NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17.Kembalinya Ingatan, Datangnya Kabar

     ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Di dalam ruang perawatan rumah sakit, suasana terasa sangat tegang dan mencekam. Lampu ruangan yang terang menyinari ranjang tempat Gus Aqlan terbaring lemah. Dokter jaga sedang sibuk memeriksa kondisi pasien, memasang stetoskop di dada, memeriksa kelopak mata, dan melihat pantauan alat monitor yang menampilkan detak jantungnya.

Aisyah duduk di kursi kecil tepat di samping ranjang, wajahnya pucat pasi dan penuh kekhawatiran. Tangannya yang dingin tak lepas-lepas menggenggam tangan besar Gus Aqlan, seakan dengan pegangan itu ia bisa menyalurkan kekuatan dan harapan agar pria itu segera sadar. Air matanya sudah kering, namun matanya masih merah dan bengkak menahan tangis.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan mencocokkan data dari alat medis, dokter itu akhirnya melepas stetoskopnya dan menghela napas panjang. Wajahnya yang tadinya serius perlahan berubah menjadi senyum lega yang menenangkan.

"Alhamdulillah... Syukurlah. Kondisi pasien sebenarnya sangat stabil, mbak. Tidak ada masalah serius sama sekali pada organ tubuhnya, jantungnya sehat, dan tidak ada pendarahan di otak," jelas dokter tersebut dengan nada lembut namun meyakinkan.

"Terus... terus kenapa bisa pingsan begitu, Dok? Kenapa lama sekali belum sadar-sadar?" tanya Aisyah terbata-bata, suaranya terdengar parau dan cemas.

Dokter itu mengangguk pelan, lalu duduk sebentar di kursi dekat Aisyah untuk menjelaskan lebih rinci.

"Begini mbak, pingsannya Pak Aqlan ini murni karena syok emosi dan beban ingatan yang terlalu berat. Bayangkan saja, memori atau ingatan yang sudah hilang dan terkunci rapat bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba terbuka dan kembali utuh dalam hitungan detik. Ribuan kenangan, wajah, nama, dan perasaan masuk bersamaan ke dalam otaknya."

"Otak dan hatinya menerima begitu banyak data sekaligus, sampai-sampai sistem tubuhnya kewalahan menampungnya. Akhirnya, sebagai mekanisme pertahanan diri agar tidak terjadi hal yang lebih buruk, tubuhnya memilih untuk lemas dan pingsan agar otak bisa istirahat dan memproses semua kenangan itu dengan tenang," jelas dokter panjang lebar.

Aisyah menghela napas panjang sekali, dadanya terasa lega namun juga penuh haru yang meledak-ledak. Jadi benar... Dokter pun mengatakannya. Gus Aqlan sudah ingat segalanya! Ingatan yang hilang itu kini sudah kembali utuh.

Di Depan Ruang Rawat...

HAP! HAP! HAP!

Suara langkah kaki yang berlarian terdengar kencang dan panik memecah keheningan koridor rumah sakit yang biasanya sepi.

Zea muncul dari ujung lorong dengan napas yang sudah sangat memburu. Wajahnya panik bukan main, bajunya sedikit berantakan, rambutnya agak berantakan karena berlari, dan keringat dingin bercucuran di dahinya. Ia baru saja mendapat kabar mendadak dari teman kampus kalau kakaknya pingsan di taman dan langsung dilarikan ke rumah sakit ini.

"Mas! Mas Aqlan!! Kamu di mana, Mas?!" teriaknya lirih sambil berlari mencari nomor kamar satu per satu, matanya menyapu setiap pintu dengan panik.

Hingga akhirnya, kakinya berhenti mendadak tepat di depan sebuah pintu kamar perawatan kelas utama. Napasnya masih terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan.

Dan di sana, berdiri tepat di depan pintu yang sedikit terbuka, adalah Aisyah yang baru saja keluar untuk mengambil air minum atau memanggil perawat.

Mereka berdua saling bertatapan.

"Kak Aisyah?!" seru Zea kaget, matanya membelalakan. "Astagfirullah... Ya Allah, untung ada Kakak di sini. Gimana kondisi Mas Aqlan sekarang, Kak? Katanya pingsan parah? Kenapa bisa sampai dibawa ke rumah sakit sih?!"

Aisyah menatap wajah Zea yang penuh kepanikan itu. Matanya masih berkaca-kaca, namun ada senyum aneh yang terukir di bibirnya—senyum yang campur aduk antara rasa takut, haru, dan kebahagiaan yang luar biasa.

"Ze..." panggil Aisyah pelan, suaranya bergetar. "Mas Aqlan... dia ingat semuanya, Ze."

Mata Zea terbelalak lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Hah?! Ingat? Maksud Kakak apa? Ingat apa?!"

"Ingat masa lalu... Ingat semua kenangan waktu dulu... Ingat sama seorang perempuan... Dan yang paling penting..." Aisyah menarik napas dalam, "...dia ingat siapa perempuan itu sebenarnya buat dia. Dia ingat semuanya, Ze."

BRAKK!!

Tas yang digendong Zea jatuh ke lantai. Tangannya langsung menutup mulutnya rapat-rapat, menahan isak tangis yang ingin meledak. Matanya seketika berkaca-kaca penuh air mata haru. Rasa lelah, panik, dan takutnya seketika berubah menjadi perasaan bahagia yang meluap-luap.

"Ya Allah... Ya Rabbi... Maha Benar Engkau mengatur segalanya..." isak Zea pelan, suaranya pecah. "Akhirnya... akhirnya ingatan Mas balik juga ya... Setelah bertahun-tahun kami berdoa, akhirnya dia ingat lagi..."

Tanpa menunggu lama, Zea langsung melompat memeluk Aisyah dengan sangat erat, seakan memeluk saudara kandung sendiri yang sudah lama tak berjumpa.

"Berarti... berarti dia ingat janji masa waktu dulu dong, Kak? Ingat janji sama Kiyai dan Bunda? Ingat janji sama wanita i?" tanya Zea berbisik di bahu Aisyah.

Aisyah hanya mengangguk pelan sambil membalas pelukan Zea, air mata haru kembali menetes membasahi pipi mereka berdua. Takdir indah itu kini mulai terkuak sepenuhnya.

 BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!