NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 – Bima

“Terus! Terus! Terus!” seorang pria berperut buncit yang naik motor tanpa helm, mengarahkan Pak Mardi yang mengendarai mobil dengan perlahan ketika  melewati belokan tajam sekaligus papasan dengan mobil dari arah lain.

“Kiri jauh, Pak!’ kataku sambil menempelkan jidat ke jendela, melihat apakah selokan di sebelah kiri masih jauh dan tiang listrik tidak mengenai bemper belakang mobil putih pertama yang aku beli dengan uang sendiri ini. “Kiri jauh, Pak!”

Setelah akhirnya bisa keluar dari gang, aku dan pak Mardi bernapas lega.

“Den, kalau bisa, lain kali ke sini, bawa mobil kecil aja,” sahut Pak Mardi yang sekarang duduk sudah dengan posisi rileks.

Aku cuma bisa terkekeh.

Ponselku berdering, aku menghela napas melihat nama yang meneleponku di layar. Mutia. Mau ngapain lagi sih dia?

“Nggak diangkat teleponnya, Den?” tanya Pak Mardi.

“Nggak penting, Pak,” kataku sambil mengecilkan suara dering teleponku.

Tak lama kemudian, ponselku berdering lagi, kali ini telepon dari ibuku. Aku langsung mengangkatnya, “Halo, bu?”

“Kamu di mana?”

“Di jalan.”

“Di jalan mana?”

“Di jalan Jakarta lah…,” kataku sambil berusaha nyari alasan.

“Udah jam berapa ini? Orang-orang udah pada dateng, kok kamu belum dateng sih?”

“Sori, aku tadi ada meeting, Bu.”

“Ya udah, ditunggu, mau tiup lilin!” kata ibuku lalu memutuskan sambungan telepon.

“Kita langsung ke resto kids kids, Den?” tanya Pak Mardi.

“Iya,” tapi aku langsung teringat belum bawa kado. “Eh! Jangan, kita mampir dulu ke raja mainan! Aku lupa beli kado!”

“Siap, Den.”

Pak Mardi memutar arah mobil, lalu kami bergegas ke sebuah mall terdekat. Aku turun dari mobil, lari ke toko mainan, lalu mencari mainan terdekat, membeli dan membungkusnya, lalu bergegas kembali ke mobil. Ibu berkali-kali meneleponku, mengirimkan pesan berkali-kali, menanyakan kenapa belum datang juga.

Aku tidak menjawabnya, hanya bisa menyuruh Pak Mardi agak sedikit ngebut agar bisa segera sampai di restoran. Untungnya, masih keburu. Aku datang tepat ketika keponakanku, Keiza yang baru berusia 7 tahun sedang bersiap tiup lilin. Adiknya Arkan dipeluk oleh kakak iparku, Olivia, karena ingin mengganggu Keiza.

Aku melambaikan tangan sambil mengangkat kado pada ibuku yang berdiri di sebelah kakak sepupuku, Mas Jarga yang berdiri di belakang Keiza. Tapi ada sosok yang bikin aku kaget. Aku berusaha tersenyum pada Mutia yang berdiri di sebelah adik sepupuku. Dia mengedipkan mata padaku.

Kenapa putri duyung empang lele ada di sini sih? Tanyaku dalam hati.

Aku berpura-pura ramah dan mengikuti acara. Semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lalu diakhiri dengan Keiza meniup lilin. Satu persatu memberikan kado pada Keiza. Keiza dan Arkan langsung sibuk membuka kado, sementara Mutia mendekatiku.

“Tadi meeting apa, Mas?” tanyanya dengan suara yang terdengar manja buatan.

“Biasa,” kataku tersenyum.

“Film apa iklan?”

“Ya, antara itu lah.”

“Mas, liat deh tangan aku,” dia menunjukkan lengan kanannya yang seperti kena baret. “Kemarin kan Pop Mart ngeluarin karakter baru. Aku antri tuh dari pagi, tapi ada orang yang nyelak aku. Aku marah dong, aku serobot lagi. Eh malah aku yang disalahin, terus aku di dorong sampe jatuh!”

“Oh.” Bodo amat, kataku dalam hati.

“Akhirnya aku cuma dapet ini!” katanya sambil menunjukkan boneka hasil pernikahan genderuwo dan kelinci itu.

“Oh, bagus itu,” kataku mencoba ramah.

“Masa? Ini bagus ya?”

“Iya, bagus aja sih.”

“Syukur deh, kalau kamu suka.” Mutia membuka gantungan boneka yang ada di tas kecilnya itu, lalu memberikannya padaku, “Aku sebenernya beliin buat kamu loh! Aku rela tangan aku baret, demi kamu!”

“Oooh, makasih. Baik banget!” anjir lah, buat apa boneka genderuwo imut ini? tanyaku dalam hati.

Dari kejauhan, ibuku tersenyum melihat aku ngobrol dengan Mutia. Aku tahu dia pasti yang mengundang barbie imitasi ini ke acara keluarga.

“Eh, sori, aku mau ngobrol sama ibuku dulu,” kataku sambil melangkah pergi menjauhinya. Sambil masih memegang boneka genderuwo sok imut itu, aku mendekati ibuku, “Bu, ngapain sih ngundang dia?”

“Kamu tadi kenapa telat?” Ibu malah bertanya yang lain.

“Aku ada meeting.”

“Kan ibu udah bilang sama Celsi, kosongin hari ini, karena Keiza ulang tahun!”

Aku terdiam. Nggak mungkin aku ngomongin Naya sekarang.

“Kamu pasti beli kadonya buru-buru kan?” tanya ibuku sambil menyuruhku melihat Keiza membuka kado dari ku. Sebuah tas anak-anak warna pink gambar little poni. “Keiza kan udah nggak suka little poni,” katanya lagi.

Keiza tampak membiarkan tas yang aku beli tergeletak di lantai, sementara dia fokus ke boneka Elsa.

“Kamu tuh jangan terlalu sibuk, lah,” ibuku mengajakku jalan ke belakang restoran.

Sebuah taman dengan kolam ikan, yang sepi. Mungkin restoran itu sudah disewa oleh Mas Jarga, pikirku.

“Ibu tahu, karir kamu lagi bagus. Ibu juga seneng kok, tapi inget sama diri kamu sendiri. Apa rencana kamu, kamu bener nggak mau menikah?”

“Ya mau lah.”

“Ibu udah dikasih tau sama Mas Jarga, kalau emang kamu memutuskan nggak mau menikah. Ya nggak usah dipaksa.”

“Tapi kok ibu malah jodohin aku sama Mutia,” kataku kesal.

“Ya udah, kalau emang nggak jodoh sama Mutia, ya udah. Ibu ngalah. Tapi ibu pengen kamu mikirin, harta kamu ini mau diapain, apa mau bikin yayasan, atau apa, jangan didiemin, jadiin investasi untuk bekal kamu di akhirat.”

Sejak kecil, ibuku selalu mengajarkan aku untuk berpegangan teguh pada agama. Meski anak-anaknya tidak ada yang pakai kerudung, karena kedua anaknya laki-laki semua, maksudnya menantunya juga nggak ada yang pakai kerudung, tapi ibuku selalu mengingatkan bahwa agama adalah nomor satu.

“Sebenernya…,” aku tidak mau memberitahukan soal Naya, takut ibuku berharap penuh, tapi sepertinya daripada aku dipaksa dengan Mutia, dan lagi pula Naya sudah mengatakan iya, aku harus memberitahunya.

“Apa?” tanyanya.

“Ada seseorang yang sedang aku ajak serius.”

“Oh ya!” mata ibuku langsung membesar berbinar terang seperti mutiara yang menyinari dasar lautan. “Siapa?”

“Aku udah ketemu sama orang tuanya, kami juga udah merasa cocok.”

“Kok ibu nggak dikenalin!” ibu meremas lenganku dengan kencang.

“Iya, mau. Ini makanya mau nanya, kapan ibu bisa ada waktu buat ketemuan sama dia?”

“Ibu bisa kapan aja! Kalau mau sekarang, hayu! Siapa namanya? Kenapa nggak kamu ajak ke sini? Biar kenalan sekalian sama kakak dan adik kamu!”

“Iya, masih nyari jadwal juga, Bu.”

“Siapa namanya?” tanya ibu dengan tegas.

Begitu aku mau memberitahukan namanya, Mutia datang, “Tanteee, ini kue viral yang aku bawa enak banget, udah cobain belum?”

“Tante nggak boleh makan manis-manis!” jawab ibuku menghindari Mutia.

“Kalau gitu, kamu aja, cobain deh!” Mutia menyendokkan kue coklat, lalu menyodorkannya padaku agar aku menerima suapannya.

Aku terpaksa menerima suapannya sambil menatap ibuku dengan kesal.

--

Pulang dari acara itu, aku masuk ke kamar lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon Naya.

Terdengar dua dering sebelum Naya mengangkat teleponnya.

“Halo?” tanya Naya.

“Sori, udah tidur?”

“Kalau aku udah tidur, berarti sekarang aku lagi ngigo dong?”

Aku terkekeh, senang dengan selera humornya. “Iya juga ya.”

“Ada apa?”

“Aku udah bilang sama ibu soal kita. Kamu bisa kapan ketemu sama ibu?”

Naya terdiam.

“Ya udah, coba dipikirin dulu aja. Nanti kabarin aku, kalau kamu udah bisa,” kataku tidak mau memaksa.

“Oke,” jawabnya singkat.

“Selamat tidur.”

“Iya.”

Lalu aku memutuskan sambungan telepon. Mandi, ganti baju, mengambil novel dan bersiap tidur. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku.

Naya    : Maaf, mungkin aku belum bisa ketemu ibu kamu. Aku masih mau memikirkan semua ini.

Bima    : Maksudnya apa?

Tidak ada jawaban.

Aku telepon Naya, tapi tidak diangkat.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!