"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan pertama
"Kami tidak bisa menginap karena kami masih punya urusan untuk ke tempat Mbah Abidin" ucap Karna yang pukul empat sore itu pamit pulang bersama yang lain.
"Tapi urusan apa yah? bagaimana kalau sampai kuyang itu datang lagi?" tanya Kaelan khawatir
"Selama kamu tidak panik, Salbiah tidak akan curiga, tadi ayah sudah sedikit mengancam identitasnya, kalau dia sayang nyawanya sendiri, dia tidak akan kembali untuk mengganggu kamu ataupun Kalingga" jawab Karna
"Cukup kamu lakukan apa yang kami ajarkan tadi kalau Salbiah datang lagi, kami pamit sebelum hari semakin gelap, Jamal, Saidah titip Kalingga, aku akan ke sini satu minggu sekali untuk menjenguk kalian" ucap Rumi
"Baik Mbah" jawab ketiganya
"Jangan sampai rambut Salbiah hilang, warga kampung sepertinya juga mulai memata matai kalian" bisik Panca
"Mbah benar, mereka sering sengaja lewat hanya untuk memastikan Kaelan masih di kampung ini" jawab Kaelan
"Mereka pasti merasa takut kalau kamu pergi nanti Kalingga akan menjelma jadi anak Kunti seperti yang di gosipkan si Narno" ucap Rumi terkekeh mencubit pipi Kalingga yang sedang menatapnya dengan mata jernihnya.
"Bayi secantik ini di panggil anak Kunti, mereka tidak tahu kalau anak Kunti inilah yang nanti akan membebaskan mereka dari jeratan tumbal tiga tahun dan sikap jahat Narno" ungkap Karna
"Mereka sedang mengasah berlian ini jadi semakin cantik dan kuat" ucap Panca
"Ini, bekal yang sudah aku buat, kak Karna bawa ini untuk bekal di jalan karena kalian tidak mau makan tadi" ucap Saidah.
"Kan sudah kami cicipi kopi kamu supaya tidak kepun" ucap Rumi
Ketiga penolong keluarga Kaelan pergi, Saidah segera membawa Kalingga masuk begitupun dengan Jamal dan Kaelan yang ikut masuk untuk membuat beberapa kerajinan tangan yang nantinya akan di bawa orang orang kampung Mahoni ke Jakarta untuk mereka jual.
"Pak, di kota harga tampah ini bisa sampai puluhan bahkan ratusan ribu loh, di sini hanya lima belas ribu saja untuk yang ukuran sedang" ucap Kaelan terkekeh
"Wajarlah nak, jarak dari sini ke kota kan jauh, belum ini juga sering di percantik lagi di tempat penjualnya" jawab Jamal juga terkekeh
"Untung di sini masih murah murah ya pak, kita tidak perlu membeli beras dan semua sayuran ada di kebun, kayu bakar ada di hutan asal kita mau bergerak mencarinya" ucap Kaelan
"Iya, kamu benar, daging ayam juga banyak di kandang, ikan tinggal cari di sungai, hanya bahan bahannya yang harus beli dan minyak tanah untuk obor, jadi tetap kita harus bekerja" jawab Jamal
"Tadinya Kaelan mau kita pindah ke kampung mahoni pak, di sana sudah ada lampu, kita tidak perlu beli minyak tanah lagi, Kalingga juga nanti bisa nonton televisi di balai desa, bisa menikmati masa kecilnya dengan ceria" ungkap Kaelan
"Setelah ari ari Kalingga di temukan, kami akan ikut kamu nak, kami sudah tidak peduli lagi dengan kampung ini setelah mereka mencoba menumbalkan Maryani dan Kalingga, bapak dan ibu sakit hati" jawab Jamal
"Benarkah pak? kalian bersedia pindah?" tanya Kaelan berbinar
"Iya nak, kami sudah membicarakan ini dengan serius, rumah dan tanah ini akan kami jual pada Mbah Wisnu untuk rumah putranya Tirta nanti kalau sudah menikah" jawab Saidah
"Tapi kan calon istrinya Tirta sudah meninggal Bu, yang ada di kampung Sukun itu" ucap Kaelan
"Mungkin adiknya yang akan menggantikan" jawab Jamal
"Setahu Kaelan, Tirta itu masih mau sekolah yah, dia baru lima belas tahun masa di minta menikah" ucap Kaelan
"Adat di sini nak, kalau Tirta pergi dari sini, dia bisa mengejar cita citanya tapi pastinya nyawanya juga terancam" jawab Jamal
"Hanya Tirta dan kamu yang di kampung ini punya pendidikan tinggi, kamu sudah lulus kuliah dengan bantuan pak Sagara dari kota dan Tirta lulus SMP" ucap Jamal
"Harusnya Tirta lanjut SMA, Mbah Wisnu kan pasti bisa mengatur rencana supaya anaknya itu bisa keluar dari kampung untuk sekolah" ucap Kaelan
"Ada caranya" celetuk Saidah
"Bagaimana Bu?" tanya Kaelan
"Tinggal gendong Kalingga, nanti Tirta akan di anggap terkena sial dan harus pergi dari kampung ini selama tiga tahun untuk membuang sial, pas itu untuk sekolah SMA" jawab Saidah membuat Jamal dan Kaelan saling tatap dengan pikiran masing-masing.
"Oek... Oek... Oek..."
"Kalingga kenapa? mau susu?" tanya Kaelan menghampiri Kalingga yang tadinya anteng tapi tiba tiba menangis.
"Ada kuyang itu di luar kang..." ucap Maryani
"Kenapa nak" ucap Kaelan yang sama sekali tidak mendengar ucapan Maryani.
Kalingga terus menangis kencang, Kaelan bahkan sampai harus membawanya ke kamar dan menggendong Kalingga dengan kain pemberian Liam, kain yang terbuat dari serat rambut Sahara, kain itu berwarna hitam dan itu di dapatkan Liam setelah Sahara menutupinya karena Liam terluka parah saat peperangan gaib terjadi sepuluh tahun lalu.
"Tenang ya nak, ada ayah di sini" bujuk Kaelan
"Aku akan usir kuyang itu kang, kamu jaga anak kita" ucap Maryani pergi dari sana.
"Kenapa tadi aku seperti melihat Maryani keluar kamar ini ya" gumam Kaelan mengucek matanya.
"Pakaiannya sama seperti pakaian Maryani saat di kuburan, pakaian yang dulu aku belikan untuk hadiah tapi Maryani keburu hamil, kata ibu di berikan pada Kinanti" gumam Kaelan
Di luar, Salbiah sedang bersila tepat di samping rumah Jamal yang terlihat sepi, dia menanamkan sebuah bungkusan putih ke dalam tanah dan kembali menutupnya dengan sebuah bacaan mantra.
"Hei kuyang! jangan ganggu suami dan putriku!" bentak Maryani
"Cih.. arwah lemah, kamu saja masih di penuhi dengan energi si Malak, bagaimana kamu akan melawan ku hah! tidak akan ada yang bisa melihat kamu ataupun mendengar kamu di tempat ini, hanya kami bangsa jin dan setan yang bisa melihat kamu!" sinis Salbiah berdiri.
"Aku tidak lemah kuyang, kamu tidak tahu bagaimana aku bisa bangkit kan? aku di berikan kemampuan oleh Mbah Abidin dan pastinya aku tidaklah lemah, aku pasti akan mengusir kamu dari tempat ini!" bentak Maryani
"Siapa Abidin? aku tidak pernah dengar nama itu" gumam Salbiah karena setahunya kantil itu hanya milik penjaga hutan larangan.
"Karso..." bisik suara sosok yang sekarang berdiri di belakang Salbiah, membuat Salbiah terkejut dan menoleh ke arah belakang.