Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
***
Jakarta gempar. Dalam satu malam yang berdarah di bursa saham dan meja hijau, dua imperium raksasa Raditya Group dan Gunawan Logistics runtuh seolah dihantam badai kiamat. Bukti-bukti kecurangan pajak, penyelundupan, dan manipulasi pasar modal yang dikumpulkan Baskara melalui tangan Mayang bocor ke publik dengan presisi yang mematikan. Aris Raditya kini mendekam di balik jeruji besi menunggu persidangan, sementara Gunawan terpaksa melarikan diri ke luar negeri dengan sisa harta yang dibekukan.
Namun, Baskara tidak berhenti di sana. Pria itu kini berdiri di tengah ruang tamu penthouse Mega Kuningan, memegang sebotol sampanye mahal dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan. Di depannya, monitor besar menampilkan berita tentang kejatuhan dua monster yang dulu menyewa rahim istrinya.
"Selesai, Mayang. Semuanya sudah berada di telapak kakiku," ujar Baskara dengan nada bangga.
Mayang, yang kini duduk di sofa dengan perut yang sudah sangat besar dan kencang, menatap pria itu dengan pandangan hancur. "Di mana anak-anakku, Baskara? Kau berjanji tidak akan menyentuh mereka."
Baskara menoleh, tawanya pecah memenuhi ruangan. "Anak-anak itu? Mereka sudah aman, Istriku. Aku sudah mengirim mereka ke sebuah asrama terpencil di Eropa Timur. Identitas mereka sudah kuhapus. Nama Raditya dan Gunawan tidak lagi melekat pada mereka. Sekarang, mereka hanyalah pion tak bernama yang tidak akan pernah bisa mengklaim harta kita."
Mayang mencoba bangkit, namun rasa nyeri yang tajam di perut bawahnya membuatnya kembali terduduk. "Kau... kau monster! Mereka masih kecil!"
"Aku hanya membersihkan jalan untuk anak kita yang sebenarnya, Mayang," desis Baskara sembari mendekat, mengusap perut Mayang dengan kasar. "Anak-anak itu adalah pengingat akan kehinaanmu. Aku tidak ingin mereka ada di sekitar kita saat aku memimpin kerajaan baru ini."
Terjebak dalam Sangkar yang Mengencang
Mayang menyadari bahwa rencananya untuk menggunakan alat perekam dan mengadu domba mereka telah gagal total. Baskara jauh lebih waspada. Pria itu telah menemukan alat perekam rahasia Mayang berminggu-minggu yang lalu dan menggunakannya sebagai bahan bakar tambahan untuk memeras Aris dan Gunawan hingga tetes terakhir.
Mayang kini benar-benar sendirian. Hartanya ada, namun di bawah kuasa Baskara. Namanya agung, namun ia adalah tahanan. Dan yang paling menyakitkan, rahimnya sekali lagi menjadi medan perang.
Malam itu, setelah merayakan kemenangannya, Baskara kembali menuntut haknya sebagai "suami". Tidak peduli bahwa kandungan Mayang sudah memasuki minggu ke-37, tidak peduli bahwa perut Mayang terasa sekeras batu karena kontraksi palsu yang terus-menerus datang.
"Baskara... kumohon, perutku sangat kencang. Rasanya seperti akan pecah," isak Mayang saat Baskara menarik daster sutranya.
"Ini adalah perayaan, Mayang! Aku ingin kau merasakan kekuatan pria yang telah mengalahkan tuan-tuanmu!" Baskara tidak memberi ampun. Ia memperlakukan Mayang seolah tubuh wanita itu tidak memiliki batas rasa sakit.
"Nghhh... ahhh! Sakit... Baskara, hentikan! Uhhh..." rintih Mayang. Setiap pergerakan Baskara terasa seperti menghujam janin di dalamnya. Mayang mencengkeram sprei, air matanya membasahi bantal. Di dalam benaknya, ia bertanya-tanya: Apakah ini semua karma?Apakah rasa sakit ini adalah balasan karena ia telah menjual rahimnya demi uang? Apakah kehilangan anak-anaknya adalah harga yang harus ia bayar karena ia menganggap mereka sebagai transaksi?
Dialog Keputusasaan dan Karma
Setelah badai nafsu itu mereda, Baskara meninggalkan Mayang yang terbaring lemah di atas ranjang. Mayang hanya bisa terdiam dalam kesakitan. Perutnya terasa sangat kencang, sebuah tekanan hebat mulai merayap di pinggang dan tulang panggulnya. Namun, belum ada tanda-tanda air ketuban pecah. Hanya rasa sakit yang statis dan menyiksa.
"Kenapa..." bisik Mayang pada kesunyian kamar. "Kenapa hidupku berakhir seperti ini?"
Baskara masuk kembali ke kamar, membawa secangkir air. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Mayang dengan tatapan dingin. "Kau tahu kenapa kau terjebak, Mayang? Karena kau pikir kau bisa menjadi monster di antara monster tanpa kehilangan jiwamu. Kau terlalu sombong dengan sebutan 'Nyonya M'."
"Kau yang menghancurkanku, Baskara," sahut Mayang parau.
"Bukan aku. Keserakahanmu sendiri yang melakukannya. Aku hanya memanen apa yang kau tanam," Baskara mengusap pelipis Mayang yang berkeringat. "Sekarang, bersiaplah. Dokter bilang bayimu sudah mulai turun. Aku sudah menyiapkan ruang persalinan di ruang bawah tanah menara ini. Aku ingin kau melahirkan secara normal, tanpa dokter yang campur tangan kecuali jika aku yang memintanya."
Mayang membelalakkan mata. "Kau gila! Aku bisa mati!"
"Kau tidak akan mati sebelum memberikan pewaris yang kuinginkan. Kau sudah berpengalaman, bukan? Kau mahakarya Aris dan Gunawan, sekarang saatnya kau menjadi mahakaryaku."
**
Keesokan harinya, Baskara benar-benar mengambil alih seluruh kantor pusat. Ia berjalan di lorong-lorong perusahaan dengan angkuh, sementara Mayang disembunyikan di lantai privat paling atas.
Mayang merasakan setiap jam yang berlalu sebagai siksaan. Kontraksi itu datang, hilang, lalu kembali dengan lebih hebat. Namun, Baskara justru senang melihat Mayang yang merintih kesakitan.
"Tuan Baskara," panggil salah satu asisten barunya. "Perwakilan investor menanyakan keberadaan Nyonya M."
"Katakan pada mereka Nyonya M sedang sibuk mempersiapkan 'proyek' paling besar dalam hidupnya," jawab Baskara dengan senyum penuh ambisi.
Di dalam kamar, Mayang mencoba merangkak menuju telepon, namun kabelnya sudah diputus. Ia mencoba berteriak, namun suaranya habis oleh rintihan. Ia menatap bayangannya di cermin—seorang wanita yang mengenakan berlian miliaran rupiah namun matanya menunjukkan kehampaan total.
"Anakku... maafkan ibu," bisik Mayang sembari mengelus perutnya yang tegang. Ia menyadari bahwa anak ini akan lahir ke dunia yang penuh dengan dendam ayahnya.
Mayang Puspita Sari, sang penguasa yang kini menjadi budak karma, menyadari bahwa ia telah membangun istananya di atas tanah yang rapuh. Ia mengira ia bisa mengendalikan monster, namun ia tidak menyadari bahwa ia telah menikahi raja dari segala monster.
Di tengah rasa mulas yang semakin mencekam, Mayang hanya bisa berharap. Bukan berharap akan harta atau kekuasaan lagi, melainkan berharap agar ia bisa bertahan hidup melalui persalinan yang akan datang—sebuah persalinan yang dirancang untuk menjadi panggung terakhir bagi ego Baskara.
"Rintihanku... kali ini benar-benar tidak akan gratis, Baskara," batin Mayang di tengah sisa-sisa kekuatannya. "Jika aku harus mati di tanganmu, aku akan memastikan kau ikut terbakar bersamaku."
Persiapan persalinan terakhir telah dimulai. Di puncak menara Mega Kuningan, di tengah ambisi yang meluap, Nyonya M bersiap menghadapi takdirnya yang paling berdarah.
****
Bersambung.....