Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara takut, rindu dan penyesalan
Nadia pulang kerja pukul sepuluh malam. Dia terkejut saat melihat Laura menangis terisak memeluk lutut di depan tv.
"Ra, lo kenapa!" Nadia berlari mengejar Laura.
Laura mendongak, air matanya masih terus mengalir. Dia tampak berantakan. Bola matanya merah, pelupuk matanya bengkak.
"Beb, lo kenapa?" tanya Nadia lembut. "Jangan seperti ini. Lo gak sendirian kok. Gue di sini..." Nadia memeluk tubuh itu.
"Dia datang lagi, Nad. Dia datang ke sini... Gue gak tau dari mana dia tahu alamat rumah kita. Gue takut, Nad..." ucapnya sambil terisak.
Nadia mengangguk pelan, memeluk Laura erat sambil menunggu Laura menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini hingga sampai menangis seperti ini.
"Tadi... tadi dia paksa gue untuk ngobrol sama dia. Terus..."
Laura menceritakan semuanya, Nadia mendengar tanpa memberi komentar apapun.
"Gue lihat matanya langsung, Nad. Gue dengar suara gemetarnya waktu dia minta maaf. Tapi gue takut.... Gue belum siap untuk membuka kembali hati gue buat ngasih dia kesempatan memperbaiki semuanya. Gue masih belum bisa seutuhnya percaya sama dia..."
Pelukan dan tepukan pelan Nadia di punggungnya membuat Laura merasa perlahan semakin tenang.
"Nad, gue harus gimana? Gue takut... tapi, jujur di lubuk hati gue yang paling dalam, gue... gue rindu dia, Nad...."
Tangisnya kembali pecah. Kenangan masa-masa indah itu membuat Laura semakin merindukan Rio. Tapi bayangan betapa bejatnya perlakuan Rio pada banyak wanita seakan menepis rasa rindu itu.
"Apa boleh gue ngasih dia kesempatan lagi?!" lirih Laura yang mencoba bertarung dengan rasa rindu dan takut.
Nadia melepaskan pelukan, memegang kedua bahu Laura dan menatapnya tepat di bola mata yang masih penuh genangan air itu.
"Ra, lo tau gue gak punya pengalaman sama sekali tentang hal seperti ini. Tapi, kalau lo mau dengar sudut pandang gue sebagai seseorang yang sayang sama lo, gue rasa mungkin lo bisa ngasih dia kesempatan. Bukan buru-buru buka hati, tapi perlahan-lahan sambil melihat dan mendengar apakah dia benar-benar tulus karena mencintai lo, atau hanya sekedar ingin menembus rasa bersalah yang menghantuinya selama ini." tutur Nadia tenang.
"Tentang dia yang playboy, suka main perempuan, jujur kalau gue diposisi lo, gue gak akan bisa percaya lagi sama laki-laki seperti itu. Tapi, manusia mungkin bisa berubah." Sebentar Nadia menghela napas. Tatapannya lembut menatap wajah kacau Laura.
"Mungkin gak ada salahnya memberi kesempatan untuk dia sekedar menjelaskan tentang apa yang terjadi di masa lalu. Kalau lo gak berani bicara sama dia sendiri, gue akan temani lo." Nadia tersenyum lembut seakan memberitahu Laura kalau dia akan selalu ada buat Laura.
"Beb... Makasih karena lo gak nge judge gue. Terimakasih lo mau dengerin cerita gue, terimakasih karena lo selalu ada buat gue." ucapnya sambil terisak.
Nadia tersenyum, jari-jemarinya menyeka sisa-sisa air mata di wajah Laura. Gue gak seberuntung lo, Ra. Sebesar apapun masalah yang ada di hidup lo, setidaknya lo masih punya rumah yang nyaman tempat lo pulang. Dan gue, gue akan menjadi salah satu orang yang bisa buat lo merasa nyaman. Terimakasih juga, Ra. Lo salah satu orang yang membantu gue untuk tetap bertahan di dunia ini.
Laura menghela napas, tangannya meraih tangan Nadia yang masih menyapu sisa air mata di wajahnya. "Beb, kalau ada masalah apapun itu, lo juga boleh kok cerita sama gue."
Nadia tersenyum lagi. "Terimakasih, beb. Untuk sekarang, gue gak punya hal apapun untuk diceritakan. Dan yang pasti, lo jangan buru-buru untuk memutuskan sesuatu. Lo juga harus tau , gue akan selalu support apapun itu keputusan lo."
"Beb... lo selalu ada disaat saat gue terpuruk seperti ini. Thanks, sekali lagi makasih banyak. Gue sayang lo beb..."
"Lo juga selalu ada di samping gue saat gue melewati masa masa tersulit gue, Ra. Makasih..."
Mereka berpelukan saling menguatkan dalam suasana hati yang hampir hancur berantakan.
...>~<...
Tidak jauh berbeda dengan Laura, Rio juga hancur dan kacau saat ini. Bedanya, Rio melampiaskan semuanya dengan minum-minum.
"Bro, udah stop! Lo udah minum terlalu banyak." Kevin mencoba menghentikan Rio.
"Diam! Lo diam. Lo gak tau apa-apa tentang hidup gue. Lo gak pernah ngerasain apa yang gue rasa..."
Kening Kevin mengkerut, kepalanya menggeleng geleng prihatin melihat sahabatnya yang sedang dalam keadaan kacau itu.
"Gue benar-benar brengsek! Gue gak bisa maafin diri gue sendiri atas apa yang udah gue lakuin ke Laura. Gue bajingan..." Rio memukul mukul dadanya dan kepalanya sendiri.
Kevin menarik kedua tangan Rio, memegangnya kuat. "Stop! Lo gak bisa nyakitin diri sendiri seperti ini!"
Rio menarik kuat tangannya dari genggaman Kevin, lalu meminta barista mengisi gelasnya lagi, dia minum hingga isi gelas itu habis.
"Gue... gue nyesel nyentuh dia saat itu, gue menghancurkan dia, lalu gue menghilang gitu aja. Dia pasti sangat ketakutan waktu itu... Tapi sumpah, gue gak bermaksud menghilang atau pergi dari dia..." mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang basah oleh keringat.
"Lo harus tau... gue nyentuh dia atas dasar cinta. Gue cinta sama dia, bro. Gue cinta Laura!"
"Ya gue percaya lo cinta sama La... Laura. Lo gak pernah nyesel menyentuh wanita manapun. Jadi, kalau sampai lo merasa menyesal, itu artinya lo cinta. Gue paham sekarang. But, come on man. Hidup ini masih harus berlanjut. Sekarang bukan saatnya lo mabuk-mabukan seperti ini. Lo harusnya kejar dia, minta maaf sama dia, akui kesalahan lo sama dia. Buktiin kalau lo serius kali ini!"
"Gue udah ngelakuin itu. Gue udah minta maaf, tapi lo tau apa yang gue dengar dan lihat...." menunjuk tepat di wajah Kevin dengan telunjuknya yang bergerak kesana kemari berputar di depan wajah Kevin. "Dia, dia gemetar ketakutan saat melihat gue. Dia bukan hanya benci sama gue, tapi dia juga takut sama gue! So, gue harus gimana?!"
"Come on, man. Try again and again and again. Gue support lo. Sean juga janji mau bantu lo, kan!" ucap Jon memberi semangat sambil menepuk nepuk bahu Rio.
"Tapi, apa gue masih bisa mendapat maaf dari dia! Apa gue pantas?!"
"Jangan putus asa dulu. Ini bukan Rio yang gue kenal. Rio yang sesungguhnya adalah Rio yang pantang menyerah. Wake up man, wake up!"
Mendengar kalimat barusan membuat Rio menjadi lebih tenang dan terharu hingga meneteskan air mata sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
"Bertahun-tahun kita temanan, baru kali ini gue lihat seorang Rio sehancur ini." gumam Kevin menatap wajah tak sadarkan diri itu.
Bersambung...