Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 14 Abang?|
❤️Happy Reading❤️
"Kau ingin tau diriku siapa, kemarilah akan kuberi tahu." ujar Fahri membuat Arkan bangun dari duduknya dengan melangkah santai dan duduk disofa. Fahri tersenyum, " ternyata kau sangat menurut ya."
"Diamlah, jadi jawab, kau siapa? dan mengapa kau kenal dengan istriku. Apa istriku mengenalmu?"
Fahri terdiam, lalu mengangguk. "Ya, istrimu mengenalku juga. Tapi aku bukan pacarnya atau mantannya. Mantannya sudah ada ditanganku bisa bisanya dia menyakiti gadis berlian seperti Ellen."
"Lalu kau siapa?"
Baru saja ingin dijawab oleh Fahri, suara pintu terbuka terdengar dan melihat Ellen yang sudah rapih dengan bajunya dan wajahnya yang bingung. "Ada tamu ternyata."
Fahri yang mendengar suara Ellen langsung mengkaku dan ia berdiri lalu tersenyum menatap Ellen, Ellen yang melihat Fahri langsung ternganga dan kedua matanya berkaca kaca. Fahri melangkah mendekat, "apa kabar Ellen?"
Ellen menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu menangis, Arkan yang melihat itu langsung mengernyit dan berjalan mendekat kemudian memeluk istri tercintanya dengan lembut, "kenapa sayang? Kenapa nangis?"
"Kau apakan istriku?" tanya Arkan dengan tatapan melotot. Fahri menggelengkan kepala dan mengangkat kedua tangannya, "Aku tidak berbuat apapun." ujar Fahri.
Ellen masih menangis dipelukkan Arkan lalu melepaskan pelukkan itu dan berjalan kearah Fahri dan kedua orang itu terkejut saat Ellen memeluk Fahri, sedangkan Arkan yang melihat istrinya memeluk pria lain dihadapannya hanya bisa membuka mata lebar lebar lalu beralih menatap Fahri yang sedang membalas pelukkan istrinya itu.
Tak lama Ranz masuk dan terpaku melihat tiga orang dewasa itu, satu sedang menatap tajam dengan kernyitan didahinya membuat wajah itu menjadi sangat seram, lalu seorang pria yang memeluk seorang wanita menangis dan itu membuatnya memaku tidak bisa berbuat apapun, "Suasana apa ini? Dingin sekali."
"Ellen kenapa kamu meluk pria lain dihadapanku?" tanya Arkan lalu Ellen melepaskan diri dari pelukkan itu dengan seraya menghapus air matanya, "ah maafkan aku sayang. Aku terlalu rindu dengannya."
"Dengannya? Kamu mengenal pria ini?" Ellen mengangguk, "Ah sepertinya kamu lupa dia abangku."
"Abang? Bukankah nama abang kamu Daffin? Sedangkan nama pria ini Fahri Pratama." Ellen menganga, "apa dia salah orang? tapi tidak mungkin wajahnya sangat mirip dengan Papa."
"Aku memang abangnya."
"Jangan ngaku ngaku kau." ujar Arkan dengan menarik tubuh mungil istrinya dengan sekali gerakkan kedalam kungkungannya. Fahri menggaruk pelipisnya, "kau tidak yakin? Banyak orang yang bisa menggantikan namanya hanya untuk melarikan diri."
"Jadi kau?" Arkan tidak melanjutkan perkataannya karena terlalu terkejut, "jadi pria kejam dan dingin dihadapannya ini abang iparnya? Yang benar saja."
"Jadi kamu benar benar abang Daffinku? Kesayangan Ellen?" tanya Ellen yang dibalas senyuman serta anggukkan. Ellen langsung menubrukkan tubuh mungilnya dengan sekali gerakkan ia langsung melepaskan kungkungan suaminya dan memeluk erat abang Daffinnya itu.
"Ellen kangen tau, abang kemana aja selama ini?"
"Abang dibuang keluar negeri, Amerika, negara orang sama keluarga sampah itu."
"Keluarga sampah? Siapa?"
"Orang yang kamu panggil paman." Ellen mengangguk, "ah aku lupa kalau mempunyai paman, tapi aku harus melakukan apa untuk harta warisan itu?" tanya Ellen, lalu menatap suaminya dengan tatapan minta saran, "sayang, kira kira aku harus buat apa sama harta warisan itu?"
Tidak ada jawaban dari Arkan semakin kernyitan dahi Ellen terlihat, lalu menggoyangkan tangan suaminya itu sampai tersadar. "Hah? Kenapa?"
"Kamu yang kenapa?" Arkan hanya menggeleng. "Gapapa kok."
Fahri tertawa, "dia terlalu syok dapat ipar seperti abang."
Ellen menatap bingung, "memang ada apa dengan abang? Sepertinya tidak ada yang salah."
Arkan mengangguk, "iya kamu bicara seperti itu karena tidak tau asli abangmu seperti apa." batinnya.
"Ayo kita duduk saja terlebih dahulu, abang harus menjelaskannya. Dan Ranz kamu ada perlu apa?" tanya Ellen yang sadar bahwa sekertaris suaminya itu berdiri mengkaku didepan pintu.
Arkan malah baru sadar bahwa Ranz sudah masuk dengan membawa beberapa lembar kertas, "masuk Ranz." ujar Arkan yang sudah duduk dikursi kebesarannya. Sedangkan Ellen sedang duduk bersampingan dengan abangnya, Arkan hanya bisa menahan amarahnya. "Hah.. Pria itu.." gumamnya.
Ranz melangkah kaki dengan kaku, dan menaruh beberapa file diatas meja kerja tuannya, "ini tuan yang data yang sudah direvisi ulang, dan disitu kita sudah bisa mengetahui hasil yang kita perkirakan."
Arkan mengangguk, "ya bagus dan tolong berikan minum untuk tuan Fahri yang tak lain abang kandung Ellen, Daffin Endra." Ranz terkejut mendengar fakta, "abang?"
"Nona muda memiliki abang? Kapan?"
"Kapan maksudmu apa? Mereka sudah menjadi sodara kandung sejak orang tua mereka masih hidup." ujar Arkan yang sedikit tidak percaya Ranz yang ia pintar bisa bodoh seperti ini. Ranz menggaruk kepala belakangnya, "bukan itu maksud saya, maksudnya kenapa tidak diberi tahu dari awal, saya kira nona anak tunggal."
Fahri tertawa mendengar jawabanya, "kami berpisah sejak kecil, saya diusir oleh orang yang mengincar harta waris padahal tanpa sepengetahuan mereka harta waris yang dulu akan menjadi milik saya sudah ditangan adik saya sejak umur 13 tahun." jelas Fahri membuat Ranz mengangguk dan keluar ruangan untuk membawakan minuman buat tamunya.
"Terus warisnya mau diapain? Ellen pegel karena terlalu berat jumlahnya."
Fahri tersenyum, "terserah Ellen untuk apa, atau Ellen buka sekolah saja dengan keinginan Ellen dulu." Tak lama Ranz balik lagi masuk dengan membuatkan tiga gelas teh hangat untuk tuan, nona dan abangnya. "Silahkan menikmati." ujar sopan Ranz yang langsung dibalas anggukkan dan senyuman dari dua orang bersaudara tersebut. Setelah itu Ranz kembali ketempatnya.
"Sekolah untuk anak panti asuhan?" tanya Ellen diangguki oleh Fahri. "Boleh deh, nanti Ellen bicarakan sama Arkan juga. Ah iya tadi abang punya nama lain dari Daffin?"
Fahri mengangguk, "punya, tapi jika semua masalah sudah selesai baru abang pakai nama asli abang."
Ellen mengangguk lalu menatap dalam diam, Fahri menatap Ellen dengan tatapan lucu. "Ada apa dengan wajah abang?"
"Kenapa abang jadi tampan? Apa abang sudah punya kaka ipar untuk Ellen?" tanyanya dengan wajah polos, Fahri tersedak air ludahnya sendiri sedangkan Arkan hanya bisa menahan tawa, "pria kejam tak perasaan punya hal seperti cinta? Rasanya tidak mungkin." batin Arkan menatap Fahri diam diam, sedangkan Fahri hanya bisa berdeham. "Tidak ada. Jangan terlalu berharap." jawabnya membuat raut wajah Ellen tertekuk.
Lalu membisikkan sesuatu, "Apa abang menyukai seorang pria?"
Fahri melotot, Ellen pun juga. "Gak kan?! Gak mungkin!" pekiknya menatap abangnya, Fahri langsung menyentil dahi adiknya tidak terlalu keras namun sedikit sakit.
Tak!
"AA!"
"Saring dulu, kamu emang mau punya kakak ipar cowo?" Ellen merinding membayangkannya, saat kaka iparnya bergaya gumelis dan berlagak seperti,"Iuhh! Kalau abang berani dekat sama pria lain selain suamiku, akan aku carikan jodoh untuk abang." ujarnya dengan bergidik jijik.
Fahri tertawa, "ada ada aja kamu pikirannya, Arkan saring dong pikiran istrimu ini." Arkan yang sedang sibuk menatap berkas dipanggil Fahri langsung mengernyit dengan menaikkan alis sebelah. "Kenapa memangnya?"
"Aku nanya apa abang gay? Tapi aku malah disentil." Adunya dengan mengelus dahinya dihadapan Arkan. Arkan tersenyum manis melihat istrinya yang menggemaskan lalu menatap tajam abang iparnya karena sudah menyentil istrinya.
"Apa? Kenapa matamu menatapku seperti itu?" tanya Fahri yang merasakan tatapan tajam adik iparnya. "Mengapa kau menyentil istriku?" tanyanya lalu menarik lengan istrinya untuk duduk diatas pangkuannya. Ellenpun menurut saja dengan manja ia memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Fahri mendengus melihat adegan mesra sepasang suami istri itu, "aku hanya mengetuk dahinya agar pikirannya bisa semakin terkendali." Lalu ia menghabiskan minumannya lalu berdiri segera, "sepertinya saya harus pergi."
Ellen menatap abangnya, "masa cepat sekali."
"Nanti abang akan mengunjungimu. Aku akan menghubungi suamimu." Ellen mengangguk, "baiklah, sayang, nanti saat abang mengabari tolong beri tahuku segera ya." ujarnya menatap Arkan yang dibalas kecupan manis dibibirnya. "Iya."
"Ck. Tolong ingat aku masih berada disini."
"Kapan kau akan keluar?" tanya Arkan dengan nada malas membuat Fahri mendengus kesal. "Sangat tidak sopan, baiklah Ellen, abang pamit terlebih dahulu. Jangan memaksakan diri untuk membuat abang keponakan ya." ujarnya lalu keluar ruangan meninggalkan adiknya yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Aku malu."
"Tidak perlu malu, sama abangmu itu."
❤️Bersambung..❤️
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan