Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Terakhir Sebelum Badai
Episode 15
Fajar menyingsing di atas Kota Azure, namun cahayanya terasa redup, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang menggantung rendah seolah-olah langit sendiri sedang menahan napas. Suasana di dalam Paviliun Seribu Harta jauh dari kata tenang. Meskipun aula bawah telah dibersihkan dari puing-puing pertarungan kemarin, sisa-sisa ketegangan masih tertinggal di setiap sudut ruangan.
Gu Sheng duduk di meja kayu cendana di ruang makan pribadi lantai tiga. Di depannya, tersaji sebuah "Perjamuan Rohani" yang luar biasa mewah, hidangan yang biasanya hanya disajikan untuk para kaisar atau pemimpin sekte besar. Ada semangkuk Bubur Sumsum Naga Darah, tumis Jamur Giok Seribu Tahun, dan botol porselen berisi Arak Embun Surgawi.
Setiap hidangan ini mengandung energi spiritual yang sangat padat. Bagi praktisi biasa, memakan semua ini sekaligus bisa menyebabkan tubuh mereka meledak karena kelebihan energi. Namun bagi Gu Sheng, ini hanyalah bahan bakar yang sangat ia butuhkan setelah melewati proses mati suri untuk membuka Gerbang Kedua.
Gu Sheng mengangkat sendoknya dengan gerakan yang sangat tenang. Setiap kali ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ia tidak hanya mengunyah secara fisik. Di dalam perutnya, Dantian Penelan Langit langsung bereaksi. Begitu makanan itu menyentuh kerongkongannya, sebuah daya hisap yang tak terlihat segera menarik seluruh esensi energi spiritual dari makanan tersebut, meninggalkan ampasnya yang tak berguna untuk dihancurkan secara instan.
Wush!
Setiap suapan Bubur Sumsum Naga Darah mengirimkan gelombang panas yang merambat ke seluruh pembuluh darahnya. Gu Sheng bisa merasakan Qi hitamnya yang pekat melahap energi merah dari sumsum naga tersebut, memperkuat kepadatan ototnya yang sudah sekeras baja.
“Makanlah yang banyak, bocah,” suara Kaisar Iblis terdengar puas, hampir seperti seekor predator yang sedang melihat anaknya belajar berburu. “Gerbang Kedua (Xiu Men) telah memperluas kapasitas regenerasimu, tapi itu juga berarti kau membutuhkan sepuluh kali lipat nutrisi dari manusia biasa. Jika kau masuk ke arena dalam keadaan lapar, Dantian-mu mungkin akan mulai memakan umurmu sendiri sebagai gantinya.”
Gu Sheng tidak menjawab, namun kecepatan makannya sedikit meningkat. Ia menghabiskan seluruh perjamuan itu dalam waktu kurang dari lima belas menit. Setelah selesai, ia mengembuskan napas panjang yang mengeluarkan uap putih tebal, tanda bahwa tubuhnya telah mencapai titik saturasi energi yang sempurna.
"Tuan Muda Gu... apakah makanannya sesuai selera?"
Su Mei berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah sutra hitam dengan bordiran emas yang elegan. Ia menatap meja yang kini kosong bersih dengan tatapan tak percaya. Perjamuan itu bernilai ribuan batu energi, cukup untuk menghidupi sepuluh keluarga bangsawan selama setahun, dan Gu Sheng menghabiskannya seolah-olah itu hanya camilan ringan.
"Terima kasih, Su Mei. Ini cukup untuk menenangkan Dantian-ku sementara waktu," ucap Gu Sheng sambil berdiri.
Ia berjalan menuju sudut ruangan di mana pedang Penebas Dosa bersandar. Saat tangannya menyentuh gagang pedang yang kasar, sebuah getaran rendah yang dalam merambat dari besi hitam itu ke lengannya. Pedang itu seolah-olah ikut merasakan gejolak energi di dalam tubuh Gu Sheng.
"Qing Er... di mana dia?" tanya Gu Sheng.
"Dia sedang berlatih di balkon belakang," jawab Su Mei, matanya sedikit menyipit penuh selidik. "Gu Sheng... pelayanmu itu benar-benar aneh. Sejak kau membuka gerbang meditasimu tadi malam, ia mulai memancarkan panas yang begitu kuat. Bunga-bunga di balkon paviliun semuanya mekar secara tidak wajar, seolah-olah mereka sedang menyembah matahari kecil."
Gu Sheng berjalan menuju balkon belakang. Di sana, ia melihat Qing Er sedang duduk bersila di tengah kepulan uap panas yang samar. Di sekelilingnya, kelopak bunga teratai merah di dalam kolam buatan paviliun terbuka lebar, memancarkan aroma harum yang sangat kuat.
Meskipun Qing Er hanya berada di tingkat kedua Body Tempering, aura yang ia pancarkan memiliki kualitas yang sangat murni, sebuah energi kuno yang terasa sangat mulia namun mematikan.
"Qing Er," panggil Gu Sheng lembut.
Gadis itu membuka matanya, dan untuk sekejap, kilatan api emas muncul di pupilnya sebelum kembali menjadi abu-abu jernih. "Tuan Muda! Anda sudah selesai?"
Qing Er segera bangkit dan berlari kecil menuju Gu Sheng. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak uap hangat di lantai kayu. "Qing Er merasa... sangat kuat hari ini. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam dada saya."
Gu Sheng meletakkan tangannya di bahu Qing Er, merasakan panas yang menyengat namun tidak membahayakan dirinya. "Itu adalah tanda bahwa Garis Keturunan Phoenix-mu mulai merespons energi di sekitarmu. Kota Azure saat ini sedang dipenuhi oleh niat membunuh yang pekat, dan Phoenix adalah makhluk yang peka terhadap gejolak emosi."
Gu Sheng menatap mata Qing Er dengan serius. "Mulai saat ini, kau harus tetap berada di samping Su Mei. Jangan pernah menunjukkan kekuatanmu di arena nanti, kecuali jika nyawamu benar-benar terancam. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan Muda," jawab Qing Er patuh, meskipun ada sedikit kekecewaan di matanya karena ia ingin membantu Gu Sheng bertarung.
Su Mei yang berdiri di belakang mereka berdehem pelan. "Gu Sheng, ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum kita berangkat ke Arena Utama. Walikota Kota Azure, Tuan Mu Chen, telah mengumumkan bahwa pemenang turnamen tahun ini tidak hanya akan mendapatkan gelar 'Jenius Nomor Satu', tetapi juga akan mendapatkan akses ke Kolam Rohani Leluhur."
Mata Gu Sheng berkilat. "Kolam Rohani Leluhur? Bukankah itu adalah tempat suci Keluarga Gu yang dicuri oleh Keluarga Mu sebulan yang lalu?"
"Tepat," Su Mei mengangguk serius. "Mu Chen menggunakan harta milik keluargamu sebagai umpan untuk menarik semua praktisi dari kota-kota sekitar. Dia ingin merayakan kemenangan putrinya, Mu Ruoxue, di atas penderitaan keluargamu. Ini adalah penghinaan yang disengaja."
Gu Sheng mengepalkan tangannya hingga Penebas Dosa di punggungnya berdenging keras. "Dia ingin pamer? Bagus. Aku akan memastikan kolam rohani itu dipenuhi oleh darah mereka sendiri."
Sementara itu, di pusat Kota Azure, suasana sudah sangat ramai. Arena Utama, sebuah stadion batu raksasa yang mampu menampung sepuluh ribu orang, telah dipenuhi oleh lautan manusia. Bendera-bendera dari berbagai keluarga besar dan sekte kecil berkibar tertiup angin kencang.
Di kursi kehormatan tertinggi, Mu Chen duduk dengan angkuh. Di sampingnya, Mu Ruoxue mengenakan gaun putih yang mempesona, wajahnya tampak suci seperti dewi yang turun dari langit. Di belakang mereka, Lin Tian dan Senior Zhao dari Sekte Pedang Langit berdiri dengan tatapan meremehkan ke arah kerumunan di bawah.
"Ayah, apakah kau yakin Gu Sheng akan datang?" bisik Mu Ruoxue, tangannya tanpa sadar meremas ujung gaunnya.
Meskipun ia telah mencapai tingkat Spirit Sea tingkat pertama berkat Tulang Dewa, rasa tidak nyaman di dadanya semakin menjadi-jadi setiap kali ia memikirkan nama Gu Sheng. Tulang itu seolah-olah sedang meronta, mencoba melepaskan diri dari tubuhnya.
"Dia pasti datang," jawab Mu Chen dengan nada dingin. "Orang seperti dia memiliki kesombongan yang bodoh di dalam darahnya. Dia ingin membalas dendam secara publik, dan itu adalah kesalahan terbesarnya. Di sini, di depan ribuan saksi, kita akan menghancurkannya secara hukum, agar tidak ada lagi yang berani mempertanyakan keabsahan Keluarga Mu sebagai penguasa baru."
Tiba-tiba, suara trompet raksasa ditiup, menandakan dimulainya upacara pembukaan.
"Turnamen Tahunan Kota Azure... DIMULAI!" teriak pembawa acara dengan suara yang diperkuat oleh energi Qi.
Kerumunan bersorak gempita, namun sorakan itu tiba-tiba terhenti secara bertahap dari arah gerbang masuk stadion. Sebuah kesunyian yang aneh merambat masuk, diikuti oleh rasa dingin yang tidak masuk akal yang membuat orang-orang merapatkan jubah mereka.
Di gerbang utama arena, seorang pemuda berjalan sendirian.
Ia mengenakan jubah hitam legam yang kontras dengan suasana pesta di sekelilingnya. Rambut hitamnya yang panjang tergerai bebas, menutupi sebagian wajahnya yang dingin dan tanpa emosi. Di punggungnya, sebuah pedang raksasa hitam yang dibungkus kain kasar tampak memberikan tekanan visual yang luar biasa.
Setiap langkah yang diambil pemuda itu menghasilkan suara tak yang rendah namun bergema di seluruh stadion. Yang paling mengerikan adalah auranya, sebuah kabut hitam tipis yang merayap di tanah di sekeliling kakinya, seolah-olah bayangan di bawah kakinya sedang hidup dan ingin menelan segala sesuatu di jalurnya.
Gu Sheng.
Ia tidak memandang ke arah penonton. Matanya yang merah darah tertuju lurus ke arah kursi kehormatan, tepat ke arah mata Mu Ruoxue yang kini membelalak ketakutan.
“Bocah... lihatlah mangsamu,” Kaisar Iblis berbisik dengan nada haus darah yang tak tertahankan. “Dantian-mu sudah mulai berteriak. Mereka semua adalah nutrisi. Mereka semua adalah persembahan untuk kenaikan takhtamu.”
Gu Sheng berhenti di tengah arena, di bawah sorotan ribuan pasang mata yang tertegun. Ia melepaskan ikat pinggang jubah luarnya, membiarkannya jatuh ke tanah, memperlihatkan pakaian tempur ketat yang menonjolkan otot-ototnya yang sekeras baja.
Ia meraih gagang Penebas Dosa di punggungnya, menariknya keluar dengan suara dentuman logam yang membuat stadion bergetar.
"Aku, Gu Sheng," suaranya tidak keras, namun berkat kekuatan Gerbang Pertama (Kai Men), suaranya terdengar jelas di telinga setiap orang di stadion tersebut.
"Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kalian curi, dan untuk membasuh pengkhianatan kalian dengan sungai darah. Siapa pun yang bernaung di bawah bendera Keluarga Mu... silakan turun ke sini dan temui kematian kalian."
Tantangan itu dilemparkan secara terbuka. Kota Azure tidak pernah menyaksikan keberanian yang begitu gila. Dan saat itu juga, badai yang sesungguhnya meledak.