NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, memberikan warna merah darah pada salju yang menyelimuti puncak Gunung Sandaran. Udara pagi ini begitu tajam, seolah ribuan silet kecil mencoba mengiris kulitku. Namun, bagi tubuhku yang sudah mencapai Level 3, dingin ini tak lebih dari sekadar embusan angin sepoi-sepoi.

Aku berdiri di sebuah pelataran luas yang dipenuhi oleh bongkahan batu granit raksasa. Di depanku, berdiri sebuah batu hitam yang tingginya dua kali lipat tubuhku. Guratan-guratan pada permukaannya menunjukkan betapa keras dan tuanya batu ini.

"Berhenti melamunkan pertanyaan semalam, Qinar. Fokus atau tanganmu akan hancur jadi bubur!"

Ki Kusumo berdiri di atas dahan pohon pinus yang meliuk, tangannya memegang botol arak yang sudah hampir kosong. Matanya yang merah menatapku tajam.

"Ujian Keempat: Tangan Pemecah Gunung," ucapnya seraya melompat turun. Tap. Ia mendarat tanpa suara di atas salju. "Kau sudah punya Kulit Besi, Napas Petir, dan Darah Nirbisa. Tapi itu semua adalah pertahanan. Sekarang, aku ingin kau belajar cara menghancurkan."

Aku menatap batu granit di depanku. "Hanya dengan telapak tangan, Ki?"

"Ya. Tanpa senjata. Tanpa ancang-ancang lari. Hanya kau, Qi-mu, dan batu itu," Ki Kusumo mendekat, mengetuk permukaan batu itu dengan jarinya. Ting! Bunyinya nyaring seperti benturan logam. "Batu ini bukan batu biasa. Ini adalah Granit Hitam Inti Bumi. Dia menyerap getaran. Jika kau memukulnya dengan otot, batu ini akan membalikkan tenagamu dan mematahkan seluruh tulang lenganmu."

Aku menarik napas panjang. Aku memusatkan seluruh konsentrasiku pada telapak tangan kananku. Aku bisa merasakan getaran hangat dari sumsum tulang emas Level 3-ku. Energi itu mengalir, berputar di pergelangan tangan, dan berkumpul di tengah telapak.

"Hiaaaa!"

Brakk!

Aku menghantamkan telapak tanganku sekuat tenaga ke tengah batu. Getaran hebat merambat balik ke lenganku. Rasanya seperti menabrak dinding baja yang tak tergoyahkan. Tubuhku terpental mundur tiga langkah, dan telapak tanganku terasa panas membara, memerah seketika.

Batu itu? Tidak tergores sedikit pun. Hanya debu tipis yang luruh dari permukaannya.

"Bodoh! Sudah kubilang jangan pakai otot!" Ki Kusumo berteriak kesal. "Kau menyerang permukaannya, Qinar! Batu ini tertawa melihat seranganmu. Kau harus menyerang intinya!"

Aku mengatur napas yang mulai memburu. "Bagaimana cara menyerang sesuatu yang tidak kulihat, Ki?"

"Gunakan indramu! Ingat saat kau menangkap walet? Kau tidak menangkap burungnya, kau menangkap anginnya. Sekarang, jangan lihat batunya. Rasakan serat-serat di dalamnya. Temukan titik lemah di mana atom-atomnya tidak saling mengunci. Salurkan Qi petirmu ke titik itu, dan biarkan dia meledak dari dalam!"

Aku kembali berdiri di depan batu raksasa itu. Aku memejamkan mata. Aku tidak lagi melihat sebongkah batu hitam yang menyeramkan. Aku mencoba "melihat" dengan Qi-ku.

Perlahan, dunia di sekitarku menjadi gelap, dan batu itu tampak seperti gumpalan energi abu-abu yang padat. Namun, di tengah-tengah kepadatan itu, aku melihat garis-garis tipis yang saling bersilangan. Seperti retakan halus yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

Di sana.

Aku mengangkat telapak tanganku. Kali ini, aku tidak mengumpulkan energi di permukaan kulit. Aku menarik Qi-ku jauh ke dalam, memadatkannya menjadi sekecil ujung jarum di pusat telapak tangan. Aku membayangkan tanganku bukanlah daging, melainkan sebuah pasak petir yang siap menghujam jantung bumi.

Aku tidak berteriak. Aku hanya mengembuskan napas panjang—huuuuu...—dan menyentuhkan telapak tanganku dengan lembut ke permukaan batu.

Ssssshhh...

Suara desisan halus terdengar. Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa. Ki Kusumo diam menonton. Angin berhenti berembus.

Krak.

Sebuah retakan rambut muncul dari bawah telapak tanganku. Retakan itu menjalar cepat seperti kilat, bercabang-cabang ke seluruh permukaan batu granit raksasa itu.

BOOOOOMM!

Batu setinggi tiga meter itu meledak dari dalam. Ribuan serpihan batu terbang ke segala arah, beberapa di antaranya tertanam dalam di batang pohon sekitarnya. Debu putih mengepul tebal, menutupi pandanganku.

Aku berdiri mematung, menatap telapak tanganku yang kini dikelilingi oleh percikan listrik kecil berwarna perak. Tidak ada rasa sakit. Hanya rasa kosong yang aneh, seolah-olah aku baru saja memindahkan beban gunung ke dalam satu sentuhan.

"Lumayan... untuk pemula," suara Ki Kusumo terdengar dari balik debu.

Saat debu menghilang, aku melihat Ki Kusumo sedang menepis debu dari bahunya. Di depanku, batu granit itu telah hancur total, menjadi tumpukan kerikil halus.

"Kau berhasil menyatukan Napas Petir dengan niatmu, Qinar," Ki Kusumo berjalan mendekat, menatap bekas hantamanku di tanah. "Itu bukan sekadar pukulan. Itu adalah teknik penghancuran tingkat tinggi. Tapi ingat, membelah batu itu mudah karena dia diam. Membelah musuh yang bergerak... itu cerita lain."

Aku mengepalkan tangan kananku. Kekuatan Level 3 ini terasa jauh lebih nyata sekarang. Aku merasa seolah-olah dunia ini terbuat dari kertas yang bisa kurobek kapan saja.

"Apa ujian ini sudah selesai, Ki?" tanyaku.

"Baru satu batu, kau sudah tanya selesai?" Ki Kusumo menunjuk ke arah lembah yang dipenuhi ribuan batu serupa. "Aku ingin kau membelah seratus batu lagi sebelum matahari tenggelam. Dan setiap batu harus hancur menjadi debu yang lebih halus dari sebelumnya!"

Aku tersenyum tipis. Rasa haus akan kekuatan yang sempat terganggu oleh pertanyaan tentang ayahku semalam, kini kembali berkobar. Jika aku ingin menghancurkan "papan catur" itu, aku harus bisa menghancurkan segalanya dengan tanganku sendiri.

"Siapkan ubi bakarmu yang banyak, Ki," kataku sambil berjalan menuju batu berikutnya. "Karena aku tidak akan berhenti sampai lembah ini rata dengan tanah."

Brak!

Suara ledakan batu kembali menggema di seantero Gunung Sandaran. Delapan tahun usia Qinar, dan tangannya kini telah menjadi senjata yang paling mematikan.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!