"1 salah 5 ciuman"
"Enak aja lo,gak gue gak mau!"
"Terserah"
"Ehh lo mau apa!?"
"Ngelaporin lo ke pak bima"
"Ehh setan jangan! iya udah iya! gue mau"
***
Fika lavina maureen. murid yang terkenal bodoh dalam pelajaran matematika, nilai nya yg selalu anjlok dan jauh dari kkm, membuat dirinya harus les privat matematika bersama seorang murid yg terkenal pintar, namun seorang itu tak lain adalah tetangga nya sendiri.
Arkan keano. tetangga Fika, menurut Fika sifat Arkan berbeda dengan nya, jika Arkan disekolah sangat sangat menyebalkan, namun bersama dirinya sifat nya berubah total.
lalu bagaimanakah kisah kedua nya?
apa mungkin mereka tidak menjalin hubungan?
"SUMPAH SUMPAH GUE BAKAL STRESS!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aniya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Cembokur bukan cemburu
Pffftt..
Suara kekehan dari Meta.
“Saya Arkan dok” suara seseorang dari belakang. Semua menghadap ke arah sosok tersebut.
“Ohya? Anda bisa masuk, kalian yang lain tolong menunggu dan masuk dengan bergiliran” jelas dokter.
Arkan langsung masuk, tak melihat wajah Aland yang
nampak emosi. Tatapannya langsung mengarah ke Fika.
“Ar..kan” ngigau Fika.
“Iya gue” lirih Arkan.
“Ar..kan”
“Sssttt gue disini” ucap Arkan, ia mengelus kepala Fika dengan lembut.
Seketika Fika membuka matanya perlahan. Mata
sayunya langsung menatap wajah Arkan dari dekat.
“Arkan…” lirih Fika , suaranya yang lesu.
“Gue disini.. lo istirahat aja” ucap Arkan, Fika menutup matanya perlahan, namun suara gebrakan pintu di dobrak dengan keras.
Aland menendang pintu itu dengan keras, di luar dia mengunggu dengan sangat khawatir. Namun saat melihat dari kaca pintu ruangan Fika, posisi Arkan dan Fika yang seakan-akan mereka tengah berciuman.
Seketika Aland menarik bahu Arkan dan menonjok pipinya yang masih lebam.
“Aland!” teriak Fika, Aland menegok ke arah Fika, mendekati Fika.
“Fik lo gak papa?” tanya khawatir Aland.
“Lo kenapa mukul Arkan!” Teriaknya.
“Fik gue gak..”
“Mending lo pergi!” ucap Fika memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Fik--” bujuk Aland.
“Dia nyuruh lo pergi, mending lo pergi” ucap Arkan, memegang pipinya yang terasa nyeri. Jika saja tidak di rumah sakit, pasti ia akan membalas pukulan Aland.
“Ini semua gara-gara lo bangsat!” tuduh Aland.
Setelah Aland pergi, Arkan mendekati Fika.
“Lo mau ngapain?” tanya Fika menatap Arkan.
“Gue.. Pak Bima bilang sama gue, les privat lo sama gue masi lanjut. Gue pergi… gue cuma mau ngasi tau itu doang, nggak bermaksud ngehawatirin keadaan lo” balas Arkan.
“Ar..kan” panggil Fika pelan. Arkan membalikkan tubuhnya, mengernyitkan dahinya dan menaikkan satu alisnya.
“Makasi..” ucap Fika, Arkan tersenyum.
Arkan senyum!! Gila manis bangettt. Batin Fika. Baru kali ini gue ngeliat dia senyum, mana ikhlas lagi ngasih tuh senyum.
“Senyumnya jangan manis-manis dong, ntar diabetes gue” keluh Fika dengan kekehan tawanya, dibalas kekehan dari Arkan.
Fika dipulangkan ke rumahnya, begitu pula Arkan. Karena luka di wajahnya yang mulai memar, Aland? Ia tetap melanjutkan pelajarannya di sekolah, namun tadi saat Aland juga ingin izin pulang ke rumah, ia tidak diperbolehkan.
Mama Fika membawa makanan, bukan makanan melainkan bubur!
Fika benci itu, rasanya tidak enak, tidak ada rasa!
“Sayang, kok kamu bisa gini?” tanya Mama Fika (Mona).
“Mah..?”
“Hm?” dehem Mona sambil mengaduk-aduk bubur yang dibawanya. Saat ingin menyuap Fika, Fika menggelengia menutup rapat-rapat mulutnya.
“Gak enak Mahh..” lirihnya.
“Biar kamu cepet pulih lagi sayang.. ntar ngga bisa ketemu Arkan lagi lohh” goda Mona.
“Mamaa apaan sih..” kesel Fika. Ntah kenapa pipinya memerah, bahkan ia lupa bahwa ia sudah memiliki pacar.
Tingnung…~
Suara bel rumah Fika.
“Kamu tunggu sini biar Mama yang Buka, abisin buburnya” ucap Mona.
Abisin? Yakin? Punya ide gue! Batinnya dalam hati.
Sambil mengarah ke jendela. Saat Fika hendak namun dan berjalan ke arah jendela, seseorang membuka pintu kamarnya. Aiihh ketauan!
“Mama gak kok Ma… Fika mau makan nih liat Fika makan.. Beeeehh enak mahh” ucap Fika lain dengan ekspresinya yang merasakan tidak enak rasanya.
“Fika…Fika..”
Kok suara cowo? Jangan-jangan Mang Dadang!
Fika menegok kearah belakang dan melihat lelaki yang saat ini sudah menjadi pacarnya. Aland.
“Aland?” kejut Fika.
“Iya gue.. gue bawa buah buat lo, makan gih” ucapnya menyodorkan plastik yang berisi buah-buahan.
“Hm.. makasih, kok lo tiba-tiba dateng ke rumah gue? Ada apa?” Fika menerima plastic tersebut.
“Ketemu pacar sendiri emang gak boleh?” ehh!? Oohya.. gara-gara tantangan itu.
“Hehe.. seharusnya kabarin gitu, kalo mau kesini”
“Biar surprise, sini biar gue suapin” Aland mengambil alih piring yang berisi bubur.
“Egh gaak us--”
“Am..”Aland langsung memasukkan bubur ke dalam mulut Fika.
"Lo gimana udah gak papa?"
"Gue gakpapa kok"
"Liat aja gua akan biarin Melva berbuat seenaknya sama lo" ucap Arkan.
"Jangan.. dia temen gue, ini masalah gue, gue gakpapa"
Dari arah jendela kamar Fika, seseorang menatap Aland dan Fika, orang itu tak lain adalah Arkan.
Jendela kamar Arkan dan Fika memang berhadapan.
Fika menganggapnya keberuntungan. Sebab dulu ia pernah melihat Arkan pagi-pagi hanya memakai handuk yang dililitnya, pada saat itupun Fika baru bangun tidur.
Asupan pagi! Batinnya.
Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel Fika.
Arkankeano_ ke rumah gue cpt.
serahknlah mlikmu kpda yg brhak n yg sdah halal.