NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Badai Makrifat di Kota Kediri

Langkah kaki Arjuna Wijaya mulai menapaki aspal panas di perbatasan Kertosono menuju Kediri. Di belakangnya, seekor kambing berbulu putih bersih dengan kacamata hitam melingkar di lehernya terus berjalan dengan tenang, seolah tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang.

​.

​"Bismillah... Kediri, kuto sing dadi saksi mulyone tanah Jawa. Mugi Gusti paring pangayoman," bisik Arjuna saat melihat menara Jembatan Lama Kediri dari kejauhan.

(Bismillah... Kediri, kota yang jadi saksi mulianya tanah Jawa. Semoga Tuhan beri perlindungan.)

​.

​Arjuna merasakan aura yang sangat berat. Melalui mata batinnya, ia melihat garis-garis energi hitam yang melintang di atas Sungai Brantas. Rupanya, Mr. Richard telah menyewa Ki Ageng Bangka, dukun ilmu hitam yang terkenal dengan kutukan "Paku Bumi".

​.

​Saat di tengah jembatan, Ki Ageng Bangka muncul dengan rambut gimbal dan kalung tulang. Ia menghentakkan tongkatnya, memanggil ratusan kelabang hitam raksasa. Namun, saat menyentuh kaki telanjang Arjuna, mahluk itu terbakar menjadi abu oleh cahaya putih Nur Ilahi.

​.

​Melihat serangannya gagal, Ki Ageng hendak menusukkan kerisnya ke tanah untuk meruntuhkan jembatan. Namun, si Kambing kacamata hitam itu tiba-tiba berlari kencang dan menyeruduk Ki Ageng hingga terpental jatuh ke derasnya Sungai Brantas. Kabut hitam yang menyelimuti Kediri perlahan memudar.

​.

​Namun, itu baru permulaan. Memasuki pusat kota, Arjuna dihadang oleh seorang wanita cantik berbaju merah menyala. Ia menyebarkan jurus "Gendam Sutra Merah" untuk menjerat Arjuna dalam khayalan harta dan kemewahan Jakarta.

​.

​"Mbekkkkk!" Si Kambing mengembik keras. Kacamata hitam di lehernya bersinar terang, memutus benang-benang gendam tersebut. Arjuna segera mengarahkan cermin perunggu tua ke arah wanita itu, mengungkap wujud aslinya sebagai nenek sihir yang mengerikan. Wanita itu pun menjerit dan menghilang dalam gang gelap.

​.

​Tujuan terakhir adalah Makam Setono Gedong. Di sana, musuh paling sakti telah menunggu: Kyai Ageng Semantri, guru spiritual Mr. Richard. Suasana sangat mencekam dengan burung gagak yang berputar-putar.

​.

​"Akhire kowe teko, Arjuna... nyawamu iku dadi bayarane!" teriak Kyai Ageng sambil menghentakkan tongkat naga. Ribuan tangan hitam muncul dari tanah mencoba menarik raga Arjuna.

​.

​Arjuna hanya memejamkan mata, menerapkan ilmu "Ilang". Tangan-tangan hitam itu menembus tubuhnya seolah-olah Arjuna hanyalah bayangan udara. Ia sudah mencapai maqom di mana ia tidak lagi merasa "memiliki" dirinya sendiri.

​.

​Kyai Ageng yang murka menerjang dengan keris luk pitu berasap hitam. Sebelum senjata itu menyentuh dada Arjuna, si Kambing melompat ke depan. Kacamata hitam di leher kambing pecah berantakan, meledakkan cahaya putih yang mementalkan Kyai Ageng hingga menabrak pohon kamboja tua.

​.

​Kyai Ageng tersungkur dan memuntahkan darah hitam. Seluruh ilmu hitamnya musnah seketika. Arjuna tidak membalas dendam, ia justru meletakkan tangan di dahi Kyai Ageng untuk membuang sisa energi negatif dan membacakan doa kesembuhan.

​.

​Malam itu, di bawah bulan purnama Kediri, Arjuna Wijaya bersujud syukur di depan makam Syeikh Wasil. Ia telah menemukan inti dari segalanya: Kekuatan terbesar adalah ketulusan untuk menjadi hamba yang paling rendah.

​.

​"Matur nuwun, Gusti... pituduh-Mu niku mboten nate pedot," gumam Arjuna. Kini, dengan hancurnya benteng spiritual Mr. Richard di Kediri, Arjuna siap melangkah kembali menuju Sidoarjo untuk menuntaskan sisa perjuangannya.

Suasana di pelataran Makam Setono Gedong mendadak hening setelah Kyai Ageng Semantri pingsan tak sadarkan diri. Sisa-sisa asap hitam dari keris yang patah perlahan memudar, berganti dengan aroma wangi bunga kenanga yang menyeruak dari arah makam Syeikh Wasil.

​.

​Arjuna Wijaya tidak berdiri dengan congkak. Ia justru jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Meskipun secara fisik ia tidak terluka, namun benturan energi makrifat tadi menguras seluruh sisa tenaganya. Ia menoleh ke arah si Kambing putih yang kini sudah tidak memakai kacamata hitam lagi karena sudah hancur menjadi debu cahaya.

​.

​"Le... kowe wis berkorban akeh kanggo aku," bisik Arjuna sambil mengelus bulu kambing itu yang kini nampak lebih putih bersih, seolah beban kutukan di lehernya sudah ikut musnah bersama pecahnya kacamata itu.

(Nak... kamu sudah berkorban banyak untukku.)

​.

​Kambing itu hanya mengembik pelan, lalu merebahkan tubuhnya di samping Arjuna, seolah-olah ia hanyalah hewan ternak biasa, bukan lagi pengawal gaib yang mengerikan. Arjuna kemudian merangkak menuju pintu masuk makam utama. Ia melepaskan sorban putihnya, meletakkannya di pundak, lalu bersujud lama di atas ubin marmer yang dingin.

​.

​"Gusti... kulo niki asline mboten saget nopo-nopo. Sedaya kesaktian wau namung titipan-Mu. Ampun dadekake kulo menungso sing sombong amargi saged ngalahake musuh," rintih Arjuna dalam sujudnya.

(Tuhan... saya ini aslinya tidak bisa apa-apa. Semua kesaktian tadi hanya titipan-Mu. Jangan jadikan saya manusia yang sombong karena bisa mengalahkan musuh.)

​.

​Di tengah keheningan sujudnya, Arjuna merasakan sebuah tepukan lembut di pundaknya. Ia mendongak dan terkejut. Di depannya, berdiri sosok pria paruh baya mengenakan baju takwa putih sederhana dan sarung batik kuno. Wajahnya sangat teduh, matanya bersinar seperti bintang di malam hari.

​.

​"Gus Arjuna... kowe wis lulus ujian 'Ilang' ing kene. Nanging elingo, Kediri iki dudu pungkasan (akhir), nanging dadi kawitan (awal) kanggo kowe dadi pemimpin sing sejati," ucap pria misterius itu dengan suara yang menenangkan jiwa.

​.

​Arjuna hendak mencium tangan pria itu, namun saat tangannya menyentuh kain baju sang pria, sosok itu perlahan memudar menjadi butiran cahaya keemasan yang masuk ke dalam dada Arjuna. Arjuna tersentak. Ia menyadari bahwa itu adalah isyarah atau "rawuh" dari penjaga spiritual makam tersebut untuk memberinya restu.

​.

​Tiba-tiba, ponsel tua di tas ransel Arjuna bergetar hebat. Itu adalah ponsel yang sudah lama ia matikan sejak memulai perjalanan musafirnya. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan layar ponselnya. Ada ratusan pesan masuk, namun satu pesan dari Bunda Siti Khotijah membuatnya terpaku:

​.

​"Arjuna, anakku... Balio, Le. Guntur wis sadar, dheweke nangis terus nyebut jenengmu. Pondok lagi dikepung preman Jakarta, surat eksekusi tanah wis mudhun. Mung kowe sing iso nylametake Al-Hikam."

​.

​Air mata Arjuna jatuh membasahi lantai makam. Ia tahu, masa "uzlah" atau pengasingan dirinya sudah cukup. Tuhan sudah memberinya ilmu "Ilang" agar saat ia kembali menjadi Sultan nanti, ia tidak akan lagi terjebak dalam kesombongan harta.

​.

​Arjuna bangkit berdiri dengan tatapan mata yang baru. Ia mengambil tas kusamnya, memanggil si kambing, dan berjalan keluar dari kompleks Setono Gedong. Di gerbang, ia melihat Kyai Ageng Semantri mulai sadar. Pria tua itu nampak bingung, seluruh aura hitamnya sudah hilang, wajahnya nampak jauh lebih muda dan tenang.

​.

​"Gus... matur nuwun sampun ngresiki duso kulo," ucap Kyai Ageng dengan suara bergetar.

​.

​Arjuna mengangguk. "Sami-sami, Mbah. Monggo, urip niku namung mampir ngombe, ampun ngombe getihe wong liyo (Mari, hidup itu hanya mampir minum, jangan minum darah orang lain)."

​.

​Arjuna terus melangkah, meninggalkan Kediri menuju arah Timur. Tujuannya satu: Sidoarjo. Ia akan pulang bukan sebagai Arjuna si Sultan yang angkuh, tapi sebagai Arjuna si Penjaga Sarung yang membawa cahaya kedamaian untuk keluarganya yang sedang di ujung tanduk.

​.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!