Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persembunyian di balik sutra
Langit pagi yang semula cerah mendadak diselimuti mendung tipis, seolah alam pun ikut berduka atas rentetan pengkhianatan yang tak kunjung usai. Ghibran memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju pusat kota, tempat di mana butik mewah "Salsabila Design" berdiri megah. Di kursi penumpang, Aira menggenggam erat sabuk pengamannya. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
"Ayah Amir tidak mungkin melakukannya, Kak," bisik Aira, suaranya bergetar antara harapan dan kenyataan yang mulai retak. "Beliau yang mengajariku cara menggambar pola, beliau yang membelikanku mesin jahit pertama. Dia pria yang lembut..."
"Lembut tidak berarti tidak bisa membunuh, Aira," sahut Ghibran dingin, matanya fokus pada jalanan. "Terkadang, orang yang paling pendiam adalah orang yang paling berbahaya karena mereka menyimpan semua racunnya di dalam hati. Aminah bilang Amir melakukannya karena dia tahu Azlan akan membongkar bahwa dia bukan ayah biologismu. Amir takut kehilanganmu, Aira. Dia takut kamu akan pergi ke keluarga Al-Husayn sepenuhnya dan meninggalkannya sendirian."
Mobil berhenti dengan derit ban yang tajam di depan butik yang masih tertutup rapat itu. Ghibran turun terlebih dahulu, tangannya meraba saku di mana ia menyimpan kunci cadangan yang diberikan Azka.
Ruang di Balik Cermin
Butik itu sunyi. Aroma wangi kain sutra dan parfum signature milik Aira masih terasa di udara. Namun, suasana yang biasanya kreatif dan hangat itu kini terasa mencekam. Ghibran menuntun Aira menuju ruang ganti paling belakang. Di sana, di balik cermin besar berbingkai emas, terdapat sebuah pintu rahasia yang bahkan Aira sendiri tidak pernah tahu keberadaannya.
Klik.
Pintu itu terbuka, menampakkan tangga sempit menuju ruang bawah tanah yang dulunya adalah gudang penyimpanan stok kain lama. Saat mereka turun, bau apak dan lembap menyambut mereka.
Di sudut ruangan, di bawah lampu bohlam yang remang-remang, seorang pria duduk di kursi kayu. Ia mengenakan jaket kulit cokelat tua, wajahnya yang biasanya ramah kini terlihat kuyu dengan janggut tipis yang tidak terawat. Di depannya, ada sebuah koper kecil dan sebuah pistol yang tergeletak di atas meja.
Itu adalah Ayah Amir.
"Ayah..." suara Aira pecah.
Amir mendongak. Matanya yang merah menatap Aira dengan rasa bersalah yang teramat dalam, namun ada kilat kegilaan di sana. "Aira? Kenapa kamu ke sini, Nak? Seharusnya kamu tidak melihat Ayah seperti ini."
"Apa benar, Yah?" tanya Aira, melangkah maju meski Ghibran mencoba menahannya. "Apa benar Ayah yang menyuruh Abrisam mencabut kabel oksigen Azlan? Apa benar Ayah yang memastikan Azlan tidak pernah bangun lagi?"
Amir terdiam cukup lama. Ia mengambil pistol di meja, namun bukan untuk menembak, melainkan hanya untuk mengelusnya dengan jemari yang gemetar. "Azlan tahu terlalu banyak, Aira. Dia datang padaku malam itu, sebelum dia pingsan di aula. Dia bilang dia akan membawamu pergi. Dia bilang dia akan mengungkapkan bahwa aku hanyalah 'penjaga' yang gagal. Aku tidak bisa membiarkannya, Aira! Kamu adalah satu-satunya hal berharga yang kupunya setelah Sarah pergi!"
"Tapi Kak Azlan itu saudaraku! Dia mencintaiku!" teriak Aira histeris.
"Dia mencintaimu sebagai wanita, Aira! Bukan sebagai adik!" bentak Amir, suaranya menggema di ruang bawah tanah. "Dan keluarga Al-Husayn... mereka monster. Fauzan dan Mansyur menggunakan Sarah, lalu membuangnya. Aku tidak mau kamu berakhir seperti ibumu. Aku pikir, jika Azlan tidak ada, pernikahan ini tidak akan terjadi, dan aku bisa membawamu lari ke luar negeri."
Ghibran melangkah maju, menutupi tubuh Aira. "Tapi nyatanya aku yang menikahi Aira, Amir. Rencanamu gagal total. Dan sekarang, nyawa Azlan hilang karena obsesi gilamu."
Amir tertawa pahit, tawa yang terdengar sangat hampa. "Gagal? Tidak, Ghibran. Aku tidak gagal. Aku hanya ingin memastikan Aira aman. Dan sekarang, karena kalian sudah tahu semuanya, aku tidak punya pilihan lain."
Pergulatan di Kegelapan
Amir tiba-tiba mengarahkan pistolnya ke arah Ghibran. Aira menjerit, namun dengan gerakan refleks yang terlatih, Ghibran mendorong Aira ke balik tumpukan gulungan kain sutra.
Dor!
Peluru melesat, menyerempet bahu Ghibran yang sudah terluka, membuat noda merah kembali merembes di kemeja putihnya. Ghibran tidak menyerah. Ia menerjang Amir dengan kecepatan seorang predator. Perkelahian sengit tak terelakkan di antara rak-rak kain.
Kain-kain sutra mahal itu jatuh berantakan, menutupi tubuh mereka yang saling bergulat. Amir, meski sudah tua, memiliki kekuatan orang yang putus asa. Ia mencoba mengarahkan moncong pistol ke dada Ghibran.
"Kak Ghibran!" Aira berlari, ia mengambil sebuah penggaris besi panjang milik penjahit yang ada di meja kerja dan menghantamkannya ke tangan Amir dengan sekuat tenaga.
Prak!
Pistol itu terlepas. Ghibran segera memberikan satu pukulan telak ke rahang Amir hingga pria itu tersungkur ke tumpukan kain satin merah yang kini terlihat seperti genangan darah.
Ghibran terengah-engah, memegang bahunya yang kembali berdarah. Ia menatap Amir yang kini terbaring lemah, menangis seperti anak kecil di atas tumpukan kain yang dulu ia pilihkan untuk butik putrinya.
"Aira... maafkan Ayah..." gumam Amir di antara isakannya. "Ayah hanya ingin kamu tetap menjadi putri kecil Ayah..."
Aira berdiri di atas pria itu, air matanya jatuh tanpa suara. Ia mengambil pistol yang terjatuh tadi dan menyerahkannya pada Ghibran. "Panggil polisi, Kak. Ayahku... pria yang kukenal sebagai ayahku, sudah mati sejak dia menyentuh kabel oksigen Azlan."
Akhir dari Sebuah Obsesi
Satu jam kemudian, polisi membawa Amir keluar dari butik melalui pintu belakang agar tidak menarik perhatian media. Aira berdiri di ambang pintu, melihat mobil polisi menjauh. Ia merasa seolah sebagian dari jiwanya ikut dibawa pergi. Ia kehilangan ibu kandungnya, ayah kandungnya ternyata adalah pria pengecut (Mansyur), dan pria yang membesarkannya ternyata adalah seorang pembunuh.
Ghibran mendekati Aira, menyelimutkan jasnya ke bahu istrinya yang gemetar.
"Semua sudah selesai, Aira. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi orang yang akan menyakitimu," bisik Ghibran, mengecup puncak kepala Aira dengan penuh kasih.
Aira bersandar pada dada Ghibran, mendengarkan detak jantung suaminya yang memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Terima kasih, Kak. Terima kasih karena tidak meninggalkanku di tengah badai ini."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂