Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Kedua
Siang itu terik matahari menyengat, di sebuah lapangan tembak mafia penuh dengan suara dentuman. Aroma mesiu menusuk hidung, bercampur dengan bau besi dan oli senjata. Target kertas berbentuk siluet manusia bergoyang setiap kali peluru menembus.
Selena berdiri di garis tembak, kedua tangannya gemetar memegang pistol Glock hitam yang baru saja disodorkan Valen.
“Berat sekali…” gumamnya lirih.
Valen berdiri di belakangnya, tubuhnya tegap, tatapannya tajam menusuk.
“Senjata itu bukan mainan, Selena. Satu tarikan pelatuk bisa mengubah nasib seseorang. Kau harus menguasainya, atau dikuasai olehnya,” jelas Valen dengan tatapan dinginnya.
Selena menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kacau. Ia membidik, tapi moncong pistolnya bergetar.
“Jangan hanya melihat target,” bisik Valen di telinganya, suaranya dalam. Tangannya meraih pergelangan Selena, menuntun. “Bayangkan dia adalah orang yang ingin merenggut nyawamu. Kalau kau ragu, kau mati.”
Selena mencoba untuk menjalankan apa yang menjadi perintah pria itu meskipun tangannya masih bergetar dan tatapannya masih ragu namun ujung jemarinya mencoba untuk menarik pelan pelatuk. "Dor ....!"
Peluru pertama meleset jauh dari lingkaran target, hanya meninggalkan lubang kecil di sudut kertas. Anak buah di belakang tertawa rendah, seolah mengejeknya. "Jauh dari ekspetasi," suara samar para anak buah Valen terdengar di telinga gadis itu.
Selena menggertakkan gigi,rasa kesal mulai membayangi pikirannya apalagi mendengar bisik-bisik tak mengenakan dari mulut mereka. Gadis itu mulai fokus matanya berkilat. Ia mengatur posisi kaki, merapatkan kedua tangan, lalu menarik pelatuk lagi, dengan tatapan tajam penuh kepercayaan diri. "Dor ....!" Kali ini peluru kedua menembus dada target, tepat di lingkaran luar.
Ruangan hening sejenak. Valen menyeringai tipis. “Lebih baik. Tapi aku tidak ingin kau sekadar bisa menembak. Aku ingin kau membuat orang gemetar hanya dengan melihatmu mengangkat senjata.”
Selena menelan ludah, menatap target yang kini sobek di bagian dada. Ada kobaran api kecil di matanya.Ia menembak lagi, "dor! dor! dor! ...." kali ini lebih stabil. Tiga peluru menancap berdekatan, semakin mendekati lingkaran jantung.
Anak buah Valen yang tadi meremehkan saling pandang, tak lagi berani tertawa, mereka cukup terkejut dengan ketanggapan dan kecerdasan Selena dalam menyerap ilmu yang diberikan oleh atasannya itu.
Valen menepuk bahu Selena, nada suaranya berat tapi penuh kebanggaan tersembunyi.
“Begitu dong. Peluru-peluru itu adalah suara keadilanmu. Ingat, Selena, di dunia ini orang hanya mendengar dua hal. Uang… dan dentuman senjata. Kau harus menguasai keduanya.”
Selena menurunkan pistol dengan tangan masih bergetar, tapi tatapannya kini dingin. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bukan hanya ketakutan, tapi juga kekuatan, dan keberanian untuk terus menggali apa yang kurang dalam dirinya soal tembak menembak.
"Bimbing aku Don, aku masih butuh proses untuk memulai dan mendalami," ujar Selena.
"Baiklah, aku suka dengan semangatmu, ya sudah pelatihan hari ini berakhir dengan baik, semoga besok-besok sudah ada perubahan besar," sahut pria itu.
Selena kemudian mulai menggandeng tangan Valen membawanya keluar dari tempat pelatihan ini. "Selana, kau mau kemana?" tanyanya dengan nada datar.
"Sudah diam saja, aku ingin membuat kejutan untukmu Don," sahut Selena.
"Kejutan apa?" tanyanya kembali dengan nada dingin dan tatapan elangnya.
Kemudian Selena berhenti sejenak, tepat diambang pintu pelatihan, ia mulai mendekat dan berbisik. "Jangan menatapku seperti itu, bukankah sekarang kita sama," bisik Selena dengan nada beratnya.
"Selena!" tegur Valen yang merasa tidak suka dengan sikap berani Selena.
"Shuuuut," suara Selena sambil menutup bibir Valen dengan jari telunjuknya.
"Aku tahu, aku masih tawananmu, tenanglah aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan saja," lanjut Selena lalu mulai menuntun tangan kekar itu.
Sesampainya di rumah besar itu, Selena menutup mata Valen dengan kain hitam.
“Apa lagi ini?” suara Valen datar, tapi langkahnya mengikuti.
“Tenang, Don. Untuk kali ini … biarkan aku yang mengendalikan,” jawab Selena lembut.
Ia menuntun Valen ke ruang tengah yang sudah ia siapkan. Di sana, di atas meja panjang, tampak kue sederhana yang Selena pesan diam-diam dari luar. Lilin kecil menyala di atasnya, menebarkan cahaya hangat yang kontras dengan ruangan gelap.
"Sudah selesai apa belum?" tanyanya dengan nada dingin.
Selena tidak menggubris dengan nada dingin Valen yang menurutnya sudah terbiasa. "Tenang ya, sebentar lagi aku buka," ucap Selena.
Tangannya mulai terulur untuk melepas taku yang mengikat matanya. Ketika Selena membuka penutup mata Valen, pria itu terdiam.
“Selamat ulang tahun, Don,” ucap Selena lirih, tersenyum malu. “Aku tahu mungkin ini terlihat bodoh … tapi aku ingin kau tahu, untukku … kau bukan hanya sosok yang menakutkan. Kau juga manusia yang berhak merasakan dicintai.”
Valen menatap kue itu. Tubuhnya mendadak kaku. Sekilas, bayangan masa kecilnya menyeruak, rumah penuh teriakan, lilin yang menyala mengingatkannya pada kobaran api pada waktu itu, darah ayahnya menetes di lantai, dan suara tawa dingin ibunya yang meninggalkannya sendiri, bersama seseorang yang menjadi selingkuhan ibunya.
“Cukup.” Suara Valen berat, dingin. Tangannya mengepal hingga uratnya menegang. “Aku tidak butuh semua ini, Selena.”
Selena terkejut. Ia melangkah maju, memegang tangan Valen. “Don … aku hanya ingin kau merasa … tidak sendirian lagi.”
Valen menoleh, matanya merah menahan emosi. “Ulang tahun untukku … hanya berarti kehilangan. Setiap lilin yang menyala … hanya mengingatkanku bahwa orang-orang yang kucintai yang aku jaga pergi meninggalkanku."
Air mata Selena menetes, melihat sisi rapuh yang jarang sekali Valen tunjukkan. Ia meraih wajah Valen, memaksanya menatap. “Kalau begitu biarkan aku yang merubahnya. Biar ulang tahunmu … bukan lagi tentang kehilangan, tapi tentang awal yang baru. Aku di sini, Don. Aku tidak akan pergi.”
Valen menutup mata, napasnya berat. Lama ia diam, sebelum akhirnya tangannya meraih Selena dan menariknya ke dalam pelukan.
Untuk pertama kalinya, pelukan itu bukan sekadar kuasa atau paksaan, melainkan kebutuhan.
“Selena … jangan pernah berjanji seperti itu,” bisiknya parau. “Aku takut … jika suatu hari aku benar-benar kehilanganmu.”
Selena membalas pelukannya erat, air matanya jatuh di dada pria itu. “Kalau begitu … biarkan aku hidup di sisimu, Don. Biar pun dunia membencimu, aku … akan tetap ada.”
Cahaya lilin di meja bergoyang pelan, seakan ikut menjadi saksi bahwa untuk pertama kalinya, Don Valen yang kejam itu membiarkan dirinya rapuh di hadapan seorang wanita. Selena.
Bersambung ....
Semoga suka ya kak dengan double up kali ini
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf