Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kali ini, pagi ini, tiada tangis kesedihan dalam wajah Dewa. Senyum pria itu seolah menggambarkan rasa semangat dalam hidupnya bertambah. Seperti telah lama kehilangan sesuatu, namun apa yang dirinya cari telah di kembalikan pada tanganya.
Miranda masih tetap diam. Ia tak ingin mengganggu hal yang menurutnya sakral.
"Assalamualaikum, Mah...."
'Mah?' batin Miranda mengulangi kalimat Dewa. Wajahnya kini menegak, rasa penasaran semakin menjalar dalam dadanya.
Dewa melanjutkan. "Mah... Pagi ini Dewa merasa bahagia sekali. Dulu... Mungkin Mamah tahu, jika ucapan yang sering Dewa curahkan sama Mamah hanyalah harapan semata. Tapi, dalam ketidak sengajaan pagi ini... Dewa berhasil menuai dari kemustahilan itu. Mah...." Dewa mengusap nisan Ibu kandungnya. Lalu menatap Miranda sekilas. Dan bersamaan itu Miranda juga menoleh. Angin berhembus lirih, jilbab Miranda yang tertiup angin semakin menambah kecantikannya pagi ini.
"Dewa mengajak Miranda. Miranda adalah orang yang paling berjasa dalam kesembuhan mental Dewa. Dia yang sudah merawat Dewa dalam masa tersulit dulu. Setelah kami sempat terpisah, akhinya Allah mempertemukan kami kembali," lanjut Dewa.
Jika memang Wanita itu Ibunya Dewa? Lantas, siapa Majikannya dulu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Beberapa kalimat yang tercekat dalam ulu tahi Miranda, kini terpatahkan ketika Dewa membuka suara. "Miranda... Ini adalah makam Ibu kandung saya. Saya dan Ezar bukanlah putra kandung Mamah Ria. Tapi... Kenyataan itu masih menjadi rahasia bagi adik saya. Dan dari Mamah saya lah, saya masuk Islam."
Miranda syok mendengar penyataan itu. Jadi, selama ini Ezar tidak tahu siapa Ibu kandungnya? Ya Allah... Bagaimana sakitnya Ezat nanti jika tahu jika Ibu kandungnya sudah tiada.
"Mas Dewa nggak berniat untuk memberi tahu?"
Dewa tersenyum. Senyuman itu menjawab bagaimana percumanya ia menjelaskan sesuatu yang di anggap tabu oleh adiknya. "Kamu tahu saya 'kan? Saya pernah depresi, Miranda. Sangat mustahil dapat bicara kenyataan, jika selama ini mereka masih menganggap saya gila."
"Mas... Tapi masih ada Pak Baskara. Apa dulu Bapak tidak mengatakan hal itu?"
Dewa menatap sangat jauh. Semenjak menikah lagi, dirinya seakan telah kehilangan sosok hangat Ayahnya. "Papah semenjak menikah bukan lagi Papah yang masih bersama Mamah, Miranda. Semuanya sudah di kendalikan oleh wanita itu."
Miranda dapat memahaminya. Sebagai orang yang pernah dekat, dirinya juga tak lepas dari fitnahan keji Bu Ria. Apalagi keluarganya. Wanita tengah baya itu pasti akan berbuat segala cara untuk mengikat keluarganya.
"Oh ya, Mir? Kamu setelah ini akan kemana?"
Miranda tertunduk lesu. Ia menjawab. Suaranya rendah, ada rasa frustasi di balik setiap katanya. "Rencananya pagi ini saya akan bekerja kembali, Mas... Setelah sabtu lalu keluar dari kantor Mas Ezar karena semua tuduhan-tuduhannya. Tapi sebelum mulai bekerja, saya sudah di keluarkan karena fitnahan kekasih pria yang membantu mencarikan loker kemarin. Daripada pulang, mungkin setelah ini saya akan mencari kerjaan lagi."
Dewa tak sampai hati mendengar keluh kesah mantan perawatnya dulu. Setelah cukup berpikir matang, Dewa kembali menoleh. "Kebetulan, Mir! Ayo ikut saya. Nanti kamu pasti akan dapat kerjaan setelah ini."
Miranda agak mengernyit. Namun reflek saja, tanganya di tarik oleh Dewa sangat pelan. Miranda menatap sikap hangat itu. Ada perasaan tenang yang menyentuh hati kecilnya.
Motor Miranda mengikuti mobil Ezar dari belakang. Dalam kebingungannya pagi ini, dan semua kepalsuan yang silih berganti, Miranda masih dapat bersyukur di pertemukan Pria sebaik Dewa. Meskipun pria tampan itu mengalami depresi, tapi Dewa tidak menyakiti perawatnya. Hanya Miranda lah yang Dewa mau. Makan pun, jika tidak dengan Miranda, maka mustahil para pelayan membawa piring itu kembali dalam keadaan utuh.
Setelah kepergian Miranda, Depresi Dewa semakin memberat. Dan itulah cara Ria menghancurkan anak Kakaknya sendiri.
Drttt!!!
Gawai di atas jok sebelah Dewa bergetar. Pria itu segera menjamah, dan melihat nama sang Papah terpampang di sana.
"Hallo, Pah?"
"Hallo, Dewa... Dewa, kamu sekarang ada di mana, Nak? Tadi Mamah telfon katanya Dewa pergi ya? Dewa juga belum minum obat?" suara Pak Baskara sangat pelan. Nadanya rendah seakan tengah berkata dengan seorang anak kecil.
Dewa menghela napas panjang selalu dicari selayaknya anak yang tengah bermain lupa waktu. Bahkan, obat di kamarnya saja sudah membentuk gunung fuji. Rasanya lelah, namun mendengar suara sang Papah yang begitu menyanyanginya, Dewa menjadi kasihan.
"Pah, Dewa hanya main ke Perpustakaan kok. Nggak kemana-mana. Udah ya, Papah nggak usah khawatir. Oh ya, Papah sampai mana nih?"
Di sebrang, Pak Baskara tertegun mendengar suara putranya bagaikan orang normal pada umumnya. Ada perasaan bahagia membuncah dari hatinya yang paling dalam.
"Iya, Papah masih di Singapore, mungkin pukul 11 an baru sampe jakarta. Ya sudah... Anak Papah baik-baik ya. Jangan membuat keributan di tempat umum."
Panggilan akhirnya terputus. Dewa mendesah lirih, "Huh... Papah kira aku masih gila," ia sampai menggeleng lemah.
Dewa menatap kaca spion. Disana ia sangat kasian melihat Miranda harus mengikutinya, bawa motor sendiri.
Namun tak lama itu, mobil Dewa sen ke kanan dan segera berbelok. Miranda juga melakukan hal yang sama.
Star Book
Miranda terkagum melihat toko buku yang ia datangi dengan Dewa saat ini. Di tengan rasa kagumnya, perasaanya kembali mencuit. Toko buku? Mau apa mereka kesana?
"Mir, ayo masuk!"
Miranda mengangguk. Penuh semangat Dewa kembali menarik lenganya untuk segera di ajak masuk.
Di sana surganya buku-buku indah berjejer rapi. Pengunjung di suguhkan kisah-kisah inspiratif, romansa, drama, bahkan semua yang berkaitan dengan isi dunia sekalipun, dan di rapikan dalam kalimat indah menjadi sebuah bacaan segar.
Dewa memanggil seorang wanita muda yang sedang sibuk menata buku-buku. "Rahel...."
Gadis bernama Rahel itu mendekat. "Iya, Pak Dewa... Ada apa?"
Miranda semakin mengernyit tipis. Pak Dewa? Apa maksud semua ini.
"Rahel... Mulai sekarang, Mbak ini akan mulai bekerja disini. Dia akan bantu kalian bekerja. Oh ya, namanya Miranda."
Gadis bernama Rahel tadi mengangguk. "Selamat datang di Star Book, Mbak Miranda!"
"Mas, sebentar deh, permisi dulu ya, Mbak...." Miranda menarik lengan Dewa untuk di ajaknya menyingkir sejenak. Sementara Dewa hanya pasrah sambil menahan senyumnya.
"Mas... Jadi? Toko buku besar ini milik Mas Dewa?" Miranda hampir tak percaya dengan hal itu.
Dewa mengangguk. "Alhamdulillah, di Jakarta saya memiliki cabang 5 Toko, Miranda. Di Semarang ada 2, Yogjakarta 2, dan di Surabaya ada 1. Mungkin rencananya saya akan menambah di daerah Bandung kalau sudah dapat tempat yang pas."
Miranda sampai mengaga tak percaya.
Tiba-tiba saja dibalik pintu masuk, seseorang tengah meremat tanganya kuat, melihat Dewa berbicara dengan Miranda sangat intens.
"Mas Dewa! Miranda!"
Suara bass penuh amarah di baliknya itu membuat Dewa maupun Miranda menoleh.
Setelah mencari sang Kakak kemana-mana karena belum minun obat, akhrinya Ezar menemukan Dewa di toko buku bersana Miranda.
Hati Ezar terasa panas melihat kedekatan itu.
"Dari beberapa pria yang kamu dapatkan, sekarang kamu akan memanfaatkan Mas Dewa yang sedang sakit? Kamu benar-benar keterlaluan, Miranda!" rahang Ezar sampai mengatup.