Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Aku bukan gadis lagi, Karena suamiku.
Malam itu adalah malam yang paling panjang, panas, dan menyakitkan sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Nayla. Ia menyerahkan segalanya, kehormatannya, hatinya, dan masa depannya kepada pria itu. Namun di tengah kebahagiaan itu, ada kesedihan yang menyelinap di hatinya. Ia tahu, Ethan mungkin menganggap semua yang terjadi semalam hanyalah akibat pengaruh alkohol dan keinginan sesaat. Padahal bagi Nayla... ia telah memimpikan hal ini sejak lama — disatukan dengan pria yang dicintainya seutuhnya. Namun kenyataan ternyata jauh dari harapan.
Saat matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, Nayla telah terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa pegal dan lelah luar biasa. Ia menarik selimut yang masih menyelimuti tubuh mereka berdua, lalu menoleh ke samping. Di sana terlihat punggung lebar Ethan yang masih tertidur pulas, memunggunginya.
Nayla menahan tangisnya. Perlahan ia turun dari ranjang. Pakaian yang dikenakannya semalam tak tampak di mana-mana. Setiap langkah yang diambilnya terasa menyakitkan. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Ia membiarkan air dingin dari pancuran jatuh membasahi seluruh tubuhnya yang menggigil. Hatinya terasa perih dan hancur. Karena semalam... Ethan telah melanggar perjanjian mereka. Dan kini... ia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
.****
Semalam adalah malam yang paling menyakitkan sekaligus paling membara seumur hidupnya. Sebab, untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana seorang pria menyentuh tubuhnya hingga ke bagian terdalam. Dan hatinya terasa perih...
Nayla Atmaja bersedih. Karena semua itu terjadi dengan Ethan Spencer Argantara, pria yang pasti hanya menganggap kejadian semalam sebagai sebuah kesalahan belaka.
Padahal, sejak lama Nayla memimpikan hal ini, menyerahkan kesuciannya kepada pria yang dicintainya seutuhnya. Namun kenyataan malam itu jauh dari impian yang dia bayangkan.
Saat matahari baru saja menyingsing di ufuk timur, Nayla terjaga dari tidurnya. Tubuhnya terasa begitu lemas hingga nyaris tak sanggup beranjak. Dia meremas selimut yang menyelimuti tubuh telanjangnya, menatap ke bawah dengan perasaan hancur bercampur malu.
Dia menoleh ke samping. Di sana, punggung lebar Ethan masih terbaring tenang dengan napas yang teratur, tidur memunggunginya.
Nayla meringis pelan. Perlahan dia membuka selimut putih yang melilit tubuhnya dan turun dari ranjang. Matanya berkaca-kaca melihat pakaian yang dikenakannya tercecer ke mana-mana. Dengan langkah gontai dan gemetar, dia berusaha menguatkan diri berdiri. Setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya saat ia meringis menahan nyeri luar biasa yang menjalar dari bagian paling pribadinya.
"Aduh ahhk..." Dia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, seakan-akan dirinya adalah korban yang baru saja diperlakukan dengan kasar. Aneh rasanya, bagaimana mungkin seorang istri merasa seperti diperkosa oleh suaminya sendiri? Namun di sisi lain, jujur saja, dia juga ikut hanyut dalam kenikmatan semalam. Mungkin karena pengaruh suasana, atau karena sama-sama kehilangan kendali.
Di dalam kamar mandi, Nayla menyalakan keran air dan bersandar lemas di dinding.
Air mata kembali jatuh membasahi wajahnya. Hatinya terasa semakin perih. Ethan telah melanggar perjanjian mereka. Dan masa depan yang ia bangun dalam angan-angan seakan runtuh seketika.
"Ibu... Ayah hiks~..." isaknya pelan.
Kakinya lemas tak bertulang. Dia jatuh terduduk di lantai kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur seluruh tubuhnya hingga menggigil, namun tak ada yang mampu mendinginkan kepedihan yang meremukkan hatinya.
***
Flashback Mulai---
Sementara itu, Ethan tampak kehilangan kendali atas akal sehatnya. Entah karena pengaruh dari minuman atau dorongan naluri yang meluap-luap, dia seakan berubah menjadi sosok yang tak kenal ampun, begitu lapar menyentuh tubuh mungil di bawahnya.
Penolakan Nayla tak ia gubris sedikit pun. Dia hanya menuruti hasrat yang membakar dadanya, melakukan apa saja yang menurutnya mampu memuaskan diri sendiri, sekalipun caranya terasa kasar dan menyakitkan bagi gadis itu.
"Berhentilah... kumohon... ini salah..." isak Nayla di sela napasnya yang memburu.
"Diamlah... nikmati saja," desis Ethan berat di telinganya. "Kau bilang tidak mau, tapi tubuhmu justru merespon baik aku..."
Nayla menggeleng ketakutan. Dia berusaha meronta namun tenaganya tak berdaya. Tubuhnya terasa lemas sepenuhnya setelah dilanda gelombang kenikmatan berkali-kali sebelumnya. Kini Ethan tampak semakin tak terkendali, seakan akan melahapnya bulat-bulat.
"Mengapa begitu sulit sekali ini?"
Nayla menjerit tertahan saat kedua tangannya diangkat ke atas kepala. Ethan meraih selembar kain dan mengikat kedua pergelangan tangan itu dengan kuat namun tak menyakiti kulitnya. Karena Nayla terus berusaha menahan gerakannya, setelah memastikan ikatan itu cukup kuat, Ethan kembali menunduk menyusuri leher jenjangnya, lalu menciumi kedua puncak yang menggoda itu dengan penuh gairah.
Perlahan dia mengarahkan dirinya tepat di antara kedua paha Nayla yang dibukanya lebar-lebar. Nayla tak lagi mampu melawan. Desahan halus lolos dari bibirnya karena rasa nikmat itu kembali menyapu kesadarannya. Dadanya naik turun, tubuhnya melengkung tak menentu seakan punya kehendak sendiri. Otaknya berteriak menolak, namun tubuhnya justru menyambut setiap sentuhan pria itu.
"Di sana... jangan berhenti..." desahnya tanpa sadar. Ethan menyadari hal itu dan tak menyia-nyiakannya. dia mengeratkan ciuman di puncak lembut itu hingga basah oleh liurnya, sementara tubuhnya bergesekan di bagian paling sensitif Nayla, memanaskan suasana hingga titik puncak.
Meski kepalanya terasa pening karena alkohol, Ethan tetap sadar sepenuhnya. Dia tahu betul siapa wanita yang kini mendesah halus di bawah kuasanya, membangkitkan hasrat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Kamu begitu sempit ahhh.." Dengan satu dorongan...
"Ahhh!! Sakit!!"
Nayla menjerit, dengan tubuhnya menegang kaku. Rasa nyeri yang luar biasa menyergap, seakan bagian dalam tubuhnya terbelah dan robek. Darah pun menetes di sana.
Ethan menarik napas panjang. Dia tak peduli jika besok pagi gadis itu membencinya seumur hidup. Yang penting malam ini dia puas. Dan malam ini... Dia telah mengambil sesuatu yang paling berharga milik Nayla.
Itu adalah yang pertama kalinya. Catat itu.
Ethan merasa luar biasa. Selama hidupnya dia telah berganti-ganti wanita, namun baru kali ini dia merasakan kehangatan yang begitu sempurna dari seorang gadis yang masih perawan dan belum pernah disentuh pria mana pun.
Dengan napas memburu, dia mulai menggerakkan tubuhnya, melampiaskan segala hasrat yang meluap-luap.
"Sempit sekali... dan nikmat..." gerutu Ethan di sela desah napasnya yang berat.
Dia tak peduli air mata yang mengalir deras di wajah Nayla. Dia terus melangkah dengan iramanya sendiri, membiarkan tubuh gadis itu terguncang hebat di bawah sentuhannya yang penuh gairah.
Flashback Selesai
***
Ethan terjaga dari tidurnya saat Nayla selesai membersihkan diri. dia melihat gadis itu berjalan ke arah lemari dengan tubuh dan rambut yang masih basah, hanya terbalut handuk putih. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir Nayla. Begitu pula Ethan, dia hanya diam mematung menatap punggung mungil yang semalam menjadi miliknya sepenuhnya.
Nayla melepas handuknya tanpa ragu, memperlihatkan tubuhnya yang masih basah dan polos di hadapan Ethan. Dia mengenakan pakaian dalam berwarna hitam lalu mulai memakai kemeja biru mudanya. Ethan terpaksa memalingkan wajah, takut jika dia kembali kehilangan kendali melihat keindahan tubuh yang begitu memikat.