NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekomendasi obat

Kantor POLDA

Srak... srak...

Bunyi gesekan lembaran kertas yang saling bertumpuk memecah keheningan ruangan. Andre bergerak sigap, menata berkas-berkas yang berserakan di meja tanpa perlu diminta.

Ada rasa simpati sekaligus cemas yang merayap di hati Andre saat ia melirik pria di hadapannya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Rafan tetap setenang itu setelah baru saja mendapat teguran keras hanya karena menjalankan tugas dengan benar? Namun, Rafan seolah telah memutus saraf pedulinya terhadap birokrasi. Sejak kecil, ia ditempa untuk menjadi abdi negara yang haus prestasi, bukan sekadar pemuas ambisi atasan.

"Kenapa Bapak begitu yakin kalau Bu Surti pelakunya?" celetuk Andre, tak mampu lagi membendung rasa penasaran. "Bukankah Parjo jauh lebih mencurigakan? Apalagi saat pertama kali Bapak menghujaninya dengan pertanyaan."

Rafan tak langsung menjawab. Ia menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. "Parjo hanya gugup. Itu reaksi wajar bagi orang awam yang mendadak berhadapan dengan hukum. Seperti pelamar kerja yang gemetar di depan pewawancara."

Rafan mencondongkan tubuh, tatapannya menajam. "Gugup membuat kata-kata menjadi berantakan. Namun, dalam kasus kematian yang brutal seperti ini, justru ketenangan yang berlebihan di wajah seorang pelayanlah yang patut kita curigai."

Andre tertegun. Ia mencoba memutar kembali memori saat interogasi berlangsung. Wajah wanita tua itu, Surti, memang tampak terlalu datar. Tak ada duka, tak ada ketakutan, seolah kematian majikannya hanyalah interupsi kecil dalam rutinitas harian.

"Benar juga," gumam Andre pelan. "Selama saya bertanya, dia yang paling lugas menjawab. Tidak ada keraguan, seperti sudah menghafal skenario."

"Seorang kriminal sejati tidak mengenal batasan usia atau gender, Andre. Jika aparat tidak meneguhkan hati, kita akan sangat mudah terjerembap dalam tipu daya yang mereka sebut sebagai 'wajah polos'."

Andre mengangguk paham, lalu merapikan tumpukan kertas itu ke dalam map cokelat. "Ini mau disimpan di mana, Pak?"

"Taruh saja di sana. Biar aku yang membereskannya," jawab Rafan dengan suara berat yang rendah.

Andre menjalankan perintah itu, namun matanya tak sengaja menangkap luka di wajah Rafan. Salep putih yang dioleskan tadi telah terserap sempurna ke dalam kulit, menyisakan gurat kemerahan yang samar.

"Apa Bapak butuh rekomendasi obat? Saya punya beberapa koleksi salep untuk bekas luka," tawar Andre antusias.

"Bawa saja jika kamu rasa itu bisa mempercepat penyembuhannya."

"Siap, Pak! Kebetulan di rumah saya masih ada satu. Nanti jam makan siang saya bawakan. Oh, ya---hasil otopsi akan keluar tiga puluh menit lagi. Saya akan mengambilnya sekalian mampir mengambil obat untuk Bapak."

Tiga Puluh Menit Kemudian

Waktu yang dijanjikan tiba. Tumpukan berkas berisi data penyelidikan dari tim forensik kini telah mendarat di meja Rafan. Andre berdiri dengan tangan terbenam di saku celana, mengamati petugas forensik yang menata lembaran laporan tersebut satu per satu.

"Semuanya sudah lengkap?" tanya Rafan tanpa mengalihkan pandangan dari foto hitam-putih yang diklip di ujung laporan.

"Lengkap, Pak. Hasil otopsi, sidik jari, uji toksikologi makanan, hingga sampel residu dari barang bukti," tegas Andre.

Andre mulai memaparkan poin-poin penting dari hasil penyelidikan tersebut. Rafan mendengarkan dengan saksama, meski matanya tampak lekat menyoroti satu berkas spesifik.

"Luka di tubuh korban menghitam karena racun saraf yang dioleskan pada senjata. Sementara luka di telapak tangan korban... itu disebabkan oleh benda lain. Perlawanan yang gagal," jelas Andre dengan dahi berkerut. "Dan soal barang bukti panah itu, sidik jarinya sedang dicocokkan. Tapi ada yang aneh, Pak. Senjata-senjata itu tampak seperti barang baru yang belum pernah digunakan sebelumnya."

"Aku sudah menduga," sahut Rafan santai. Ia bangkit dari kursi, melangkah ke sisi jendela yang menghadap ke hiruk-pikuk kota. "Pelaku menyimpan senjata asli yang berlumuran darah, lalu sengaja meninggalkan senjata baru di TKP untuk mengejek kita. Dia tidak sepenuhnya percaya pada kaki tangannya sendiri."

Rafan berbalik, auranya mendadak terasa dingin dan mengintimidasi. "Bawa pelayan wanita itu ke ruang interogasi. Aku akan mengakhiri sandiwara ini sekarang."

"Tapi Pak, soal nasi goreng itu..." Andre ragu sejenak. "Kami sudah mengecek sisa makanan di tempat sampah. Hasilnya negatif. Tidak ditemukan zat bius atau obat tidur apa pun di sana."

Rafan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang justru membuat Andre merinding. "Setelah jam makan siang, panggil tersangka. Kita akan menghapus semua rasa penasaranmu di ruang interogasi."

Klinik Sejahtera

Sebuah SUV hitam meluncur pelan melewati gerbang klinik sederhana di pinggiran kota. Bagi masyarakat awam, tempat itu hanyalah layanan kesehatan murah dengan obat-obatan manjur. Namun, di balik gedung utama yang kusam, tersembunyi sebuah gudang megah yang menjadi jantung operasi rahasia.

"Pasien kita semakin banyak. Kita butuh tenaga medis tambahan," celetuk Sukma sembari melirik gadis di sampingnya yang tengah fokus mengemudi.

"Rekrut saja yang baru. Tapi pastikan mereka tahu aturan mainnya. Sekali bocor, nyawa mereka taruhannya," sahut Myra datar.

Mobil mereka berhenti di sebuah garasi yang terlihat seperti tumpukan rongsokan. Namun, di balik pintu besi berkarat itu, tersembunyi area parkir bawah tanah yang luas. Keduanya turun serentak. Pakaian serba hitam yang melekat ketat di tubuh mereka menonjolkan aura yang berbahaya sekaligus elegan.

"Sepertinya kita tidak terlalu terlambat," ujar Sukma dengan senyum tipis.

Myra tak menjawab. Ia melangkah pasti menuju pintu rahasia di balik rak-rak obat, lalu menuruni puluhan anak tangga menuju kegelapan yang remang. Suasana hening mulai pecah oleh derap langkah sepatu bot mereka.

"Myra..." Seorang wanita menyapa saat mereka mencapai ujung tangga.

Seketika, puluhan pasang mata berpaling. Di hadapan mereka, bukan lagi deretan pasien atau perawat, melainkan arena pelatihan yang lengkap. Ring tinju, lemari penuh senjata, dan patung-patung sasaran yang hancur berserakan.

"Maaf, aku sedikit terlambat," ujar Myra tenang, meski senyum kikuk tersungging di bibirnya sebagai formalitas.

"Tidak apa-apa. Kami sudah terbiasa," sahut seorang pria di barisan terdepan dengan nada datar yang sarat akan rasa hormat sekaligus ketegasan.

Myra menatap wajah-wajah di depannya. Mereka adalah kawan-kawan masa kecilnya, manusia-manusia yang telah menanggalkan emosi demi menjadi predator yang tangguh. Siapa pun tak akan menyangka bahwa klinik yang dianggap sebagai biara penyembuhan ini adalah sarang utama kelompok kriminal paling disegani.

"Hanya karena aku terlambat, bukan berarti kalian bisa bersantai," suara Myra kini berubah menjadi perintah yang dingin. "Tempat ini adalah arena untuk menempa diri. Berlatihlah seolah-olah besok adalah hari terakhir kalian bernapas---dengan atau tanpaku!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!