NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:65.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Seno

"Seno....!" Teriak Bu Ranti ketika melihat Seno sudah tak bernyawa.

Pak Sugeng hanya bisa diam melihat anak semata wayangnya itu telah meninggal.

Jaka, Udin dan dua orang lainnya hanya bisa menyaksikan semua itu dalam diam. Lagi-lagi, satu pemuda di kampung itu meninggal dengan mengerikan.

"Le, Bagun.. jangan tinggalkan ibu Le!" Jerit tangis Bu Ranti memecah sunyi malam yang dingin. Tubuh Seno terbaring kaku, lehernya terpelintir tak wajar seperti dua korban sebelumnya.

Pak Sugeng masih berdiri mematung. Tangannya gemetar, namun tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Matanya menatap kosong ke arah tubuh anaknya, seakan belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi.

Udin menelan ludah. Ia melirik ke arah Jaka, wajah keduanya pucat.

"Ini… ini sama seperti Sapri dan Herman," bisik Udin kepada Jaka.

Jaka mengangguk pelan. Tiga pemuda sudah mati dengan cara yang sama. Leher terpelintir, wajah membeku dalam ketakutan.

Jaka menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang masih bergetar. Ia melangkah perlahan mendekati Pak Sugeng yang masih berdiri kaku di samping tubuh Seno.

"Pak..." suara Jaka pelan.

"Sebaiknya, Seno kita angkat dulu ke dalam. Kita bawa ke ruang tamu."

Pak Sugeng tidak langsung menjawab. Ia masih menatap wajah anaknya yang pucat, seolah berharap Seno tiba-tiba membuka mata. Namun harapan itu tak pernah datang.

Akhirnya ia mengangguk lemah.

"Iya… Le… angkat saja," ucapnya lirih.

Jaka lalu menoleh ke arah Udin, dan dua pemuda lain yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka.

"Ayo… kita angkat pelan-pelan."

Mereka mendekat dengan langkah ragu. Jaka memegang bahu Seno dan kepala Seno yang patah sementara kedua pemuda yang lain membantu di bagian kaki. Udin menopang bagian punggungnya. Tubuh Seno terasa berat dan dingin.

Dengan hati-hati mereka mengangkatnya, lalu membawanya keruang tamu. Bu Ranti kembali menangis ketika tubuh anaknya dibaringkan di atas tikar di ruang tamu.

“Le… bangun Le… jangan tinggalin ibu…” isaknya tak berhenti.

Suasana rumah dipenuhi oleh tangis Bu Ranti.

Jaka berdiri di dekat pintu, lalu menoleh kembali pada Pak Sugeng.

"Pak.., apa perlu saya laporkan ke polisi?" tanyanya hati-hati.

Pak Sugeng mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan sembab. Ia menggeleng pelan.

"Tidak usah, Le," suaranya berat. "

Tidak perlu dilaporkan." Jaka terdiam sejenak, lalu mengangguk mengerti.

"Kalau begitu… biar Udin sama Daud ke rumah Ustadz," katanya.

"Biar Ustadz umumkan di masjid. Supaya warga tahu."

Daud mengangguk pelan. Wajahnya masih tegang.

"Iya… ayo Din."

Udin dan Daud melangkah cepat meninggalkan rumah Pak Sugeng.

"Din… kamu juga kepikiran hal yang sama?" bisik Daud pelan.

Udin tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, wajahnya tegang, dia jadi ingat kematian Herman yang begitu tragis, sama seperti Seno.

"Tiga orang, Dud, dan semuanya sama," katanya akhirnya.

"Sapri, Herman, sekarang Seno."

Daud mengusap tengkuknya yang meremang.

"Semoga saja ini bukan seperti yang orang-orang bicarakan." Kata Daud.

"Memangnya apa yang di bicarakan orang-orang?" Tanya Udin heran. Dia memang jarang bergaul dan kumpul dengan yang lainnya, setiap hari dia hanya ke sawah, jika waktunya sholat dia akan ke masjid bersama dengan Jaka. Sama seperti Jaka yang juga tidak bergaul dengan yang lain.

"Kematian Sapri, Herman itu ada kaitannya dengan kematian Aning." Kata Daud.

"Hush, jangan ngaco Dud." Ucap Udin yang tak ingin sembarangan.

"Itu yang di curiga orang-orang Din, mereka percaya jika yang membunuh Sapri, Herman itu orang yang sama." Kata Daud lagi.

"Sudah, kita jangan bahas kematian mereka lagi, bulu kudukku jadi berdiri." Kata Udin.

Mereka mempercepat langkah hingga sampai di rumah Ustadz Sakari.

Tok… tok… tok…

"Assalamu’alaikum…" panggil Udin.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Ustadz Sakari muncul dengan wajah heran.

"Wa’alaikum salam. Ada apa malam-malam begini, Din?"

Udin menelan ludah sebelum menjawab.

"Ustadz… Seno… anaknya Pak Sugeng, meninggal."

Wajah Ustadz Sakari langsung berubah kaget.

"Innalillahi…" gumamnya pelan.

"Baik, kita umumkan di masjid."

Beberapa menit kemudian. Ustadz Sakari berdiri di depan pengeras suara.

Tak lama, suara beliau menggema ke seluruh penjuru desa.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia Seno, putra dari Bapak Sugeng."

Suara pengumuman itu menembus ke rumah-rumah warga yang mulai terlelap.

Satu per satu pintu rumah terbuka. Warga saling berpandangan dengan wajah tak percaya.

"Apa? Seno?"

Bisik-bisik cemas segera menyebar. Tanpa banyak kata, warga desa mulai berjalan menuju rumah Pak Sugeng.

Orang-orang desa mulai memenuhi halaman rumah Pak Sugeng. Beberapa membawa senter, Wajah-wajah mereka terlihat tegang, dipenuhi rasa tidak percaya.

Pak Warsito, selaku ketua RT, berdiri di dekat pintu rumah. Tangannya terlipat di dada, wajahnya serius menatap ke arah ruang tamu tempat jenazah Seno dibaringkan.

"Ini sudah yang ketiga." gumamnya pelan.

Di sampingnya berdiri Pak Yuda dan beberapa warga lain. Mereka saling berbisik, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di desa mereka.

"Kalau begini terus, siapa lagi setelah ini?" Ujar salah satu warga dengan suara gemetar.

Tak ada yang menjawab.

Suasana terasa semakin mencekam.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat dari arah jalan desa. Udin dan Daud terlihat berjalan bersama Ustadz Sakari menuju rumah Pak Sugeng. Warga yang melihat mereka langsung memberi jalan.

"Ustadz sudah datang." ujar seseorang pelan.

Ustadz Sakari mengangguk pada warga yang menyapanya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Udin mengikuti di belakangnya.

Di ruang tamu, tangis Bu Ranti masih terdengar lirih di samping jenazah anaknya.

Ustadz Sakari berhenti sejenak, menatap tubuh Seno dengan wajah berat.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un." ucapnya pelan.

1
May Maya
KLO jd ibu nya aning pasti jd depresi
Hani Hadianti
ijin hadirr🙏
Mega Arum
kenapa tomo.. awal2 tomo trlihat baik, bahkan pintar agama..., tp tomo dan bpknya seakan2 dalang dr kematian Aning.. lanjuut thor,
Skay Skayzz: waduhh ada apa dgn mas tomo weee
total 1 replies
Yati Susilawati
pak desa, ditunggu aning tuh... 🤣🤣
kimiatie
jalan cerita yang bagus dan penulisan yang mantap 👍👍👍
kimiatie
menunggu update nya thor💪
kimiatie
kenapa tak panggil polisi sahaja...pak RT nya kenapa??????
kimiatie
hanya itu yang mampu oak warsito lakukan😂😂 betul tu ...mati kubur sahaja
kimiatie
begitu lah manusia akan berasa kuat di hadapan yang lemah tapi akan terjadi sebaliknya bila berhadapan lawan yang lebih kuat
kimiatie
itulah bak kata pepatah " kerana mulut badan binasa "
kimiatie
kenapa tiada tindakan lanjut...mahu sampai bila menahan bu darsia...kerja kepala desa Rt atau yang berpangkat tiada tindakan
Nurr Tika
minta maaf itu mudah tapi hati yg udah terluka tidak mudah untuk melupakanya
Mur Wati
eh pekok yg bikin ulah siapa sebelum nya hah ngatain laknat kelakuan mu laknat 😡
Maya Mariza Tarigan
best
Sandy Nasruddin Rozaq
pak ustadznya kemana ya?
nurul supiati
pantesan kepala desa nya juga ikutan ya jelas takuttt lah
Mamake Nayla
wah...jgn2 kepala desa nya ini tersangka nya jg
Mamake Nayla: metong jg akhirnya nanti buat penghabisan🤭🤭
total 2 replies
Mamake Nayla
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
kimiatie
banyak juga yang memperkosa aning...kalau aku jadi ibunya juga akan ku lakukan apa sahaja untuk balas dendam
Kenzo Andius Haryo P
siapa lg yg mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!