Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sepi
Malam menjelang di apartemen mewah nan sunyi. Langit malam terlihat cerah. Bintang bintang bertaburan terlihat seperti serpihan cahaya yang bertebaran di hamparan langit malam. Udara malam berhembus. Menerpa wajah ayu putih bersih dengan beberapa luka memar yang mulai terlihat samar.
Alina yang berdiri di balkon kamar itu melongok ke bawah. Ke arah jalan raya. Padat. Nampak riuh dengan suara kendaraan yang lalu lalang. Lampu lampu ibu kota menyala terang benderang. Berwarna warni. Megah. Mewah. Ramai.
Alina menghela nafas panjang. Siapa sangka ia akan kembali lagi ke kota ini setelah sekian lama pulang kampung. Kembali ke kota yang dulu ia pikir akan menjadi tempatnya mewujudkan mimpi mimpi indahnya. Namun ternyata berakhir dengan mimpi buruk. Mimpi yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Setitik air mata jatuh. Di tengah kota besar ini, ia merasa sangat kecil. Di atas gedung yang tinggi menjulang ini, ia merasa sangat rendah. Di tengah kota yang riuh ini, ia merasa sendirian.
Tak ada perasaan lain yang ia miliki saat ini selain malu, canggung, bingung, dan sedih.
Harusnya jalan hidupnya tak seperti ini. Harusnya ia tak di sini. Harusnya ia tak begini.
Ini bukan rumahnya. Ini bukan tempatnya. Harusnya ia di desa. Tempat tinggalnya. Tidur nyenyak. Menikmati suasana malam di desa yang tenang.
Tapi, rumah itu telah mengusirnya. Kini ia tinggal di tempat yang asing. Milik orang asing. Dengan perasaan yang juga asing. Ia numpang hidup. Ia diminta mengandung, melahirkan, lalu meninggalkan bayinya nanti setelah si anak lahir.
Hidupnya sudah tak punya tujuan. Tugasnya sekarang hanya menjaga bayi di dalam perutnya agar tetap hidup. Namun setelah semua itu selesai, kemana ia akan pergi? Dimana ia akan tinggal? Dengan siapa ia akan hidup?
Alina memejamkan matanya. Hidupnya sudah selesai sejak ia dirudapaksa. Kini, ia hanya menjalankan aib. Memberikan kesempatan Vincent untuk menebus kesalahannya. Lalu selesai. Setelah itu apa? Entahlah....
Alina membuang nafas kasar. Ia duduk di sebuah kursi di sana. Tangannya tergerak membuka ponsel miliknya. Menggeser layar, menatap deretan foto dirinya dan Adit.
Kisah mereka telah usai. Semua telah berakhir. Rangkaian mimpi indah yang meraka rajut bersama kini lenyap tinggal kenangan. Tangan itu bergerak. Menghapus satu demi satu foto dan juga segala kenangannya. Setitik air mata luruh lagi. Meskipun ia kecewa pada Adit, tapi rasa kehilangan itu tetap ada. Bertahun-tahun mereka menjalani kisah bersama. Sungguh tak disangka, semua akan berakhir secepat ini.
Alina menghapus semua foto itu. Ia meletakan ponsel itu di atas meja kecil itu. Ia menggerakkan telapak tangannya. Mengipasi matanya berharap air mata itu tidak lagi tumpah. Seteguk air putih dingin mungkin akan membantu menenangkan pikirannya. Ia bangkit dari duduknya, lalu bergegas pergi menuju dapur apartemen tersebut.
Segelas air putih pun tandas. Ia menatap sekitar. Mewah. Sepi. Sunyi. Sendiri. Tak ada orang lain selain ia sendiri di rumah itu. Alina mengayunkan kakinya. Berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Tak ada bunyi lain selain benturan antara sendalnya dan lantai marmer itu.
Wanita itu diam lagi. Tak tahu mau berbuat apa. Hari masih sore untuk tidur. Tapi ia tak punya teman. Tak memiliki sesuatu pula untuk dikerjakan. Gadis itu mengedarkan pandangannya. Sorot matanya kemudian tertuju pada beberapa bingkai foto yang berada di atas meja itu. Berjajar dengan vas bunga dan beberapa patung kecil yang harganya pasti mahal.
Alina mendekat. Diraihnya foto itu. Diusapnya. Sedikit berdebu. Mungkin Bi Siti tidak sempat membersihkannya siang tadi.
Cantik sekali wanita dalam foto ini. Ia berpelukan dengan Vincent. Terlihat sangat mesra dan bahagia. Di bagian belakang, terdapat tulisan "Vincent & Alicia, Amsterdam 2018". Satu sudut bibirnya terangkat. Pasangan yang bahagia. Setara. Dan pantas.
Wanita itu kembali menghela nafas. Diam lagi. Menatap ke sekeliling lagi. Jiwa tak bisa diamnya pun mulai bergejolak. Malam malam. Sejak tadi ia hanya melamun meratapi nasib. Dari pada terus-terusan begini, lebih baik ia cari kesibukan. Bersih bersih sebentar mungkin akan sedikit membuang rasa bosan.
Alina tersenyum tipis. Ia kemudian meletakkan foto di tangannya, kemudian mulai bersih bersih tipis tipis untuk mencari kesibukan.