NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Memulai hari baru.

Pagi itu, bahkan sebelum cahaya matahari benar-benar menembus tirai jendela apartemennya, Nala sudah berdiri di depan cermin dengan ekspresi penuh kebimbangan. Meja riasnya berantakan: ada tumpukan pakaian yang sudah dicoba, dibatalkan, lalu dilipat separuh hati. Ia menarik napas panjang, menatap refleksi dirinya yang mulai tampak lelah oleh pilihan yang terlalu banyak namun hasilnya tetap nihil.

Ia ingin tampil profesional—tidak terlalu mencolok, tapi cukup rapi untuk menunjukkan kesan serius di hari pertamanya bekerja di LYNX Entertainment. Masalahnya, koper kecil yang ia bawa dari Indonesia hanya berisi pakaian kasual dan satu gaun formal untuk acara penghargaan tempo hari. Ia tak pernah menyangka akan tinggal selama ini, apalagi bekerja di perusahaan hiburan terbesar di Korea.

Setelah beberapa kali berganti atasan dan celana, akhirnya ia berhenti pada satu pilihan sederhana: kemeja putih berpotongan klasik dengan rok pensil abu-abu muda yang jatuh sedikit di bawah lutut. Ia menambahkan cardigan tipis warna biru lembut—satu-satunya pakaian semi-formal yang tersisa—dan menyelipkan kalung kecil pemberian ibunya di bawah kerah.

“Setidaknya… terlihat seperti karyawan, bukan turis tersesat,” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri sambil menepuk-nepuk cardigan itu agar lebih rapi.

Setelah memastikan semuanya siap, Nala mengambil tas kerjanya, menyimpan laptop dan tablet nya yang memang selalu dia bawa kemana-mana, pena, dan buku catatan kecil yang sudah penuh coretan ide. Ia memeriksa ponsel—tak ada pesan baru dari Davin pagi ini, hanya satu notifikasi pengingat dari kalender:

“Hari pertama kerja di Seoul. Jangan panik.” Ia tersenyum samar, lalu keluar dari apartemen.

Udara pagi Seoul terasa segar tapi menusuk kulit, perpaduan dingin dan wangi roti panggang dari kafe bawah gedung membuatnya sadar kalau perutnya kosong. Namun ia terlalu gugup untuk makan, jadi hanya membeli satu botol air putih di vending machine sebelum naik taksi menuju kantor.

Begitu sampai di gedung LYNX, suasana pagi sudah cukup sibuk. Para staf berjalan cepat dengan wajah serius, sebagian membawa laptop, sebagian lagi menggenggam cangkir kopi panas.

Nala menarik napas panjang, lalu masuk melewati pintu kaca otomatis yang kini terasa jauh lebih familiar dibanding kemarin. Di resepsionis, ia disambut oleh seorang wanita muda dengan rambut cokelat muda yang tersenyum ramah.

“Selamat pagi, Nala-ssi. Kami sudah diberitahu kalau Anda akan mulai hari ini. Ruangan Anda sudah disiapkan, dan nanti ada  orientation meeting bersama Yoohan-ssi, Hoseung-ssi, Junho-ssi dan tentunya tim utama lain. Tapi sebelum itu anda di minta menemui tim legal untuk mengurus segala dokumen tinggal (administratif) anda di sini,” ujarnya dengan bahasa Inggris beraksen Korea lembut.

“Terima kasih, tapi bisa bantu saya bertemu tim legal nya?” jawab Nala sopan, sedikit lega mendengar ada yang bisa berbahasa Inggris lancar.

"Tentu, mari lewat sini," ujar nya yang berjalan lebih dulu.

Mereka menaiki lift dan melewati koridor yang kemarin masih terasa asing, kini sedikit lebih akrab. Beberapa staf yang berpapasan menyapa singkat dengan senyum tipis—beberapa bahkan tampak lebih muda darinya, tapi sudah bekerja di sini bertahun-tahun.

Di sebuah ruangan bertuliskan  Legal & Contract Affairs Department, wanita itu berhenti dan mengetuk pelan pintunya sebelum mempersilakan Nala masuk.

Ruangan itu tidak terlalu besar, namun tertata sangat rapi. Dindingnya dipenuhi rak arsip berlabel rapi, sementara di sisi lain berdiri sebuah meja panjang tempat dua orang pria dan satu wanita paruh baya sedang menatap layar komputer dengan fokus. Aroma kopi dan kertas baru bercampur lembut di udara, memberikan kesan serius namun tetap profesional.

Begitu Nala masuk, ketiganya menoleh hampir bersamaan. Salah satu dari mereka—seorang pria berjas abu muda dengan kacamata tipis dan wajah tenang — segera berdiri menyambut.

“Selamat pagi, Miss Nala. Saya Lee Jonghyun, bagian Senior Legal Officer di sini. Kami sudah menerima data pribadi Anda dari tim HR dan juga tembusan kontrak utama Anda,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang sangat formal, nyaris tanpa cela.

“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Lee,” jawab Nala, menundukkan kepala sedikit dengan sopan. Pria itu tersenyum tipis sebelum mempersilakan Nala duduk di kursi di seberangnya.

“Hari ini kami hanya akan membahas dokumen administratif tambahan. Sederhana saja, tetapi penting untuk memastikan semua hak dan kewajiban Anda selama bekerja di Korea terlindungi secara hukum.” Ia membuka map besar berwarna krem di depannya, memperlihatkan beberapa lembar dokumen yang telah dicetak dengan segel resmi LYNX di pojok kanan atas.

“Pertama, ini adalah Alien Registration Form— semacam surat izin tinggal yang berlaku bagi pekerja asing. Kami sudah menyiapkan surat rekomendasi dari LYNX Entertainment, jadi Anda tidak perlu mengurusnya sendiri. Anda hanya perlu menandatangani beberapa bagian di sini dan di sini,” ujar nya yang membuat Nala memperhatikan dengan saksama setiap halaman yang disodorkan padanya.

Ia membaca dengan hati-hati sebelum menandatangani, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat.

“Luar biasa, kebanyakan orang terburu-buru saat mengisi ini. Tapi Anda membaca setiap pasal dengan sangat teliti. Kami jarang bertemu orang yang seprecise ini di hari pertama kerjanya,” gumam Tuan Lee setelah beberapa menit, seolah benar-benar kagum.

“Saya terbiasa membaca kontrak sebelum menandatangani apa pun. Mungkin kebiasaan lama dari pekerjaan saya di Indonesia,” jawab Nala pelan.

“Ah, ya. Kami sudah mendengar reputasi Anda sebagai penulis profesional di sana, rasanya menyenangkan sekali mengetahui seseorang dengan latar belakang sastra bisa menyesuaikan diri secepat ini di lingkungan korporasi seperti kami,” sahut wanita yang duduk di ujung meja — Ms. Park, bagian Compliance Officer— dengan nada ramah.

Ucapan itu membuat suasana menjadi lebih cair. Mereka sempat berbincang sebentar tentang latar belakang Nala, proyek film adaptasi novelnya, dan sedikit tentang tantangan menulis lintas budaya. Hingga akhirnya, setelah semua dokumen selesai ditandatangani dan disegel, Tuan Lee menutup map itu dengan hati-hati.

“Baik, semua sudah beres. Sekarang Anda resmi terdaftar sebagai bagian dari LYNX Entertainment. Jika ada kebutuhan administratif lain — seperti visa kerja jangka panjang, asuransi kesehatan, atau rekening gaji — tim kami akan membantu Anda sepenuhnya. Dan sekarang tinggal menunggu persetujuan dari imigrasi Seoul maka status anda akan resmi sebagai pekerja profesional di Korea Selatan. Anda bisa tinggal, bekerja, bahkan bepergian keluar-masuk negara ini tanpa masalah hukum. Tapi tentu saja jika ingin melakukan perjalanan di luar bisnis anda harus tetap mengurus izin pada perusahaan juga,” ujar nya  yang membuat Nala mengangguk pelan.

“Terima kasih banyak, Tuan Lee. Saya sungguh berterima kasih atas bantuan Anda,” jawab Nala yang membuat pria itu mengangguk.

“Senang bisa membantu, Miss Nala. Dan…” pria itu menambahkan dengan senyum samar, “…selamat datang di keluarga besar LYNX Entertainment. Saya harap Anda betah di sini — meskipun ritme kerjanya, hmm, bisa dibilang… sedikit intens.” Nada setengah bercandanya membuat Nala menahan tawa kecil.

“Saya akan berusaha beradaptasi sebaik mungkin,” ujar nya.

Setelah keluar dari ruangan administrasi, Nala segera diantarkan menuju ruangan yang kemarin telah ditunjukkan oleh Manajer Han. Begitu pintu terbuka, beberapa kepala sontak menoleh. Suasana ruangan dipenuhi bunyi lembut ketikan dan aroma kopi hangat yang samar. Salah satu di antara mereka yang menyapa lebih dulu adalah Eunseo.

“Hai, Nala! Akhirnya kau datang juga,” ujarnya riang Nala tersenyum tipis sambil menunduk sopan.

“Ah, iya Eonni. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan administratif dulu. Maklum, aku bukan dari Seoul,” balasnya dengan nada lembut. Eunseok mengangguk kecil.

“Tentu. Oh ya, sebentar lagi akan ada orientation meeting dengan Yoohan-ssi. Kau akan diperkenalkan secara resmi pada semua tim di lantai ini,” ujarnya sambil menatap Nala dengan ekspresi penuh pengertian.

Nala sempat terdiam. Sekilas ada rasa gugup yang menyelinap di dadanya, namun ia menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Bagaimanapun, ia tak mungkin menghindari hal itu.

Beberapa waktu berlalu hingga akhirnya seluruh karyawan dari berbagai departemen diarahkan berkumpul di *main meeting hall*. Nala berjalan di samping Eunseok. Keberadaan wanita itu membuatnya sedikit lega; setidaknya ada seseorang yang bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik dan bersikap ramah sejak awal.

Di dalam ruangan besar itu, orang-orang telah duduk rapi. Ada perwakilan dari Language and Lyric Adjustment, Conceptual Storyline, Music Conceptual Team, Lyrics Development, hingga Creative Writing Division—semuanya tampak fokus dan profesional.

Nala duduk di samping Eunseok, dan di seberangnya duduk seorang pria berwajah lembut bernama Hamin. Ia menatap Nala sambil tersenyum kecil.

“Kau terlihat gugup, Nala-ssi,” ucapnya dengan suara rendah namun terdengar jelas, hal itu membuat Nala menoleh sedikit.

“Aku hanya tidak menyangka orangnya akan sebanyak ini,” jawabnya jujur, membuat Eunseok dan Hamin terkekeh pelan.

“Ini belum seberapa,” timpal Eunseok sambil mencondongkan tubuhnya sedikit. “Setiap lantai punya timnya sendiri-sendiri, dengan tanggung jawab yang berbeda. Dan kebetulan kita adalah tim di balik kesuksesan SOLIX, jadi kau bisa bayangkan seberapa padatnya pekerjaan di sini.” Nada bicara Eunseok ringan, namun memberi kesan hangat yang menenangkan.

Nala mengangguk pelan, mencoba tersenyum walau rasa gugupnya belum sepenuhnya reda.

“Sudahlah, rileks saja,” ujar Eunseok lembut. “Semuanya akan baik-baik saja.”

Nala menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan. Tepat ketika ia hendak menenangkan pikirannya, pintu besar di depan ruangan terbuka. Dua orang pria masuk—Yoohan dan Hoseung.

Yoohan tampak rapi dalam kemeja biru tua dengan laptop di tangan, sementara Hoseung yang berjalan di belakangnya tampak santai dengan ekspresi bersahabat. Begitu mereka masuk, seluruh ruangan berdiri sejenak memberi salam sopan.

“Selamat siang semuanya,” sapa Yoohan dengan suara tenang namun berwibawa. “Hari ini, kita kedatangan anggota baru yang akan bergabung dengan Conceptual Storyline Department, divisi yang kebetulan langsung berada di bawah pengawasan saya,” lanjut nya yang membuat semua mata otomatis tertuju pada Nala.

Ia menunduk sedikit, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdetak cepat.

“Namanya Nala Aleyra Lareina. Seorang penulis profesional dari Indonesia yang telah bekerja sama dengan beberapa penerbit besar dan saat ini juga terlibat dalam proyek adaptasi film di negara nya. Mulai hari ini, ia akan berperan dalam pengembangan narrative concept dan lyric interpretation project untuk SOLIX dan jika memungkinkan untuk project solo kami juga,” lanjut Yoohan sambil melirik sekilas catatan di tangannya.

Beberapa desis kagum terdengar dari sudut ruangan. Eunseok menepuk pelan punggung Nala untuk memberinya semangat.

“Silakan perkenalkan dirimu, Nala-ssi,” ujar Yoohan sopan Nala berdiri perlahan. Ia menatap seluruh ruangan dengan senyum kecil yang berusaha ia buat setenang mungkin.

“Selamat siang. Nama saya Nala Aleyra Lareina. Saya berasal dari Indonesia, dan... saya merasa sangat berterima kasih bisa menjadi bagian dari LYNX Entertainment. Semoga saya bisa belajar banyak dari kalian semua dan memberikan kontribusi yang berarti,” ujar nya yang membuat suasana seketika berubah lebih hangat.

Beberapa orang mengangguk dengan senyum ramah, beberapa lainnya bertepuk tangan kecil.

"Nona Nala jangan gugup, kita semua tidak semenakutkan itu," ujar sebuah suara yang membuat semua mata sejenak tertuju padanya.

Junho

Pria itu masuk dengan langkah tenang dan langsung duduk di samping Hoseung dengan senyum tenang nya.

"Benar... Jangan gugup, santai saja," ujar Hoseung yang membuat Nala semakin malu.

Dia kembali melanjutkan perkenalan nya sebelum akhirnya turun dari podium, setelah itu Yoohan naik keatas podium untuk menjelaskan beberapa ritme dasar perusahaan, pidato nya cukup panjang karena sekalian membahas materi tentang project album SOLIX terbaru.

Nala duduk di tempat nya dalam diam, mendengarkan dengan seksama ucapan Yoohan bahkan sesekali dia di tanyai tentang pendapat nya dan Nala menjawab dengan tenang, beberapa orang lain juga mendapatkan pertanyaan yang sama.

Namun di antara semua wajah itu, sepasang mata tertentu justru diam memandangi Nala tanpa ekspresi berarti—setidaknya di permukaan. Junho, yang duduk tak jauh dari barisan depan, memperhatikan dengan saksama setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu. Ada sesuatu yang tidak bisa ia definisikan, semacam rasa penasaran yang tak beralasan tapi sulit diabaikan.

Setelah selesai dengan meeting tersebut semuanya berjalan seperti semula, Nala kembali keruangan nya bersama semua orang dari Creative Writing & Concept Division – Sub A.

Hari pertama nya berjalan lancar bahkan dia sempat berkenalan dengan orang dari bagian yang sama dengan nya, seorang pria bernama Park jeongin, yang hanya beda 4 tahun dari nya. Meskipun baru pertama bertemu kedua nya sudah cukup dekat apalagi meja Jeongin hanya berada di sebelah meja Nala.

 ⋆★⋆

Dan begitulah Nala memulai hari pertamanya dengan urusan administratif hingga orientation meeting. LYNX Entertainment sudah menugaskan tim legal untuk mendampinginya ke kantor imigrasi Seoul.

Mengurus legal lain nya. Karena sebagai warga negara Indonesia, Nala tidak bisa sekadar bertahan di Korea dengan visa kunjungan. Karena kontraknya bersifat jangka panjang, ia harus segera mengurus visa kerja khusus (E-7)—jenis visa yang memang diperuntukkan bagi tenaga ahli di bidang tertentu, termasuk seni dan budaya.

Proses ini tidak sederhana. Ia harus membawa berkas-berkas resmi: paspor, surat kontrak asli dengan LYNX Entertainment, bukti tempat tinggal (alamat apartemen), rekening bank, hingga surat rekomendasi khusus dari agensi. Semua itu sudah dipersiapkan oleh staf legal, sehingga Nala hanya tinggal menandatangani dan mengajukan.

Ada sesuatu yang terasa sangat final dari proses ini—seolah ia benar-benar meninggalkan identitas lamanya sebagai “orang luar” dan kini resmi menjadi bagian dari lingkaran yang sama sekali baru.

Tak berhenti di situ, agensi juga sudah menyiapkan beberapa hal praktis: Kendaraan dan sopir pribadi untuk mobilitas sementara karena Nala harus menunggu sim nya keluar dulu. Tutor bahasa Korea  yang akan datang tiga kali seminggu, agar Nala cepat beradaptasi. Dan juga asisten administratif untuk membantu mengurus tagihan, dokumen, atau hal-hal kecil lain.

Semua terasa serba tertata, tapi juga menakutkan. Dalam hati, Nala sempat berbisik pada dirinya sendiri:

“Kalau aku tidak hati-hati, aku bisa terjebak di sini tanpa jalan pulang,” ujar nya sembari masuk kedalam apartemen nya ia menatap dokumen-dokumen yang rapi di meja.

Paspor dengan cap terbaru, salinan kontrak kerja, bahkan jadwal tutor bahasa pertamanya minggu depan. Ia tahu satu hal: jalan pulang memang ada, tapi untuk saat ini, ia memilih tetap di sini.

Seoul bukan lagi sekadar kota tujuan wisata atau tempat menerima penghargaan. Ini sudah jadi rumah keduanya—meski untuk berapa lama, ia sendiri belum tahu.

"Hallo Ma."

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!