"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waspada!
Dikantornya, Beni baru saja selesai rapat bersama jajaran penting di perusahaannya, membahas proyek-proyek mereka.
"Baiklah, selamat Pak Beni. Ini proyek pertama anda dengan posisi baru, semoga sukses." Direktur utama menjabat tangan Beni, sebagian penanda diserahkannya seluruh tanggungjawab padanya.
Beni tersenyum lebar, "Terimakasih, Pak."
"Pastikan jangan sampai gagal," imbuh Direktur utama seraya melangkah keluar dari ruang rapat itu.
Beni terlihat senang, baru kali ini ia memegang proyek besar. Beni segera menghubungi Melani.
"Terimakasih, Sayang. Berkat ide yang kau usulkan, aku berhasil mendapatkan proyek ekowisata yang kita bicarakan semalam."
"Wah, selamat ya, Sayang!" balas Melani.
"Nanti makan malam bersamaku diluar ya, kau bisa pulang lebih awal?"
"Tentu, Sayang. Akan aku siapkan tempat yang pas untuk sekalian kencan kan?" sahut Melani dengan nada menggoda.
"Kamu atur saja."
Panggilan telepon pun berakhir, Beni penuh semangat kembali ke ruang departemennya, untuk rapat bersama bawahannya.
"Pak Beni, maaf lupa menyampaikan, tadi pagi CEO dari CV Mardiya Trans meminta bertemu besok pagi jam 9 di kantornya ," lapor Cilla, salah satu pegawai di departemennya.
"Oke, terimakasih."
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Situasi di dalam minimarket tampak kikuk. Nolan duduk di teras minimarket bersama Loretta, menikmati kopi instan.
"Bagaimana ini bisa jadi sebuah kebetulan, kita bertemu di tempat terpencil seperti ini?" ujar Loretta membuka percakapan.
Sementara Taya menunggu di sudut gang, ia bertugas mengawasi Amira dan pria misterius yang mengikutinya.
—Tangkap pria yang mengikutinya, aku yakin dia lah yang kita cari selama ini, kelemahan Loretta.—
Pesan bernada perintah tak bisa Taya abaikan. Meski sebenarnya ia tak ingin salah menebak, tapi insting Nolan jarang meleset.
Amira menyadari adanya pria misterius yang mengikutinya, oh tidak! Dia justru mengenali wajah pria itu.
Amira melihat pria yang melecehkannya dua kali itu berdiri tak jauh darinya. Senyum setengah bibir disertai tatapan dingin dan sayu, menyiratkan niat jahat.
"K-kau?!" Amira mundur beberapa langkah, bola matanya bergerak tak tenang meski sudah mengambil jarak. Ia ingin segera lari, tapi tekanan emosi yang diterimanya, membuat lututnya seketika kehilangan daya.
Pria itu menyeringai, seolah ingin menyampaikan 'Kemanapun kau pergi, aku selalu menemukanmu!"
Amira memejamkan mata beberapa detik untuk mengatur napas, "Haruskah aku berteriak minta tolong... tapi bagaimana jika pria itu melakukan hal jahat pada orang lain, lalu orang akan tahu jika aku ini sangat kotor, a-aku...." Amira masih bimbang, berdiri berpegangan sudut rak, berusaha mengendalikan tubuhnya yang gemetar.
Pria itu hanya berdiri, menatapnya masih dengan ekspresi yang sama, seolah siap dengan semua kemungkinan. Jika Amira memberontak, maka ia tak akan segan berbuat lebih keji.
"Tidak! Aku belum menyerah, aku harus lari dan hidup!" pekik Amira mengambil langkah cepat menuju pintu keluar.
Namun, ia justru melihat mertuanya duduk mengobrol santai di teras minimarket itu bersama seorang pria muda. langkahnya terhenti sesaat, pikirannya kosong bercampur panik. "Mereka mengepungku?"
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Taya—Pria yang tadi mengaku ingin menolongnya setelah menabrak dirinya. Taya menggerakkan tangan, seolah memberi isyarat untuk menawarkan pertolongan.
Amira mengerutkan kening karena ragu. "Dia bicara padaku atau pada pria dibelakangku?" pikirnya yang masih berdiri di depan pintu kaca minimarket itu.
Loretta duduk membelakanginya, jadi tak menyadari Amira yang berdiri dibelakangnya berbatas dinding kaca.
Nolan duduk tepat menghadap ke dalam toko, jadi ia melihat jelas gerak-gerik tak wajar dari Amira dan pria yang sedang menjadi tergetnya.
Nolan merentangkan kedua tangan, kemudian memutar setengah badan, "Aduh, tegangnya otot ini, sepertinya aku kurang berolahraga!" serunya memotong obrolannya dengan Loretta, sebagai cara untuk memastikan Taya masih di posisinya.
"Badanmu bagus, biar kutebak, kau pasti menghabiskan waktu pagimu untuk melakukan berbagai macam olahraga ya?" sahut Loretta. 'Kurasa ini saat yang tepat untuk megusirnya dari sini, jangan sampai dia tahu tujuanku ke tempat ini,' pikir Loretta dalam hati.
Loretta pun melakukan hal yang sama, merentangkan kedua tangannya dan berniat untuk memutar badan melihat ke dalam toko, namun Nolan menyadarinya.
Nolan membuka galeri di ponselnya, "Kau bisa temani aku berolahraga di sini, di tempat ini?" ujarnya cepat-cepat seraya menunjukkan sebuah foto pada Loretta.
"Duh sial! Ajakan di waktu yang nggak tepat!" gerutu Loretta dalam hati, terpaksa ia pun melongok, melihat ke layar ponsel yang ditunjukkan Nolan. "Boleh, sih." jawabnya sedikit terpaksa. "Mungkin memang sebaiknya aku pergi saja dengannya, biarkan si bodoh itu bekerja dengan tenang."
Nolan berdiri, menempatkan diri di belakang Loretta, seolah berusaha bersikap layaknya pria sejati yang membantu wanitanya beranjak. namun tujuannya adalah untuk menutupi pandangan Loretta ke dalam toko.
Nolan melangkah di sisi Loretta, "Mobilku terparkir di depan sana, maafkan kau terpaksa membuatmu jalan kaki."
Loretta tersipu, "Mobilku juga terparkir di ujung gang, mau bagaimana lagi, jalan ini terlalu sempit untuk mobil masuk."
Obrolan basa-basi pun berlanjut.
Melihat mertuanya pergi, Amira mengambil sebungkus popok bayi di rak terdekatnya, kemudian menghampiri kasir dengan cepat.
"Tujuh puluh empat ribu, mau sekalian tebus—" ucap kasir terpotong Amira.
"Yang bayar dia, dia suami saya!" potong Amira seraya menunjuk pria misterius yang berdiri hanya berjarak beberapa langkah dari Amira.
Amira mengambil cepat barang itu, lalu bergegas menuju ke pintu keluar.
Keputusan yang cepat dan cerdas. Triknya cukup membuat pria itu harus berurusan dengan kasir karena dua penjaga toko yang bertugas di pintu, tak membiarkan pria itu keluar dengan mudah sebelum membayar.
Amira mengambil langkah lain, tidak mengikuti arah Loretta, tidak juga menurut pada Taya.
Taya yang menyaksikan adegan itu dari seberang toko, mengangguk-angguk takjub dengan keberanian Amira. "Jika dipikir-pikir sedikit aneh, kenapa istri tua dijaga ketat, bahkan harus dikirim ke luar negeri, sepertinya aku harus melihat lebih dalam, mungkin saja pernikahan putranya kali ini ada tujuan lain dibaliknya."
Ponsel Taya berdering, sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya. "Pria itu berbahaya, dan wanita itu adalah sanderanya. Aku menemukan jejak hingga di kota S."
Taya mengerutkan kening, "Sandera? Apa-apaan ini, rumit sekali!" jawab Taya.
"Wanita itu dilecehkan berkali-kali dalam waktu tiga hari, pria itu penjahat, Pak."
"Kau yakin?" balas Taya masih memikirkan hubungan Amira dengan Loretta. " Kalau begitu, ku kirimkan lokasiku, kau cepat bantu aku menangkap pria itu!"
Pria yang mengikuti Amira pun berhasil keluar dari toko setelah menyelesaikan pembayaran. Langkahnya yang lebar tak khawatir akan kehilangan jejak kecil Amira.
...🍂🍂🍂bersambung🤗🍂🍂🍂...