Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Rupanya bukan hanya Vania yang terkejut setengah mati menyaksikan keberadaannya, namun Sandi pun demikian. Pria itu sama terkejutnya saat menyaksikan keberadaan wanita cantik yang dikenalinya sebagai salah seorang pegawainya di hotel.
"Tuan Sandi Admodjo...."
"Vania...."
Ibu menatap ke arah putranya dan juga calon menantunya secara bergantian.
"Apa kalian sudah saling kenal?."
"Tu_tuan Sandi adalah pimpinan hotel tempat Vania bekerja, Bu." Vania yang menjawab. Sungguh, tidak sedikitpun terbesit dibenak Vania jika putra dari Bu Dinda adalah Sandi Admodjo. Vania menyesali kebodohannya yang tidak mencari tahu latar belakang Bu Dinda sebelum menerima tawaran dari wanita itu. Seandainya Vania tahu bahwa Bu Dinda adalah ibunya Sandi, Vania pasti tidak akan berpikir dua kali untuk menolak tawaran wanita itu.
Di saat Vania tengah menjawab ibu, Sandi justru terlihat diam seribu bahasa dengan kesimpulannya sendiri tentang calon istrinya itu.
Wajah Vania semakin kehilangan semangat setelah tahu jika calon suaminya ternyata adalah seorang Sandi Admodjo.
"Dia bahkan tidak tersenyum sedikitpun padaku." Batin Vania. Jika masih ada kesempatan untuk membatalkan pernikahan ini, Vania ingin sekali melakukannya. Tapi sayangnya, Vania tidak tega melihat kekecewaan Bu Dinda jika sampai ia membatalkan pernikahan ini. Sungguh, Vania merasa seperti orang terbodoh di muka bumi ini.
"Ya Tuhan, takdir apa lagi ini?." Lanjut batin Vania dengan keputusasaan di hati.
Vania terus disibukkan dengan lamunannya hingga kalimat ijab Kabul yang terucap dari mulut Sandi berhasil menyadarkan Vania dari lamunannya.
"Saya terima nikahnya Vania Damayanti binti Arman Hidayat dengan mahar tersebut tunai."
Terlihat jelas gurat lelah di wajah Vania. Bukan lelah karena bekerja, namun lelah menghadapi takdir hidupnya. Lagi-lagi, pandangan Vania tertuju pada putrinya yang terlihat sangat bahagia atas pernikahannya.
Usai prosesi ijab Kabul, ibu meminta Vania mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda penghormatan seorang istri terhadap suaminya.
"Sekarang kamu sudah menjadi menantu ibu, dan itu artinya kamu harus memanggil ibu dengan sebutan mamah, sama seperti Sandi!." Kata ibunya Sandi sebelum sesaat kemudian memeluk menantunya.
Entahlah, Vania bingung harus bersikap seperti apa. Di satu sisi ia beruntung karena mendapat ibu mertua yang begitu menyayanginya namun di sisi lain pria yang kini telah bersatus sebagai suaminya justru terkesan mengabaikannya. Bukannya berharap lebih, Vania hanya kasihan jika setelah pernikahan ini putrinya bukannya mendapat figur seorang ayah tapi justru tersakiti oleh sikap Sandi yang mungkin tidak bisa menerima kehadiran mereka.
Deg.
Prasangka buruk Vania langsung terpatahkan saat melihat Sandi membawa tubuh mungil Sesil ke dalam gendongannya.
"Bagaimana kabarmu, anak cantik?." Jantung Vania berdebar kencang saat melihat betapa lembutnya Sandi memperlakukan putrinya. Tatapan pria itu pun terlihat begitu teduh saat memandang Sesil, sangat jauh berbeda ketika sedang menatap dirinya.
"Kabar Sesil baik, Om." Jawab Sesil dengan wajah berbinar.
"Kok manggilnya masih Om, sih? Sekarang Om sudah menikah dengan mamahnya Sesil, itu artinya Sesil harus memanggil Om Sandi dengan sebutan papah!." ibunya Sandi menimpali.
Vania sontak memandang pada ibu.
"Memangnya boleh?." Sesil menangkup wajah tampan Sandi dengan kedua tangan mungilnya.
"Tentu saja boleh, sayang!." Balas Sandi.
"Papah.... Akhirnya Sesil punya papah." Sesil benar-benar terlihat bahagia.
Deg
Kedua bola mata Sandi seketika berkaca-kaca saat pertama kali mendengar Sesil memanggilnya dengan sebutan papah.
Vania meremat kebaya yang dikenakannya dengan sekuat tenaga saat mendengar panggilan tersebut lolos dari mulut putrinya. Bukan karena marah, tapi karena ada yang bergejolak di dalam diri Vania. Biarlah ia menjalani kehidupan rumah tangga yang tak tentu arah asalkan putrinya bahagia, Vania rela.
Setelah mengabadikan beberapa foto dalam momen pernikahan sederhana tersebut, ibu pun mengajak mereka semua untuk segera pulang. Ya, pulang, karena mulai hari ini ibu akan mengajak menantu serta cucunya untuk tinggal bersama. Tentunya mbak Atun pun akan ikut bersama, karena wanita itu merupakan baby sitter Sesil.
Ibu sengaja mengemudikan mobil Vania untuk kembali ke rumah, agar Vania menumpangi mobil Sandi.
"Sungguh, saya tidak tahu jika putranya Bu Dinda ternyata adalah anda, tuan. Seandainya saya tahu, saya pasti tidak akan menerima tawaran Bu Dinda untuk menikah dengan putranya." Setelah cukup lama suasana hening tercipta, Vania akhirnya buka suara. Ia merasa perlu menjelaskan agar Sandi tidak berpikiran buruk tentang dirinya, terutama tentang maksud dan tujuannya menikah dengan pria itu.
"Apa menurutmu alasanmu itu dapat diterima oleh akal sehat?." Bukannya menjawab, Sandi justru balik bertanya. Jujur, Sandi seperti belum percaya jika ibunya Sesil adalah Vania Damayanti, pegawai yang menduduki posisi sekertaris manager di hotelnya, mengingat wajah serta bentuk tubuh Vania masih terlihat seperti anak gadis, terlebih usia Vania masih sangat muda.
Vania berusaha untuk bersikap tenang.
"Percaya atau tidak, tapi seperti itulah kenyataannya, tuan Sandi Admodjo." Vania tidak memaksa Sandi untuk percaya padanya namun ia merasa perlu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Jika benar begitu, lalu apa sebenarnya alasanmu hingga bersedia menikah dengan pria yang tidak kau ketahui sosoknya?." Merasa terpojok, Vania lantas menjawab pertanyaan Sandi tersebut dengan sejujurnya.
"Saya ingin Sesil mendapatkan figur seorang ayah." Jawaban Vania sontak membuat Sandi menolehkan pandangan ke arah Vania.
"Saya hargai kejujuranmu. Baiklah, kau menikah demi putrimu dan saya menikah demi mamah." Secara tidak langsung Sandi membangun batasan di dalam hubungan pernikahan mereka, setidaknya itu yang dapat disimpulkan oleh Vania dari perkataan Sandi.
Obrolan keduanya berakhir begitu saja setelah mobil yang dikemudikan Sandi tiba di rumah.
Ibu yang tiba lebih dulu, nampak menghampiri mobil putranya, hendak menyambut kedatangan sang menantu di rumah mereka.
"Selamat datang Vania, semoga kamu betah tinggal di rumah ini, sayang." Kata ibu.
Vania meresponnya dengan anggukan yang disertai senyuman tipis.
Ibu mengajak Vania masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian Sandi menyusul.
Sungguh, Vania tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki dikediaman megah milik keluarga Admodjo, terlebih sebagai menantu dari keluarga tersebut.
"Ayo Vania, mamah antar ke kamar!." ajak Ibu dan Vania pun mengangguk mengiyakan.
"Silahkan masuk, sayang. Ini kamarnya Sandi dan mulai hari ini akan menjadi kamar Kamu juga." Kamar Sandi berada di lantai dua.
"Terima kasih, M_mah." Lidah Vania masih terasa kaku dengan panggilan barunya terhadap Bu Dinda.
"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Sebagai mamah mertua, sudah sewajarnya mamah memperlakukan menantu mamah dengan baik."
Setelah berada di dalam kamar tersebut, pandangan Vania terfokus pada ranjang berukuran king size yang nampak dihiasi kelopak bunga mawar berbentuk hati.
"Kalau kamu ingin ganti pakaian, mamah sudah menyiapkan pakaian buat kamu di dalam lemari, Vania." Sampai pakaian pun sudah disiapkan oleh ibu untuk menantunya itu.
"Makasih, mah." Vania tidak menyangka bisa bertemu dengan manusia berhati malaikat seperti ibu mertuanya tersebut.
Ibu lantas mengangguk seraya mengukir senyum di bibirnya.
"Kalau begitu mamah ke bawah dulu, takutnya Sesil nyariin."
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆
ditunggu lagiii upnyaaa thorrrr