NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 - Tiga Pilihan

Sejak saat itu aku jadi sering bertemu Havren. Lebih tepatnya, aku bisa menemukan Havren.

Seperti yang dikatakan pelayan, suatu siang aku menemukannya terlelap di bawah pohon ek di antara hamparan bunga Nemophila. Kelopak biru-putih yang itu nyaris menyerupai gundukan salju, dan keberadaannya di sekitar Havren membuatnya seperti bebungaan surgawi. Aku juga mendengarkannya memainkan harpa. Bukan jenis alat musik yang aku pahami dan sering aku dengarkan, tapi bahkan telinga awamku tahu kalau Havren memang jago.

Tiap kali menyadari keberadaanku, Havren selalu tersenyum cerah dan memanggilku dengan hangat. Seolah-olah dia sangat senang hanya dengan melihatku. Mau tidak mau aku jadi teringat Havren yang aku ketahui dari game. Entah apakah mereka orang yang sama, tapi sifat mereka tidak berbeda.

Jika mereka memang orang yang sama, maka Havren sama sekali bukan pangeran tidak berguna seperti yang dituduhkan orang-orang.

Seingatku sih, begitu….

Di dalam game, sewaktu ada pemberontakan yang menyerang istana, Havren tidak kabur dan bersembunyi. Dia melindungi protagonis wanita bahkan sampai terluka terkena sabetan pedang—

Hmmmmm….

Yah, mungkin… memang dia tidak terlalu jago bertarung….

Tapi! Mereka selamat! Artinya Havren tidak seburuk itu dong!

Lagipula! Havren masih remaja!

Demi Tuhan, dia bahkan belum bisa minum bir! (Menurut aturan Jepang sih seperti itu, tidak tahu bagaimana di sini)

Apa salahnya sih remaja bersikap selayaknya remaja?

Lalu, memangnya salah kalau dia cantik?? Terlalu rupawan dan sempurna sampai membuat orang (wanita) iri sepertinya memang sebuah dosa.

Haaahh….

Orang-orang ini menuntut terlalu banyak dari seorang bocah!

...*...

...*...

...*...

“Pangeran Raien baru berusia enam belas ketika ia memimpin pertahanan Kurohane dan menyelamatkan Kaelros dari kekalahan.”

Jovienne tiba-tiba berseru penuh semangat sewaktu aku memasuki kamar malam itu.

“Kabarnya, Komandan Kurohane gugur di malam pengepungan, lalu Pangeran Raien mengambil alih komando dan memimpin serangan balasan. Darah klan Amatsurugi memang mengagumkan!”

Ocehan dan desah kagum Jovienne tidak kutanggapi—aku hanya lanjut menjilati bulu dan membersihkan diri. Bukan berarti perkataan gadis itu tidak aku dengarkan.

Raien memang luar biasa. Dia bahkan bisa menghabisi ribuan prajurit musuh seorang diri. Kalau tidak salah gara-gara itu dia dapat julukan Crimson Blade. Serangannya brutal. Begitu yang diceritakan di cuplikan game.

“Huh kenapa aku tidak dijodohkan dengan Pangeran Raien? Bayangkan akan sekuat apa keturunan Solmara nanti!”

Aku melirik Jovienne yang berguling di atas kasur. Gadis itu menatap langit-langit dan terdiam, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sepertinya Jovienne lebih menyukai Raien daripada calon tunangannya.

...*...

...*...

...*...

Atau tidak?

Selain satu kali itu membahas Raien, malam-malam berikutnya Jovienne selalu membicarakan Caelian. Caliean begini, Caelian begitu.

Misalnya saja,

"Pagi ini Pangeran Caelian menemaniku memberi salam pada Permaisuri dan Ibu Suri. Dia begitu baik dan sabar mengajariku, lalu memujiku setelah selesai!"

atau,

"Kau harus lihat betapa jagonya Pangeran Caelian di pertandingan Jousting tadi! Woah! Dia begitu lincah dan caranya mengendalikan kuda sungguh gagah! Aku pikir hanya Pangeran Raien yang ahli dalam kegiatan seperti itu."

lalu,

"Lumi, lihat! Ada kudapan dari Pangeran Caelian! Kabarnya ini spesialisasi Valtheris dan sudah ada sejak awal Kaelros didirkan. Pangeran Caelian bilang akan mengajakku melihat langsung pembuatannya lain waktu!"

“Putri Jovienne, calon tunangan anda adalah Pangeran Havren. Tidakkah anda sebaiknya menghabiskan lebih banyak waktu dengannya?” Sharla, dayang utama yang telah mengurus Jovienne sejak bayi tiba-tiba berkata. Teguran yang juga sejak lama ingin aku sampaikan pada gadis ini.

Aku mengeong menyuarakan dukungan atas komentar Sharla.

Jovienne menghembuskan napas pendek, tampak kesal. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan menyumpal mulutnya sendiri dengan lebih banyak kudapan.

Aku memperhatikannya cukup lama.

Apa mungkin Jovienne sungguhan menyukai Caelian?

Apa sebaiknya aku mendukung dan membantu mereka agar bersama?

HMMMMMM….

Jalur percintaan dengan Caelian sebenarnya tidak buruk….. Pun ada kemungkinan Jovienne adalah protagonis wanita di sini. Mungkiiiiin… mungkin tidak buruk juga kalau Jovienne menikahi Caelian.

Ah.

Aku harus mencari tahu apakah Caelian juga menginginkan Jovienne.

Aih, sebenarnya aku tidak mengira Putra Mahkota Kaelros itu akan berusaha menyabotase calon kekasih adik sendiri.

Meski… pertunangan dengan Havren sendiri memang belum resmi dilakukan…..

...*...

...*...

...*...

Ah, tapi, Havren bagaimana ya? Apa Havren tidak akan sedih…?

Biarpun Jovienne dibilang akan menjadi pasangan Havren, itu tidak lebih dari pernikahan politik. Sebagai majikan yang baik dan paling tahu atas semua jalur percintaan tiga pangeran, aku memiliki tugas mulia. Aku akan berperan sebagai penghubung tangan takdir! Muhaha.

Pertama-tama aku harus memastikan Jovienne melihat kelebihan Havren. Gadis itu sedikit banyak pasti terpengaruh gosip tidak bagus yang beredar.

Huffh! Tidak bisa dibiarkan!

Dan aku sudah punya ide brilian untuk itu.

...*...

...*...

...*...

Kesempatan itu datang dengan sempurna.

Malam sudah cukup larut, dan Jovienne masih terjaga. Dia selalu begitu bila mendapat surat dari Solmara. Selalu menghabiskan waktu cukup banyak menyiapkan balasan, dan tidak akan tidur sampai suratnya selesai, agar siap dikirim keesokan paginya.

Dan tepat malam itu juga, suara itu kembali terdengar. Suara seruling. Mengalun lembut tertiup angin.

Aku bangkit dari tempatku bergelung dan melompat ke atas meja, berhati-hati tidak menginjak kertas surat Jovienne.

“Lumi!?” Jovienne separuh berseru, hampir menumpahkan botol tinta. “Sudah mengantuk? Sebentar lagi aku selesai.” Dia berkata.

Aku mengibaskan ekorku, memastikan mata amber itu menatapku, lalu melompat ke arah jendela yang terbuka.

Jovienne mengerutkan alis. “....apa?”

Aku mengeong, mengangkat satu tungkai depan seperti sedang melambai. Ajakan pergi.

“Mau kemana? Ini sudah larut.”

Sekali lagi aku mengeong, lalu melompat keluar jendela.

Aku tersenyum puas ketika gadis itu menyusul keluar dari pintu kamar.

Dengan langkah ringan dan tidak terburu-buru, aku memimpin jalan. Sesekali aku menoleh dan mengeong, memastikan Jovienne masih mengikuti.

“Apa yang kau inginkan malam-malam begini.” Biarpun sambil mengeluh, gadis itu membiarkanku.

Aku membawanya mengitari danau. Terus berjalan melewati paviliun taman barat. Semakin lama, suara suling itu terdengar semakin jelas. Langkahku tidak berhenti sampai kami tiba di taman labirin. Aku mengeong lagi di pintu taman itu, memberitahu Jovienne untuk mengikutiku masuk.

Taman labirin itu tidak rumit. Tidak sulit menemukan inti dari taman, di mana kubah putih terletak bersama pohon magnolia yang berdiri megah.

Dan di sana, di bawah naungan kubah itu, Havren sedang memainkan serulingnya.

Cahaya bulan adalah satu-satunya penerangan, menyinari helai peraknya yang dimainkan angin. Kupu-kupu terbang di sekitarnya. Dan bunga putih magnolia mekar di dekatnya. Tampak bercahaya. (Seingatku ini bukan waktunya magnolia mekar, tapi entahlah).

Langkahku terhenti tidak jauh dari sana. Cukup dekat untuk kami bisa melihat, tanpa langsung mengganggunya.

Kepalaku mendongak sembari tersenyum pada Jovienne.

Dengar. Dengar.

Seruling itu merdu sekali kan? Melodi yang sangat indah.

Nada-nada yang tidak sepenuhnya ringan itu terdengar di malam-malam yang tidak tentu. Alunan musiknya berbeda dengan permainan harpa di siang hari. Lebih dalam. Lebih… sepi.

Aku kembali menatap Jovienne. Menunggu reaksinya.

Lihatlah Havren yang memainkan seruling dengan lembut itu. Tidakkah sosoknya seperti malaikat?

Lalu,

Setelah beberapa hitungan, Jovienne…. berbalik pergi.

Eh??

Hei! Jovienne!! Kau mau ke manaaa??

Aku mengeong keras sembari mengejarnya. Mungkin terlalu nyaring sampai permainan suling itu terputus. Tapi, Jovienne tidak berhenti. Tidak pula menoleh. Gadis itu hanya terus berjalan kembali ke kamarnya. Ekspresi di wajahnya tidak tampak senang.

Aaaahhh….

Apa ini gagal?

Kenapa...?

Apa ini… bukan yang Jovienne cari?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!