NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiss?!

Happy reading!

Kedua mata indah itu terus-menerus mengerjap tidak percaya. Bahkan mulutnya juga menganga lebar. Pikiranya benar-benar sudah diluar dugaan. Ia memijit pelipisnya pelan sembari mengiris kecil. Bisa-bisanya ia baru tau hal itu, hal yang nampak biasa namun ternyata penuh bahaya. Kadang, satu kelengahan kita membuat musuh punya seribu cara untuk melumpuhkan.

"Berhentilah mencari perhatian orang-orang"

Satu kalimat menohok yang entah mengapa terdengar menyakitkan. Walaupun itu seperti sebuah nasihat, tapi rasanya berbeda.

"Apa lo ngerasa gak menarik?"

Lagi-lagi, pemuda itu melontarkan kata yang menyinggung perasaan gadis itu. Tidak, gadis itu tak pernah berfikir satu pun dari apa yang di maksudkan pemuda itu.

"Aku tau aku salah, tapi kak Zevan gak usah ngomong gitu terus dong!" Ia mencoba membela diri karena terus saja dipojokan.

"Anak zaman sekarang, dinasihatin sukannya ngeyel"

Kesal. Gadis yang bernama Lily itu kini merasa tak bisa menahan gejolak amarahnya di hati. Tanpa berkata apapun lagi ia pun pergi dari ruang keluarganya. Padahal ia sedang menonton film seru di TV. Tapi zevan Terus menerus mengajaknya berdebat. Hal yang paling Lily hindari dalam hidupnya. Lagi pula, berdebat dengan Zevan saat ini tidak baik untuk hatinya. Untuk kali ini, rasanya Lily merasa hancur. Entah kenapa begitu. Yang pasti, setelah ia tahu bahwa kasus scandal disekolahnya adalah ulah seorang hacker. Dan akhir-akhir ini, Zevan terus saja bersikap seperti tidak biasanya.

Bukan sekali dua kali Zevan menyakiti Lily. Pertama saat hari pertama Lily sakit hari itu. Ia menjambak rambutnya kasar dan mendorong kepalanya hingga lebam dan terluka. Dan kemarin, Zevan tidak memberi ampun membangunkannya dengan seember air es dari kulkas. Apa dia pikir, Lily sekuat baja?! Tahan panas dan dingin?! Lily merasa tidak habis pikir.

"Aku ngadem aja deh!"

Sesekali manusia normal pasti pernah merasakan fase dimana tidak ingin diganggu oleh siapapun. Ingin menyendiri dan berada ditempat sepi. Bukankah itu impian semua orang? Mungkin hanya untuk yang introvert.

Merasa lelah oleh keadaan juga bukanlah hal yang tidak wajar. Yang namanya manusia, pasti pernah sekali berada di fase itu. Itulah yang Lily rasakan saat ini. Lelah tanpa sebab, dan benci dengan keadaan. Jikalau bisa, Lily ingin sekali bisa kembali kedunianya. Dimana riuh kendaraan dipagi hari selalu membisingkan telinganya, atau suara ciutan burung-burung diatas listrik. Lily rindu suasana itu.

Ia berjalan menyusuri jalanan sepi yang biasanya digunakan untuk berjoging. Tak ada satu pun kendaraan berlalu lalang disana. Seolah dirancang khusus hanya untuk berjalan-jalan bagi penghuni perumahan itu. Ia pun menghentikan langkahnya ketika melihat hamparan danau luas didepannya. Sebelumnya, ia tak pernah tau ada danau disekitar rumahnya. Ada kursi juga disana. Tanpa pikir panjang, ia pun duduk dikursi itu dengan tenang.

Semilir angin meriuh lembut menghempas rambutnya. Ia menatap lurus kedepan melihat danau berwarna biru itu.

"LILY PENGEN PULANG! LILY BENCI TEMPAT INII!!"

Teriaknya dengan kuat. Beberapa bayangan muncul dikepalanya. Ia benar-benar merasa paling bego disini. Bisa-bisanya hanya karena sebuah akun tik tok Lily hampir mati. Segitu benci kah mereka pada keluarganya? Apakah keluarganya pernah berbuat jahat pada banyak orang? Selama ini Lily tak pernah tau latar belakang keluarga Zevan ini.

Jederrr!!!

Suara kilat menyahut keras. Lily sempat terperanjat kaget lalu melihat keatas langit.

Cakrawala mulai menggelap. Awan-awan hitam mulai memenuhinya dan menutupi cahaya matahari. Angin pun mulai berhembus kencang tidak bersahabat. Kini Lily merasa sudah cukup waktunya untuk menyendiri. Ia pun beranjak dengan rasa dingin menjalar ditubuhnya. Namun nasib buruk menimpanya, hujan lebat pun turun seketika tanpa aba-aba.

Jrees!!!

Tap tap tap

Lily mencoba berlari agar tubuhnya tidak terlalu basah. Namun percuma, jarak rumahnya ke danau ini cukup jauh. Dan itu membuatnya merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi bodoh.

Jeder!!!

Suara petir makin membesar. Kilatan cahaya pun mulai menyambar. Lily semakin takut. Ia pun menghentikan langkahnya dan bernaung dibawah pohon. Dasar bodoh! Bukankah pohon lebih mudah disambar petir? Dan lagi, apakah langit tau suasana hatinya? Kenapa ia kadang selalu menurunkan hujan pada orang-orang yang tengah diliputi kesedihan? Seperti sinetron saja.

"Ya ampun jam berapa ya ini?" Monolognya ketika melihat suasana semakin gelap. Ia takut akan dimarahi Zevan jika ketahuan keluar rumah tanpa seijinnya.

"Kak Zevan pasti marah besar! Gimana yah"

Ia terlihat sudah pucat. Rasa dingin semakin meningkat ditubuhnya. Bahkan angin pun sudah tak pandang bulu lagi, ia berhembus kencang bak badai.

"Aaaaa tolong! Lepasin aku!"

"Haha pegang tangannya!"

Terdengar suara riuh tak jauh dari tempat Lily meneduh. Ia celingukan mencari asal suaranya.

"Tidak! Ku mohon hentikan!"

Lily pun mengikuti arah suara ribut-ribut itu. Ia membulatkan matanya ketika melihat tiga orang lelaki tengah melecehkan seorang perempuan.

"Hei kalian!" Teriak Lily penuh berani dengan suara bergetar karena dingin.

"Wah nambah satu nih!"

"Langsung sikat aja bro!"

Salah satu dari mereka pun berjalan menuju Lily dengan tatapan penuh hasrat.

"Mau apa kamu!" Teriak Lily ketika lelaki itu tersenyum lebar didepannya.

"Kalo kalian semua mendekat, ku tembak!" Langsung saja Lily menodongkan pistol kearah lelaki-lelaki itu.

"Wo wo wo! Simpan senjata itu cantik, dari mana kau mendapatkannya? Itu sama sekali tidak cocok berada ditangan mu" Mereka semua mengangkat tangannya keatas.

"Hei kami tidak akan menyakitimu! Biarkan kami!"

"Lepaskan wanita itu juga!" Teriak Lily.

"Ayolah! Kami sedang ingin..."

"Pokoknya lepas!"

Mereka semua pun membiarkan wanita itu tersipuh keatas tanah. Ia terlihat lusuh dan kancing bajunya terbuka. Lily menurunkan tangannya. Dan saat itulah lelaki yang tadi berada didepan Lily langsung meringkusnya.

"Kau lengah, kau pikir kami bodoh karena begitu saja melepaskanmu? Haha salah! Sepertinya kau lebih cocok jika kita jual saja!"

"Ish lepas!" Lily mencoba melepaskan diri.

"Diam sayang, jika tidak, ku tembak kepalamu" Bisiknya dengan menempelkan pistol yang tadi Lily pakai. Ia pun terdiam.

Dor!

"Siapapun yang menyentuhnya tanpa seijin ku, maka dia berhak mati"

Jeder!!

Dibarengi kilatan-kilatan cahaya, tiba-tiba munculah seseorang. Ia memakai jas hujan berwarna hitam.

"Kak Austin?!" Kaget Lily ketika seseorang itu mengangkat kepalanya hingga menampakkan wajahnya yang tampan.

"Hai sayang, apa perlu aku membunuh mereka semua seperti kecowa waktu itu?" Ucapnya dengan dingin. Wajahnya juga terlihat tidak bersahabat. Auranya menyeramkan. Pasti saat ini dia sedang kesal.

"Oh ayolah! Kenapa kau mengganggu kami!" Lelaki yang meringkus Lily menyela.

"Kau, yang mati duluan!" Tanpa ragu, Austin menodongkan pistolnya kearah lelaki itu.

"Kak jangan! Nanti kak Austin dipenjara karena bunuh orang!" Teriak Lily yang ditanggapi beberapa tatapan aneh padanya.

"Iya kan? Kalo bunuh orang disini dipenjara?" Ia mengerjap heran dengan tatapan aneh padanya.

"Aduh.." Austin mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan. Ia ingin sekali tertawa mendengar pernyataan gadis itu. Kenapa dia kadang begitu bodoh sekali.

"Lily... Lantas mengapa tadi kau begitu berani menodongkan senjata api pada mereka?" Tanyanya balik.

"Tadi itu... Pistolnya..."

Tuiw!! Tuiw! Tuiw!

Pistol itu bercahaya merah biru dan mengeluarkan suara seperti siren polisi saat lelaki yang meringkus Lily menekannya.

"Nemu dijalan hehe" Kekehnya tanpa dosa.

"Sialan!" Lelaki itu melempar pistolnya asal hingga terlempar kedekat kaki Austin.

"Cabut! Cabut!"

Ketiga lelaki itu pun segera bergegas meninggalkan mereka.

"Jangan terlalu nekat!" Austin menghampirinya dan memberikan jas hujannya.

"Eh bentar kak!" Lily mendekat pada gadis yang hendak dilecehkan tadi. Ia terlihat pucat sekali.

"Kamu gak papa kan?!" Tanya Lily hawatir. Gadis itu hanya mengangguk cepat dengan takut.

"Te-terima kasih! Aku pamit duluan!" Ucap gadis itu cepat hingga membuat Lily terheran-heran.

"Kenapa dia pergi?"

"Dia pulang sayang, sama kayak kamu harusnya segera pulang" Austin tersenyum lembut padanya.

"Kakak kok bisa disini?"

"Mau tau? Rahasia!" Austin berjalan mendahuluinya.

"Ih kak! Tunggu!" Lily menyusulnya cepat.

"Kayaknya perempuan tadi satu sekolah deh sama aku"

"Kau mengenalnya?"

"Gak sih, tapi kayak pernah liat"

"Lily, berjanji lah satu hal padaku!" Austin tiba-tiba menggandeng tangannya. Lily menoleh sembari terus berjalan.

"Jangan pernah mencampuri urusan orang lain, faham? Aku tak ingin kehilanganmu" Ia mengeratkan genggaman tangannya. Lily menundukan kepalanya bingung.

"Jadi, apakah aku harus membiarkan orang-orang berbuat jahat didepan mataku sendiri? Gak kak! Aku gak bisa! Aku..."

"Lily, aku hanya tidak bisa berjanji akan selalu melindungimu kapan pun... Aku tak ingin kehilanganmu secara tiba-tiba" Ucapnya dengan suara bergetar dan seakan menekankan kata aku tak ingin kehilanganmu. Lily terdiam mendengarnya. Ia bingung harus menjawab apa. Yang pasti, apakah ini terlalu cepat untuknya jatuh cinta terlalu dalam? Apakah perasan Austin padanya benar-benar nyata seperti dinovel itu? Lily tak pernah tau dan mungkin takan pernah tau.

Hingga tak terasa, kini hujan derasnya sudah mengecil menjadi gerimis bahkan nyaris reda.

"Aku juga ... Gak bisa janji bisa terus didunia ini..."

"Maksudnya?!" Austin mencengkeram kuat tangannya meminta penjelasan yang terdengar akan menyakitkan.

"Kak Austin tau sendiri kan kalo manusia itu gampang mati?"

"Gak! Kamu gak boleh ngomong gitu! Segera bersihkan dirimu! Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini" Austin berhenti didepan gerbang rumah Lily.

"Makasih kak udah bantuin aku, maaf ya banyak ngerepotin!"

"Aku senang membantumu! Apapun yang kau butuhkan, bicaralah! Kau milikku, dan aku milikmu" Austin pun melenggang pergi meninggalkan Lily yang mematung. Apakah kata itu patut membuat jantungnya bergetar hebat?

"Disini rupanya!"

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka dan menampakkan sosok Zevan yang bengis. Ia langsung saja menyeret Lily masuk kedalam rumahnya.

"Udah gue bilang jangan kemana pun tanpa seijin gue! Dasar nakal!" Bentaknya sembari terus mencengkeram tanganya keras hingga mungkin akan meninggalkan bekas merah-merah.

"Kak, pelan!" Larai Lily ketika merasa langkahnya terseret-seret.

"Masuk kedalam! Cepat masuk!"

Zevan memasukannya kedalam ruangan gelap. Lily tidak pernah tau dirumahnya ada ruangan seperti itu. Yang pasti, sekarang Lily sedang ketakutan. 

"Diam!" Ucapnya sambil menutup pintu ruangan gelap tersebut. Dia pun memegangi kedua tangan Lily hingga ia hanya bisa meronta-ronta. 

"Kak! Lepasin sakit!" Lirihnya dengan memohon. Ia di dorong hingga tubuhnya menabrak dinding ruangan tersebut. Cahaya remang-remang memperlihatkan wajah dingin Zevan yang seperti sedang kesetanan. Sorot matanya menatap tajam pada wajah Lily yang sedang ketakutan.

"Kak?" Panggil Lily yang berusaha mencoba untuk tenang. Ia memperhatikan Zevan yang masih setia menatapnya. 

"Kak Zevan ke...." Belum juga Lily menyelesaikan ucapannya, Zevan dengan tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Lily. Sentuhan yang semula lembut berubah menjadi menuntut seakan meminta lebih. 

"Uhmmmm...."

Berkali-kali Lily mencoba melepaskan tangannya yang sedang di tahan oleh Zevan, namun selalu gagal. Ia hanya bisa menangis saat menerima sentuhan kasar yang datang secara tiba-tiba itu padanya. Pikirannya kalut saat berusaha mengakhiri permainan Zevan.

"Ehmmm!!!" Lily mencoba mengalihkan pandangannya ke samping kiri dan kanan agar tautan bibir mereka berdua terlepas. Dan akhirnya itu membuahkan hasil. Zevan menjauhkan sedikit wajahnya dari Lily. Namun pandangannya masih tertuju pada bibir gadis itu. Sesuatu yang selalu ingin ia rasakan. 

"Manis...." Gumamnya hingga deru nafasnya menerpa wajah Lily. Dan tanpa aba-aba, ia kembali melumat bibir gadis itu untuk beberapa saat bahkan tubuhnya menghimpit tubuh sang gadis. Ia seakan tidak ingin melepaskan gadis itu untuk saat ini. Perasaan kesalnya memuncak ketika mengingat kembali gadis itu selalu saja membuatnya cemburu. 

Beberapa menit kemudian, Zevan melepaskan tautan bibirnya. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Tangannya beralih memegangi leher putih milik gadis itu. 

"Kak.... Jangan...." Ucap sang gadis dengan memohon. Ia tak bisa menggerakan tubuhnya karena terkejut. 

"Gue gak bisa berhenti" Katanya lalu mengecupi leher gadis itu hingga meninggalkan satu jejak merah di sana. Ia pun menjauh dan meninggalkan gadis itu di dalam sana tanpa sepatah kata pun. 

"Kak...." Panggil sang gadis dengan merasa sakit di bagian lehernya. Ia pun berjongkok duduk ketika mendengar pintu itu dikunci dari luar. Sepertinya ia akan bermalam disini. Lily menangis saat tau Zevan ternyata begitu bejat. 

• • •

Terlalu cepat untuk disadari, dan terlalu rumit untuk dipahami_Lily.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!