Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Salah Faham?
"Aku akan menikahi Meizia, insyaallah."
Hana tercengang, hatinya tercubit meski ia sudah menduga kemungkinan besar inilah jawabannya.
Dalam beberapa detik, raut wajah Hana tampak tegang dan sorot matanya terlihat sangat sedih tetapi di detik selanjutnya wanita itu langsung tersenyum kaku.
"Alhamdulillah kalau begitu," kata Hana. "Semoga Allah merestui cinta kalian, menumpahkan rahmat-Nya dalam pernikahan kalian dan memberikan keturunan terbaik untuk kalian."
Ameer sungguh kehilangan kata-kata mendengar doa dan harapan Hana yang jauh ekspektasinya. Membuat Ameer merasa bersalah tapi sekaligus kagum.
"Terima kasih banyak, Hana," ucap Ameer. "Malaikat akan mengaminkan do'amu untukmu."
"Insyaallah, Aamiin."
Sementara di rumah sakit, Dokter menangani Meizia yang sudah kehilangan banyak darah karena ia terlambat mendapatkan pertolongan. Hal itu tentu membuat Mami Lala takut, bagaimana jika Meizia kali ini tidak bisa diselamatkan lagi?
"Bagaiamana kalau dia mati?" gumam Mami Lala sambil memijit pelipisnya. "Ah, benar-benar bodoh anak itu. Aku sudah bersedia membiarkannya pergi dengan pacarnya tapi dia malah ingin pergi ke akhirat."
"Permisi, Ibu Lala?"
Mami Lala mendongak saat ada suster yang menghampirinya. "Tolong Ibu mengurus administrasi pasien terlebih dahulu," ujar Suster itu yang membuat Mami Lala tampak kesal.
"Apa tidak bisa nanti?" bentaknya. "Aku sedang sakit kepala ini, anakku hampir saja mati," gerutu nya.
"Maafkan saya, Bu, saya hanya melakukan tugas saya," kata Suster itu yang lagi-lagi membuat Mami Lala berdecak kesal.
"Ya sudah."
...🦋...
Saat hari menjelang, seperti biasa Ameer dan kedua orang tuanya akan melaksanakan sholat dan mengaji di musholla. Dan setelah semua kegiatan selesai, mereka pun pulang ke rumah untuk makan malam.
Namun, saat ini Ameer yang merasakan perasaan tak enak di hatinya hanya bisa mondar-mandir di kamarnya. Etah kenapa ia terus memikirkan Meizia, Ameer mengkhawatirkan gadis itu dan bodoh nya Ameer karena baru sadar ia tak punya nomor ponsel Meizia.
"Haruskah aku ke rumahnya?" gumam Ameer. "Tapi tidak mungkin, ini sudah malam. Bisa terjadi fitnah jika aku ke sana."
"Ya Allah, aku mohon tolong jaga dia."
Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu dan suara anak-anak. Ameer langsung bergegas keluar dan seketika matanya berbinar melihat dua anak perempuan yang tersenyum sumringah padanya.
"Assalamualaikum, Om!" sapa kedua anak itu bersamaan.
"Waalaikum salam, Adiba dan Amina." Ameer langsung berlutut untuk mensejajarkan wajahnya dengan kedua keponakannya itu. "Kalian sama siapa, Hem? om tidak tahu kalau kalian akan berkunjung ke sini."
"Sama Ummi," jawab kedua anak itu yang sekali bersamaan. Kedua anak itu suadara sepupu tapi mereka sudah seperti suadara kembar meski usianya berbeda satu tahun. Tetapi mereka berdua memiliki banyak kesamaan dan selalu pergi bersama, tentu saja karena kedua ibu mereka yang juga sangat dekat sejak kecil.
Tak berselang lama, kakak perempuan Ameer yang bernama Shafa datang dan langsung merentangkan tangannya pada Ameer. "Apa, Mbak?" tanya Ameer bingung.
"Peluk dong, sebagai ucapan selamat atas pernikahanmu dan Hana," tukas Shafa yang membuat Ameer terkejut.
"Kata siapa?" pekik Ameer.
"Kata Abi Ummi lah," jawab Shafa yang tampak girang.
"Mbak, tadi siang aku sudah memberi tahu Hana kalau aku tidak bisa menikahinya," ucap Ameer penuh penekanan dan tentu itu membuat sang kakak terkejut.
"Apa maksdumu? Baru tadi sore Ummi telfon kami dan meminta kami datang ke sini untuk membicarakan pernikahan kalian, Ameer."
Ameer hanya bisa tercengang sementara tak lama kemudian terdengar suara sang ibu yang memanggilnya untuk makan malam.
"Sebaiknya kita makan dan setelah itu baru bicarakan ini," kata Shafa. "Ayo anak-anak! Kita makan sekarang!"
Adiba dan Amina langsung menggendong tangan Shafa dan mereka pergi ke meja makan, sementara Ameer masih berdiri di tempatnya dengan pikiran dan perasaan yang semakin kacau.
"Ameer?"
Kembali terdengar suara sang ibu yang membuat Ameer langsung bergegas menghampirinya.
Di meja makan, sudah ada kakak perempuan Ameer yang lain yaitu Marwa. Sama seperti Shafa, kakaknya itu hendak memberikan ucapan selamat pada Ameer tapi Shafa langsung memberinya isyarat untuk diam.
"Kenapa lama sekali, Ameer?" tanya Ummi Nayla saat Ameer duduk di sisinya. "Tidak biasanya kami harus memanggil kamu berulang kali seperti ini untuk makan."
"Maaf, Ummi," hanya satu kata itu yang bisa Ameer ucapkan.
"Oh ya, Abi sudah bicara dengan abinya Hana tentang pernikahan kalian."
"Maaf aku menyela, Abi," ucap Ameer dengan cepat. "Tapi aku rasa terjadi kesalah pahaman di sini." Ameer berkata dengan sangat hati-hati. "Aku sudah berbicara dengan Hana tadi siang, kami—"
"Kami tahu," potong Ummi Nayla. "Tapi kami rasa kamu yang salah mengartikan perasaanmu pada wanita itu, mungkin kamu hanya bersimpati padanya."
"Aku mencintainya, Ummi," lirih Ameer.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Shafa sebagai kakak tertua mulai bersuara, ia melihat ada kejanggalan dengan keadaan keluarganya ini.
"Dia ingin menikahi wanita pilihannya sendiri," jawab Abi Zaid. "Tapi kami tidak bisa merestuinya karena ...." Pandangan Abi tertuju pada kedua cucu perempuannya, tentu ia tak ingin mereka mendengar kata-kata yang tak pantas.
"Karena apa?" tanya Marwa.
"Dia seorang wanita malam," jawab Ameer yang membuat kedua kakaknya itu terbelalak.
"Astagfirullah, Dek, bagaimana bisa?" pekik Marwa
Ameer hanya menggeleng, sebab ia memang tidak tahu bagaimana bisa semakin ia mengenal Meizia ia justru semakin mencintainya.
"Sekarang kalian mengerti kenapa kami masih memilih Hana sebagai pendamping Ameer?"