Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
“Kau tahu…. rumor yang sudah bertahun-tahun mengikuti namanya. Tentang dia yang tidak pernah menyentuh atau terlihat bersama wanita mana pun sebelum kau tiba-tiba muncul. Banyak yang mengira Benedict memang punya preferensi yang berbeda atau lebih munyukai…. pria dari pada wanita.”
Jennifer menjeda kalimatnya, memutar gelas wine nya perlahan.
“Tapi kau berhasil mematahkan spekulasi tentang….itu. Kau adalah kamuflase…. atau mungkin penyembuh yang sangat sempurna untuk pria seperti dia.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Meskipun samar, Zara bisa menangkap maksud tersembunyi dibaliknya. Ia terdiam, menatap punggung tegap Benedict dari kejauhan, sementara pikirannya mulai berpikiran liar.
Zara menarik napas panjang dan menegakkan bahunya kembali, ia tidak akan membiarkan dirinya terlihar kalut ataupun merasa malu. Ia menoleh kembali ke arah Jennifer, memberikan senyuman paling manis.
“Kamuflase?” Zara mengulang kata itu dengan nada ringan. “Istilah itu terdengar sangat menarik, Ms. Vanderbuilt”
Zara menyesap sampanye nya perlahan, matanya tidak lepas dari Jennifer.
“Dunia ini memang penuh dengan rumor, terutama untuk pria seperti Benedict. Orang-orang lebih suka mengarang cerita daripada menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang memang tidak ingin ia bagikan kepada siapapun, kecuali kepadaku.”
Zara melangkah satu langkah lebih dekat, membiarkan berlian tiga ratus lima puluh juta dolar di lehernya menangkap cahaya lampu kristal dan memantulkannya tepat ke arah mata Jennifer.
“Jika menurutmu aku hanyalah penyembuh atau penutup untuk apa yang kau sebut sebagai preferensi yang berbeda,” bisik Zara dengan suara tenang namun penuh penekanan.
“Maka, kau mungkin belum pernah melihat bagaimana cara dia menatapku saat pintu kamar bener-benar tertutup.”
Zara menjeda kalimatnya, menikmati perubahan ekspresi wajah Jennifer yang mulai tampak sedikit ragu.
“Beberapa pria memang tidak suka memamerkan…. selera mereka di depan publik, Ms. Vanderbuilt. Mereka lebih suka menyimpannya untuk diri mereka sendiri.”
“Dan sejujurnya, aku lebih suka dia dianggap berbeda, daripada harus berbagi kehangatannya dengan orang lain.”
Zara memberikan anggukan sopan, lalu mengangkat gelasnya sedikit seolah memberikan toast.
“Terima kasih atas pujiannya, Ms. Vanderbuilt. Kau benar, aku memang cantik malam ini. Dan…. aku sangat menikmati menjadi istri seorang Benedict Franklin.”
Tanpa menunggu balasan dari Jennifer, Zara berbalik dengan anggun. Ia berjalan kembali menuju kerumunan, menembus barisan tamu dengan kepala tegak.
Di balik wajah tenangnya, jantung Zara berdegup kencang. Ia tidak tahu apakah pembelaannya jadi benar atau salah, tapi ia tidak bisa membiarkan siapapun merendahkan harga dirinya, ataupun meremehkan Benedict meskipun ia tidak menyukai sikap kejam pria itu, bagaimanapun ia adalah suaminya.
Begitu Zara sampai di samping Benedict, pria itu langsung merasakannya. Tanpa menghentikan pembicaraannya dengan sang senator, Benedict melingkarkan tangannya di pinggang Zara, menariknya lebih dekat ke sisinya.
“Semua baik-baik saja?” bisik Benedict tanpa menoleh, suaranya rendah, hanya terdengar oleh Zara.
Zara mendongak, menatap rahang tegas pria itu yang begitu nyata di hadapannya.
“Hanya percakapan antar wanita, Tuan. Ternyata New York punya banyak cerita imajinatif tentangmu.”
Benedict meliriknya sekilas, menyadari ada binar yang berbeda di mata Zara. Ia menyudahi perbincangan dengan Senator.
“Ayo. Acaranya utamanya sudah selesai. Kita tidak perlu berlama-lama disini,” ucapnya tegas.
Mereka berjalan membelah kerumunan. Begitu mereka keluar dari pintu dan menuruni tangga menuju limosin yang sudah menunggu, udara malam yang dingin langsung menerpa wajah Zara.
Pintu limosin tertutup dengan suara thud yang berat, memutuskan semua kebisingan lampu flash dan teriakan wartawan di luar.
Di dalam mobil yang, suasana seketika berubah menjadi sunyi. Benedict langsung melepas tangan Zara. Ia menyenderkan punggungnya, melonggarkan dasinya dengan kasar, lalu menoleh ke arah Zara.
“Apa yang wanita itu katakan padamu?” tanya Benedict. “Tentang preferensi ku?”
Zara tertegun. Jadi dia dengar? atau dia memang sudah terbiasa dengan rumor itu?.
“Dia bilang…..” Zara menjeda, mencoba mencari keberanian di bawah tatapan tajam Benedict.
“Dia bilang kau menikahiku hanya untuk membungkam rumor tentang…. ketidaktertarikanmu dengan wanita.”
Benedict menyeringai sinis, sebuah senyum yang tampak kejam. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat hingga Zara bisa merasakan napas pria itu di kulitnya.
“Lalu, bagaimana menurutmu, Mrs. Franklin?” bisik Benedict.
Zara menelan ludah, dadanya naik turun. Mata Benedict yang gelap seolah ingin menembus langsung ke dalam pikiran Zara.
“Aku tidak tahu harus percaya apa, Tuan,” jawab Zara. Suaranya sedikit gemetar namun ia tetap berusaha menatap pria itu dengan berani.
“Yang ku tahu, kau pria yang penuh perhitungan. Dan jika rumor itu bisa merusak bisnismu, maka menikahiku adalah langkah bisnis yang sangat cerdas.”
Benedict tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar lebih seperti geraman di tenggorokannya. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, ia menangkup rahang Zara dengan satu tangan.
“Bisnis?” bisik Benedict, kini wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari bibir Zara.
“Kau pikir aku akan mengaitkan diriku pada seseorang hanya demi membungkam mulut sampah orang-orang seperti wanita itu?”
“Lalu kenapa?” tantang Zara, suaranya sedikit meninggi meski gemetar.
“Kenapa harus aku? Kenapa kau harus mengikatku dalam pernikahan ini jika kau begitu membenciku?”
Mata Benedict menyipit, kilatan dingin di matanya kini berubah menjadi kemarahan yang tertahan. Ia mencengkeram rahang Zara lebih kuat, memaksanya untuk terus menatapnya.
“Kau lupa?” bisik Benedict, suaranya sedingin es. “Darah harus dibayar dengan darah, tapi karena ayahmu sudah membusuk di neraka, maka kaulah yang harus menanggung sisa hutangnya.”
Zara membalalak, rasa sakit itu kembali menghantamnya. “Aku bukan ayahku! Dan aku tidak pernah membunuh siapapun!”
“Tapi kau membawa darahnya di nadimu,” jawab Benedict tajam. “Akan ku pastikan keturunan David Harrison yang menghancurkan hidupku berada tepat di bawah kakiku.”
“Jadi, jangan pernah berpikir kau bisa merubah ku. Kau disini untuk membayar hutang darah yang tidak akan pernah lunas, tidak peduli seberapa banyak kau berusaha.”
Sorot mata Zara perlahan meredup. Benedict masih mencengkeram rahangnya, namun Zara tidak lagi mencoba memberontak. Ia justru membiarkan tubuhnya rileks di bawah cengkeraman pria itu.
“Kau benar, Tuan,” ucap Zara lirih, suaranya kini tenang.
Perlahan, Zara mengangkat tangannya dan menyentuh punggung tangan Benedict yang masih mencengkeram rahangnya. Ia mengusapnya dengan ibu jarinya yang gemetar namun lembut.
“Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, dan aku tidak bisa mengubah kebencian yang sudah mendarah daging di hatimu. Tapi jika menyakitiku adalah satu-satunya cara untukmu tetap bernapas, maka lakukanlah,” ucap Zara.
Benedict sedikit tersentak, cengkeramannya sedikit mengendur karena kebingungan melihat Zara reaksi Zara yang tak terduga.
“Aku juga tidak peduli seberapa besar kau berusaha menyakitiku,” lanjut Zara, matanya menatap tepat di manik Benedict yang gelap.
“Karena aku tidak akan pergi dari sisimu. Aku akan tetap tinggal dan menemanimu, sesuai janjiku. Bukan karena aku merasa bersalah atas perbuatan ayahku, tapi karena aku sudah berjanji tidak membiarkanku sendirian di dalam kegelapan itu.”
“Jangan bicara seolah kau mengenalku, Zara. Kau hanya sedang mencoba mencuci otakmu sendiri agar kau merasa lebih baik” ucap Benedict.
“Mungkin,” jawab Zara, senyum tipis yang getir muncul di bibirnya.
“Meski kau menganggap ku ancaman, meski kau menganggap ku musuh, aku akan tetap menjadi satu-satunya orang yang menyambutmu pulang. Kau bisa menyiksaku dengan kata-katamu, tapi kau tidak akan bisa mengusirku. Aku sudah menetapkan hati untuk tetap disini, menemanimu membalas dendam, sampai kau sendiri yang merasa cukup.”
Zara tahu, dengan berkata seperti itu, ia baru saja menyerahkan hatinya untuk di patahkan berkali-kali. Namun baginya, itulah satu-satunya cara untuk menghentikan semua ini, dengan tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Benedict terdiam membeku. Ia melepaskan rahang Zara, lalu menarik kembali tangannya. Ia membuang muka ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang melesat cepat, pikirannya kini jauh lebih bising daripada mending mobil.