Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Kamu ngapain sih, Ar. Berat tahu,” keluh Sarah sambil menggoyangkan bahunya, berharap Ardhana segera menjauhkan kepalanya yang ia sandarkan pada bahu wanita itu.
“Bentaran doang, Kak. Capek banget aku,” keluh Ardhana yang tetap masih setia pada posisinya walau Sarah terus saja menggoyangkan tubuhnya.
Sarah akhirnya diam juga setelah berkali-kali ‘mengusir’ Ardhana namun pelajar kelas dua SMA itu tak juga beranjak. Sarah akhirnya hanya fokus dengan air mineralnya, mengistirahatkan tubuhnya di bawah terik matahari.
“Nggak pernah kepikiran, udah tamat SMA masih juga ikut beginian,” gumam Sarah yang masih bisa didengar oleh Ardhana di belakangnya.
“Siapa suruh ikutan,” celetuk pemuda itu.
“Udah enak-enak kuliah, masih mau ikutan latihan panas-panasan gini.”
Sarah bergerak maju, membuat Ardhana langsung tersentak. Gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap Ardhana dengan sorot mata malas.
“Cari pengalaman dong, Dek. Kapan lagi kita ikutan acara tingkat Nasional. Mumpung alumni yang belum bangkotan ini masih diizinkan, ya udah kita gas,” jelas Sarah.
“Iyalah alumni,” ejek pemuda itu.
“Eh, ngeselin banget.” Sarah kembali menatap ke depan, ke arah pelatih yang sedang memberikan pengarahan.
“Pulang nanti kita makan es krim yang lagi ramai itu yuk, Kak. Aku yang traktir,” ajak Ardhana dengan berbisik.
“Ah enggak, ah. Aku tadi nebeng sama Laras. Nanti aku pulangnya gimana?” tolak Sarah. Memang benar, untuk pergi latihan ke lapangan hari ini dirinya menumpang dengan Laras—teman satu kampus dan kebetulan kosan mereka searah.
“Aku yang antar pulang nanti,” tawar Ardhana meyakinkan.
“Jauh tahu kosan aku. Mutar kamu yang ada, Dek,” ucap Sarah lagi.
“Nggak apa-apa,” jawab Ardhana cepat. “Sekalian aku jadi tahu kosnya Kak Sarah dimana. Jadi enak nanti kalau aku mau main.”
“Ngapain kamu mau ke kosan aku? Nggak usah ngada-ngada deh, Ar. Aku udah capek, tau disinisin terus sama pacar kamu itu.”
“Ngapain dia lihat Kakak sinis?” tanya Ardhana lagi dengan nada mendesak.
“Ya nggak tahu. Nanya tuh sama pacar kamu.”
Flashback Off
******
“Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering banget ngelamun deh, Sar,” tegur Tini saat baru saja masuk ke dalam ruang guru dan mendapati Sarah tengah duduk termenung di mejanya.
“Siapa yang lagi ngelamun. Nggak ada,” kilah Sarah yang langsung pura-pura sibuk dengan buku absensinya.
Tini menarik kursinya hingga duduk bersebelahan dengan gadis itu.
“Mikirin Pak Polisi?” tebaknya.
“Kenapa harus dia terus yang harus kamu sebut, sih?” tanya Sarah dengan nada yang kurang senang.
“Ya karena kamu jadi suka menyendiri, terus ngelamun sejak ketemu sama dia,” jawab Tini santai. “Belum mau cerita dia siapa? Katanya bukan mantan pacar, tapi kok kayak yang susah move on gitu.”
Sarah hanya diam saja, menarik napasnya lalu kembali berpura-pura sibuk dengan buku jurnalnya, melihat bahan ajar untuk materi selanjutnya pada jam pelajaran terakhir hari itu.
“Cerita ih, pelit banget,” desak Tini yang masih terus berusaha mengorek informasi dari sang teman.
“Nggak ada yang spesial, Tin. Kita itu dulu cuma senior-junior doang. Waktu itu aku kuliah semester tiga, dia SMA kelas dua. Iya kali aku pacaran sama anak SMA,” ungkap Sarah akhirnya, menceritakan secuil ceritanya.
“Dulu yang SMA, sekarang dia udah jadi polisi, mapan pasti. Gas aja langsung, Sar,” kata Tini dengan penuh semangat.
Sarah kembali diam dan tidak berniat menjawab ucapan Tini yang membuat wanita itu kembali geram.
“Kamu itu jangan banyak milih, Sar. Kemarin di dekatin sama guru olahraga SMK sebelah kamu nolak. Ini sama polisi juga nolak. Padahal udah kenal dari lama juga,” ucapnya lagi yang tetap tidak mendapatkan respon dari Sarah. Gadis itu tetap saja setia dengan kediamannya.
“Kalau masalah usia kalian yang beda, itu bukan masalah besar, Sar. Banyak lagi diluaran sana yang usianya bahkan beda sampai sepuluh tahun. Kalian cuma tiga tahun doang, masih aman lah itu.”
Kali ini Sarah menoleh ke arah Tini, menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Tini.
“Kamu kenapa?” tanya Tini pelan.
“Aku takut, Tin…”
“Takut apaan?”
Sarah kembali diam, namun hatinya masih terus berisik.
“Aku takut kalau orang-orang masih menganggapku perusak hubungan orang,” bisik Sarah dalam hati.
...****************...
Kenapa susah banget cari pembaca sekarang di NT, yak? Udah pada pindah rumah apa gimana ini?
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor