Menjadi Single Daddy tak pernah terbayangkan oleh Adrian Malvero. Karena memang dia belum pernah menikah, ataupun memiliki anak.
Hanya saja, dia terpaksa menerima gelar itu untuk menggantikan orang tua bayi mungil yang baru saja berumur satu tahun. Bayi itu adalah anak kakanya, yang meninggal bersama istrinya saat mengalami kecelakaan tunggal.
Dari kecelakaan itu, hanya anak mereka yang selamat, dan keluarga dari istri kakaknya juga menolak kehadiran bayi tak berdosa itu. Apakah Adrian mampu merawat seorang bayi, atau malah menyerah dan mencarikan orang tua adopsi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SD - 16. Video Call
"Apa! Sekar gak mau ikut, karena sedang ada urusan!" Teriak Adrian yang membuat Andre bergidik. Bukan hanya dirinya saja, tapi supir yang di urus Adrian lebih bergidik ngeri melihat amarah seorang Adrian.
"A ... a ... anu, Tuan."
Tenggorokan Ruslan terasa sangat tercekat, saat Adrian menatapnya dengan lekat. Belum juga dia menjelaskan segalanya, tapi Adrian sudah marah besar.
Bekerja dengan Adrian selama dua tahun, belum juga membuat Ruslan terbiasa dengan sikap Adrian. Sikap yang terlalu angkuh, keras kepala, dan suka marah-marah gak jelas. Semua masalah di atasi dengan emosi, bukan dengan pikiran yang tenang.
"Anu apa!"
Ruslan pun tak mau menjawab lagi. Ruslan sudah trauma dan takut, lebih baik dia diam sekaligus mendengarkan celotehan Adrian.
Sedangkan di kamar atas, Ica masih berusaha menenangkan Abiyan. Ica sangat menyesal telah membahas ini semua, dan membuat Abiyan berpikir dia ini anak haram.
Seandainya Ica tau akan jadi seperti ini, maka dia gak akan menyeluruh Andre datang. Keputusan Ica ternyata sangat salah, dan yang menjadi korban sekarang adalah Abiyan. Bocah kecil, yang gak tau apa-apa.
"Tante, kapan Mommy kesini? Abi mau Mommy, pokoknya Mommy!" seru Abiyan sedikit kencang.
"Sabar dong, Bi. Mungkin Mommy ada urusan, jadi dia belum bisa ke sini. Besok pagi mungkin akan pulang, jadi sekarang Abiyan tidur dulu ya." Ica berusaha membujuk Abiyan agar tidur. Tapi sayangnya Abiyan langsung menggeleng, dan semakin menangis.
Abiyan sangat ingin tidur dengan Mommy-Nya, tapi Sekar gak bisa datang karena di larang oleh ibunya.
"Tante, jika Abiyan benar anak haram bagaimana?" tanya sambil memandang Ica. Ica pun menghembuskan napas sangat kasar. Lagi-lagi Abiyan bertanya akan hal itu, dengan wajah yang sangat polos.
"Abi, tatap tante Ica. Kamu itu bukan anak haram, kamu anak yang sangat pintar, dan baik. Jadi, buang jauh-jauh pikiran kotor itu. Ingat ucapan Tante, bukan berarti mereka tinggal berpisah, kamu menjadi anak haram," ucap Ica sambil memegang pipi Abiyan. Di tatap mata Abiyan dengan penuh kelembutan, agar Abiyan percaya dengan ucapannya barusan.
"Mungkin ya, ini mungkin. Mereka berpisah karena suatu masalah, hanya saja mereka gak mau kamu tau Nak. Sekarang kamu tidur, dan gak perlu memikirkan ini. Yakin sama kuasa Allah, jika mereka memang jodoh makan mereka akan bersatu," ucap Ica sekali lagi. Sedangkan Abiyan hanya menatap Ica. Walaupun hatinya masih gundah, tapi dia akan berusaha menurut.
Setelah itu Ica membenarkan posisi Abiyan. Ica akan berusaha menidurkan Abiyan, agar Abiyan melupakan kegundahan nya sejenak.
Ica menyelimuti Abiyan, dan setelah itu Ica menyanyikan lagu yang bisanya di dendangkan Sekar. Memang setiap akan tidur, Sekar selalu menyanyikan lagu untuk Abiyan.
"Suara Tante jelek, aku hanya mau suara Mommy. Tante bisa gak hubungi Mommy, aku mau Mommy menyanyikan lagu tidur seperti biasanya," pinta Abiyan. Kesal, itu yang di rasakan Ica. Dia merasak terhina, saat Abiyan berkata suaranya jelek.
Sabar-sabar, ingat dia anak kecil Ica. Di bilang jelek pun tak apa, yang terpenting dia diam. Sudah berjam-jam dia menangis, jadi kasihan kalau aku buat nangis lagi. gumam Ica berusaha tersenyum. Setelah itu Ica mengambil ponselnya untuk menghubungi Sekar.
"Hallo, Tante," ucap Ica saat Sekar mengangkat panggilnya.
"Hallo, Ca. Oh ya, bagaimana keadaan Abiyan? Apakah dia sudah diam, atau sudah tidur?" tanya Sekar dengan nada gusar.
Daritadi Sekar tak bisa tidur. Setelah menolak jemputan supir tadi, dengan cepat Adrian menghubungi Sekar hingga mencaci maki dirinya. Namun Sekar hanya bisa diam, karena dia juga gak bisa melanggar larangan ibunya.
"Abiyan baru berhenti menangis. Sekarang ingin tidur, tapi Abi mau di nyanyikan lagu tidur," balas Ica sambil melirik Abiyan. Setelah itu Abiyan langsung duduk, dan mengambil alih ponsel Ica.
Abiyan rubah panggilan itu menjadi Video Call. Abiyan ingin melihat wajah Sekar sebelum tidur, karena ini memang kebiasaan Abiyan sebelum tidur. Memandang wajah Sekar, dan mendengarkan lagu penghantar tidurnya.
"Mommy, angkat Video Call Abi. Abi ingin lihat wajah Mommy, please," pinta Abiyan yang tak bisa di tolak.
Sekar pun akhirnya membuka panggilan Video call itu, dan langsung terpampang jelas mata Abiyan yang sangat sembab. Seketika Sekar menangis, dia gak mengira Abiyan akan menjadi seperti ini.
"Kamu sudah menangis berapa jam, Nak? Bukannya Mommy pernah bilang, anak laki-laki gak boleh cengeng? Kenapa sekarang Mommy melihat jagoan Mommy menangis, hingga matanya sembab. Ganteng nya jadi ilang, karena ketutup mata bengkakmu itu," ucap sambil menangis.
Sekar tak bisa menahan air matanya lagi. Sekar sangat merindukan anaknya itu, tapi dia takut berdosa pada ibunya.
"Mommy, kenapa Mommy gak mau kesini? Abiyan mau kita tidur bertiga, Abiyan gak mau tidur sendiri lagi. Karena kalau Abiyan tidur sendiri, pasti Mommy-Daddy akan tidur berpisah," balas Abiyan sangat polos. Disinilah Ica langsung menangis.
Ica gak tahan melihat Abiyan. Begitupun dengan Sekar, dia juga menangis mendengar keinginan Abiyan.
"Abi, dengar Mommy Nak. Ada satu hal yang membuat kita gak bisa tidur bertiga Sayang, bukan Mommy gak mau tidur dengan kalian. Suatu saat nanti mungkin kalau kamu sudah besar akan tau, kenapa Mommy dan Daddy bisa memberikan adik kecil untuk Abiyan. Tapi, Abiyan jangan meragukan kasih sayang, cinta dan segalanya pada Mommy. Karena Mommy sangat mencintaimu, melebihi apapun itu Nak," jelas Sekar panjang lebar.
Dan disinilah ucapan Sekar membuat Abiyan semakin salah paham. Abiyan sudah berpikir jika dirinya benar-benar anak Haram, dan gak di harapkan oleh orang tuanya.
"Jadi benar, Abiyan anak Haram?"
Seketika Sekar langsung terbelalak. Dengan cepat Sekar menggeleng, dan menolak pemikiran Abiyan. Sekar gak tau kenapa Abiyan sampai mengatakan hal itu.
"Bukan Nak, kamu bukan anak Haram. Kamu anak Mommy dan Daddy, sampai kapanpun tetap begitu. Besok Mommy kesana pagi-pagi, di sana Mommy akan jelaskan semuanya. Tapi Abiyan janji, setelah mendengar semua Abiyan gak boleh marah atau apa. Janji dulu sama Mommy, Nak." Pinta Sekar yang tak bisa menahan air matanya.
Sekar ingin sekali memeluk Abiyan, tapi dia tak bisa lakukan itu karena berbeda tempat. Jika saja dia ada di sana, maka Sekar akan langsung memeluk hingga menciumi Abiyan.
"Abiyan berjanji, Mommy. Mommy cepat pulang, Abiyan rindu Mommy."
Setelah itu Sekar menyuruh Abiyan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dari balik panggilan Video call, Sekar menyanyikan lagu yang bisanya Sekar nyanyikan untuk Abiyan menjelang tidur.
Tak membutuhkan waktu lama, Abiyan langsung tertidur pulas. Sekar merasa lega karena Abiyan bisa tidur, jadi dirinya gak begitu khwatir akan keadaan Abiyan.
"Good Night, putra kesayangan Mommy," ucap Sekar lirih.
"Ca, terima kasih sudah mau ada di samping Abiyan. Aku titip Abiyan sebentar, besok pagi aku kesana. Terima kasih sekali lagi," ucap Sekar sekali lagi.
"Iya sama-sama, Tante. Kalau gitu aku matiin ya, selamat Malam."
"Malam juga, Ica."
Ica pun mematikan panggilan tersebut, dan segera menyelimuti Abiyan. Setelah selesai, Ica keluar untuk menemui Andre. Ica takut kekasihnya itu jadi sasaran empuk, Adrian.
.
.
.
Happy Reading