Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: DI ANTARA TAHTA DAN CINTA
Pagi di kantor Hardianto Group selalu dimulai dengan kesibukan yang dingin dan teratur. Namun, bagi Larasati, udara di lantai eksekutif hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari marmer hitam, tergeletak sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim. Isinya bukan dokumen proyek, melainkan beberapa lembar foto hasil jepretan jarak jauh.
Foto-foto itu memperlihatkan dirinya yang sedang duduk di kedai kopi pinggir jalan bersama Baskara, tertawa kecil sambil menggenggam cangkir plastik sederhana. Ada juga foto saat mereka berjalan beriringan keluar dari pemakaman umum.
"Seseorang sedang mengawasiku, Adit," ucap Larasati pelan saat Aditama masuk ke ruangannya. Ia menggeser foto-foto itu ke arah sahabatnya.
Aditama mengambil foto tersebut, dahinya berkerut dalam. "Ini bukan sekadar penguntit biasa, Laras. Sudut pandangnya profesional. Dan lihat ini..." Aditama menunjuk salah satu foto yang memperlihatkan plat nomor mobil Larasati dengan sangat jelas. "Siapa pun yang melakukan ini, mereka ingin kamu tahu bahwa kamu sedang dalam jangkauan mereka."
"Apa ini ulah Tuan Kusuma?" tanya Larasati, merujuk pada komisaris utama yang paling vokal menentang hubungan pribadinya.
"Mungkin. Tapi Tuan Kusuma biasanya lebih suka menyerang langsung di ruang rapat, bukan main kucing-kucingan seperti ini," jawab Aditama skeptis. "Aku akan meminta tim keamanan untuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar rute perjalanannmu kemarin."
Larasati bersandar di kursi kebesarannya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Baru saja aku merasa udara sedikit lebih segar, badai lain sudah mengintai di cakrawala."
Siang harinya, Larasati dipanggil untuk menghadiri rapat mendadak dengan dewan komisaris. Ruang rapat itu terasa seperti pengadilan. Tuan Kusuma duduk di ujung meja, wajahnya yang penuh keriput tampak kaku seperti patung perunggu. Di sampingnya, beberapa pemegang saham lain berbisik-bisik sambil menatap Larasati dengan pandangan menghakimi.
"Larasati," suara Tuan Kusuma menggelegar, memutus keheningan. "Kami menghargai kinerjamu dalam memulihkan aset perusahaan. Namun, Hardianto Group bukan hanya soal angka. Ini soal kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu mulai goyah karena berita-berita yang mulai beredar di kalangan terbatas."
Tuan Kusuma melemparkan sebuah tablet ke tengah meja. Di sana, sebuah artikel blog anonim berjudul "Sang Ratu dan Mantan Musuh: Apakah Hardianto Group Akan Kembali ke Tangan Pengkhianat?" terpampang dengan foto Larasati dan Baskara sebagai latar belakang.
"Baskara sudah tidak memiliki kuasa apa pun di sini, Tuan Kusuma," tegas Larasati, suaranya tetap terkontrol meski hatinya mendidih. "Dia hanya seorang pria yang mencoba memulai hidupnya dari nol. Hubungan pribadiku tidak akan pernah memengaruhi kebijakan profesional perusahaan."
"Benarkah?" sela seorang komisaris lain dengan nada menyindir. "Lalu bagaimana dengan proyek sekolah di daerah terpencil yang dimenangkan oleh kontraktor kecil milik Baskara? Bukankah itu salah satu proyek CSR dari anak perusahaan kita? Apakah itu bukan bentuk nepotisme?"
Larasati tertegun. Ia benar-benar tidak tahu bahwa perusahaan Baskara memenangkan tender dari anak perusahaannya sendiri. "Aku tidak terlibat dalam proses tender itu. Semuanya dilakukan secara transparan melalui sistem."
"Publik tidak akan melihat transparansinya, Larasati. Mereka hanya melihat CEO yang sedang 'bermain api' dengan mantan suaminya yang keluarganya telah menghancurkan perusahaan ini," Tuan Kusuma berdiri, menatap Larasati dengan tatapan dingin. "Kami memberimu waktu dua minggu. Selesaikan urusan pribadimu, atau kami akan mempertimbangkan kembali posisi kepemimpinanmu dalam Rapat Umum Pemegang Saham mendatang. Jangan biarkan air mata masa lalu menenggelamkan kapal yang sudah susah payah kita selamatkan."
Larasati keluar dari ruang rapat dengan perasaan terhina. Ia merasa seolah-olah ia kembali menjadi Gendis yang tidak punya suara. Ia segera menghubungi Baskara.
"Kita perlu bicara. Di tempat yang aman," ucap Larasati singkat.
Mereka bertemu di sebuah taman kecil di pinggiran kota yang jarang dikunjungi orang. Baskara datang dengan kemeja proyeknya yang masih penuh noda debu. Begitu melihat wajah Larasati yang tegang, Baskara langsung mengerti.
"Masalah tender itu, kan?" tanya Baskara pelan.
Larasati menatapnya tajam. "Kenapa kamu mengambil proyek dari anak perusahaanku, Baskara? Kamu tahu itu akan menjadi peluru bagi musuh-musuhku di dewan komisaris."
Baskara menghela napas panjang, ia duduk di bangku taman yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk. "Laras, aku bersumpah, aku tidak tahu itu anak perusahaanmu. Nama perusahaannya berbeda, dan aku memenangkan tender itu karena penawaranku yang paling masuk akal untuk sekolah di pelosok. Aku butuh pekerjaan itu untuk membayar gaji kuli-kuliku, Laras. Aku tidak ingin meminta uang padamu."
Larasati terdiam. Ia melihat ketulusan di mata Baskara, namun ia juga melihat betapa rumitnya takdir menjerat mereka kembali.
"Mereka mengancam akan mencopotku jika aku terus bersamamu, Baskara," bisik Larasati. Suaranya bergetar. "Sepuluh tahun aku berjuang untuk saat ini. Untuk berdiri di atas gedung itu dan membersihkan nama Ayah. Tapi sekarang, mereka memintaku memilih antara warisan Ayah atau... kamu."
Baskara meraih tangan Larasati, menggenggamnya dengan jemari yang kasar namun penuh kehangatan. "Pilihlah perusahaanmu, Laras. Pilihlah Ayahmu."
Larasati mendongak, matanya berkaca-kaca. "Apa?"
"Aku sudah kehilangan segalanya, dan aku bisa bertahan. Tapi kamu... jika kamu kehilangan Hardianto Group, kamu akan kehilangan jati dirimu. Aku tidak ingin menjadi alasan kehancuranmu untuk kedua kalinya," ucap Baskara dengan nada suara yang penuh pengorbanan. "Aku akan membatalkan kontrak tender itu. Aku akan menjauh sementara waktu sampai posisimu stabil."
"Itu tidak adil bagimu, Baskara!"
"Hidup memang tidak pernah adil bagi kita, bukan?" Baskara tersenyum getir. "Siasat manis yang dulu kamu buat mengajarkanku satu hal: terkadang kita harus melepaskan sesuatu yang kita cintai demi tujuan yang lebih besar. Pergilah kembali ke atas sana, Laras. Jadilah ratu yang seharusnya. Aku akan tetap di sini, di bawah, memastikan fondasimu tidak goyah."
Di sudut lain kota, di sebuah rumah perawatan yang sepi, Maya sedang duduk di kursi goyang. Wajahnya tampak jauh lebih bersih, namun sorot matanya tetap kosong. Seorang perawat datang membawakan obat, namun Maya hanya menatap jendela.
Begitu perawat itu pergi, Maya merogoh saku gaunnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel kecil yang diselundupkan oleh salah satu pengunjung bayaran. Ia menekan sebuah nomor.
"Halo? Bagaimana reaksinya?" tanya Maya, suaranya terdengar seperti desisan ular.
"Tuan Kusuma sudah mulai bergerak, Nyonya. Larasati sedang terpojok," jawab suara pria di seberang telepon.
Maya tersenyum licik. Ternyata, selama di rehabilitasi, ia memiliki sekutu rahasia. Seseorang yang juga membenci keluarga Hardianto, seseorang yang ingin menguasai perusahaan itu dari tangan Larasati.
"Bagus. Terus kirimkan foto-foto mereka. Jika perlu, buat skenario seolah-olah mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan para pemegang saham lama. Aku ingin Larasati merasa kesepian di atas tahtanya. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang-orang yang dia percaya."
Maya mengusap bekas luka di lengannya—bekas luka dari insiden pisau dua tahun lalu. "Kamu pikir aku sudah kalah, Larasati? Kamu pikir dengan memenjarakan ayahku dan mengambil rumahku, aku akan berhenti? Kamu lupa satu hal... aku adalah wanita yang dibesarkan dalam dendam yang sama kuatnya denganmu. Jika aku tidak bisa memiliki Baskara, maka tidak ada satu orang pun yang boleh memilikinya. Terutama kamu."
Maya tertawa pelan, sebuah tawa yang memecah kesunyian kamar itu. Rencananya jauh lebih panjang dari sekadar skandal foto. Ia sedang menunggu saat yang tepat untuk melepaskan "bom" terakhir yang akan menghancurkan citra Larasati selamanya—sebuah rahasia tentang kematian ayah Larasati yang sebenarnya, yang bahkan Larasati sendiri belum ketahui.
Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras. Di kantornya, Larasati berdiri menatap hujan yang menghantam jendela kaca. Ia merasa sangat sendirian. Kemenangan yang ia raih terasa seperti penjara emas. Di tangannya, ia memegang cincin perak sederhana yang dulu pernah Baskara berikan saat mereka masih dalam pernikahan sandiwara.
"Apakah ini harga yang harus kubayar untuk sebuah keadilan, Ayah?" gumam Larasati.