Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Lembah Kabut Terlarang dan Perburuan Inti Cahaya Bintang
Setelah kekacauan yang melanda Kota Badai, nama **Wang Jian** menjadi momok yang menghantui setiap sudut Benua Tengah. Namun, alih-alih terus menyerang pusat kekuatan klan, Jian memilih untuk menghilang ke dalam hutan purba yang membatasi wilayah utara. Di sebuah gua tersembunyi, ia menatap **Lin Meiling** yang sedang meracik ramuan pemulih luka dengan tangan yang sedikit gemetar.
Jian menyadari sesuatu; meskipun ia telah menjadi badai yang tak terhentikan, Meiling tetaplah seorang alkemis yang rentan. Potensi kultivasi Meiling sempat terhambat akibat luka dalam yang ia derita saat menemaninya di dasar Jurang Arwah, serta efek samping dari penggunaan darahnya sendiri sebagai media obat.
"Meiling," suara Jian memecah keheningan gua. "Aku tidak ingin kau hanya berdiri di belakangku saat aku menghadapi Leluhur Wang. Aku ingin kau berdiri di sampingku sebagai rekan yang setara."
Meiling menghentikan gerakannya, menatap Jian dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi Jian, meridianku... mereka terlalu tipis untuk menampung energi yang besar. Aku sudah mencoba segala ramuan, tapi potensiku seolah terkunci."
"Karena kau butuh sesuatu yang lebih dari sekadar ramuan biasa," jawab Jian sambil membentangkan peta kulit naga yang ia ambil dari koleksi pribadi Ruo-shan. "Kita akan menuju **Lembah Kabut Terlarang**. Di sana tumbuh **Bunga Sembilan Transformasi Roh** dan tinggal monster yang memiliki **Inti Cahaya Bintang** (Star-Core). Itu adalah kunci untuk merombak potensimu."
### **Perjalanan Menuju Lembah Kabut Terlarang**
Perjalanan itu memakan waktu sepuluh hari. Semakin dalam mereka masuk ke wilayah lembah, udara semakin dipenuhi oleh partikel energi yang berpendar seperti kunang-kunang. Ini bukan udara biasa; ini adalah *Qi* alam yang sangat murni namun sangat liar.
"Hati-hati, Meiling. Kabut di sini bersifat ilusif," peringat Jian. Ia mengaktifkan **Indra Angin**-nya, merasakan setiap pergeseran molekul udara di sekitar mereka.
Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh **Kawanan Serigala Bayangan Bintang**. Serigala-serigala ini tidak memiliki bentuk fisik yang tetap; mereka bisa menyatu dengan kabut dan menyerang dari sudut yang tak terduga.
"Jangan gunakan energi fisikmu, Meiling! Gunakan bubuk **Penjerat Jiwa**!" perintah Jian.
Jian melesat maju, namun ia tidak membunuh mereka dengan segera. Ia menggunakan **Putaran 4: Kompresi Atmosfer** untuk menciptakan sangkar udara, menahan serigala-serigala itu agar Meiling bisa mempraktikkan serangan alkimianya. Meiling melemparkan butiran obat yang meledak menjadi kabut beracun, melumpuhkan saraf-saraf monster tersebut.
"Bagus," puji Jian. "Koordinasimu semakin tajam."
### **Pertarungan Epik: Sang Penjaga Star-Core**
Saat mereka mencapai pusat lembah, pemandangan berubah drastis. Sebuah danau kristal yang memantulkan cahaya bintang—meski di siang hari—terbentang di depan mereka. Di tengah danau itu tumbuh setangkai bunga berwarna pelangi yang memancarkan aroma surgawi. **Bunga Sembilan Transformasi Roh**.
Namun, permukaan danau itu tiba-tiba meledak. Sesosok makhluk raksasa muncul. Ia adalah **Buaya Kristal Bintang**, monster Peringkat 3 puncak yang kulitnya terbuat dari lapisan berlian angkasa. Di dahi makhluk itu, sebuah kristal berbentuk bintang berdenyut dengan energi yang sangat masif. Itulah **Star-Core**.
*ROAAARRRR!*
Raungan buaya itu menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan air danau hingga menjadi jarum-jarum es yang tajam.
"Meiling, siapkan **Formasi Penarik Energi**! Aku akan menahan monster ini!" teriak Jian.
Jian meledakkan **Sayap Malaikat Badai**-nya dan melesat ke udara. Ia menyadari bahwa kulit buaya ini mustahil ditembus oleh serangan biasa. Ia harus menggunakan kekuatan **Pemurnian Qi Bintang 3** miliknya secara maksimal.
**"Seni Orisinal: Bor Langit Primordial - Versi Petir Hitam!"**
Jian berputar seperti bor raksasa, menghujam punggung buaya tersebut. Percikan api dan listrik meledak hebat. *KRAKK!* Beberapa lapisan kristal di punggung buaya itu retak, namun makhluk itu membalas dengan kibasan ekor yang dilapisi energi bintang.
*BUMMM!*
Jian terlempar ke pinggir danau, namun ia segera bangkit. Darahnya mendidih oleh semangat bertarung. "Lebih keras dari dugaan!"
Buaya itu membuka mulutnya, mengumpulkan energi cahaya bintang di tenggorokannya. Sebuah laser cahaya yang sangat panas ditembakkan ke arah Jian.
Jian tidak menghindar. Ia justru merentangkan tangannya lebar-lebar. **"Putaran 6: Pelahap Badai!"**
Ia menyerap laser cahaya bintang tersebut ke dalam pusaran vakum di telapak tangannya. Tubuh Jian mulai bersinar terang, energi bintang itu sangat panas hingga membuat jubahnya mulai terbakar. Namun, berkat **Tubuh Dewa Angin-Petir**, ia mampu menahannya.
"Meiling! Sekarang!"
Meiling yang sedari tadi bersembunyi di balik pilar batu, melemparkan **Botol Pengikat Magnetik** ke arah kaki-kaki buaya tersebut. Cairan di dalamnya berubah menjadi rantai energi yang mengunci pergerakan monster itu selama beberapa detik berharga.
Jian mengambil kesempatan itu. Ia memusatkan seluruh energi yang baru saja ia serap ditambah dengan energinya sendiri ke ujung tombak hitamnya.
**"Seni Pemungkas: Penikam Inti Bintang!"**
Jian melesat dengan kecepatan yang melampaui suara. Tombaknya menembus tepat ke dahi buaya tersebut, tepat di titik tengah Star-Core.
*BOOOOOOMMMMM!*
Ledakan energi cahaya dan petir menelan seluruh area danau. Cahaya itu begitu terang hingga Meiling harus menutup matanya. Saat cahaya memudar, buaya raksasa itu telah hancur menjadi debu cahaya, menyisakan sebuah batu kristal berbentuk bintang yang murni dan **Bunga Sembilan Transformasi Roh** yang masih utuh.
### **Penyucian Potensi Meiling**
Jian mengambil Star-Core tersebut, tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, namun matanya penuh dengan kepuasan. Ia menyerahkan kristal itu dan bunga legendaris tersebut kepada Meiling.
"Sekarang, Meiling. Duduklah di tengah formasi. Aku akan membantumu menyerap ini."
Selama tiga hari tiga malam, Jian menggunakan energi **Angin Primordial**-nya untuk menyaring kekerasan energi Star-Core agar bisa diterima oleh tubuh Meiling. Ia membantu mengarahkan energi tersebut untuk merombak meridian Meiling yang sempat rusak, mengubahnya menjadi jalur energi yang berkilau seperti galaksi kecil.
Meiling berteriak menahan sakit saat proses rekonstruksi berlangsung, namun ia menggigit bibirnya hingga berdarah, menolak untuk menyerah. Ia ingin menjadi kuat untuk Jian.
Di akhir hari ketiga, sebuah ledakan energi yang lembut namun kuat keluar dari tubuh Meiling. Kulitnya kini memancarkan cahaya porselen yang sehat, dan auranya telah berubah total.
### **Kenaikan Ranah dan Kekuatan Baru**
Meiling membuka matanya. Ia merentangkan tangannya, dan tiba-tiba, ribuan kelopak bunga energi muncul di sekelilingnya. Ia tidak hanya pulih; ia telah melompati batasannya.
**[KEMAJUAN MEILING]:**
* **Ranah:** Menembus ke **Ranah Pemurnian Qi Bintang 1**.
* **Kemampuan:** **Alkimia Bintang** (Mampu menciptakan ramuan instan di tengah pertempuran) dan **Tarian Kelopak Pelindung**.
Jian berdiri dan tersenyum tipis, meski wajahnya tampak lelah. "Selamat, Meiling. Kau sekarang adalah seorang kultivator sejati."
"Terima kasih, Jian," Meiling memeluk Jian dengan erat. "Aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian lagi."
Jian menatap ke langit utara, ke arah gunung tertinggi di mana Leluhur Wang bersemayam. Dengan Meiling yang kini memiliki kekuatan baru dan dirinya yang semakin mendekati puncak Ranah Pemurnian Qi, ia tahu bahwa waktu untuk perhitungan terakhir telah tiba.
### **Status Kultivasi Akhir - Bab 17:**
* **Wang Jian:**
* **Ranah:** **Pemurnian Qi Bintang 3** (Puncak).
* **Pencapaian:** Membunuh Buaya Kristal Bintang Peringkat 3 Puncak.
* **Kondisi:** Lelah namun stabil, energi bintang mulai menyatu dengan teknik anginnya.
* **Lin Meiling:**
* **Ranah:** **Pemurnian Qi Bintang 1** (Baru saja terobosan).
* **Fisik:** Meridian Cahaya Bintang (Sangat elastis dan mampu menampung energi murni).
* **Item Baru:** Inti Star-Core (Terserap sebagai Inti Energi Utama).
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.