Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Jitakan ala umi grandma
Indonesia.
Apa yang di alami Azima tidak jauh berbeda dengan yang Annasya rasakan . A yang dingin dan kaku, di tambah Annasya yang kalem dan pendiam berusaha hidup bersama menciptakan dinamika unik di dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Seperti sekarang, sekamar namun komunikasi sangat jarang, begitulah situasi terkini pasangan baru itu.
Bangun pagi, Annasya membantu umi Tata menyiapkan sarapan. Annasya tidak terlihat canggung saat bersama umi Tata, ia justru sangat akrab bak anak dan ibu kandung.
" Kamu cukup menyiapkan ini untuk sarapan suami mu, nak." Tunjuk umi Tata pada sebuah piring yang berisi beberapa potongan alpukat , telur dan kentang rebus.
Annasya menganggukkan kepala.
" Apa makanan kesukaan A, umi ?"
" Mmm...tidak ada yang spesifik, yang umi tau, dia tipikal omnivora . " Umi Tata terkekeh kecil.
Annasya turut tersenyum memperlihatkan susunan gigi putihnya yang rapi.
" Umi pikir aku hewan.." A muncul tepat setelah umi Tata menghina putra nya itu di depan Annasya .
A menarik sebuah kursi dan duduk di sana.
" Abi mana?"
" Paling olahraga, sebentar juga dia turun."
Annasya meletakkan piring yang berisi sarapan sehat itu di depan A bersama segelas susu hangat .
" Terima kasih." Ucap A menatap sekilas wajah bare face alami Annasya.
Sepintas, tidak lama, apalagi ucapan terima kasih nya di balas senyuman manis wanita yang baru beberapa hari menjadi istrinya.
" Hmm.." A berdehem mengurai rasa gugup yang tiba tiba saja mampir meningkatkan kerja jantung dan pernafasan nya.
A meraih segelas susu dan meminum beberapa teguk.
" Ada kabar dari Zizi, umi?" A meletakkan gelas di atas meja dan mengambil potongan alpukat kemudian di masukkan ke dalam mulut.
" Iya, semalam Zizi menginap di mansion tuan Ibrahim. Mereka menyambut kedatangan adik mu dengan suka cita."
" Alhamdulillah. Aku turut bahagia mendengarnya."
" Oiya , kapan kamu berencana kembali ke Dubai ?" Tanya umi Tata.
Pertanyaan itu membuat A seketika menatap Annasya. " Rencana lusa." Ujar A membuang pandangan ke arah piring saji di hadapannya.
" Cepat sekali."
" Mmm...aku masih punya banyak pekerjaan yang tertinggal dan harus segera diselesaikan."
Annasya duduk tenang menikmati sarapan sembari menyimak pembicaraan A dan umi Tata. Ia tidak memotong ataupun menengahi pembicaraan itu.
Lepas sarapan, Annasya dan A kembali ke kamar. Hari ini mereka akan berkunjung ke mansion Brawijaya.
Ponsel di tangan, namun A sama sekali tidak fokus pada benda segi empat itu. Sesekali, iris amber miliknya meneliti bahasa tubuh Annasya.
Annasya memang sedang merias diri seadanya, memperbaiki posisi jilbab agar terlihat rapi. Hanya gerakan gerakan lumrah khas wanita, namun mampu membuat A terpana sesaat.
" Aku ingin bicara dengan mu." Ujar A menatap punggung Annasya.
" Iya, katakan saja. "
" Duduklah di sini."
Annasya menghentikan aktivitas dan duduk sesuai permintaan A. Mereka kini berhadapan.
A menautkan jari jemarinya. Ia nampak gugup, ini pertama kali nya ia duduk berhadapan dengan Annasya, hanya berdua.
" Kapan cuti mu berakhir?" Tanya A basa basi.
" Senin, aku sudah kembali bekerja. "
( Sekarang Sabtu, berarti dua hari lagi, dan itu adalah...)
" Seperti yang kamu dengar tadi, aku akan balik ke Dubai lusa." Ia pun memulai dengan sebuah kalimat penanda konteks dengan niat Annasya mengingat kembali percakapan nya dengan umi Tata beberapa saat lalu.
Annasya menyimak ,tidak menyahut dan membiarkan A melanjutkan.
" Aku belum bisa membawa mu ikut dengan ku, tidak apa kan?" Tanya A pelan, takut menyinggung Annasya.
" Iya, tidak apa apa. " Singkat Annasya.
" Jika semua berjalan lancar, insyaallah, aku akan pulang tiga bulan lagi."
Annasya mengangguk." Baiklah."
Sesimpel itu, tidak ada insiden merajuk ataupun merubah pernyataan menjadi pertanyaan.
A menatap Annasya. " Kamu tidak apa saya tinggal terlalu lama?"
Annasya balas menatap A, " Iya, tidak apa apa." Sekali lagi Annasya menjawab pertanyaan A dengan nada datar.
A tersenyum aneh.
( Sebenarnya, apa yang kau harapkan , A?)
*
*
Keduanya kini sudah berada di mansion Brawijaya.
Umi grandma menyambut mereka dengan tangan terbentang luas, ia memeluk Annasya erat.
" Sini , ayo duduk dekat umi. " Umi grandma menarik tangan Annasya.
A tidak di hiraukan, namun ketika umi grandma menoleh dan mendapati A masih berdiri mematung, Umi pun berkata , " Duduk di mana saja kamu mau." Nada nya halus, bahkan terdengar begitu lembut, tapi sebenarnya, tidak. Umi grandma cukup kesal juga dengan A. Mengingat jika A sempat menolak di jodohkan dengan Annasya.
A melongo.
( Sambutan macam apa ini? Sebenarnya cucu yang asli siapa sih?)
A menggerutu dalam hati. Ia pun duduk di mana hatinya suka.
" Oma Qila baru saja menelpon umi. Ia sudah tiba di Inggris pagi tadi." Ucap umi grandma menggenggam erat kedua tangan Annasya.
" Alhamdulillah, mungkin Oma kelelahan sampai lupa mengabari ku, umi. "
" Mungkin saja, kamu tau sendirikan, lansia jompo seperti kami ini sudah kehabisan tenaga saat harus bepergian belasan jam ." Seloroh umi grandma terkekeh pelan.
" Umi bisa saja, umi grandma masih muda dan masih cantik seperti dulu."
" Pujian mu terlalu berlebihan. Oiya, kapan kalian akan berangkat ke Dubai?"
Sunyi.
Umi grandma bergantian menatap kedua cucu nya.
" A......."
" Iya , umi grandma."
" Kapan kalian berangkat?" Umi grandma mengulang pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Selang beberapa detik dan A belum juga berucap, akhirnya Annasya berinisiatif menjawab pertanyaan umi grandma. " Lusa , umi grandma. Tapi Asya belum bisa ikut."
" Kenapa?" Apa cecunguk ini melarang mu ikut?" Tampak umi grandma kesal dan menatap tajam wajah A.
" Bukan umi. A justru mengajak . Hanya saja , Asya masih banyak kerjaan di rumah sakit. Jadwal operasi beberapa bulan ke depan juga masih menumpuk. " Annasya membela A di depan umi grandma.
" Apa itu benar , A? " Selidik umi grandma.
" I..iya, umi sayang ." A tersenyum kikuk. Namun , Umi terlihat tidak percaya dengan sandiwara pasangan muda itu.
" Berapa lama kamu berencana tinggal di sana?"
" Tiga bulan, umi."
" Apa? Tidak bisa, itu terlalu lama. Satu bulan. Setelah itu pulang dan jemput istri mu !! " Titah umi grandma.
A panik. Sengaja ia tidak mengikutsertakan kepergian nya kali ini ke Dubai hanya karena ingin menghindari kontak dengan Annasya. Ia akui sejauh ini, selama kurang lebih tujuh puluh dua jam setelah akad , hubungan mereka baik baik saja. Namun, A perlu waktu untuk menerima keadaan nya sekarang .
" Baik, umi grandma." Pasrah A.
Umi grandma kembali mengulas senyum begitu tatapannya jatuh pada Annasya. Mereka berbincang hangat, hingga mengabaikan A . Namun, suara teriakan gadis kecil dari arah luar menghentikan percakapan keduanya.
" Umiiii....." Zoya muncul dari balik dinding. Ia setengah berlari menghampiri umi grandma.
Begitu dekat, kegembiraan nya semakin bertambah dengan keberadaan A dan Annasya.
" Aunty, uncle. " Ucap Zoya meraih tangan A dan Annasya bergantian dan menciumnya.
Zoya menjatuhkan tubuhnya di sebelah Annasya. " Aunty sudah lama ?"
" Mmm..tidak juga, mungkin sekitar setengah jam lalu."
Zoya mengangguk. " Oooo.."
" Hafi tidak ikut ?" Tanya Annasya kemudian.
" Tidak, aunty. Dari semalam, Hafi demam, jadi umi membawa nya ke rumah sakit dan menitipkan aku di sini."
Annasya mengusap kepala Zoya. " Semoga adik Hafi lekas sembuh . "
" Aamiin." Jawab Zoya bersemangat.
Zoya pun akhirnya bercuap cuap , segala kondisi ia ceritakan, mulai dari sekolah hingga bagaimana ia melewati hari di rumah. Dan tiga orang dewasa yang sedang bersamanya berubah menjadi pendengar setia . Namun, hal yang lucu kemudian terjadi. Meski di dengarkan dengan baik, tapi Zoya tidak merasa sedang di perhatikan.
" Hhhhh.." ia menghela nafas.
" Loh, ceritanya sudah habis?" Umi grandma bertanya dengan nada lembut seperti biasa.
" Masih banyak. Coba aunty Zizi ada, pasti Zoya lebih semangat bercerita. "
" Memangnya sekarang kamu tidak bersemangat? Perasaan, kamu terlihat asyik menjelaskan semua hal pada kami." Tambah umi grandma.
" Umi grandma yang cantik, saat Zoya bercerita seperti tadi, alangkah baiknya jika umi, aunty dan uncle sesekali menimpali. Masa Zoya saja yang bawel. Hhhh,,,sudahlah. " Zoya sekali lagi menghela nafas .
Zoya menginginkan umpan balik dari setiap cerita yang ia urai . Sayangnya, Zoya curhat pada orang yang salah. Umi grandma yang jarang bicara, aunty Asya yang kalem dan pendiam, di tambah kulkas berpintu lebar yang sejak dulu memang sangat sulit di ajak bicara. Jadi lengkaplah sudah .
Umi grandma terkekeh . " Maaf kan umi, aunty dan uncle. Kami memang tidak se antusias aunty Zizi, tapi kami juga mendengarkan semua cerita Zoya. Hanya saja, kami tidak tau mengekspresikan antusias kami dengan ceritamu, sayang."
Zoya tersenyum manis ." Mmm...Zoya paham, umi grandma. "
" Begini saja, dari pada kamu menganggap jika kami tidak peduli, mending Zoya ajak aunty main di kamar." Umi kemudian mencondongkan tubuh nya lebih dekat dengan Zoya. " Umi ada mainan baru." Bisik nya.
" Benarkah, umi ?" Seketika, raut Zoya sumringah.
Umi grandma mengangguk di sertai tawa khas nya.
" Asyiiikkk,,,ayo aunty..." Zoya menarik tangan Annasya untuk ikut dengannya.
Begitu kedua nya tidak terlihat, umi grandma berdiri dan menghampiri A, sejenak ia menatap cucu kesayangannya itu, lalu...
' Pletak.'
Tangan umi grandma menempel sempurna di kepala A.
" Au.... Sakit, umi. " A mengusap kepala nya.
" Kau membohongi, umi." Tatapan umi tajam .
" Bohong? Bohong yang mana , umi grandma?"
" Kau kan yang tidak mau mengajak Asya ? "
A terperangah. Memang benar jika umi grandma punya indra ke enam.
" Bukan begitu, umi."
" Lalu? "
" Biar A yang berangkat lebih dulu , nanti aku akan pulang menjemput nya."
" Alasan nya?"
" I..itu, aku..."
Umi grandma menghela nafas. " Satu bulan, setelah itu, jemput istri mu! Jika tidak...kau akan tau sendiri akibatnya!!"
...****************...