NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 016

Reygan masih berdiri mematung di pinggir lapangan, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Di depannya, permainan kembali berlanjut seolah keberadaannya hanyalah angin lalu. Ia menyaksikan Aksa melompat dengan tenaga yang eksplosif, melakukan rebound tajam, dan kembali mencetak poin dengan tenang.

"Satu lagi!" seru Abi, wajahnya sudah merah padam karena kelelahan, tapi gengsinya sebagai kakak tidak mengizinkannya berhenti.

Aksa tidak banyak bicara, tapi setiap gerakannya tampak seperti ejekan bagi Reygan. Keringat mengalir dari pelipis Aksa, jatuh ke lantai lapangan semen yang panas, namun fokusnya tetap terkunci. Setiap kali ia berhasil memasukkan bola, ia akan melirik sekilas ke arah Ziva, seolah ingin memastikan gadis itu masih menonton.

Ziva sendiri tampak sangat asyik. Ia sudah menghabiskan setengah bungkus keripiknya dan sekarang malah sibuk mengipas-ngipas wajahnya dengan majalah lama. Ketika matanya tak sengaja bertemu dengan mata Reygan yang masih menatapnya penuh luka, Ziva hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali fokus pada Aksa.

"Ziv, please... cuma lima menit," suara Reygan terdengar di sela-sela bunyi bola yang memantul.

"Rey, lo nggak denger?" Abian berhenti sejenak, mengatur napasnya yang tersengal. "Adik gue lagi sibuk jadi wasit maut gue. Mending lo balik deh. Bau parfum lo bikin konsentrasi gue buyar, keganti bau-bau drama."

"Bang, gue cuma—"

"Balik, Reygan. Sebelum gue panggil satpam komplek buat nyeret mobil lo," potong Ziva tanpa menoleh. Nada bicaranya tidak tinggi, tapi dinginnya menusuk tulang.

Reygan akhirnya sadar bahwa tidak ada celah baginya hari ini. Dengan langkah berat dan ego yang hancur berkeping-keping, ia berbalik, meninggalkan area lapangan belakang rumah Winata. Suara deru mobilnya yang menjauh menjadi penanda berakhirnya gangguan sore itu.

Sepuluh menit kemudian, Aksa melakukan jump shot terakhir yang masuk dengan mulus ke dalam ring. Skor berakhir telak: 21-5.

"Gila... lo beneran robot ya, Aks?" Abian ambruk di lantai lapangan, terlentang sambil mencoba meraup oksigen sebanyak-mungkin. "Gue... gue rasa gue butuh martabak lima porsi buat balikin nyawa gue."

Aksa berjalan menuju bangku Ziva. Ia tidak tampak se-lelah Abi, meski kaos jersey-nya kini sudah basah kuyup, mempertegap bentuk tubuhnya yang atletis. Ziva mendongak, menyodorkan handuk kecil dan botol air mineral yang masih dingin.

"Nih, pahlawan kesiangan. Capek?" tanya Ziva.

Aksa menerima botol itu, meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. Beberapa tetes air mengalir di lehernya, membuat Ziva refleks menelan ludah dan langsung membuang muka ke arah lain.

"Nggak terlalu," sahut Aksa. Ia duduk di rumput di bawah pohon mangga, tepat di samping kursi lipat Ziva. "Kakak lo lumayan. Buat ukuran orang yang banyak omong."

"Gue denger ya, Aksa!" teriak Abian dari tengah lapangan, masih belum sanggup berdiri.

Ziva terkekeh. Ia menatap Aksa yang kini sedang menyeka keringat di wajahnya. "Makasih ya udah ngusir si 'beban hidup' tadi tanpa perlu gue teriak-teriak."

Aksa melirik Ziva. Rambut gadis itu yang hanya dijepit pulpen peraknya tampak berantakan karena angin sore. "Lain kali kalau dia ke sini, siram pakai air selokan aja. Biar nggak kebiasaan."

"Ide bagus," sahut Ziva santai.

"Woi! Malah asyik berduaan!" Abian akhirnya bangkit dengan sisa tenaga. "Gue mau mandi. Aks, jangan pulang dulu. Martabak bebek pesanan gue bentar lagi dateng. Lo harus makan, anggep aja upah udah bikin gue malu di depan adik sendiri."

Aksa mengangguk pelan. "Oke."

Abian berlalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ziva dan Aksa di bawah keteduhan pohon mangga saat langit mulai berubah warna menjadi jingga gelap. Suasana mendadak menjadi sangat tenang. Hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahutan dan hembusan angin sore yang membawa aroma melati dari taman samping.

Ziva merasa aneh. Biasanya ia akan merasa canggung duduk berdua dengan cowok se-populer Aksa, apalagi dalam keadaan Aksa yang habis berolahraga seperti ini. Tapi entah kenapa, kehadiran Aksa terasa... pas. Seperti kepingan puzzle yang tidak perlu dipaksa untuk masuk.

"Aksa," panggil Ziva pelan.

"Hm?"

"Lo beneran nggak keberatan disuruh Bang Abi main basket kayak gini? Padahal lo bisa aja nongkrong sama Black Eagle di tempat yang lebih keren."

Aksa menyandarkan kepalanya di batang pohon mangga, matanya terpejam menikmati semilir angin. "Di sini lebih tenang. Nggak ada yang teriak-teriak minta foto atau nanya soal sekolah." Ia membuka satu matanya, menatap Ziva. "Dan di sini ada penonton yang kerjaannya cuma makan keripik. Unik."

Ziva tertawa kecil, memukul bahu Aksa pelan dengan majalahnya. "Sialan lo."

Ziva dan Aksa masih terhanyut dalam obrolan ringan di bawah pohon mangga, tidak menyadari bahwa di belahan kota lain, "prahara" kecil sedang terjadi di grup percakapan ponsel mereka.

Di sebuah penthouse milik keluarga Kenan yang sering dijadikan basecamp atau markas Black Eagle, tiga anggota Black Eagle lainnya sedang berkumpul dengan mata tak lepas dari layar ponsel. Kenan, Vino, dan Bram sedang melakukan "bedah kasus" terhadap sebuah foto yang dikirimkan oleh salah satu kurir martabak yang kebetulan lewat di depan rumah Ziva.

"Gila! Si Aksa beneran tanding lawan kakaknya Ziva?" seru Bram sambil mengunyah keripik. "Liat tuh, dia pake jersey nomor tujuh kesayangannya. Biasanya dia cuma mau keluarin itu kalau tanding antar sekolah."

Vino geleng-geleng kepala. "Yang lebih gila lagi, liat foto kedua. Itu Aksa duduk di rumput, kan? Di sebelah Ziva? Deket banget, anjir. Gue curiga Aksa udah kena pelet 'mager'nya si Ziva."

"Bukan pelet, Vin," Kenan menimpali dengan nada lebih serius, meski sudut bibirnya berkedut menahan tawa. "Aksa itu tipikal yang nggak suka ribet. Ziva yang sekarang itu... tenang. Kayaknya Aksa nemu 'stasiun pengisian daya' di sana. Lo tau sendiri Aksa paling benci sama cewek yang pick me dan berisik."

"Tapi kasihan si Reygan," celetuk Bram tiba-tiba. "Gue dapet info dari grup sebelah, katanya Reygan baru aja diusir dari rumah Winata. Mukanya udah kayak baju belum disetrika, kusut parah."

"Biarin aja," sahut Kenan dingin. "Biar dia tau kalau dunia nggak berputar di sekitar dia doang."

Di sisi lain, ponsel Ziva yang tergeletak di kursi lipat sebenarnya terus bergetar, namun sang pemilik terlalu malas untuk sekadar melirik. Di dalam grup itu, Manda dan Tika sudah hampir gila karena rasa penasaran.

Grup "Trio Mager"

Ting! Ting! Ting!

[Manda]: ZIV! Update dong! Si Manusia Es masih di rumah lo? Dia keringetan nggak? Pasti makin ganteng kan?!

[Tika]: Gue denger Reygan ke sana terus diusir Bang Abi? Sumpah, gue pengen dadi lalat di sana biar bisa liat langsung drama live-nya!

[Manda]: Ziva beneran hibernasi ya? Chat gue nggak dibales. Duh, fiks sih, mereka lagi asyik berduaan di lapangan basket.

"Hp lo bunyi terus," Aksa membuka suara, matanya masih terpejam namun telinganya menangkap getaran di kursi sebelah.

Ziva melirik ponselnya dengan ogah-ogahan. "Paling Manda sama Tika. Biasa, mereka lagi kekurangan asupan gosip. Gue biarin aja, entar juga capek sendiri."

Aksa membuka matanya, menatap Ziva yang tampak sangat santai. "Lo nggak takut mereka mikir yang aneh-aneh? Besok di sekolah pasti makin rame."

Ziva mengangkat bahu. "Biarin aja, Aks. Capek kalau harus mikirin omongan satu sekolah. Lagian, emang kenyataannya kita lagi duduk di bawah pohon mangga nunggu martabak, kan? Nggak ada yang perlu diklarifikasi kalau emang nggak ada apa-apa."

Aksa terdiam sejenak. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya saat mendengar kalimat "nggak ada apa-apa". Ia kembali menatap langit yang kini sudah sepenuhnya berwarna ungu kemerahan.

"Gue rasa," Aksa menjeda kalimatnya, membuat Ziva menoleh. "Gue suka di sini. Tenang."

Ziva tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih tulus dan lembut. "Rumah gue emang terbuka buat siapa aja yang butuh ketenangan, asal jangan bawa drama kayak Reygan."

Tepat saat itu, suara motor matic berhenti di depan rumah disusul teriakan Abian dari balkon lantai dua.

"ZIVA! AKSA! MARTABAK DATENG! BURUAN MASUK SEBELUM GUE ABISIN SENDIRI!"

Ziva berdiri, membersihkan celananya. "Ayo, Aks. Kalau nggak gerak cepet, lo bakal cuma dapet bungkusnya doang kalau urusan sama Bang Abi."

Aksa bangkit berdiri, membersihkan rumput yang menempel di celananya. Saat mereka berjalan beriringan menuju teras belakang, Aksa sengaja mempelankan langkahnya, berjalan tepat di samping Ziva.

Sore itu, di SMA Pelita Bangsa, dua kubu—Black Eagle dan teman-teman Ziva—mungkin sedang sibuk berteori. Namun di rumah ini, hanya ada dua remaja yang mulai menemukan kenyamanan di tengah kekacauan dunia yang mereka tinggali. Dan bagi Zura yang mendiami raga Ziva, ini adalah kemenangan terbesar atas alur novel yang seharusnya ia jalani.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!