Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI.
Ruang rawat VIP itu seketika berubah menjadi medan duka yang luar biasa. Suara tangisan Santi yang memanggil nama Muzammil bersahut-sahutan dengan isak penyesalan Maheer. Di tengah hiruk-pikuk emosi itu, tubuh Assel yang memang sudah rapuh sejak kepergian suaminya mendadak kehilangan tumpuan. Kesadarannya menguap, dan ia limbung ke arah lantai.
"Assel!" teriak Maheer.
Dengan sigap, Maheer menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh ubin. Wajah Assel pucat pasi, sedingin es. Razka yang melihat ibunya tak sadarkan diri langsung menangis histeris. Ia menarik-narik ujung baju Assel dengan tangan mungilnya yang gemetar.
"Mama! Bangun, Mama! Om Jahat, Mama kenapa?" jerit Razka ketakutan.
Maryani segera mendekat dan merangkul Razka, mencoba menenangkan bocah itu meski matanya sendiri sembab. Maheer tidak menunggu lama, ia segera menggendong Assel keluar ruangan untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Setelah memastikan Assel ditangani oleh dokter di ruang observasi, Maheer kembali ke kamar ibunya dengan langkah berat.
Di dalam ruangan rawat, Santi masih menangis sejadi-jadinya. Setiap isakannya terasa seperti sembilu yang menyayat hati Maheer. Penyesalan Santi begitu dalam karena selama ini ia tidak pernah membuka hati untuk menerima Assel sebagai menantunya. Padahal Muzammil sudah melakukan berbagai cara agar sang Ibu mau menerima Assel sebagai istri yang amat ia cintai.
"Maheer... ceraikan dia," lirih Santi di sela tangisnya saat melihat putranya kembali. "Segera ceraikan wanita itu."
Maheer tertegun di ambang pintu. "Apa maksud Mama?"
"Ingatlah Maheer, bukankah karena dia, kalian selalu bertengkar! Karena dia, Muzammil harus mengorbankan nyawanya demi mengejarmu!" Santi meremas sprei tempat tidurnya dengan penuh emosi. "Assel itu sumber malapetaka di rumah kita. Dia pembawa sial, Maheer. Lepaskan dia sebelum kau juga celaka!"
"Cukup, Mama! Berhenti menyalahkan Assel!" bentak Maheer, suaranya menggelegar namun sarat akan duka.
Maheer mendekati ranjang ibunya, menatap sang ibu dengan tatapan memohon agar didengarkan. "Mama harus tenang dulu. Biarkan aku menceritakan segalanya dari awal agar Mama paham siapa yang sebenarnya bersalah di sini."
Setelah Santi mulai sedikit lebih tenang meski masih tersedu, Maheer mulai membuka luka lama. Ia bercerita tentang masa SMA-nya, tentang gadis remaja bernama Assel yang dulu begitu ia cintai dengan tulus. Ia menceritakan bagaimana fitnah keji dari teman-temannya menghancurkan kepercayaan itu dan mengubah cinta menjadi kebencian yang membabi buta.
"Mama tidak akan percaya hanya dengan kata-kataku, kan?" tanya Maheer sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV yang disimpan Muzammil di brankas ruangan kerjanya. "Lihat ini, Mah. Lihatlah betapa Kak Muzammil menjadi pahlawan bagi Assel, saat teman-teman yang aku percaya membuliynya. Dan Kak Muzammil, Dia... Dia melindunginya saat anak Mama yang bodoh ini justru memberikan penderitaan dan hinaan."
Santi menatap layar ponsel itu dengan mata bergetar. Ia melihat bagaimana Muzammil menghalau orang-orang yang merundung Assel. Ia melihat bukti bahwa Assel adalah korban, bukan pelaku.
"Assel tidak salah, Mah. Akulah pria bodoh yang menyebabkan semua malapetaka ini terjadi," isak Maheer, tangis penyesalannya kembali pecah. "Karena keegoisanku, Kak Muzammil pergi. Dan aku menikahi Assel karena itu adalah permintaan terakhirnya. Di napas terakhirnya, hanya itu yang ia minta dariku Mah. Apakah aku harus mengabaikan wasiatnya dan membiarkan Kakak tidak tenang di alam sana?"
Santi terdiam. Seluruh pembelaannya runtuh seketika. Ia meremas kain selimutnya, meratapi betapa kerasnya hatinya selama ini kepada menantu yang ternyata sangat dicintai oleh putra pertamanya.
"Anakku yang malang... kenapa takdir begitu kejam padamu, Muzammil," ratap Santi dengan suara yang mulai melunak. Ia menatap Maheer dengan sisa air mata. "Ya sudah, kamu temanilah Assel. Biarkan Razka di sini bersama kami."
Maheer segera bergegas menuju ruang observasi tempat Assel dirawat. Di sana, Assel masih terbaring lemah dengan selang infus terpasang di tangannya. Maheer segera menghampiri dokter yang baru saja memeriksa kondisi istrinya.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Maheer cemas.
"Beliau hanya syok berat dan kelelahan, Tuan," jelas dokter itu sambil merapikan stetoskopnya. "Ditambah lagi, sepertinya pasien memiliki beban pikiran yang terlalu banyak. Tolong pastikan dia beristirahat total. Jangan biarkan dia berpikir terlalu keras, itu hanya akan membuat daya tahan tubuhnya semakin melemah."
Maheer mengangguk paham. Setelah dokter pergi, ia duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah pucat Assel yang masih memejamkan mata. Tak lama kemudian, bulu mata Assel yang lentik bergetar. Ia perlahan membuka matanya yang sembab dan tampak linglung.
"Mas... Mas Muzammil?" gumam Assel lirih.
Maheer tersentak, namun sebelum ia bisa menjawab, Assel sudah bangun dan langsung memeluk lehernya dengan erat. Tangis Assel pecah di bahu Maheer.
"Syukurlah... ternyata itu hanya mimpi buruk, Mas," isak Assel sambil mempererat pelukannya. "Aku mimpi... Aku mimpi kau pergi meninggalkanku dan Razka. Jangan pernah pergi lagi, Mas. Aku tidak sanggup." ucap Assel sambil terisak hebat.
Tubuh Maheer membeku. Jantungnya berdegup kencang karena rasa sesak yang luar biasa. Assel sedang merindukan suaminya sampai ke titik di mana halusinasinya menganggap Maheer adalah Muzammil. Maheer ingin melepaskan pelukan itu dan menjelaskan kenyataan pahit tersebut, namun ia tak tega melihat Assel yang begitu rapuh.
"Mas, kenapa diam saja?" tanya Assel di sela isakannya, wajahnya masih terbenam di leher Maheer.
Maheer hanya bisa memejamkan mata, membiarkan bajunya basah oleh air mata Assel. Ia tahu, pelukan ini bukan untuknya. Ia hanyalah bayangan dari pria hebat yang telah tiada. Namun, untuk saat ini, demi menjaga detak jantung Assel agar tetap stabil, Maheer hanya bisa terdiam dan membalas pelukan itu dengan sangat hati-hati, memikul beban sebagai pengganti yang tak akan pernah bisa menggantikan posisi aslinya.
"Aku di sini, Assel. Aku di sini," bisik Maheer dengan suara serak, menyembunyikan identitasnya di balik duka yang sama-sama mereka rasakan. Ia tahu, ketika Assel benar-benar sadar nanti, luka itu akan kembali menganga, dan ia harus siap menjadi sasaran kemarahan atau bahkan pengusiran sekali lagi. Namun bagi Maheer, membiarkan Assel merasa tenang sejenak adalah penebusan kecil yang bisa ia lakukan malam ini.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah