Setiap Pernikahan pasti memiliki ujiannya masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Menggugat Cerai David
Sam menarik nafasnya dalam, dia tidak bisa berkomentar apapun, jika boleh marah Sam mungkin akan menemui pria itu dan memberikan hadiah pukulan di pipinya. Tapi hak Sam apa? Dia hanya teman lama yang sudah tidak pernah berhubungan sangat lama. “Tindakan mu sudah benar Fiona, pria seperti itu memang sebaiknya ditinggalkan, tidak ada pembenaran untuk seorang pria yang menyakiti wanita, apalagi anaknya sendiri.”
Fiona menghela nafasnya, setelah menceritakan semuanya Fiona semakin merasa tenang karena banyak orang yang mendukungnya dan mengatakan jika keputusannya sudah benar. “Tapi yang aku takutkan dia akan kembali ke sini dan mengganggu Victoria, aku tidak bisa membayangkan jika dia datang mengambil Victoria dengan uangnya yang berkuasa,” jawab Fiona sambil tersenyum kecut. Bahkan untuk saat ini dia masih memilih menumpang di rumah orangtuanya karena selain keamanan Victoria yang harus ditinggalkan bekerja, faktor ekonomi pun berpengaruh, dia tidak bisa menyewa sebuah kamar apartemen untuk mereka tinggal. Semua tabungan Fiona tinggalkan di rumahnya dulu, dia benar-benar langsung pergi dengan dompet milik David tanpa mengingat barang-barang pentingnya. Entahlah, yang ada dipikiran Fiona saat itu hanya ingin kabur dan mengakhiri semuanya. Sialnya, saat Fiona berhasil kabur, keesokan paginya semua kartu milik David sudah terblokir, hanya menyisakan uang cash yang hanya cukup untuk makan mereka beberapa hari.
“Kau tenang saja Fiona, Daddy sudah mengirimkan seseorang untuk menjaga rumah mu. Victoria akan aman dan yang menjadi fokus kita sekarang kau harus sudah benar-benar terbebas dengan pria itu,” ucap Queen.
Sam menganggukkan kepalanya setuju. “Aku juga akan membantu menjaga Fiona, kau tenang saja, pria itu tidak akan berani menemui mu lagi.”
Queen yang mendengar itu hanya mencibir pelan, dia mengusap bahu Fiona pelan. “Jangan terlalu percaya pada pria Fiona, Sam berbicara seperti itu seolah akan berada di sini lama,” ejek Queen membuat Fiona langung menoleh dan menatap Queen bingung.
“Apa maksud mu Queen?” Fiona mengalihkan kembali pandangannya pada Sam. “Kau tidak akan berada lama di sini Sam?”
“Sam hanya 3 minggu lagi di sini, dia akan kembali ke Kanada. Sangat disayangkan bukan? Padahal kau akan berkerja di sini.” Queen sengaja berbicara seperti itu, dia sangat ingat betul jika dulu mereka berdua sangatlah dekat, pastinya ada beberapa kenangan yang keduanya ingat.
Dan benar saja, Sam seolah kembali terkejut dan menatap Fiona tak percaya. “Benarkah? Kau akan bekerja di sini? Mulai kapan?” tanya Sam.
“Ya, aku pun belum tahu, sebenarnya aku harus menemui HRD, tetapi malah berbincang cukup lama di sini,” kekeh Fiona. “Apa kita pergi sekarang saja Queen? Takutnya kita sudah ditunggu.”
“Ya, tentu saja. Kalau begitu, Sam, kau lanjutkan bekerja mu.”
Baru saja Queen dan Fiona berdiri dari duduknya, Sam langsung ikut berdiri dan menahan keduanya. “Apa tidak sebaiknya aku yang mengantarkan Fiona? Kau bisa langsung ke ruangan King, anak-anak pasti akan mencari mu,” ucap Sam membuat hati Queen sangat bahagia. Rencananya mendekatkan kembali Sam dengan Fiona rupanya berjalan lancar, bahkan tidak sesulit yang dibayangkan, keduanya sudah saling memaafkan masalalu dan sudah langsung terbuka satu sama lain seperti ini.
“Baiklah, kalau begitu aku titipkan Fiona pada mu. Suami ku pasti sedang kewalahan dengan anak-anak yang tidak bisa diam di ruangannya,” kekeh Queen yang langsung berjalan terlebih dahulu keluar dari ruangan meninggalkan keduanya yang masih berdiri.
Sam terbatuk kecil, dia merapikan sedikit dasinya. “Ayo kita ke sana.” Saat melihat Fiona mengangguk, Sam menoleh ke arah Monica yang sedang menatap laptopnya. “Monica, aku keluar dulu sebentar, kau tidak apa ditinggal sendiri?”
“Tentu saja tidak apa-apa Sam,” jawab Monica sambil tersenyum ramah pada Fiona yang sedang memperhatikannya.
“Apa aku tidak menggangguk pekerjaan mu?” tanya Fiona memastikan.
“Tentu saja tidak, santai saja. Ayo.”