bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELEMAHAN
Devan pov
“berhenti bersikap kekanakan Devan! ohh tuhan.. kau bahkan lebih tua dariku!" aku menikmati ocehan Karin yang semakin hari semakin banyak, semenjak dia marah terhadap sikapku yang meninggalkannya selama 2 hari tanpa kabar di dalam istana mewahku.
Dan alasan kenapa aku tidak mengabarinya membuat Karin merasa bersalah dan berakhir minta maaf padaku. Aku tetap pada sikap awalku, bermanja-manja padanya seperti anak kecil tak pernah lepas 1 hari pun bagiku untuk tidak menempel padanya. Aku senang menggodanya. Sama seperti saat ini, aku menyandarkan kepalaku pada bahunya hanya untuk mengganggunya bertelepon ria dengan adiknya alea.
“baiklah Lea, sepertinya aku tidak bisa bicara banyak denganmu sekarang, ada yang perlu aku urus disini-“
“tidak! Aku akan menelponmu kembali lain waktu-“
“berhenti menggodaku dan selesaikan belajar untuk kuliahmu”
Dan begitulah akhirnya Karin mematikan telpon itu sepihak ketika aku yakin jika alea tidak akan mengakhirinya semudah itu. Menurut laporan dari pak fet, alea aman dari Bramasta karena bantuan dari Arthur sampai saat ini. Dan tentu saja itu harus dirahasiakan dari Karin. Jika Karin tahu mengenai Arthur yang selalu melindunginya, otomatis Karin tidak akan lagi mempercayaiku untuk melindungi adiknya, alhasil Karin akan meminta pergi dariku.
Aku benar-benar tidak mau itu terjadi. Jika seandainya dia pergi bukan hanya kepalaku saja yang akan pecah, tapi aku takut jika Bramasta akan menangkap dan memiliki Karin nantinya.
“jadi Devan , apa maksudmu dengan bersikap seperti ini?” aku memandang wajah Karin dengan serius. Sebuah senyum terukir di wajahku. Melihatnya kesal dan hendak ingin mengeluarkan kata-kata lagi membuatku tak tahan untuk tersenyum.
“aku hanya merindukanmu saja...’ ujarku kembali menyandarkan kepalaku pada bahunya. Tapi ketika aku mencobanya kali ini, Karin mencoba mendorongku dari samping. Tangan kecilnya itu berusaha untuk menjauhkan tubuhku dari tubuhnya.
“Karin... aku hanya ingin kau mengelus kepalaku seperti biasanya” ucapku padanya yang kali ini tangan kecil dan nakal itu ku tangkap. Kemudian kuborgol dengan dasiku yang sudah terjatuh ke lantai sejak tadi.
Karin yang melihat itu kembali memberontak dan memanggil-manggil namaku. “Devan! Apa yang kau lakukan?!”
Aku tak menghiraukan perkataan yang lebih tepatnya teriakkannya tersebut. Dan ketika aku sudah selesai mengikat kedua tangan Karin dengan dasiku. Aku bangkit dari duduk dan membawa Karin dalam gendonganku. Karin tetap pada keteguhan awalnya untuk memberontak dengan setiap perlakuan ku kali ini. Namun bukan Devan Antonio namanya jika mudah menyerah begitu saja. Aku tetap membawa tubuh Karin dalam gendonganku dan meletakkan tubuh kecil Karin diatas ranjangku.
Aku bisa melihat Karin yang awalnya memberontak dengan perlakuanku kali ini kaku. Aku bisa membaca dari raut wajahnya yang ketakutan saat ini. Dia berasumsi jika aku akan melakukan sesuatu yang mungkin akan menyenangkan? mungkin...
“ap-apa yang akan kau lakukan?” matanya kembali melebar dan mulutnya sedikit terbuka ketika aku mulai merangkak di atas ranjangku mendekatinya.
Karin yang sepertinya menyalakan alarm bahaya dalam mulai berangsur-angsur mundur ke belakang walau agak susah. Dan melihat tingkah lucunya itu membuatku tertawa terbahak-bahak.
“hahaha! Kau benar-benar lucu Karin!” aku menampilkan seringai mata pemangsaku seolah-olah aku akan memakan Karin. nyatanya tidak. untuk saat ini aku merasa jika Karin belum menerimaku dan lagi pula wanita ini spesial. Aku sudah bersumpah pada hati dan pikiranku jika aku akan tetap menghormati dan memujanya.
Untuk sekarang sungguh! Aku hanya ingin bermain-main sedikit dengan Karin. Melihat ekspresi ketakutannya itu membuatku bersemangat dan ingin melakukannya lebih.
Dan ketika ku lihat Karin sudah mentok, dan tidak bisa mundur lagi dari kejaranku. Aku melirik kakinya yang terlentang bebas dan menarik salah satunya.
Alhasil gadis kecil itu langsung terbaring, dengan aku yang tiba-tiba menindih tubuhnya. Aku bisa melihat jika wajah Karin sudah berubah pucat, dengan mata yang sudah mulai agak...
“tunggu-ka-karin?” aku memperhatikan matanya lekat-lekat. Ternyata sebuah sungai sudah terbentuk di pipinya dengan sumber air berasal dari sela-sela garis pembentuk mata indahnya. Aku panik bukan kepalang! Karin menangis karena diriku!
“ku mohon jangan...hiks” aku mundur selangkah dan terduduk di dekat tubuh gadisku yang terbaring. Kemudian saja otakku berinisiatif untuk membuka ikatan dasi yang ku simpul tadi.
Mendudukkan Karin, kemudian berusaha untuk mengatur nafasku sendiri. Ini semua salahku. Aku masih belum bisa mempertimbangkan perasaan Karin! Seharusnya aku tahu jika dia akan takut jika diperlakukan begitu! Seharusnya aku tahu jika Karin akan menangis karena tindakanku barusan. Aku salah memprediksi jika Karin nantinya hanya marah dan mengomel seperti biasa! Ini gawat! Jika... jika Karin... tidak! Aku tidak bisa membayangkan jika dia membenciku! Aku harus melakukan sesuatu dengan ini!
“Karin?-”
“pergi” kata-kata itu, aku mencoba memberanikan diriku melihat kondisi karina dengan kedua mataku lekat-lekat. Gaun tidur berwarna putihnya sudah acak-acakan, dan rambutnya tergerai berantakkan. Lalu... wajahnya, dia menangis. Namun tidak seperti tadi, sekarang sudah mereda namun masih ada sedu sedan yang terdengar. Kucoba untuk meraih wajahnya untuk menenangkan... namun urung, karena kata terakhir yang dilontarkan Karin padaku.
Kata pergi itu seperti sebuah pisau yang menusuk tepat jantung dan juga kepalaku sekaligus.
Ini menyakitkan. Aku berusaha menekan kepala dan dadaku secara bersamaan dengan kedua tanganku. Jantungku seolah-olah ingin keluar dari tempatnya dan kepalaku seperti ada yang mengobrak-abriknya. ini menyakitkan. Sial!
Aku menatap Karin yang mengalihkan pandangannya dariku. Mantaya yang sedikit sembab menandakan jika aku sudah menyakitinya barusan.
“ma...maafkan aku” aku melepaskan kedua tanganku dari kepala dan dadaku. Aku bangkit dan berdiri di damping ranjang besarku. Membelakangi kari. Aku tidak mau melihat wajah terlukanya lagi karena itu akan membuatku semakin sakit terutama di bagian jantung dan kepalaku. Ini bahkan lebih menyakitkan dari pada kambuh tanpa alasan.
Ketika ingin melangkahkan kaki, kepalaku terasa tergudang, kucoba meraih adapun itu yang ada di sekitarku agar bisa menopang keseimbangan tubuh, tapi nyatanya yang ada hanya udara. Aku terjatuh dengan tumpuan kedua tangan dan juga lututku.
“sial...” gumaku. Kenapa aku bisa selemah ini jika menyangkut tentang Karin. Bahkan ketika mengetahui penyebab dia menangis adalah ulahku. Kenapa?
Aku ingin tahu kenapa ini bisa terjadi pada tubuhku. Bahkan untuk mengetahui ini juga mempengaruhi tubuhku-bukan hanya sekedar pikiran dan perasaanku- benar-benar lucu untuk di jelaskan bukan?
“Devan!” aku mendengar sebuah suara yang selalu menenangkanku yang kali ini meneriakkan namaku dengan nada khawatir. Apa ini artinya Karin peduli padaku?
Aku merasakan sebuah tangan menjalar pada bahuku. Sentuhan itu juga terjadi pada dadaku. Rasanya sungguh menyenangkan merasakan sentuhan Karin ada di tubuhku.
Karin mencoba membantuku untuk berdiri. Aku memegang kepalaku yang sakit kemudian mengikuti arahan Karin yang menuntunku untuk duduk beristirahat di ranjangku.
“apa masih sakit?” katanya lembut sembari mengusap rambutku pelan. Aku merasakan ketenangan ketika Karin melakukannya. Dan sekarang rasa sakit itu sudah mereda, bahkan lebih cepat dari biasanya aku meminum obat pelumpuh syaraf itu.
“tidurlah, kepalamu pasti sangat sakit, aku akan-“
“jangan pergi” aku menggenggam tangan Karin ketika dia hendak mendorong tubuhku untuk berbaring.
Aku memberanikan diri untuk melihat wajahnya yang terluka karena perbuatanku. Dan ketika aku sudah melihatnya. Yang ada di sana, tatapan itu...jadi dia mengkhawatirkanku. tatapan yang selama ini berusaha untuk kucari pada setiap orang yang kujumpai. Dan akhirnya aku menemukannya.
“aku akan membawakan teh untuk menenangkan pikiranmu”
“tidak, Karin, itu tidak akan membantuku sama sekali.” Aku menarik pelan tagan kecil Karin, hati-hati, bahkan aku harus memperhatikan isyarat sekecil apa pun itu jika Karin menolak sentuhanku. dan ketika kurasa sudah tidak ada. Aku menuntun tubuhnya untuk duduk di atas pangkuanku. Demi apa pun, Karin menerimanya!! aku senang dan sangat ingin berteriak pada dunia jika gadis ini menerimaku tanpa ada perlawanan!
Seluruh syarafku berteriak gembira ketika Karin sudah duduk sempurna di pangkuanku. Aku memberanikan diri membawa lengannya pada kedua bahuku. Mengisyaratkan bisakah dia memelukku?
“baiklah....” dan itu adalah jawaban Karin ketika aku melihatnya dengan mata sayu-mata yang menunjukkan jika aku sangat lelah saat ini.
Karin memelukku dengan kedua tangannya, begitu juga denganku. Aku memeluk pinggangnya dengan gerakkan pelan walaupun aku benar-benar sangat ingin melakukannya dengan sangat cepat. Namun untuk sekarang aku harus bersabar agar Karin tidak marah dan malah membenciku nantinya.
Aku bisa mencium aroma Karin yang sangat menenangkan. Aroma mawar yang sangat harum. Dan kadang aku harus berpikir 2 kali untuk ini, apakah ini aroma dari sabun mandinya atau dari tubuh Karin sendiri?
“jangan lakukan hal seperti tadi, itu benar-benar membuatku takut Devan. Aku.... aku tidak mau diperlakukan seperti itu lagi” aku bisa merasakan kedua tangan Karin bergetar ketika memeluk kepalaku. Dan rasa bersalahku sekarang karena memperlakukan Karin seperti tadi kembali membuat kepalaku sakit, namun karena kali ini Karin sedang memelukku, rasanya bisa teratasi dengan cepat.
“maaf, aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi” aku mengusap punggung Karin dengan usapan pelan, berusaha untuk menenangkannya. Aku terlalu berlebihan menganggap Karin sama seperti wanita lain yang menyukai pria agresif. Kupikir dia akan senang dengan tindakanku barusan. Namun nyatanya. Aku lagi-lagi melupakan fakta jika kari berbeda dari wanita mana pun yang pernah kutemui. dia terlalu spesial untuk di samakan dengan barang murahan yang ada di pasar bukan?
Karin terlalu spesial bagiku, dan aku akan janji pada diriku sendiri untuk tidak akan membuatnya terluka ataupun merasa sedih lagi.
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..