NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bupati Terpilih

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Malam ini saya berdiri di sini bukan sebagai orang yang paling hebat, bukan pula sebagai orang yang paling kuat. Saya berdiri di sini karena Allah menggerakkan hati masyarakat untuk memberi saya satu kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan bahwa politik tidak harus selalu dibangun dengan ketakutan, tekanan, atau kepentingan pribadi.

Kemenangan ini bukan kemenangan saya pribadi. Ini kemenangan masyarakat yang selama ini hidup dalam kesulitan namun tidak pernah berhenti berharap akan perubahan. Ini kemenangan para petani, pedagang kecil, buruh, guru, pemuda desa, ibu-ibu yang setiap hari berjuang untuk keluarganya, dan semua orang yang selama ini merasa suaranya tidak pernah benar-benar didengar.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang tetap berada di sisi saya saat keadaan paling sulit. Kepada keluarga saya, kepada tim kecil yang tidak meninggalkan perjuangan ini meski banyak yang memilih pergi, kepada para pemuda dan pemudi yang bergerak dari kampung ke kampung menjaga harapan tetap hidup, dan kepada masyarakat yang berani percaya meski saya datang tanpa kekuatan besar di belakang saya.

Saya tahu, banyak fitnah, keraguan, dan serangan yang mewarnai perjalanan ini. Tetapi malam ini saya tidak ingin membalas semua itu dengan kebencian. Saya ingin mengajak kita semua untuk memulai lembaran baru. Karena setelah pemilihan selesai, tidak ada lagi kubu-kubu yang harus dipertentangkan. Yang ada hanyalah satu tanggung jawab bersama: membangun daerah ini agar lebih adil dan lebih baik untuk semua.

Saya ingin mengingatkan kembali apa yang pernah saya katakan kepada masyarakat: beri saya satu kesempatan, maka akan saya buktikan. Dan malam ini saya ulangi janji itu di hadapan seluruh rakyat. Jika suatu hari saya tidak menjalankan amanah ini dengan jujur, jika saya lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat, maka saya siap ditegur, saya siap dikritik, bahkan saya siap mundur dari jabatan ini.

Saya tidak ingin dikenang sebagai penguasa. Saya hanya ingin dikenang sebagai pelayan masyarakat yang berusaha bekerja dengan bersih dan sungguh-sungguh.

Perjuangan kita belum selesai. Justru baru dimulai malam ini. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

***

Suasana rumah besar keluarga itu dipenuhi tawa dan rasa lega setelah pengumuman kemenangan Rasyid sebagai Bupati terpilih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama keluarga mereka kembali disebut dengan kebanggaan, bukan dengan luka kegagalan masa lalu.

Di tengah perayaan itu, Rasyid melangkah perlahan menuju neneknya yang duduk dikelilingi keluarga besar dari pihak ayahnya, lalu suasana perlahan menjadi tenang ketika ia berbicara dengan suara yang dalam namun penuh penghormatan.

“Nek, seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sudah memenuhi janjiku untuk menang menjadi Bupati,” ucap Rasyid pelan. “Aku sudah buktikan kalau aku bisa setara dengan Kakek. Semoga ini bisa mengobati luka hati keluarga besar atas kegagalan ayahku.”

Beberapa anggota keluarga saling berpandangan, karena mereka tahu betul betapa berat beban yang selama ini dipikul Rasyid demi memulihkan nama ayahnya yang pernah gagal memenuhi harapan keluarga besar. Namun sebelum suasana benar-benar tenggelam dalam haru, Rasyid kembali melanjutkan kata-katanya, kali ini dengan nada yang lebih personal dan rapuh.

“Sekarang… izinkan aku membawa ibuku kembali ke rumah ini,” katanya sambil menatap neneknya langsung. “Aku ingin melanjutkan hidup sambil membersamai ibu.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Tidak lagi tentang politik, kemenangan, atau nama besar keluarga, tetapi tentang seorang anak yang selama ini diam-diam menyimpan keinginan sederhana untuk mengembalikan kehormatan ibunya ke tempat yang pernah meninggalkannya.

Mata nenek Rasyid mulai berkaca-kaca, tangannya gemetar pelan saat memandang cucunya yang kini berdiri bukan hanya sebagai penerus nama besar keluarga, tetapi juga sebagai anak yang berusaha menyembuhkan luka lama yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar selesai.

Malam itu juga, tanpa menunggu hari berganti, Rasyid langsung berangkat menuju rumah ibunya di kampung terpencil yang selama ini menjadi tempat perempuan itu bertahan hidup dalam sunyi dan kesederhanaan.

Di sepanjang perjalanan, dadanya dipenuhi perasaan yang sulit ia bendung, karena setelah bertahun-tahun akhirnya ia bisa menjemput ibunya kembali ke rumah besar keluarga ayahnya, tempat yang sebenarnya menjadi hak perempuan itu sejak awal, tempat yang dahulu harus ia tinggalkan dengan luka yang tidak pernah benar-benar diceritakan kepada siapa pun.

Setelah ayah Rasyid meninggal dunia, ibunya diusir secara halus maupun terang-terangan dari rumah itu, dipaksa pergi ketika dirinya sedang berada di titik paling rapuh sebagai seorang istri sekaligus ibu muda, namun perempuan itu tidak memilih melawan atau membalas kebencian dengan kebencian.

Ia justru pergi dengan kesabaran yang nyaris mustahil dipahami, menerima hidup jauh dari kemewahan dan nama besar keluarga demi menjaga masa depan anak semata wayangnya agar tidak ikut hancur oleh konflik keluarga.

Bahkan ia rela berjauhan dari Rasyid dalam waktu yang panjang, menahan rindu seorang ibu agar anaknya tetap punya kesempatan tumbuh dan diterima di lingkungan keluarga ayahnya. Dan kini, setelah semua perjuangan itu, Rasyid datang bukan lagi sebagai anak kecil yang tak berdaya, melainkan sebagai seorang pemimpin yang akhirnya mampu menepati janji paling penting dalam hidupnya: mengembalikan kehormatan perempuan yang telah melahirkannya.

Ketika Rasyid tiba, rumah kecil itu masih diterangi lampu redup seperti biasa. Ibunya yang sedang melipat pakaian tampak terkejut melihat kedatangan anaknya malam-malam seperti itu, namun sebelum sempat bertanya banyak, ia langsung melihat sesuatu yang berbeda dari wajah Rasyid malam itu, bukan lagi kelelahan karena perjuangan, melainkan kebahagiaan yang tertahan terlalu lama.

“Ibu…” suara Rasyid bergetar pelan.

Perempuan itu mendekat, menatap putranya dengan cemas sekaligus lembut. “Kenapa datang malam-malam begini, Syid?” tanyanya pelan.

Rasyid tersenyum kecil, tapi matanya mulai memerah. “Aku datang untuk menjemput Ibu pulang.”

Ibunya terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat tubuhnya membeku sesaat. Ia seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Pulang?” ulangnya lirih.

Rasyid mengangguk perlahan. “Ke rumah keluarga Ayah. Ke tempat yang memang seharusnya jadi rumah Ibu.”

Mata perempuan itu langsung berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah meminta kembali ke rumah itu, tidak pernah menuntut haknya, bahkan tidak pernah membiarkan luka lama mengubah cara ia membesarkan Rasyid.

Ia memilih hidup sederhana di tempat terpencil, menerima nasib dengan sabar, dan hanya berharap anaknya tumbuh menjadi lelaki baik. Tapi malam ini, semua kesabaran panjang itu seperti akhirnya menemukan jawabannya.

“Ibu tidak perlu tinggal sendiri lagi,” lanjut Rasyid sambil menggenggam tangan ibunya erat. “Sekarang biar aku yang menjaga Ibu.”

Air mata perempuan itu akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena rumah besar atau nama keluarga yang akan ia dapatkan kembali, melainkan karena anak yang dulu ia relakan jauh darinya demi masa depan, kini datang kembali sebagai lelaki dewasa yang tidak melupakan pengorbanannya sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!