NovelToon NovelToon
The Devil Husband

The Devil Husband

Status: tamat
Genre:Misteri / Perjodohan / Badboy / Kriminal / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Baru

Seruni Dendam Istri Pertama Bagian 17

Oleh Sept

"Terima kasih," Aku sedikit menundukkan wajah. Aku terima saja karena aku memang butuh benda ini. Rasanya sangat tidak nyaman melihat cara orang melihatku yang memakai baju basah karena kehujanan. Untuk mengusir tatapan jahat dari para kaum Adam, akhirnya aku kenakan jas dari seseorang yang tidak aku tahu namanya. Cukup hangat dan tidak membuatku menggigil kedinginan.

Hujan masih turun dengan deras di sini, dan aku masih duduk di salah satu bangku di terminal Bungurasih. Ya, aku sudah sampai di tanah Jawa. Di tempat di mana aku dibuang dulu. Jarakku dengan panti asuhan tidak jauh, cukup naik angkutan umum hanya setengah jam. Tapi bu Fatimah melarangku ke sana, aku sekarang sama sekali tidak tahu harus ke mana.

Di tengah hati yang dilanda dilema, tiba-tiba seorang pria duduk di sebelahku. Dia bertanya dengan gaya sok kenal sok dekat, membuatku tidak nyaman.

"Mau ke mana, Mbk?"

Aku menggeleng mendengar pertanyaan darinya. Bukan aku sombong atau apa, hanya saja dari sorot matanya aku bisa melihat orang ini tidak baik. Cara dia menatapku, aku merasa tidak nyaman.

"Basah bajunya?" Dia terus bertanya sembari mengamatiku dari atas sampai bawah. Sudah tahu aku kehujanan, tapi dia sepertinya terus bertanya. Apalagi dia sempat melempar senyum tidak jelas padaku. Jujur selain tidak nyaman, aku juga mual. Tiba-tiba teringat dengan raut wajah suamiku. Aku pun pindah tempat duduk, kini aku dekati saja pria yang tadi memberikan jas padaku.

"Maaf, Mas. Boleh saya dukuk di sini?"

Pria yang sedang menelpon seseorang itu menatapku, kemudian melirik ke arah belakangku. Sepertinya dia tahu, aku sedang didekati atau diganggu orang yang membuatku tidak nyaman. Kulihat pria ini mengangguk, kemudian tetap bicara di telpon.

"Bawa payung, Mas sudah sampai dari tadi. Hujan masih deras, nyetirnya yang hati-hati!" ucap pria itu kemudian memasukkan ponselnya dalam saku celana.

Setelah mematikan ponselnya, barulah dia bicara dan bertanya padaku. "Apa dia menganggumu?"

Aku lalu menoleh ke belakang, setelah kami berdua menatap pria itu, laki-laki yang SKSD tadi langsung pergi tanpa kata.

"Kau aman, dia sudah pergi."

"Terima kasih." Aku bisa bernapas lega sekarang. Tapi masih bingung, setelah ini harus ke mana dan harus apa. Lagi-lagi aku hanya bisa melamun sambil mengamati derasnya air hujan yang turun di depan mata.

Setengah jam kemudian, seorang wanita cantik datang mendekat ke arah kami. Dia tersenyum ramah pada pria yang memberikan jas yang sekarang aku pakai.

"Kok cepat? Ngebut?" tanya pria itu.

Wanita yang aku taksir usianya hampir sama denganku itu langsung mengelayut manja pada lengan pria yang kini sudah berdiri.

"Nggak, Mas. Idih ... curiga mulu!" jawab wanita itu kemudian memberikan payung pada pria di depannya.

"Hujannya deres, kamu nyampek setengah jam. Jangan pikir Mas gak ngitung!"

Wanita itu terkekeh, kemudian mengedipkan sebelah matanya. "Kalau gak ngebut kasian Masku nunggu lama!" ucapnya manja.

Aku pun tersenyum mendengar percakapan keduanya. Entah mengapa, rasanya senang melihat hubungan yang hangat tersebut. Dan saat pria dan wanita itu akan pergi, si pria yang tidak aku ketahui namanya itu sempat berbalik, menatapku sekilas. Keduanya pergi bersama dengan orang-orang yang lalu lalang meninggalkan terminal.

Sedangkan aku? Aku tetap di sini. Bingung akan ke mana. Sampai akhirnya hujan reda dan aku memilih naik angkutan umum. Entah mau ke mana, tiba-tiba aku teringat, aku masih memiliki kenalan. Teman saat di panti asuhan dulu. Sudah menikah dan dia masih tinggal di kota ini.

"Semoga aku masih ingat jalan ke rumahnya," gumamku ketika sudah di dalam sebuah angkutan umum.

Waktu itu banyak sekali penumpang, membuatku harus berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Tidak lama kemudian, kendaraan ini melewati sebuah bangunan yang seingatku dekat dengan rumah teman lamaku itu. Aku pun meminta pada sopir untuk berhenti sambil menekan bel yang ada di atasku.

Setelah membayar, aku pun turun. Suasana masih sedikit gerimis. Aku ingin melihat jam berapa lewat ponsel. Tanganku merogoh saku jas, karena bajuku basah. Aku menyimpan ponselnya dalam saku jas yang kebesaran saat aku pakai.

Mungkin aku sedang apes, ketika aku mencari-cari ponsel hasil curian itu, ternyata tidak ada. Aku pun tersenyum getir, pasti ada copet dalam angkutan umum yang tadi aku naiki. Ku tarik napas dalam-dalam. Kemudian melihat ke sekeliling.

Masih ada sisa uang, hanya ponsel yang hilang. Aku pun berjalan kaki, masuk ke sebuah gang demi gang untuk mencari temanku dulu. Syukurlah, sedikit-sedikit aku masih ingat jalannya. Sampai akhirnya aku berhenti di sebuah rumah bercat putih.

Ya, aku yakin ini rumahnya. Apalagi saat kulihat seorang anak kecil tengah bermain. Ku tanya apa benar ini rumah Indri teman lamaku. Ternyata benar.

Tok tok tok

"Assalamu'alaikum."

Aku menunggu di depan pintu sampai seseorang membuka pintu untukku.

"Waalaikumsalam," jawab pria yang membuka pintu.

"Indrinya ada, Mas?" tanyaku.

"Oh ... ada, silahkan masuk." Pria itu kemudian masuk dan memanggil Indri. Aku duduk di ruang tamu, menatap isi rumah Indri sepi.

"Runiiiii!" panggil sosok wanita yang lama tidak aku temui. Dia menatap heran, mungkin kaget aku tiba-tiba datang.

"Sendirian? Mana suamimu?"

Aku hanya menelan ludah, tidak banyak hal yang bisa aku katakan tentang mas Erwin.

"Eh, bentar ya ... aku buatkan minum." Indri pamit akan ke belakang, tapi tangannya langsung ku pegang.

"In!" panggilku.

Seketika Indri langsung duduk lagi, dia kemudian menatapku dengan ekspresi bertanya-tanya.

"Ada apa, Run? Apa yang terjadi?"

Aku menundukkan wajah, dan Indri terus menanti jawabanku.

"Astaga ... baju kamu kok lembab gini? Kamu tadi kehujanan?" tanya Indri saat aku belum menjawab pertanyaan dia yang pertama.

"Sini .... sini!"

Indri kemudian menarik lenganku. Dia membawaku ke kamarnya, lalu membuka lemari. Mengeluarkan pakaian bersih.

"Ganti ini, bajumu sepertinya Kotor. Aku tunggu di luar."

"Maaf, In ... datang-datang merepotkan."

"Udah, kamu nanti masuk angin."

Sesaat kemudian aku keluar dari kamar Indri, dan saat aku muncul, Indri kemudian masuk ke dalam kamar. Dia memilih mengajak bicara di dalam kamar, karena sepertinya dia tahu, ada yang tidak beres denganku.

"Ceritakan ... apa yang terjadi? Suamimu kan orang kaya, kenapa kamu kok seperti ini? Ada apa?" tanya Indri yang sangat penasaran.

Aku mengigit bibir bawahku, malu rasanya mengatakan aib ini. Tapi aku harus bagaimana, aku benar-benar butuh seseorang yang bisa bertukar cerita, beban di atas pundakku sangat berat, rasanya tidak tahan ingin ku lepas semuanya. Meski hanya dengan bercerita, ku pikir bisa mengurai beban itu.

Perlahan, ku sibak lengan, kemudian kaki, dan terakhir perut. Indri langsung membekap mulutnya. Matanya terbelalak.

"Runi ...! Apa suamimu yang kaya itu yang melakukan ini semua?" tanya Indri, kulihat dia sangat terkejut sekali.

Aku mengangguk, dan kembali menutup bagian tubuhku yang memar-memar karena mas Erwin.

"Sudah lapor polisi?"

Aku menggeleng.

"Ya Allah! Mau aku temani sekarang?"

Sekali lagi aku menggeleng.

"Bagaimana bisa, Runi? Kenapa kamu diam saja? Lalu apa sekarang kamu kabur dari rumah?"

Barulah aku mengangguk. Dan Indri langsung berdiri.

"Aku punya kenalan polisi. Mungkin dia bisa bantu."

"In ... nggak usah. Nggak usah In. Aku hanya ingin pergi dari pria itu. Aku sudah tidak mau bertemu dengannya."

"Tapi ini KDRT parah, Run!"

"Tidak Indri, dia pria kejam. Dia bisa melakukan apa saja demi obsessinya. Aku hanya minta tolong, bolehkah aku tinggal sehari saja. Besok aku akan cari tempat tinggal."

Indri langsung mencengkram pundakku kuat. "Jangankan sehari .... kamu bisa tinggal lebih dari itu. Ya Allah Runi .... kenapa nasibmu seperti ini? Aku pikir kamu hidup bahagia setelah menikah dengan pria kaya. Tapi apa ini? Mengapa kamu malah disiksa?"

Indri sepertinya tidak habis pikir. Mungkin dia heran, karena aku tidak melapor pada pihak berwajiib. Jika dilihat dari banyaknya luka di tubuhku, memang sangat banyak jejak-jejak kekerasan fisik yang aku dapat. Jadi Indri juga sepertinya ngeri saat tahu aku disiksa suamiku.

"Ya sudah, kamu pasti belum makan. Akan aku siapakan makan."

"Tidak usah repot-repot, In."

"Sudah, biasa saja ... Kita kan teman," ucapnya kemudian meninggalkan aku.

Singkat cerita, aku tinggal dengan Indri. Sudah seminggu ini aku tinggal hanya makan dan tidur, hingga aku tidak enak. Badanku juga sudah baikan, aku pun memutuskan untuk mencari kerja. Meski tidak memiliki ijasah, surat-surat lain karena semua tertinggal di rumah mas Erwin.

"Mau kerja apa? Sudahlah, kamu tenangin pikiran dan hati dulu. Alhamdulillah, percetakan suamiku yang di dekat kampus rame. Kamu gak usah mikirin apa-apa. Aku gak keberatan, Run."

"Nggak, In. Aku mau melamar kerja apa saja, pelayan kafe, bersih-bersih. Apa saja. Lagian aku bosan di rumah saja."

Indri menghela napas panjang, kemudian mengangguk. "Ya sudah, terserah kamu saja. Aku sebagai teman hanya ingin membatu sebisaku. Dan kamu jangan berkecil hati ... pokoknya jangan mikir aneh-aneh. Gini-gini aku punya tabungan banyak," ucapnya menghiburku. Dia tersenyum, aku tahu bahwa Indri hanya tidak ingin aku merasa jadi beban. Tapi meskipun begitu, aku tetap tidak nyaman harus menumpang. Lebih baik cari kontrakan kecil, tapi aku harus bekerja terlebih dulu.

Hari itu, aku pergi ke toko emas terlebih dulu. Menjual cincin pernikahan, ya cincin yang diberikan mas Erwin. Rasanya aku enggan memakainya lagi. Dan juga kalung pemberian ibu mertuaku. Maaf, bu. Aku tetap butuh uang. Tidak enak menumpang pada keluarga Indri yang baik itu. Aku pun menjual semua yang melekat padaku. Hanya ini yang aku miliki, karena aku sudah tidak punya yang lagi.

Aku cukup kaget saat penjaga toko mengulurkan calculator. Di sana tertera harga yang tidak aku duga sebelumnya. Ternyata mahal juga kalung dan cincin yang aku kenakan.

"Semua 25 juta?" Aku tanya dengan heran.

"Iya, Mbk. Sebenarnya harganya bisa lebih mahal. Tapi karena tidak ada surat-suratnya jadinya ini penawaran dari kami."

Aku berpikir sejenak, apa harga sebenarnya lebih dari itu? Tapi jika melihat keluarga mas Erwin, harusnya aku tidak heran.

"Ya sudah Mbk, saya jual."

"Baik."

Setelah mendapat uang cash, aku memutuskan ke pasar. Ya, dari pada ke mall, aku memilih ke pasar. Aku membeli beberapa pakaian, dan juga beberapa alat yang aku butuhkan untuk melamar kerja. Setidaknya aku tidak pinjam-pinjam pada Indri. Meskipun dia tulus menolong, aku tidak enak hati. Sebab terlalu banyak merepotkan.

Ketika aku pulang, Indri jelas kaget saat aku di antar tukang ojek sampai depan rumah. Apalagi saat dia melihat aku membawa banyak kantong belanjaan.

"Kamu habis ditransfer suamimu?" tanya Indri curiga.

Sebenarnya tetap saja sumbernya dari mas Erwin sih, hanya saja kan sudah diberikan padaku. Jadi sepertinya tidak apa-apa kan aku menjualnya. Dan tadi aku juga beli ponsel harga satu jutaan. Yang penting bisa komunikasi. Kan aku mau kerja, sepertinya harus punya alat komunikasi.

"Tenang saja, aku tidak berkomunikasi lagi dengannya," ucapku pada Indri.

"Lalu barang-barang ini?"

"Aku jual kalung dari mertua dan cincin kawin," jawabku enteng. Ya, sejak beberapa hari di sini, aku merasa hidupku lebih ringan untuk dijalani. Tidak ada ketakutan, kebencian uang yang aku rasakan.

"Ya ampun. Kenapa dijual? Kamu bisa katakan padaku kalau butuh apa-apa."

"Gak apa-apa, lagian aku juga gak mau menyimpan cincinnya. Sakit!" ucapku mencoba tersenyum meski hatiku perih.

Indri kemudian menyentuh bahuku, sepertinya dia merasa kasihan. Mungkin sesama perempuan, dia pasti juga bisa merasakan apa yang aku rasa.

***

Beberapa hari kemudian. Aku mau melamar di sebuah pabrik yang kebetulan membuka lowongan besar-besaran. Dilihat dari usia, aku pasti masuk, dan masalah ijasah, dengan bantuan Indri dan suaminya, semuanya bisa diatasi. Apalagi ada pegawai lama yang merupakan teman baik suaminya Indri.

Dengan semangat baru, aku masuk ke area pabrik bersama para pelamar yang masih muda-muda. Sepertinya mereka baru lulus SMA. Bahkan beberapa malah bertanya padaku, aku lulus dari SMA mana. Jujur, hatiku sedikit terhibur. Membaur bersama orang-orang baru setidaknya membawaku ke arah positive.

Aku mendapat teman baru, anak-anak lugu. Dan membuatku tertegun, ingat saat dulu memutuskan merantau ke Jakarta demi mengubah nasib. Sekarang aku balik ke titik awal. Ya, memulai semuanya dari awal lagi.

"Eh ... ada pak Dirut!" ucap salah satu pelamar.

Kami semua langsung menatap ke arah rombongan pria-pria berjas hitam dengan dasi. Terlihat keren bagi mereka, tapi bagiku sudah biasa. Karena penampilan mereka tidak jauh beda dengan keseharian mas Erwin selama ini. Aku memejamkan mata rapat-rapat, kenapa harus ingat laki-laki kejam itu?

"Eh, aku dengar pak direktur utama yang baru masih single!" celetuk teman baruku.

"Husssh. Mereka sudah dekat ... jangan berisik!" bisik yang lain.

Sedangkan aku, aku memilih cuek dan memainkan ponsel.

"Runi, lihat tuh ... ada cowok cakep. Mubazir gak dilihat!"

Teman di sebelahku menepuk lenganku, membuat aku menatap pria yang berjalan ke arah kami. Tanpa sengaja, dia malah menatapku. Aku pun langsung memalingkan muka. Menundukkan wajah dalam-dalam.

BERSAMBUNG

1
Hariyanti
😱
Khansa Sutresno
atm jgn dibawa, ckp ambil smua uangnya... atm kredit card buang, jgn bwa apapun ato klo perlu jgn dibuang tp dibakar mlh gk ninggalin jejak...
Juna Dong
luar biasa
@bimaraZ
leganya di erwin udah lenyap dari bumi🤣🤣🤣capek raga pindah2 terus
Maryam Renhoran
author,,,,,udah yaa menderitanya,
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2
justFlio
👍👍🙏🙏
Maryam Renhoran
biadab,,,,hatiku ikut sakit thor, sampai g bs nafas
Zubaidah Harahap
mantap jalan ceritanya ngeri 2sedap sambil geram, mudah mudahan penulis sehat bisa menuliskan cerita lagi yang kita tidak bosan bacanya.
Zubaidah Harahap
lanjutkan cerita nya
rahayu rahayu
Luar biasa
rahayu rahayu
Biasa
Hartati
wah mantep bener2 menguras emosi dan jantung mutilasi aja tuh si Erwin sama si Riana
Hartati
aaa Erwin malu meong
Hikmah
sudah diintai kok masih berani tinggal sendiri.kalau niat ingin lepas seharusnya pergi lagi dr tempat itu.atau pindh kontrakan
Omha Achun
Luar biasa
komalia komalia
sampai ku belabelain malam biar sampai tamat biar besok lanjut judul baru
Sept September: terima kasih banyak kak liaaaaaa
total 1 replies
komalia komalia
apa isi nya dan dari siapa kadang bikin kita bertanya tanya
komalia komalia
dendam kaya nya author sama seruni sampai di buay menderita terus menerus
komalia komalia
cerita apadan kenapa sama si raga ada laki laki yang tulus banget dokter rian malah di bunuh si erwin
komalia komalia
penderitaan nya ko engga berkesudahan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!