Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 16
Malam itu hujan turun lebih lama dari biasanya.
Suara tetesan air yang memukul atap dan jendela apartemen terdengar konstan, menciptakan irama yang bagi sebagian orang mungkin menenangkan, namun bagi Kim Ae Ra, itu selalu membawa perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memeluk bantal sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Di meja kecil di sampingnya, payung hitam milik Hyun Jae Hyuk tergeletak diam, seolah menjadi saksi bisu dari perubahan-perubahan kecil yang mulai terjadi dalam hidupnya.
Pikirannya melayang pada percakapan di toserba tadi malam. Saat ia menyebut nama Haesung, ada sesuatu yang berubah pada ekspresi Lee Seo Jun.
Bukan sesuatu yang terang-terangan, tapi cukup bagi Ae Ra yang sudah mengenalnya selama ini untuk merasakan bahwa nama itu bukan hal asing baginya. Atau setidaknya, bukan hal yang bisa diterima begitu saja.
"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan, Seo Jun…" gumamnya pelan ke dalam kegelapan.
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban.
Ae Ra tahu, Seo Jun adalah orang yang paling tenang dan pendengar yang paling baik di dunia baginya saat ini. Namun akhir-akhir ini, ada lapisan lain di balik ketenangan itu—sesuatu yang waspada, sesuatu yang seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.
Dan kejadian tadi malam, saat Seo Jun memperhatikan payung hitam itu dengan tatapan yang sulit dibaca, semakin menegaskan bahwa pria itu tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.
Sebelum pikirannya bisa melangkah lebih jauh, kantuk akhirnya datang menjemput. Ae Ra memejamkan mata, membiarkan suara hujan membawanya masuk ke dalam tidur, berharap malam ini tidak ada mimpi samar yang mengganggunya.
Namun harapan itu seringkali hanya tinggal harapan.
Di sisi lain kota, di sebuah ruangan kerja yang lampunya masih menyala meski jarum jam sudah menunjuk angka dua pagi, Hyun Jae Hyuk masih duduk di kursinya.
Di depannya, berkas-berkas persiapan untuk pertemuan dengan Haesung Group tersusun rapi, namun pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.
Sejak kemarin sore, saat ia menyadari sepenuhnya bahwa gadis yang ada di hadapannya sekarang adalah sosok yang selama ini ia cari dalam ingatannya, dunia di sekitarnya terasa berubah warna.
Ingatan itu kembali datang begitu jelas, seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin sore.
................
Hujan deras yang memukul bumi. Langit malam yang gelap gulita.
Dan di tepi jembatan Sungai Han, seorang gadis berdiri diam di pinggir pembatas, tubuhnya basah kuyup, tatapannya kosong menatap arus sungai yang gelap dan deras di bawahnya.
Jae Hyuk yang saat itu masih berseragam sekolah, entah karena kebetulan lewat atau ada keperluan lain, berhenti saat melihat sosok itu.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa begitu saja berlalu. Rasa cemas yang aneh, seolah ada bahaya yang sedang mengintai.
Ia ingat betul rasa ragu itu. Haruskah ia mendekat? Apa gadis itu akan marah? Tapi saat ia melihat bagaimana gadis itu perlahan mengangkat kakinya sedikit, seolah hendak melompat ke dalam kegelapan sungai itu, Jae Hyuk tidak berpikir dua kali.
Ia berlari kecil mendekat, membuka payung besar yang ia bawa, dan berdiri di samping gadis itu tepat sebelum hal buruk terjadi.
Suasana hening sejenak, hanya suara hujan yang terdengar keras.
Jae Hyuk tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri diam, meneduhkan gadis itu dengan payungnya.
Lalu, dengan suara yang pelan namun tegas, ia mengucapkan kalimat yang Bahkan ia sendiri tidak sadar akan terus ia ingat seumur hidupnya.
"Kalau kelamaan kena hujan nanti kamu bisa sakit karena kedinginan. Dan air sungai itu bahkan lebih dingin dari air hujan."
Gadis itu tidak menoleh. Tidak menjawab.
Tapi Jae Hyuk bisa melihat bahu gadis itu sedikit bergetar, dan kaki yang tadi sedikit terangkat kini kembali menapak kuat di lantai jembatan.
Dan untuk alasan yang bahkan tidak ia pahami saat itu, Jae Hyuk tetap berdiri di sana. Ia tidak pergi. Ia menemani gadis itu di bawah payungnya, menahan dinginnya hujan, sampai akhirnya hujan itu reda dan gadis itu tampak lebih tenang.
Sekarang, melihat Ae Ra yang berdiri di hadapannya sebagai sekretarisnya, Jae Hyuk bisa melihat kemiripan yang jelas dengan gadis kecil di jembatan itu.
Mata yang sama, cara menunduk yang sama, bahkan rasa rapuh yang tersembunyi di balik ketangguhannya. Ada rasa lega yang mendalam, seolah ia telah menemukan kembali sesuatu yang berharga yang pernah ia hilangkan.
Namun di saat yang sama, ada rasa cemas yang mulai merayap di dadanya. Semakin dekat ia dengan Ae Ra, semakin ia menyadari bahwa gadis itu memiliki banyak lapisan yang belum ia ketahui.
Dan salah satu lapisan itu tampaknya terhubung dengan Haesung Group—perusahaan yang kini menjadi pesaing terbesar Aegis Corp.
Jae Hyuk mengusap wajahnya lelah, lalu meraih sebuah foto lama yang tersimpan di laci meja kerjanya.
Foto itu sudah agak pudar, menampilkan seorang gadis kecil dengan rambut basah kuyup, duduk sendirian di tepi jalan setelah hujan reda.
Ia tidak ingat kapan ia mengambil foto itu—mungkin secara tidak sengaja saat ia masih remaja, atau mungkin ia memintanya pada seseorang—tapi foto itu selalu ia simpan.
Dan sekarang, melihat foto itu, ia bisa melihat kemiripan yang jelas dengan wanita yang kini bekerja sebagai sekretarisnya.
"Kau siapa sebenarnya, Ae Ra…" bisiknya pelan. "Dan kenapa takdir membawa kita bertemu lagi dalam situasi seperti ini."
Pagi datang dengan langit yang masih kelabu, sisa dari hujan semalam.
Kim Ae Ra bangun dengan perasaan yang sedikit lebih berat dari biasanya.
Mimpi semalam masih samar di ingatannya—hujan, payung, dan sosok seseorang yang berdiri di sampingnya.
Namun kali ini, ada sedikit perbedaan. Dalam mimpi itu, ia merasa bisa melihat sedikit lebih jelas wajah orang itu. Tidak sepenuhnya, tapi ada kesan yang familiar. Kesan yang mengingatkannya pada seseorang yang sering ia temui belakangan ini.
Dan ada suara samar yang terdengar di telinganya, suara yang berkata sesuatu tentang hujan dan dinginnya air sungai.
"Aku terlalu banyak memikirkannya," gumamnya sambil menggeleng, mencoba menghilangkan pikiran itu.
Ia bersiap untuk berangkat kerja dengan gerakan yang sudah otomatis. Sarapan sederhana bersama ibunya, Mi Ran, pagi itu terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya.
Ae Ra memperhatikan ibunya yang sesekali meliriknya dengan tatapan yang sulit dibaca.
Sejak beberapa hari terakhir, sejak Ae Ra mulai sering merasa tidak nyaman dengan bau asap dan hujan, Mi Ran terlihat lebih cemas dari biasanya. Ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan, sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu Ae Ra yang tidak ia ingat.