Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami?
Pukul 03.00 am (dini hari)
Shasha sengaja bangun karena semalem belum sempat salat isya karena tidak tahan kantuk, tetapi karena merasa sedikit haus, ia turun setelah salat. Saat menuju ke dapur, dilihatnya lampu ruang tamu dan ruang keluarga masih menyala (yang kini alih fungsi menjadi ruang praktik dan ruang tunggu)
Shasha bergegas ke sana untuk mematikan lampu. Namun, dia melihat Luthfie yang tengah tidur lelap di sofa, dia pun berdiri sebentar di sebelahnya lalu mengambil selimut di kamar Luthfie.
"Dia tidak kedinginan apa, ya, tidur di sofa tanpa selimut? Bukannya dia bilang kalau udara Bandung sangat dingin tapi kebiasaannya itu, loh, selalu pake baju pendek banget."
Sambil mengulurkan selimut pelan-pelan, lalu diambilnya kaca mata yang masih terpasang di wajah Luthfie.
"Dia pikir, keren gitu tidur pake kaca mata? Enggak, kali," cerocosnya sebelum mematikan lampu, lalu kembali ke kamarnya.
Kini rumah itu seperti bernyawa, tak sesepi dulu, sebelum Luthfie tinggal di sana karena tempat praktik, tak pernah sepi pengunjung.
Pukul 06.00 pagi
"Kak, aku dah masakin sarapan buat Pak Wahyu." Kali ini Shasha tidak menunggu perintah. Dia utamakan makanan untuk orang yang sakit.
"Loh, kok, Pak Wahyu doang yang di masakin?" ucap Luthfie sambil berjalan menuju keran air untuk mencuci tangan.
"Karena Pak Wahyu kan lagi sakit, dia lebih membutuhkan bantuanku."
"Aku gak dimasakin juga?"
"Kakak kan sehat, masak sendiri aja."
"Gak bisa gitu dong. Sebelum masak buat orang lain kan harusnya masak buat calon suami dulu."
"Calon suami lagi katanya?!" Sambil mengangkat sepatunya yang siap mendarat di muka orang."
"Ayo bilang sekali lagi, siapa calon suamiku?" ancamnya dengan mata membeliak.
"Hahaha... galak! Kamu pikir aku takut dilempar sepatu?" tantangnya seraya tergelak, membuat Shasha semakin jengkel lalu menjatuhkan kembali sepatu itu ke lantai.
"Udah deh jangan cari gara-gara." Wajahnya mulai merengut, tapi tak sedikit pun Luthfie tak ingin berhenti mengganggunya.
"Kalo mau makan kan tinggal ambil aja. Aku dah masak banyak, tapi jangan lupa suapin Pak Wahyu dulu."
"Hari ini biarkan keluarga Pak Wahyu yang mengurusnya, mereka sudah datang sejak pagi," timpalnya sambil duduk dan mengambil sarapan untuk dirinya sendiri.
"Baguslah," gumam Shasha pelan. "Ngomong-ngomong, Pak Wahyu itu korban tabrak lari ya, Kak?"
"Iya," jawabnya singkat.
"Kasian banget dia. Aku bawain aja deh sarapannya ke kamar. Mereka pasti sungkan kalau harus mengambil sendiri."
"Iya," jawabnya lagi dengan ucapan yang sama.
"Dari tadi jawabnya cuma iya, iya doang," seraya sibuk menuangkan makanan ke dalam piring Pak Wahyu.
"Tolong ya, kalo aku lagi makan jangan diajakin ngobrol, tar selera makan bisa ilang."
"Ya ampun, segitunya. Ya emang gitu, sih, kalau makan masakanku, gak mau diganggu saking enaknya. Besok-besok aku masakin goreng belalang krispi biar makannya tambah lahap," candanya sambil tertawa. Dia segera keluar dari ruang makan setelah menyaksikan Luthfie mulai berhenti mengunyah.
"Haiissh! Gak sopan banget ngomongin begituan."
"Kenapa? Belalang kan halal dimakan, Kak, enak katanya. Haha...." Dia segera berlalu menuju kamar Pak Wahyu.
Shasha mengetuk pintu lalu meminta izin untuk masuk. Seseorang membukakan pintu dari dalam, mungkin dia keluarga Pak Wahyu.
"Ibu teh istrinya Pak Wahyu?" tanya Shasha ramah.
"Iya neng geulis, saya bu Sari, istrinya Pak wahyu." Wanita itu memperkenalkan diri.
"Saya bawakan sarapan buat Pak Wahyu, Ibu bisa menyuapinya? Saya sama dokter mau berangkat soalnya."
"Tentu, Neng. Biar ibu yang suapin." Wanita itu mengambil alih nampan dari tangan Shasha. "Maaf ya, Neng, kita jadi ngerepotin pisan(banget)," ucapnya sungkan.
"Gak ada yang ngerepotin, Bu, pokoknya nanti kalau butuh sesuatu, cari aja di dalam. Kami pulangnya kadang agak sorean, jadi maaf kalau seharian ini, kita gak bantu jagain Pak Wahyu."
"Iya neng, gakpapa. Ini tanggung jawab ibu. tapi... suami ibu kapan bisa pulang ke rumah ya, Neng?"
"Kalo itu coba nanti tanya Pak Dokter saja. Dia lagi sarapan." Shasha menunjuk ke arah ruang makan.
Saat itu juga, suara Luthfie terdengar dari arah pintu yang terbuka. "Mohon maaf, sepertinya Pak Wahyu masih harus nginep satu dua hari lagi di sini, karena saya masih harus pantau luka jahit yang masih sangat basah. Lukanya cukup banyak," ujarnya sambil datang dan mengamati satu per satu luka Pak Wahyu.
"Pak Dokter, kira-kira berapa biaya pengobatan suami saya?"
"Ibu gak usah pikirkan itu, karena tidak ada biaya yang harus Ibu bayar. Sekarang yang penting Pak Wahyu segera sembuh, baru bisa dibawa pulang."
Raut wajah bingung dari pasangan suami istri itu, tiba-tiba berubah jadi berbinar. Mereka tak henti mengucap kata terima kasih, juga berdoa supaya Allah membalas kebaikannya.
"Aamiin Bu, Pak. Tapi sepertinya ada orang lain yang patut mendapat ucapan terima kasih juga selain saya."
"Siapa dokter?" Disela menyuapi suaminya, Bu Sari menoleh sesaat.
Sebelum menjawab pertanyaan Bu Sari, terlebih dahulu Luthfie pamit dan buru buru melangkah menuju ke luar.
"Bu saya pamit berangkat kerja dulu, tolong jaga Pak Wahyu."
Dan setelah berada di ambang pintu, Luthfie kembali berseru.
"Bu... ucapkan terima kasih juga sama calon istri saya karena selalu membantu merawat Pak Wahyu," ucapnya sambil menunjuk Shasha lalu buru-buru pergi sebelum mendapat hukuman.
Spontan, Shasha mengepalkan tangan seraya membeliakkan mata. "Haaiisshh! Dia cari gara-gara lagi," gumamnya sambil bersiap mengejar.
"Bu, Pak, saya berangkat juga, ya." Tanpa menunggu jawaban, dia lari dari ruangan itu.
°
°
°
BERSAMBUNG.