"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Malam hari yang sangat panjang, ketika Serena merasa kelopak matanya berat dan hampir saja jatuh tertidur di atas ranjang yang dia rasakan. Tiba-tiba ia terkejut setelah menyadari kilatan cahaya lampu yang baru dinyalakan.
"Siapa itu?" panik Serena, segera mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya terus tertuju pada daun pintu yang berayun terbuka.
Serena mengerutkan kening saat ia hanya melihat dirinya bukanlah di rumahnya atau rumah sakit yang menjadi tempat terakhir yang ia naungi.
Seorang bawahan Lennox yang berdiri di ambang pintu. Dia berjaga di dalam kamar selama 1 jam atas perintah tuannya sendiri karena tadi Lennox kembali keluar untuk memenuhi panggilan ayahnya.
"Tuan Lennox sudah datang," beritahunya pada Serena.
"Apa? Jadi, dia membawaku ke mansionnya?"
Serena segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan wajah tegang. Selanjutnya, melangkah masuk seorang pria berparas tampan, berambut hitam kecokelatan, serta tubuhnya yang tinggi menjulang.
Mulanya, Serena sempat terkesiap melihat pria yang kini berdiri di dekat pintu. Hati kecilnya mengakui ketampanan dari sosok pria karismatik tersebut.
Namun, kedua tangan Serena mengepal kuat setelah ingat bahwa pria tampan di hadapannya ini adalah sosok manusia berhati iblis. Penjahat kelas kakap yang telah membunuh ibunya dan memaksakan kehendaknya.
"Tutup pintunya!" Lennox sedikit menoleh ke belakang, memerintah pada bawahannya yang langsung mengangguk patuh dan menutup rapat pintu kamar tersebut.
Kini, Serena terjebak bersama Lennox di dalam kamar itu. Suasana di dalamnya, seketika terasa mencekam bagi Serena.
"Bagus. Akhirnya aku bisa membawamu kesini setelah beberapa kali penolakan," ucap Lennox, tersenyum miring sambil melangkah maju dan duduk di sofa yang ada di dekat Serena.
"Kau yakin masih menolak ku?" tanya Lennox, menuangkan sampanye ke dalam gelas kosong, lalu meneguknya hingga tandas.
Serena menatap tajam.
"Jawab pertanyaanku! Aku tahu kau tidak bisu," cetus Lennox, melayangkan sorot tajam dan memerintah.
"Jawabanku akan tetap sama." jawabnya. Sambil menahan gugup dan berusaha menyembunyikan tangannya yang agak gemetar.
Lennox mengangguk-anggukan kepala, lalu matanya memindai tubuh Serena dari atas ke bawah. Decak sebal keluar dari mulut sang ketua mafia tersebut.
"Si bodoh itu tidak memberimu pakaian yang layak. Maaf, maksudku ibumu yang sudah di makan cacing tanah itu dengan bangga memberikan kemiskinan pada putrinya. Sampai kau hanya mampu membeli baju penyamaran seperti ini. Seharusnya dia memberimu pakaian dan kehidupan yang lebih pantas agar aku saja tidak bisa mengenali mu." Lennox memaki Ibu Serena yang jelas sudah tiada dan tidak perlu dibahas lagi ketenangannya. Setelah melihat tubuh Serena hanya terbalut oleh baju terusan yang tak bermerek yang bahkan dibeli di pasar dengan harga murah.
Serena menundukkan wajah, mengusap lengannya yang bulunya mulai meremang. Dia ingin sekali menggunting pita suara pria itu saat detik itu juga karena telah menghina ibunya yang sudah tenang. Tapi, dia sudah mewanti bahwa tidak akan berdaya.
"Lepaskan semua pakaianmu! Aku ingin melihat bentuk tubuhmu,"
Serena terkejut dengan perintah tiba-tiba itu dari Lennox. Meskipun, dengan ketakutan, Serena sontak menatap ke arah mata pria mafia yang bengis itu.
Dalam pikiran Lennox, "Aku harus membuat permintaan yang lebih menantang dari itu. Tidak ada alasan untuk membuat keputusan yang buruk."
Lennox bersimbah emosi dan mengulang wajah dingin dan tidak ekspresifnya saat dia tampak membayangkan perihal lekuk tubuh Serena yang seksi dibalik pakaiannya yang selalu tertutup.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor