NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Lampu kristal raksasa di ballroom hotel bintang lima itu memantulkan cahaya kemilau, menciptakan atmosfer kemewahan yang hampir menyesakkan.

Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke-30 Dewangga Group, sebuah hajatan korporat yang mempertemukan para petinggi bisnis, kolega, dan keluarga besar Nugraha.

Arvin berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan tuksedo custom-made berwarna biru malam yang mempertegas bahunya yang kokoh. Meski wajahnya masih sedikit pucat karena masa pemulihan, auranya tetap mendominasi.

Di sampingnya, Zoya berdiri dengan anggun. Ia mengenakan gamis sutra berwarna emerald yang dipadukan dengan khimar senada. Cadarnya yang berbahan sifon halus menutupi wajah, namun binar matanya yang cerdas tetap memancarkan pesona yang tenang.

Ini adalah pertama kalinya Arvin mengizinkan Zoya hadir di acara resmi perusahaan, meski ia memperkenalkannya dengan sangat terbatas.

"Tetap di dekatku," bisik Arvin rendah, tangannya tanpa sadar menggandeng lengan Zoya saat beberapa kolega mendekat.

Zoya mengangguk pelan. "Saya di sini, Tuan."

Namun, ketenangan itu hancur saat pintu utama ballroom terbuka lebar. Seorang wanita melangkah masuk dengan penuh percaya diri.

Ia mengenakan gaun backless berwarna merah menyala yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang pirang kecokelatan disanggul modern, menampakkan leher jenjang yang dihiasi kalung berlian.

Suasana ruangan seolah tersedot ke arah wanita itu. Para tamu mulai berbisik.

"Bukankah itu Nadia? Putri tunggal pemilik Sanjaya Group?"

"Dia sudah kembali dari London?"

Arvin membeku. Gelas sampanye di tangannya bergetar sedikit. Matanya terpaku pada sosok wanita yang pernah meninggalkannya tanpa kata lima tahun lalu, di saat ia sedang berada di titik terendah hidupnya. Nadia, wanita yang menjadi alasan Arvin membangun dinding es di hatinya.

"Arvin!" suara Mama Rosa memecah keheningan. Ibu Arvin itu berlari kecil menghampiri Nadia dan langsung memeluknya dengan hangat. "Nadia, Sayang! Kapan kamu sampai di Jakarta? Kenapa tidak memberi tahu Tante?"

Nadia tersenyum manis, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus namun menyimpan kilat tajam. "Baru kemarin, Tante. Aku sengaja ingin memberi kejutan di acara besar Dewangga."

Nadia kemudian memalingkan wajahnya, menatap langsung ke arah Arvin. Ia melangkah mendekat dengan langkah anggun yang teratur. Setiap ketukan sepatunya terasa seperti pukulan bagi Arvin.

"Halo, Arvin. Lama tidak jumpa," ucap Nadia lembut. Ia mengulurkan tangan, sengaja mengabaikan keberadaan Zoya di samping Arvin.

Arvin berdehem, mencoba menguasai dirinya. Ia menjabat tangan Nadia sekilas, lalu segera menariknya kembali. "Selamat datang kembali, Nadia."

"Kamu tampak lebih... gagah sekarang. Dan juga lebih sukses, persis seperti yang kuprediksi dulu," puji Nadia. Ia kemudian melirik Zoya dengan tatapan meremehkan yang disamarkan dengan senyum palsu. "Dan... siapa ini? Asisten pribadimu yang baru? Atau..."

Mama Rosa tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tidak nyaman di telinga Zoya. "Ah, Nadia. Ini Zoya. Dia... yah, kamu tahu sendiri lah, pilihan Papa Dewangga untuk Arvin saat Arvin butuh bantuan di rumah."

Zoya merasakan dadanya sesak. Cara Mama Rosa memperkenalkannya benar-benar menghapus statusnya sebagai istri.

Arvin tampak terganggu. Konsentrasinya pecah. Saat ia harus memberikan pidato singkat di atas panggung, matanya terus melirik ke arah meja VIP di mana Nadia duduk sangat dekat dengan Mama Rosa, tertawa seolah-olah ia tidak pernah pergi.

Setelah pidato, Arvin ditarik oleh beberapa kolega untuk membicarakan kontrak baru. Untuk sesaat, ia melepaskan tangan Zoya. "Tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana."

Zoya mengangguk, ia memilih berdiri di sudut balkon yang sedikit lebih sepi, mencoba menghirup udara segar. Namun, ketenangannya hanya bertahan beberapa detik.

"Gamis yang bagus. Tapi sayangnya, tempat ini bukan untuk orang yang menutup seluruh identitasnya karena malu."

Zoya berbalik. Nadia berdiri di sana, memegang segelas wine merah. Matanya menatap Zoya dari atas ke bawah dengan pandangan menghina.

"Saya tidak malu dengan identitas saya, Nona Nadia," jawab Zoya dengan tenang, meski jantungnya berdebar kencang.

Nadia tertawa sinis. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Zoya bisa mencium parfum mewahnya yang menyengat.

"Dengar, Cantik, kalau kau memang cantik di balik kain itu. Aku tahu siapa kau. Kau hanyalah bidak catur yang dipasang orang tua Arvin saat dia sedang terpuruk. Kau pikir karena kau sudah menjadi istrinya, kau sudah memenangkan hatinya?"

Nadia menyentuh pinggiran gelasnya. "Arvin itu pria yang haus akan kejayaan dan kesempurnaan. Dia butuh wanita yang bisa berdiri di sampingnya di bawah sorot lampu, bukan wanita yang harus disembunyikan di pintu belakang perusahaan. Kau hanya... istri pengganti sementara. Sebuah transisi sebelum dia kembali ke dunianya yang sebenarnya. Dunianya... bersamaku."

Zoya mengepalkan tangannya di balik kain gamisnya. "Pernikahan bukan tentang sorot lampu, Nona. Tapi tentang siapa yang ada saat lampu itu padam. Dan Tuan Arvin adalah suami saya yang sah."

"Sah?" Nadia mendengus. "Di atas kertas, mungkin. Tapi di hatinya? Aku adalah luka yang paling dia ingat. Dan bagi pria seperti Arvin, luka jauh lebih membekas daripada obat penawar yang membosankan sepertimu."

Tiba-tiba, beberapa mahasiswi dari kampus Zoya yang kebetulan menjadi penerima tamu di acara itu lewat dan mengenali Zoya.

"Eh, bukannya itu Zoya dari Fakultas Ekonomi?" bisik salah satu dari mereka. "Wah, dia beneran ada di sini? Siapa yang dia ikuti?"

Nadia menyadari perhatian orang mulai terarah pada mereka. Ia sengaja mengeraskan suaranya. "Oh, jadi kau mahasiswi juga? Kasihan sekali Arvin, harus menanggung beban biaya kuliah istrinya yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya di depan umum. Benar-benar istri pengganti yang... sangat sederhana."

Beberapa tamu mulai menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar. Zoya merasa martabatnya sedang diinjak-injak di tengah pesta yang seharusnya merayakan keberhasilan suaminya.

Arvin yang baru saja menyelesaikan pembicaraannya segera mencari sosok Zoya. Ia melihat kerumunan kecil di dekat balkon dan langkahnya terhenti saat melihat Nadia berdiri di depan Zoya dengan wajah penuh kemenangan.

"Nadia!" panggil Arvin tegas.

Nadia berbalik dan langsung mengubah raut wajahnya menjadi manis. "Eh, Arvin. Aku baru saja menyapa istrimu. Dia wanita yang sangat... menarik. Sangat pendiam."

Arvin melihat bahu Zoya yang sedikit bergetar. Ia tahu istrinya sedang menahan emosi. Arvin melangkah maju, ia tidak menghampiri Nadia, melainkan langsung berdiri di samping Zoya dan merangkul bahunya dengan protektif.

"Zoya, kau tidak apa-apa?" tanya Arvin, suaranya sangat lembut, mengabaikan kehadiran Nadia sepenuhnya.

"Saya ingin pulang, Tuan," bisik Zoya, suaranya parau.

Arvin menatap Nadia dengan tatapan yang bisa membekukan apa pun. "Nadia, terima kasih sudah hadir. Tapi jangan pernah sekali pun kau mengusik ketenangan istriku. Apa yang terjadi di masa lalu sudah terkubur, dan aku tidak suka melihat sampah masa lalu berserakan di masa depanku."

Wajah Nadia memucat. Ia tidak menyangka Arvin akan membela Zoya secara terbuka di depan umum dengan kata-kata sekasar itu.

"Arvin, aku hanya..."

"Cukup," potong Arvin. Ia menoleh ke arah Mama Rosa yang akan menghampirinya. "Ma, Arvin pulang dulu. Zoya sedang tidak enak badan."

Tanpa menunggu jawaban, Arvin menggandeng tangan Zoya dengan erat, menuntunnya keluar dari ballroom melewati kerumunan tamu yang tercengang. Ia tidak peduli dengan citranya malam itu. Ia tidak peduli dengan gosip yang akan beredar besok.

Satu-satunya yang ia pedulikan adalah genggaman tangan Zoya yang terasa sangat dingin.

Di dalam mobil yang melaju menembus malam Jakarta, keheningan menyelimuti mereka. Zoya menatap jendela, air matanya perlahan luruh di balik cadar.

"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Arvin pelan.

Zoya menggeleng. "Bukan apa-apa, Tuan."

"Zoya, bicaralah."

Zoya menghela napas panjang, menoleh ke arah Arvin. "Dia bilang saya hanya istri pengganti sementara. Dia bilang saya rahasia yang memalukan bagi Anda."

Arvin menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya, menatap Zoya lekat-lekat. Ia meraih tangan Zoya, membawanya ke dadanya yang berdetak kencang.

"Dengar," ucap Arvin, suaranya berat dan penuh emosi. "Dia memang masa laluku. Tapi dia adalah kesalahan terbesar yang pernah aku buat. Kau bukan pengganti, Zoya. Kau adalah satu-satunya orang yang tidak pergi saat aku tidak punya apa-apa untuk diberikan."

Arvin mendekatkan wajahnya ke arah Zoya. "Jangan pernah percaya pada kata-katanya. Dia hanya ingin menghancurkan apa yang tidak bisa dia miliki lagi."

Zoya menatap mata Arvin. Untuk pertama kalinya, ia melihat kejujuran yang murni, tanpa ada dinding es yang menghalangi.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Zoya tahu bahwa Nadia tidak akan berhenti sampai di sini. Nadia punya dukungan Mama Rosa, dan Nadia punya kenangan yang tidak bisa dihapus begitu saja.

"Tuan... apakah Anda masih mencintainya?" tanya Zoya dengan suara yang sangat kecil.

Arvin terdiam sejenak. Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan ketegangan baru yang lebih menyakitkan daripada penghinaan Nadia tadi. Sebelum Arvin sempat menjawab, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Isinya - Foto Zoya yang sedang duduk berdua bersama Liam di taman kampus beberapa hari lalu.

"Yakin dia wanita suci yang kau bela? Sementara, dia mencari hiburan lain."

Arvin menatap layar ponselnya. Wajahnya yang tadi melunak seketika kembali mengeras. Dinding es itu, yang baru saja mulai mencair, seolah membeku kembali dalam sekejap mata.

"Tuan? Ada apa?" tanya Zoya cemas.

Arvin tidak menjawab. Ia melepaskan tangan Zoya, mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih, dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen.

Zoya terpaku. Ia tidak tahu apa yang dilihat Arvin, tapi ia tahu bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

...----------------...

To Be Continue ....

1
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
sabar Zoya.... karna lama" es itu akan mencair dengan sendiri'y🤭
ρυтяσ kang'typo✨
apah masih sangat kokoh benteng di hati mu tuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!