NovelToon NovelToon
Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Patahhati / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Poel Story27

Bagaimana rasanya memergoki suami selingkuh dengan mata kepala sendiri? Hancur, tentu saja. Sakit, sudah pasti!

Hati Airin tercabik-cabik, tapi penderitaannya belum berakhir!
Airin dihina dan direndahkan habis-habisan oleh suaminya tersebut.
Airin juga diceraikan dan diusir saat itu juga!

Sekejam inikah garis kehidupan Airin?
Mungkinkah dia akan bertemu malaikat baik hati yang akan mengubah kehidupan nerakanya menjadi surga?

Jangan lupa follow ig: @poel_story27

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status Baru

"Bagaimana? Apa kau memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar?" tanya wali hakim itu lagi.

"Iya, sebentar," jawab Alexi pelan.

Alexi kembali mengeluarkan dompet, untuk mengambil cincin pemberian mommy Riana. Meskipun tidak yakin dengan pernikahan ini, tapi Alexi memutuskan untuk menjadikan cincin itu sebagai mahar.

"Apa ini bisa?" tanya Alexi seraya meletakkan cincin tersebut di depan wali hakim.

Pria dengan rambut yang sudah memutih itu mengangguk. "Tentu, ini jauh lebih baik daripada uang."

Tanpa membuang waktu lagi, mereka langsung memasuki prosesi paling sakral. Alexi menjabat tangan wali hakim itu, dan mengucapkan ikrar pernikahan dengan lantang.

Perasaan Airin jadi tak menentu, tidak ada senyum di bibirnya, manik matanya menyorot ke depan dengan tatapan kosong, jantungnya berdebar semakin kencang.

Sejurus setelah Alexi berhasil menyelesaikan janjinya pada sang pencipta, para saksi pun serentak membalas dengan kata SAH!

Dalam hatinya Airin tertawa hambar, ini adalah kali kedua dia menyandang status sebagai istri. Namun, pernikahannya kali ini jauh lebih konyol daripada pernikahan yang sebelumnya. Bahkan Airin sampai tidak tahu harus menamai pernikahannya kali ini dengan sebutan apa.

Setelah Airin dinyatakan SAH sebagai istrinya, Alexi pun diminta untuk menyematkan cincin yang telah ia berikan sebagai mahar di jari manis Airin. Yang luar-biasanya lagi, cincin itu begitu pas di jari lentik milik Airin.

Jantung Alexi tiba-tiba bergemuruh saat Airin mencium punggung tangannya. Rasanya sungguh aneh dan ia sendiri belum sepenuhnya pecaya dengan statusnya sekarang.

"Mulai saat ini kalian sudah SAH menjadi suami istri. Jika kalian menjalaninya dengan baik, maka kehidupan yang baik juga akan mendatangi kalian, begitupun sebaliknya. Sebagai dua orang manusia dewasa, saya yakin kalian paham maksud ucapan saya," ujar tetua kampung memberikan nasihat singkat. Yang dijawab anggukan pelan dari Airin dan Alexi.

Setelah semuanya dirasa selesai, para warga itu pun berbondong-bondong meninggalkan rumah Airin. Kini di rumah itu tinggallah Airin berdua saja bersama Alexi, suami barunya.

Airin menghembuskan napas berat, dia menutup pintu rumah kemudian menghampiri Alexi.

"Sebentar ya, Mas. Aku buatin kamu minum dulu," ujar Airin yang lantas meninggalkan Alexi menuju dapur.

Tak lama kemudian Airin kembali dengan membawakan segelas kopi untuk Alexi. Kini mereka duduk saling berseberangan, dengan suasana yang sangat kaku. Seolah tidak satu pun dari mereka yang memiliki inisiatif untuk bicara lebih dulu.

"Mas, aku minta maaf." Akhirnya kata itu lolos dari mulut Airin setelah hampir setengah jam mereka saling membisu. "Aku benar-benar memalukan, hingga membuat orang yang telah menolongku terjebak dalam situasi semacam ini."

Airin membuang napas berat, sembari hendak melepaskan cincin yang baru beberapa wakru yang lalu disematkan Alexi. "Aku tidak akan memaksamu untuk mempertahankan pernikahan ini, Mas. Kamu bisa menalakku sekarang juga, supaya kita tidak saling terikat."

Alexi menajamkan tatapan saat cincin itu nyaris lolos dari jari manis Airin. "Jangan dilepaskan!"

"Hah?"

Alexi menggidikkan bahu pertanda ia juga bingung. "Saya tahu kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi jika kita langsung mengakhiri pernikahan ini, maka pandangan orang akan semakin buruk terhadap kita. Kamu tidak menginginkan itu, bukan?"

"Jadi menurutmu kita harus bagaimana?" Airin bertanya dengan suara lirih.

Alexi tampak menguap, bukan hanya fisiknya yang lelah karena bekerja seharian. Tapi pikirannya juga ikut lelah karena kejadian malam ini.

"Bisakah kau berikan aku tempat tidur? Aku sungguh lelah."

Airin melirik jam di dinding, yang sudah lewat pukul dua belas malam. "Baiklah, ayo ikut aku."

Airin berdiri diikuti oleh Alexi. Airin menunjukkan kamar tamu, dan mempersilakan Alexi untuk masuk.

"Ya sudah, Mas. Selamat tidur, aku tinggal dulu," pamit Airin.

Alexi menutup pintu kamarnya, lantas merebahkan diri di ranjang berukuran single. Kamar ini pun cukup kecil, tanpa ada kamar mandi. Sangat berbada dengan kamarnya di rumah.

Meski begitu Alexi merasa biasa saja, karena kontrakannya di sini pun tidak jauh berbada dengan kamar ini.

Alexi berusaha memejamkan mata, tapi ia begitu sulit untuk terlelap. Dia masih kepikiran tentang ... Ehmm, entah ini layak disebut kesialan, atau malah keberungan ... dia sendiri pun tidak tahu harus mnyebutnya apa.

Yang jelas, tiba-tiba saja statusnya berubah menjadi pria beristri.

Dia memang sudah lama ingin melepas status lajangnya, tapi bukan dengan cara konyol seperti ini. Semua yang terjadi hari ini benar-benar seperti mimpi!

Entah jam berapa Alexi baru tertidur, hingga tanpa terasa sinar mentari pagi mulai menembus dari pentilasi udara, dan membuat kenyamanan tidurnya terganggu.

Alexi menggeliat malas. Dia turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar, dia ingin mencari kamar mandi. Satu hal yang Alexi yakini, kamar mandinya pasti berada di bagian belakang, jadi ia pun melangkah ke arah dapur.

Saat tiba di dapur Alexi berpapasan dengan Airin yang baru selesai mandi. Wanita itu, salah, maksudnya istrinya itu baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk, sehingga memperlihat lebih banyak kulit mulus di bagian pundaknya.

Bohong jika alexi mengatakan dia tidak terpana dengan pemandangan itu. Tapi dengan cepat dia memsang raut wajah biasa saja.

"Ehmm, saya ingin mandi. Bisakah kau meminjamkan handuk?" tanya Alexi datar.

"Iya, tunggu sebentar, Mas." ucap Airin pada Alexi, yang kemudian melangkah melewati suaminya itu

Aroma fresh dan wangi memabukkan dari tubuh Airin, begitu menyeruak bagi indera penciuman Alexi. Yang membuatnya nyaris tergoda untuk mendekap wanita yang sudah menjadi istrinya itu, melepas handuk yang menutupi tubuh indah tersebut, lalu meminta haknya sebagai suami.

Ekor mata Alexi terus mengikuti langkah Airin, sebelum akhirnya berhasil menguasai diri. Alexi menggelengkan kepala, ini salah, dia tidak boleh berpikir kotor. Dia tidak ingin menjadikan ikatan pernikahan sebagai alasan untuk meminta sesuatu yang tidak pantas.

Baru beberapa detik berhasil meredakan gemuruh di dalam dadanya, sosok yang menjadi sumber pengacau pikirannya itu kembali muncul, kali ini dengan membawakan selembar handuk di tangannya.

"Ini, Mas."

"Terimakasih!" sahut Alexi datar yang kemudian berlalu menuju kamar mandi.

Airin bergegas mengenakan pakaian, kemudian membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Alexi keluar dari kamar mandi saat Airin sedang menata hidangan di atas meja.

Kali ini bergantian Airin yang terpana, Alexi keluar dari kamar dengan balutan handuk sepinggang, memamerkan setiap otot tubuhnya yang kekar.

"Mas," panggil Airin seraya menundukkan tatapannya.

"Ya."

"Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu, itu baju bekas peninggalan ayahku. Mungkin akan kurang pas untukmu, tapi adanya cuma itu," ucap Airin pelan.

"Baiklah, terimakasih."

"Aku tunggu di sini untuk sarapan ya, Mas." Airin berpesan, yang hanya dijawab anggukan oleh Alexi.

Alexi tiba di kamar, Airin meletakkan satu stel pakaian untuknya di atas tempat tidur. Seperti yang katakan Airin tadi, pakaian itu memang ukurannya agak kecil, untuk dirinya yang memiliki postur tubuh tinggi besar.

Tapi mau tidak mau harus ia kenakan juga, daripada kembali mengenakan pakaiannya yang sudah kotor.

Alexi tiba di ruang makan, Airin segera berdiri mempersilakan Alexi untuk duduk. Dia lantas melayani dengan sepenuh hati, mulai dari menuangkan nasi goreng ke piring, sampai menyediakan air minum untuk suaminya.

"Selamat makan, Mas. Semoga kamu suka dengan masakanku," ujar Airin yang kemudian mengambil makanan untuk diri sendiri.

"Itu sudah pasti, sebelum ini pun aku sudah menyukai masakanmu," sahut Alexi.

Pujian itu terdengar datar, tapi berhasil membuat Airin tersipu. Mereka mulai menyantap sarapannya masing-masing dengan lahap, meski suasana kaku masih terlalu pekat menghadirkan jarak di antara mereka..

Airin menatap Alexi ketika mereka sudah menghabiskan sarapannya. "Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"

Bersambung.

Jangan lupa like dan komentarnya, ya. Terimakasih.

1
Queenfans Angelfans
woy upnya selalu di tunggu
Oma Tati
lanjut
hong heryanti
cerita nya ok, enak di baca
JANE ARDIANA
Luar biasa
Taris
Lumayan
martina melati
coba pake baju kurang bahan.... x aja manjur rameeee
martina melati
maaf lho, bukan menghina y... hrsny berubah biar suami gk tergoda sm yg lain
martina melati
koq malah dpuji sih... ini sih perbuatan asusilaaa...
martina melati
thor... sesekali bikin novel yg karakter sbg ibu tiri ato sodara tiri itu bukan antagonis...
martina melati
hehehe...
martina melati
sempat2ny berpikiran bgtu...
martina melati
adik tiri y... pantesan gk berperasaan blas
martina melati
hamil?? koq msh dsetubuh sih...
martina melati
hmm... adik ipar jg tdk bermoral...
martina melati
ini sih bukan khilaf... tp bejat!
martina melati
gila...
martina melati
gila malah dlanjutin tayangan live...

emang gk beretika bingit... bisa2ny melakukan hubungan intim yg bukan pasangan resmi
martina melati
gk sanggup deh mbayanginy...
bisa mereka b2 kugepuk pake sapu lho...
Sri Puryani
di tggu up nya thor
Siti Zubaedah
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!