NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden apartemen yang mewah, menerpa wajah Aliya yang tampak pucat.

Ia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang hebat menghantam kepalanya.

Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk sarafnya.

"Emir..." gumam Aliya dengan suara serak.

Ia berusaha duduk, namun dunianya seolah berputar.

Saat itulah ia menyadari keberadaan Emirhan. Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, duduk di kursi tepat di samping tempat tidur sambil menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam.

Tidak ada kehangatan yang biasanya terpancar dari mata itu.

"Sudah bangun?" tanya Emirhan, suaranya terdengar datar namun mengintimidasi.

Aliya memegang kepalanya yang pening, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.

Potongan-potongan memori tentang musik yang keras, gelas-gelas minuman, dan lantai dansa mulai muncul satu per satu, membuat wajahnya seketika memerah karena malu.

"Apa yang kamu lakukan semalam, Aliya?" tanya Emirhan lagi, kali ini ia berdiri dan melangkah mendekat, memberikan tekanan yang menyesakkan di udara.

"Mabuk di tempat seperti itu? Menari dengan pria-pria asing? Apa seperti ini kelakuan gadis remaja yang selama ini aku kenal?"

Aliya tersentak. Bentakan halus namun tajam dari Emirhan terasa lebih menyakitkan daripada rasa pening di kepalanya.

Ia menatap Emirhan dengan mata yang kembali berkaca-kaca, teringat alasan mengapa ia melakukan kegilaan itu.

"Emir... aku..." Aliya menjeda, suaranya bergetar.

"Aku hanya ingin melupakan semuanya. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah melihat anting itu di kamarmu! Kamu tidak tahu betapa hancurnya aku!"

"Jadi solusinya adalah merusak dirimu sendiri?" potong Emirhan cepat, rahangnya mengeras.

"Kamu bisa saja celaka semalam jika aku tidak datang. Apa kamu tidak memikirkan ibumu? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana kecewanya Ayahku jika melihatmu dalam kondisi sehancur itu?"

Aliya menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi selimut sutra milik Emirhan.

Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya, namun rasa sakit hati akibat pengkhianatan yang ia duga masih tetap ada di sana, mengganjal di antara mereka berdua.

Melihat Aliya yang terisak dengan bahu yang terguncang, kekerasan hati Emirhan seketika runtuh.

Amarah yang tadi menyelimutinya berganti menjadi rasa iba dan protektif yang mendalam.

Ia naik ke atas ranjang dan menarik tubuh Aliya ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah takut gadis itu akan hancur jika ia melepaskannya.

"Aku mencintaimu, Aliya," bisik Emirhan di telinga Aliya, suaranya kini melunak dan penuh ketulusan.

"Aku tidak pernah mengkhianatimu. Demi Tuhan, tidak pernah terpikir olehku untuk melakukan itu."

Aliya menyembunyikan wajahnya di dada Emirhan, menghirup aroma maskulin yang sempat ingin ia lupakan semalam. Namun, bayangan benda berkilau itu masih menghantuinya.

"Tapi anting itu, Emir..." lirih Aliya di tengah isakannya.

"Bagaimana bisa ada di dekat tempat tidurmu kalau tidak terjadi apa-apa?"

Emirhan menghela napas panjang, ia merenggangkan pelukannya sedikit agar bisa menatap mata Aliya yang sembab.

Ia menggenggam kedua tangan Aliya dengan mantap.

"Itu milik Laura," aku Emirhan jujur.

"Dia masuk ke kamarku tanpa izin saat aku sedang berolahraga dan memakai headset. Dia mencoba memaksakan perasaannya, tapi aku langsung mengusirnya, Aliya. Aku bersumpah, aku hanya menganggapnya saudara, tidak lebih. Dia hanya bagian dari masa lalu keluargaku yang tidak bisa kupilih, tapi kamu adalah masa depan yang aku pilih sendiri."

Aliya terdiam, menatap kejujuran yang terpancar dari mata gelap Emirhan.

Ada rasa lega yang menjalar di hatinya, namun juga rasa bersalah karena telah meragukan pria itu hingga melakukan tindakan nekat semalam.

"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?" tanya Aliya pelan.

"Aku tidak ingin kamu terbebani dengan kegilaan Laura. Aku ingin melindungimu dari drama di rumah itu, tapi ternyata caraku salah," ujar Emirhan sambil menghapus sisa air mata di pipi Aliya dengan ibu jarinya.

"Maafkan aku, Aliya. Jangan pernah lari ke tempat seperti itu lagi. Jika kamu marah padaku, bicaralah, maki aku, tapi jangan sakiti dirimu sendiri."

Aliya menganggukkan kepalanya pelan, merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan jujur dari Emirhan.

Meskipun kepalanya masih terasa agak berat, rasa sesak yang menghimpit dadanya sejak semalam perlahan mulai memudar.

Emirhan mengusap puncak kepala Aliya dengan lembut sebelum beranjak dari tempat tidur.

"Sekarang lekas mandi dan sarapan. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," ucapnya dengan nada yang tak terbantahkan namun penuh perhatian.

"Hari ini aku akan mengantarmu dan menunggumu di sekolah sampai jam pelajaranmu usai."

Aliya yang sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya sontak mendongak, matanya membelalak kecil karena terkejut.

"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu, Emir? Kamu punya banyak pertemuan penting hari ini, kan?" tanya Aliya penuh keraguan.

Ia tahu betapa sibuknya jadwal seorang CEO seperti Emirhan.

Emirhan berhenti di ambang pintu kamar, lalu menoleh dengan senyum tipis yang tampak tegas.

"Pekerjaan bisa menunggu, tapi kamu tidak. Aku tidak mau mengambil risiko lagi setelah apa yang terjadi semalam. Aku ingin memastikan kamu benar-benar sampai di kelas dan fokus belajar untuk ujianmu minggu depan."

Ia melangkah kembali mendekat, mencium kening Aliya sekali lagi.

"Jangan membantah. Cepatlah, atau kita akan terlambat."

Aliya hanya bisa tertegun melihat sikap protektif Emirhan.

Ia tahu bahwa mulai saat ini, Emirhan tidak akan membiarkannya lepas dari pengawasannya sedikit pun, terutama dengan kehadiran Laura dan bayang-bayang rahasia keluarga yang masih mengintai mereka.

Dengan langkah pelan, Aliya beranjak menuju kamar mandi, menyadari bahwa meskipun masalah anting-anting itu sudah terjawab, tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Matahari pagi menyinari apartemen mewah Emirhan dengan lembut, namun suasana di dalamnya terasa jauh lebih tenang dibandingkan kegelapan semalam.

Setelah Aliya selesai mandi dan mereka menikmati sarapan singkat dalam keheningan yang nyaman, Emirhan segera membimbing Aliya menuju mobil.

Ia tidak ingin gadis itu terlambat, apalagi ujian penting sudah di depan mata.

Perjalanan menuju sekolah terasa lebih hangat. Emirhan terus menggenggam tangan Aliya saat berhenti di lampu merah, seolah sedang menyalurkan kekuatan agar Aliya bisa fokus pada pelajarannya.

Sesampainya di sekolah, Emirhan tidak langsung pergi.

Ia memarkir mobilnya dan ikut turun, berjalan di samping Aliya hingga ke depan koridor kelas.

"Belajar yang rajin. Jangan pikirkan hal lain," bisik Emirhan sambil mengusap kepala Aliya.

Aliya mengangguk, memberikan senyum tipis yang tulus sebelum melangkah masuk ke dalam kelasnya.

Begitu duduk di bangkunya, beberapa teman sekelas mulai mendekatinya untuk mengobrol tentang materi ujian, dan Aliya pun mulai tenggelam dalam diskusi tersebut, berusaha keras mengembalikan fokusnya sebagai pelajar.

Namun, di gedung administrasi sekolah, Emirhan sedang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diduga oleh Aliya.

Ia duduk di ruang kepala sekolah dengan wajah yang sangat serius.

"Tuan Emirhan, ada keperluan apa Anda mendatangi kami secara formal pagi ini?" tanya sang kepala sekolah dengan nada hormat.

Emirhan meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam di atas meja.

Ia membukanya, memperlihatkan beberapa dokumen legal yang sudah ditandatangani.

"Setelah Aliya menyelesaikan ujiannya minggu depan, saya berencana untuk menikah dengannya," ucap Emirhan dengan nada bicara yang mutlak dan tak terbantahkan.

"Ini adalah dokumen pernyataan niat pernikahan kami. Saya ingin sekolah memastikan bahwa jadwal ujiannya tidak terganggu, dan setelah itu, statusnya akan berada di bawah tanggung jawab saya sepenuhnya sebagai suaminya."

Kepala sekolah itu tampak tertegun, menatap dokumen-dokumen yang menunjukkan bahwa persiapan pernikahan itu sudah dilakukan dengan sangat matang oleh keluarga Karadağ.

"Tapi, Aliya masih sangat muda, Tuan," ujar sang guru ragu-ragu.

"Saya akan menjamin pendidikannya hingga ke universitas terbaik," potong Emirhan tegas.

"Saya hanya ingin memastikan dia memiliki perlindungan hukum dan keluarga yang paling kuat di sisi saya. Saya tidak ingin ada lagi pihak luar yang berani menyentuh atau mengganggunya."

Sementara itu, di dalam kelas yang hanya berjarak beberapa koridor, Aliya sedang sibuk mencatat poin-poin penting dari buku pelajarannya.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa di balik pintu ruang guru, Emirhan baru saja mengunci takdir mereka berdua ke dalam sebuah ikatan yang sah, memastikan bahwa Aliya tidak akan pernah bisa lari lagi darinya—dan tidak akan ada lagi "anting-anting" lain yang bisa memisahkan mereka.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!