NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Hadiah yang Tak Pernah Datang

Dua puluh empat jam sebelum hari ulang tahunnya, dunia Alea terasa seperti sedang diselimuti oleh debu bintang. Ia tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali menatap layar ponselnya. Bima, pria yang tadinya menjadi mimpi buruk, namun kini telah berubah menjadi pusat gravitasinya, mengirimkan sebuah video singkat. Video itu menunjukkan persiapan di Grand Ballroom hotel termewah di kota tersebut.

Dalam remang cahaya konstruksi, Alea bisa melihat ratusan pekerja yang bergerak gesit memasang dekorasi Winter Wonderland. Kristal-kristal gantung menyerupai tetesan es abadi tampak gemerlap, dan ribuan mawar putih sedang ditata untuk menutupi setiap inci sudut ruangan.

"Pesta impianmu sedang dibangun, little bird. Besok, seluruh dunia akan tahu siapa ratu yang paling bersinar. Tidurlah, aku tidak sabar melihatmu besok malam."

Alea memeluk ponselnya ke dada, merasakan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung. Segala keraguan yang sempat ditanamkan Revan di kepalanya menguap begitu saja. Baginya, tidak mungkin seorang pria yang memberikan perhatian sebegini besar memiliki niat jahat. Bima adalah pahlawannya, paman manisnya yang telah kembali.

Tepat di pagi hari ulang tahunnya yang ke-19, Alea terbangun oleh aroma mawar yang sangat kuat. Di samping tempat tidurnya, seorang pelayan rumah berdiri dengan nampan perak. Di atas nampan itu terdapat sebuah kotak beludru hitam kecil dan sekuntum mawar merah yang masih berembun, seolah baru saja dipetik dari surga.

Alea membuka kotak itu dan terkesiap. Sebuah kalung berlian dengan mata berbentuk tetesan air mata berkilau indah di sana. Namun, bukan perhiasan mahal itu yang membuat air matanya menggenang, melainkan kartu ucapan yang terselip di balik tangkai mawar.

"Selamat ulang tahun, cintaku. Hari ini adalah awal dari segalanya. Kenakan ini, dan tunggu aku di pesta nanti malam. Aku mencintaimu lebih dari yang bisa kau bayangkan. - B"

Kata-kata "awal dari segalanya" dan pengakuan "cintaku" membuat Alea merasa seolah ia baru saja mendapatkan kunci menuju kebahagiaan abadi. Ia menghirup aroma mawar itu dalam-dalam, memejamkan mata, dan berbisik pada udara kosong, "Aku juga sangat mencintaimu, Uncle."

Malam harinya, kemegahan pesta itu benar-benar melampaui imajinasi Alea yang paling liar. Ia tampil memukau, hampir tidak nyata, dalam balutan gaun perak yang berkilauan di bawah ribuan lampu kristal. Rambut pirangnya ditata dengan elegan, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung pemberian Bima.

Musik klasik mengalun lembut memenuhi ruangan yang penuh dengan bunga dan dekorasi es. Para tamu dari kalangan elit, kolega bisnis ayahnya, hingga teman-teman kampusnya hadir memberikan selamat.

Alea berdiri di tengah panggung megah, menerima pujian demi pujian. Ia tertawa, ia berdansa dengan ayahnya, dan ia sempat berbincang singkat dengan Revan yang menatapnya dengan tatapan sedih namun takjub.

Namun, seiring berjalannya waktu, kegembiraan yang meluap di dada Alea mulai terkikis oleh rasa gelisah. Matanya tidak pernah berhenti bergerak ke arah pintu besar ballroom setiap kali ada tamu baru yang masuk.

Satu jam telah berlalu sejak acara dimulai. Dua jam. Hingga tiba saatnya bagi Alea untuk berdiri di depan kue ulang tahun bertingkat lima yang megah, sosok pria bertubuh tinggi dengan aura dominan yang sangat ia rindukan tak kunjung menampakkan diri.

Alea mencoba menghubungi ponsel Bima diam-diam di sela-sela acara, namun hanya suara operator yang menjawab, datar dan dingin. Nomor itu tidak aktif. Kecemasan mulai berubah menjadi rasa dingin yang merayap di punggungnya.

Alea berjalan menghampiri ayahnya yang sedang tertawa bersama beberapa rekan bisnisnya.

"Dad," Alea menarik lengan Baskara, suaranya sedikit gemetar meski ia berusaha tersenyum.

"Mana Uncle Bima? Acaranya sudah hampir mencapai puncak, tapi dia belum datang juga."

Baskara menghentikan tawanya, wajahnya menampakkan kebingungan yang nyata saat menatap putrinya.

"Daddy juga bingung, Sayang. Sejak siang tadi Bima benar-benar tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati total. Tadi Daddy sempat menelepon asisten pribadinya di kantor, katanya ada masalah urgent dan sangat rahasia yang muncul mendadak tadi subuh. Bima harus turun tangan langsung."

"Masalah apa, Dad? Dia janji akan ada di sini. Dia yang merancang semua ini," suara Alea mulai pecah, matanya mulai berkaca-kaca di bawah cahaya lampu yang terang.

"Sayang, Daddy yakin dia sudah berusaha sekuat tenaga. Lihatlah sekelilingmu, semua kemewahan ini adalah bukti betapa besar usahanya untuk membahagiakanmu. Jangan biarkan ketidakhadirannya merusak harimu. Mungkin dia terjebak dalam rapat yang tidak bisa ditinggalkan," hibur Baskara sembari mengusap bahu Alea.

Namun bagi Alea, kemewahan di sekelilingnya mendadak kehilangan warnanya. Ribuan mawar putih itu kini tampak seperti bunga di pemakaman. Musik yang mengalun terasa seperti denting lonceng kesedihan. Ia merasa seperti boneka porselen yang dipajang di atas panggung megah hanya untuk menjadi tontonan, sementara pemiliknya tidak ada di sana untuk menjaganya.

Bagaimana mungkin pria yang mengiriminya kata-kata cinta tadi pagi, justru membiarkannya berdiri sendirian menghadapi ratusan tamu di malam yang seharusnya menjadi miliknya?

Alea memaksakan diri untuk tetap berada di sana, meniup lilin dengan senyum yang dipaksakan hingga bibirnya terasa kaku, dan menyalami tamu terakhir yang pulang.

Namun, begitu pintu ballroom tertutup dan ia berjalan menuju mobil untuk pulang ke rumah, pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Sesampainya di lobi rumah, Alea tidak memedulikan panggilan ayahnya yang mencoba mengajaknya mengobrol. Ia berlari menaiki tangga kayu yang besar, mengabaikan berat gaunnya yang menjuntai. Ia masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam.

Lampu kamar yang gelap gulita menyambutnya. Alea tidak repot-repot menyalakannya. Ia justru membiarkan dirinya jatuh terduduk di lantai yang dingin, tepat di balik pintu. Tangisnya pecah seketika, mengguncang seluruh tubuhnya.

Ia melempar sepatu hak tingginya ke sembarang arah. Jemarinya meremas kain gaun perak mewahnya yang kini terasa menyesakkan, seolah-olah gaun itu adalah jeruji besi yang mengurungnya. Di dalam kegelapan yang sunyi, suara isak tangis Alea terdengar sangat memilukan.

Kekecewaan itu menusuk jantungnya lebih tajam daripada luka fisik mana pun yang pernah ia rasakan. Sepuluh tahun yang lalu, Bima pergi meninggalkannya tanpa kabar, meninggalkan luka yang baru saja mulai mengering. Dan kini, tepat di hari yang seharusnya menjadi awal baru bagi mereka, Bima mengulangi pola yang sama. Menghilang tanpa jejak. Menghilang tanpa kata.

"Kenapa kau jahat sekali, Bima?" raung Alea dalam tangisnya, suaranya teredam oleh bantal yang ia peluk erat. "Kenapa kau memberiku harapan setinggi langit hanya untuk menjatuhkanku ke dasar jurang seperti ini?"

Ia merasa bodoh. Ia merasa tertipu oleh setiap kata manis, setiap sentuhan lembut, dan setiap janji palsu yang diberikan Bima selama beberapa minggu terakhir. Ia merasa Bima hanya sedang bermain-main dengan perasaannya, memberikan kehangatan hanya untuk kemudian meninggalkannya kedinginan dalam kesunyian.

Malam itu, di hari ulang tahunnya yang ke-19, Alea tidak tidur di atas ranjang empuknya. Ia tertidur di lantai yang dingin dengan kepala bersandar pada pintu, mengenakan gaun pesta yang masih melekat di tubuhnya, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.

Ia meratapi hari ulang tahunnya yang berakhir menjadi tragedi pengkhianatan yang paling pahit. Di matanya, Bima telah kembali menjadi pria misterius yang paling ia benci, pria yang datang hanya untuk menghancurkan apa yang tersisa dari hatinya.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!