NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:618
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - MEMORI

Brak!!

Suara keras dobrakan pintu itu mengejutkan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Ruangan gelap, terlihat suram dan mencekam penuh akan debu. Rumah lama yang terletak di pinggiran kota. Mungkin orang-orang melihat bahwa ini hanyalah bangunan lama yang tak memiliki hal yang berharga. Warga sekitar yang melihat bangunan ini akan selalu menghindar. Hanya orang bawah tanah yang tau bahwa rumah ini memiliki sesuatu yang berharga. Sangat berharga.

Sekumpulan orang berbaju hitam dengan memakai topeng menutupi identitas mereka. Jika dicermati, salah satu dari kumpulan orang-orang berbaju hitam itu terdapat sebuah tato sebuah bunga di bagian tengkuk leher. Bunga tampak seperti bunga melati, namun juga terlihat tidak sama juga. Bunga Carolina Jasmine, bunga melati palsu yang tampak mirip dengan bunga melati. Sama-sama harum, hanya saja Bunga Carolina sedikit berbahaya. Bunga kuning yang indah tampak berkilau saat terkena terpaan cahaya. Ilusi mata yang memanjakan, dibalik itu mengandung racun.

“Nona, kami telah menggeledah tempat ini. Namun hasilnya...nihil!” lapor seseorang yang tampak gugup karena kegagalan yang baru saja ia lakukan

Seorang wanita memakai topeng berwarna hitam, dengan ukiran Bunga Carolina yang indah menghiasinya. Memakai paduan baju turtleneck rajut berwarna hitam dengan celana hitam. Tak lupa sebuah coat hitam bertekstur kain wol, menambah kesan mahal dan berwibawa. Memakai sarung tangan kulit hitam, lengkap dengan cincin berwarna hitam dengan garis putih yang tampak biasa saat dipandang, hanya saja jika diteliti akan ukiran Bunga Carolina di dalamnya.

“Tidak ada satupun?” nada dingin itu membuat siapa pun akan merasa merinding. Wajah tegas dan dingin, sangat mencerminkan sosok pemimpin bawah yang ditakuti.

Kemudian arah pandangnya mengarah pada sebuah patung rusa yang sangat cantik. Terbuat dari tembaga dengan lapisan berwarna keemasan. Patung itu tampak menghadap ke arah depan, terlihat sangat cantik dan berwibawa. Melangkah ke depan, menyentuh patung itu secara perlahan. Dengan gerakan anggun, ia menggeser patung itu. Sebuah pintu rahasia langsung terbuka. Ruangan yang selama ini dicari akhirnya ia temukan.

“Geledah!” nada perintah mutlak, secara serempak orang-orang berpakaian hitam segera masuk ke dalam melaksanakan perintah.

“Nona, mengapa kita harus mencari disini?”

“Paman Albert, mereka tak mungkin meletakkan bukti di rumah yang mereka anggap sebagai piala kemenangan. Bukti itu pasti ada di rumah lama mereka yang usang ini.” Nada remeh begitu kental, membandingkan rumah mewah yang dihuni sekarang dan rumah lama milik musuhnya

“Saya paham, nona. Pembalasan sudah semakin dekat. Waktu mereka tak akan lama lagi.” Albert, pria bertopeng hitam dengan ukiran Bunga Carolina yang letaknya sama dengan wanita itu menyeringai, mengingat tujuan mereka akan segera terlaksana.

“Kau pantau dengan teliti. Jangan sampai meninggalkan jejak, bahkan bau pun jangan sampai tercium.” Kemudian berlalu pergi, keluar dari rumah tua itu.

“Baik, nona!”

 

...****************...

Sudah sebulan sejak hari pemotretan itu, Arya tak lagi bertemu dengan Nala. Saat berkunjung ke rumahnya, hanya ada penolakan dari sang wanita. Bahkan keluarganya sendiri ikut membentengi, tak mengijinkan mereka untuk bertemu.

“Kevin, apakah hari itu aku sangat keterlaluan? Apakah aku salah karena ingin dia kembali?” Arya termenung, merenungi apa yang ia perbuat.

Dirinya hanya ingin cintanya kembali, kembali ke pelukannya. Baginya, Nala bukanlah hanya seorang kekasih, dia adalah segalanya. Perhatian, kasih sayang, kesabaran yang dimiliki oleh gadis itu adalah kunci yang membuka hatinya. Dirinya tak ingin kehilangan kunci itu. Apakah itu salah??

“Tidak tuan, hanya saja nona membutuhkan waktu. Waktu adalah obat yang paling ampuh untuk saat ini. Jangan tergesa-gesa, biarkan nona mencerna apa yang terjadi.” Arya terdiam, penjelasan Kevin sangatlah mudah ia pahami. Hanya saja hatinya ingin melakukan itu, namun tidak dengan pikirannya. Rasa cemas dan ketakutan itu selalu saja hadir. Takut tak akan bisa bertemu, takut bahwa dia akan meninggalkannya jauh di belakang.

“Tuan, nona sedang mencerna ingatan asing yang terus saja datang silih berganti. Ingatan yang terkunci kemudian datang secara tiba-tiba, bukankah butuh kesiapan untuk hal itu. Jika tuan ingin dia kembali, beri dia waktu. Bantu perlahan adalah jawabannya.”

Jika Arya merenung, maka berbeda dengan Nala. Di ruang dimensi milik kalung peninggalan neneknya, Nala menikmati angin segar yang selalu ia hirup akhir-akhir ini. Berdiam diri di dalam ruang dimensi, mempelajari segala peninggalan milik leluhurnya tentang ruang dimensi dan kegunaannya. Bahkan silsilah yang selama ini ingin ia cari ternyata ikut tersembunyi di ruang ini.

Ingatan yang dimilikinya telah pulih. Bantuan air ajaib itu cukup ampuh. Meskipun membutuhkan waktu, namun hasil yang diberikannya cukup memuaskan. Ingatan kembali, semuanya kembali tanpa terkecuali. Terutama ingatan tentang ibunya, semuanya kembali dengan sangat jelas.

“Sungguh ironi. Kecelakaan ku terjadi karena sebuah harta dan kontrak film.” ujarnya sembari melihat tanaman yang tumbuh dengan suburnya.

Melirik ke arah buku silsilah keluarganya, sebuah nama yang menurutnya tak pantas turut hadir dan tercatat disana. Nama itu ingin sekali ia hapus, ingin hilangkan dari buku itu sepenuhnya. Namun, dirinya teringat bahwa nama-nama yang tercatat disana juga banyak yang seharusnya tidak perlu dicantumkan. Dirinya mungkin akan lelah jika membuang semuanya.

Kemudian, pandangannya mengarah pada gelang usang miliknya. Gelang berbandul R, gelang pemberian kekasihnya atau sekarang ia harus menyebutnya mantan kekasih. Mengingat mereka akhirnya kembali bertemu dengan keadaan yang berbeda. Dia bukan lagi seorang polisi, melainkan seorang pemimpin sebuah perusahaan. Dirinya juga bukan lahi seorang siswa dengan seragam abu-abunya melainkan seorang psikiater yang sedang mencari kerja.

“Bolehkah aku kembali kepadamu, Radit?” gumamnya saat mengingat kekasihnya. Dirinya masih mencintai pria itu. Dirinya selalu ingat bagaimana keberanian dan kebaikan pria itu. Alasan dirinya jatuh cinta, cinta yang selalu tumbuh dengan indahnya.

“Bolehkah aku kembali dekat denganmu? Kembali dengan cinta yang sama.”

 

...****************...

“Selamat pagi, tuan putri tidur!” sapaan Maya saat melihat Nala yang baru saja turun.

Piyama yang masih melekat dengan rambut yang terikat asal, sangat jelas bahwa dia baru saja bangun tidur. Sandal berbulu pink berbentuk kelinci itu sangat kontras dengan wajah imut milik Nala.

“Selamat pagi!” Sambil mengucek matanya, Nala berjalan perlahan menuruni tangga tanpa melihat ada seseorang yang sejak pagi telah bertamu.

Dengan langkah gontai, Nala berjalan perlahan menuju dapur, melewati ruang tengah. Dipta menepuk keningnya saat melihat kelakuan adiknya yang tak pernah berubah, seperti anak kecil.

“Ehem!” deheman itu membuat Nala melihat ke arah kakaknya. Dengan matanya yang layu, Nala dapat melihat seseorang duduk di dekat kakaknya.

“Dek, buka matamu dan lihat siapa yang bertamu pagi ini.” Nala mengucek matanya, berusaha memfokuskan penglihatannya.

Saat matanya telah fokus, dengan jelas Nala melihat seseorang yang sangat dikenalinya. Seseorang yang sejak kemarin ia pikirkan sekaligus ia rindukan. Orang yang tak ia sangka akan ia temui langsung pagi ini. Nala berkedip, memeriksa penglihatannya dengan jelas.

Hening sejenak. Terpikirkan sesuatu, Nala melihat penampilannya. Piyama pink dengan gambar kelinci. Meraba rambutnya, tersadar bahwa rambutnya ia ikat asal. Sunggub berantakan. “Ahhhh!!!” Berlari kembali ke arah tangga, masuk ke dalam kamarnya.

Arya, Maya dan Dipta tertawa saat melihat respon Nala yang tampak gelagapan. Dipta dan Maya sangat mengenal Nala. Nala sangat malu jika bertemu seseorang di kala dia belum rapi bahkan belum mandi.

“Maaf ya, tunggu sebentar Nala habis ini pasti akan turun lagi.” ujar Maya dengan lembut. Kemudian berjalan menyusul Nala.

 

1
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
kenapa ya jaman sekarang kl anaknya nggak nikah, yang bingung orang tuanya, tetangganya sama semua orang sampe bingung 🤣🤣🤣
Anyelir: soalnya iri sama tetangga, pengin momong cucu. biasa ajang pamer cucu setelah ajang pamer anak
total 1 replies
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
Halah kalian semua kebanyakan alasan, emang sengaja sih menurutku, mereka nggak mau jemput nala/Shy/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
tega banget, sampai lupa jemput nala.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
nggak semua cinta itu buruk ya nala, coba buka lagi cara pemikiran kamu.
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!