas pun kembali duduk di belakang meja seraya menyandarkan tubuhnya. Sebentar lagi cita-cita yang dia inginkan akan segera tercapai dan jika lengah sedikit saja maka dia akan gagal untuk selamanya."
Dia juga tidak mengerti kenapa kisah cinta dan juga kalinya tidak bisa berjalan beriringan. Dia seolah dipaksa untuk memilih, Tapi sayangnya memilih tidaklah semudah itu karena saya amat berarti baginya tetapi pekerjaan itu amat berarti bagi keluarganya yang menentukan segala harapan padanya.
Tak ingin terus berlarut dengan masalah Dimas mencoba untuk kembali fokus ke layar laptopnya dan mengerjakan tugas-tugas yang terbengkalai.
***
Pukul satu siang, diva baru saja pergi membeli makanan dan dia membeli 2 untuk diberikan kepada Dimas.
Namun sejak tadi dia hanya berdiri di pojok koridor seraya memandangi ruangan tempat Dimas bekerja dari kejauhan.
Rindu yang sudah menggunung rasanya ingin segera dia luapkan namun ego diri seolah menahan agar dia tetap menjauh.
Selang beberapa saat seorang wanita yang bekerja di departemen yang sama dengan Dimas lewat, Zoya pun menggunakan kesempatan itu untuk menitipkan makanan.
"Kharisma Apa aku boleh menitip makanan ini untuk Dimas?"
Wanita berumur 30-an tahun itu mendadak bingung karena biasanya Surya akan langsung masuk ke ruangan namun kali ini nampak berbeda.
"Boleh saja. Tapi kenapa kamu tidak langsung masuk saja biasanya juga kamu dan Dimas makan di dalam ruangan bersama?"
"Oh, aku ... Aku sedikit terburu-buru karena ada pekerjaan jadi tolong ya." Zoya segera mengulurkan tangannya ke hadapan wanita bernama Risma itu.
Risma pun segera mengambil alih kantong berisi makanan dari tangan Zoya. "Baiklah kalau begitu aku akan berikan ini kepada Dimas. Oh ya belakangan ini Dimas terlihat murung apakah kalian bertengkar?"
Zoya tersenyum miris, tanpa harus dijelaskan sekalipun dunia pasti tahu apa yang telah terjadi diantara mereka berdua. Dari mimik wajah dan juga sikap yang tiba-tiba berubah secara signifikan Siapa yang tidak curiga.
"Sebenarnya tidak bertengkar sih hanya saja sekarang sedang fokus ke pekerjaan masing-masing saja. Kalau begitu aku pamit dulu ya Kak terima kasih sebelumnya."
"Iya sama-sama."
Zoya segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Risma langsung mengambil langkah masuk ke dalam ruangan departemen. Dia segera menghampiri Dimas yang masih saja sibuk berkutat dengan berkas dan komputer.
"Dimas jangan kerja terus ingat makan jaga kesehatan," ucap Risma.
"Iya bu saya tahu, Kakak tahu sendiri kan tadi kepala departemen menegur saya karena laporannya acak-acakan jadi mau tidak mau saya harus bekerja keras hari ini untuk menyelesaikan semuanya."
"Kebetulan sekali kalau begitu, karena kamu tidak punya waktu makan ini untuk kamu." Risma meletakkan kantong berisi makanan itu di atas meja kerja Dimas.
Dimas tersenyum saat melihat rekan kerjanya yang begitu perhatian. "Wah ada apa nih kharisma tumben membelikan aku makanan perhatian sekali."
"Bukan aku yang beli tapi pacar kamu si Zoya. Tadi dia berdiri di pojok koridor sambil melihat ke arah ruangan tapi bukannya masuk dia malah menitipkan ini kepada aku, kalian bertengkar ya?"
Sontak saja Dimas segera berdiri dari posisi duduknya. "Sekarang dia di mana?"
"Sudah pergilah tadi sih katanya dia ada keperluan mendadak. Semenjak pacaran kok jadi sering murung ada kendala apa?"
Dimas kembali duduk di kursinya dengan lemas. "Susah untuk dijelaskan sih Kak. Kami semakin serius tetapi malah jadinya begini, entahlah aku tidak bisa berpikir jenis sekarang jadi takut juga untuk menemuinya."
"Ya sudah tenangkan saja dulu pikiran kamu, sekalian nih makan jangan kerja terus."
lanjut yaaa
semoga kalian semua bahagiaaa yaaa
semoga mereka nantinya akan bahagia bersama
lanjut kak
semangat yaaa