Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Dalam Pelukan Ketakutan
Tiga jam setelah mendengar kabar bahwa Mia kabur, Aisha masih belum bisa menenangkan diri. Ia sudah mengunci semua pintu dan jendela apartemen. Tirai ditarik rapat. Lampu-lampu dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur di kamar Baskara.
Baskara duduk di sofa ruang tamu dengan selimut melingkar di bahunya. Matanya mengantuk, tapi ia takut tidur. Setiap kali hendak memejamkan mata, ia teringat sosok Mia dengan linggis di tangannya.
“Bu, aku takut,” bisiknya untuk kesekian kalinya.
Aisha duduk di sampingnya, mengusap rambut Baskara pelan. “Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini. Pintu sudah dikunci. Polisi juga sudah tahu. Mereka akan menjaga kita.”
“Tapi Ayah nggak ada.”
Aisha menelan ludah. Arka memang tidak ada. Arka sedang ditahan di kantor polisi, menunggu proses penyelidikan lebih lanjut. Aisha sudah menelepon pengacara Arka, meminta agar Arka diberi perlindungan khusus. Tapi pengacara itu hanya bisa berjanji akan berusaha.
“Ayah akan segera pulang, Nak. Ayah hanya perlu bicara dengan polisi sebentar.”
“Ayah nggak jadi dipenjara, kan, Bu?”
Aisha memeluk Baskara. “Tidak, Nak. Ayah tidak jadi dipenjara. Ayah hanya membantu polisi.”
Baskara tidak sepenuhnya percaya, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya lebih lanjut. Matanya terpejam, napasnya mulai teratur. Dalam beberapa menit, ia tertidur di pangkuan Aisha.
Aisha membiarkannya tidur di sofa. Ia tidak tega memindahkan anak itu ke kamar. Setidaknya di ruang tamu, ia bisa melihat pintu utama dan jendela sekaligus.
Ia meraih ponselnya, membaca berita di media sosial. Belum ada laporan tentang Mia. Polisi sepertinya masih merahasiakan kaburnya tahanan untuk menghindari kepanikan publik.
Aisha membuka pesan dari nomor tidak dikenal yang terakhir. Pesan dari Mia. Ia membacanya berulang kali.
*“Kau pikir kau bisa selamat? Rumah sakit adalah tempat yang sempurna untuk mengakhiri semua ini. Aku akan datang, Aisha. Aku akan datang untuk Arka. Jika kau mencoba melindunginya, Baskara yang akan membayar.”*
Aisha menggigit bibir. Mia bilang ia akan datang untuk Arka. Tapi Arka ada di kantor polisi. Apakah Mia tahu? Apakah Mia akan nekat mendatangi kantor polisi?
Atau apakah Mia akan tetap datang ke apartemen ini, untuk mencari Aisha dan Baskara sebagai sandera?
Aisha tidak tahu. Yang ia tahu, ia tidak bisa tinggal diam.
Ia mengangkat ponselnya, menelepon polisi. “Halo, saya Aisha Prameswari, mantan istri Arka Dirgantara. Saya ingin meminta perlindungan untuk saya dan anak saya. Mia—pelarian itu—pernah mengancam akan menyakiti anak saya.”
“Ibu Aisha, kami sudah mengirimkan satu unit mobil patroli ke apartemen Ibu. Mereka akan tiba dalam lima belas menit. Tolong tunggu di dalam dan jangan buka pintu untuk siapa pun selain polisi.”
“Baik, terima kasih.”
Aisha menutup telepon. Ia menghela napas lega. Setidaknya polisi akan segera datang.
Tapi lega itu hanya bertahan sebentar.
Dari balik jendela, ia mendengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang pelan, sengaja diredam, tapi cukup jelas di malam yang sunyi.
Aisha meraih Baskara, membangunkannya dengan lembut. “Nak, bangun. Ibu mau pindahkan kamu ke kamar.”
Baskara mengerang pelan, matanya masih terpejam. Aisha menggendongnya, berjalan cepat menuju kamar tidur utama. Ia membaringkan Baskara di tempat tidur, menyelimutinya, lalu berbisik, “Diam di sini, Nak. Jangan bersuara. Ibu akan lihat siapa yang di luar.”
Baskara membuka mata, ketakutan. “Bu, jangan pergi.”
“Ibu tidak pergi, Nak. Ibu hanya lihat sebentar. Ibu janji akan kembali.”
Aisha menutup pintu kamar, menguncinya dari luar. Ia mengambil pisau dapur dari laci, menyelipkannya di saku celana. Tangannya gemetar, tapi ia berusaha tenang.
Ia berjalan ke jendela ruang tamu, mengintip melalui celah tirai. Di luar, di koridor apartemen, ia melihat bayangan sesosok wanita. Wanita itu berdiri di depan pintu apartemennya.
Mia.
Aisha mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Mia berdiri tepat di depan pintu. Tidak bergerak. Hanya berdiri, seperti patung.
Aisha meraih ponselnya, hendak menelepon polisi lagi. Tapi sebelum jarinya menekan tombol, pintu apartemen terbuka.
Mia masuk.
Aisha terbelalak. Pintu itu terkunci. Ia sendiri yang menguncinya. Bagaimana Mia bisa masuk?
“Kau lupa, Aisha? Aku dulu sering ke rumah ini ketika kau dan Arka masih bahagia. Aku tahu kode kunci pintunya. Arka tidak pernah mengganti kode itu.”
Mia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Matanya menatap Aisha dengan dingin. Tidak ada linggis di tangannya kali ini. Hanya sebuah pisau lipat kecil.
“Mia, polisi akan segera datang. Mereka sudah dalam perjalanan. Kau tidak akan bisa kabur.”
“Polisi? Mereka terlalu sibuk mencari aku di tempat lain. Mereka tidak tahu aku di sini.”
Mia melangkah mendekat. Aisha mundur, punggungnya menyentuh dinding.
“Apa yang kau inginkan, Mia?”
“Aku ingin Arka. Tapi dia tidak di sini. Jadi aku akan mengambil apa yang paling berharga baginya.”
“Baskara tidak bersalah!”
“Aku tahu. Tapi Arka tidak akan belajar jika aku tidak mengambil sesuatu yang berharga darinya. Dulu dia kehilangan aku karena diam. Sekarang dia akan kehilangan anaknya karena ketakutannya.”
Mia berjalan menuju kamar tidur. Aisha menghadangnya, membentangkan tangan.
“Kau harus lewati aku dulu.”
Mia tersenyum tipis. “Dengan senang hati.”
Mia melesat maju. Aisha sempat menghindar, tapi pisau di tangan Mia menyayat lengan kirinya. Darah merah segar mengucur. Aisha menjerit kesakitan, tapi ia tidak mundur.
Ia menendang perut Mia dengan sekuat tenaga. Wanita itu terhuyung, pisau terjatuh dari tangannya. Aisha mengambil pisau itu, melemparkannya ke sudut ruangan.
Mia tertawa. “Hebat, Aisha. Aku tidak menyangka kau sekuat ini.”
“Kau tidak mengenalku, Mia. Aku adalah wanita yang rela melakukan apa pun untuk anakku.”
Mia berdiri, matanya menyala. “Kita sama, Aisha. Aku juga rela melakukan apa pun untuk keadilan. Untuk balas dendam.”
Mia melompat ke arah Aisha. Mereka bergulat di lantai ruang tamu. Aisha lebih kecil, tapi ia berjuang dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Ia tidak akan membiarkan Mia masuk ke kamar Baskara.
Tapi Mia lebih kuat. Lebih berpengalaman dalam kekerasan. Ia berhasil membalikkan posisi, mencekik leher Aisha dengan kedua tangannya.
“Kau... tidak... akan... menang...” Aisha terbatuk, tangannya mencoba melepaskan cekikan Mia.
Dari dalam kamar, terdengar suara Baskara berteriak, “BU! BU, Ibu di mana?”
Mia tersenyum mendengar suara itu. “Anakmu memanggilmu, Aisha. Sayangnya, kau tidak bisa menolongnya.”
Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka lagi. Bukan Mia yang membuka, tapi seseorang yang lebih besar. Seseorang yang berlari masuk dan menerjang Mia hingga ia terlepas dari Aisha.
Arka.
Arka berdiri di atas Mia, napasnya terengah-engah. Wajahnya masih lebam, tangannya masih dibalut perban, tapi matanya penuh amarah.
“JANGAN SENTUH MEREKA!”
Mia terkejut. “Arka? Kau... kau bukannya ditahan?”
“Aku dibebaskan karena kau kabur. Polisi membutuhkan bantuanku untuk menangkapmu. Dan aku tahu kau akan ke sini.”
Arka meraih tangan Mia, membalikkan tubuhnya, dan menguncinya dengan kuncian polisi yang ia pelajari dari Tono. Mia meronta, berteriak, tapi tidak bisa lepas.
Beberapa detik kemudian, polisi masuk. Mereka segera mengamankan Mia, memborgol tangannya, dan membawanya keluar.
Mia menoleh pada Arka sebelum pintu tertutup. “Kau pikir ini selesai, Arka? Tidak akan pernah. Aku akan keluar suatu hari nanti. Dan aku akan kembali.”
Arka tidak menjawab. Ia hanya menatap Mia pergi, dengan mata yang penuh luka.
---
Setelah Mia dibawa pergi, Aisha berlari ke kamar Baskara. Anak itu menangis histeris, tubuhnya gemetar hebat. Aisha memeluknya erat-erat, menenangkannya dengan bisikan lembut.
“Ibu di sini, Nak. Ibu baik-baik saja. Tidak ada yang menyakiti Ibu.”
“Bu, aku dengar Ibu teriak. Aku takut Ibu mati.”
“Ibu tidak akan mati, Nak. Ibu janji. Ibu akan hidup lama untuk menjaga kamu.”
Baskara terisak di bahu Aisha, tangannya yang sehat memegangi baju ibunya seolah takut ibunya akan lenyap. Aisha membiarkan anak itu menangis, mengeluarkan semua ketakutan yang selama ini tertahan.
Arka masuk ke kamar, duduk di tepi tempat tidur. Ia menatap Aisha dan Baskara, matanya basah.
“Ayah,” Baskara melepaskan pelukan Aisha, meraih tangan Arka. “Ayah jangan pergi lagi. Aku takut Ayah nggak balik.”
Arka memeluk Baskara, mengecup rambutnya. “Ayah tidak akan pergi lagi, Nak. Ayah janji. Ayah sudah selesai dengan polisi. Ayah bebas.”
“Bebas? Jadi Ayah nggak dipenjara?”
“Tidak, Nak. Ayah hanya harus jadi saksi di pengadilan nanti. Tapi Ayah tidak ditahan.”
Baskara tersenyum, meski air matanya masih mengalir. “Syukurlah.”
Mereka bertiga berpelukan di kamar yang temaram, ditemani oleh suara sirene polisi yang menjauh di kejauhan. Rumah yang tadi mencekam, kini mulai terasa hangat kembali.
---
Setelah Baskara tertidur, Aisha dan Arka duduk di ruang tamu. Lengan Aisha sudah dibalut perban tipis—hanya luka sayatan kecil, tidak perlu jahitan. Arka memegang tangannya, memeriksa balutan itu dengan saksama.
“Kau berani sekali menghadapi Mia sendirian,” kata Arka.
“Aku tidak sendirian. Aku punya Baskara yang harus kulindungi.”
Arka mengangguk. “Kau ibu yang hebat, Aisha. Baskara beruntung memilikimu.”
Aisha tersenyum pahit. “Aku tidak hebat. Aku hanya berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah aku buat.”
“Bukankah itu yang membuat seseorang hebat? Bukan karena tidak pernah salah, tapi karena berusaha memperbaiki kesalahan?”
Aisha menatap Arka. Ada sesuatu di mata pria itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan cinta—mungkin itu sudah terlalu rumit untuk disebut cinta. Tapi rasa hormat. Penghargaan. Mungkin juga rasa terima kasih.
“Arka, setelah semua ini selesai... apa yang akan terjadi pada kita?”
Arka menghela napas. “Aku tidak tahu, Aisha. Aku masih perlu waktu. Luka kita masih terlalu dalam. Tapi... aku tidak ingin kehilanganmu sebagai ibu dari anakku. Aku ingin kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk Baskara. Mungkin itu dulu.”
Aisha mengangguk. “Itu sudah cukup. Aku juga tidak berharap lebih. Aku hanya ingin Baskara tumbuh dengan orang tua yang tidak saling membenci.”
“Kita tidak saling membenci, Aisha. Kita kecewa, kita sakit, tapi tidak benci.”
“Aku tahu. Dan itu sudah lebih dari yang bisa aku minta.”
Mereka terdiam, menatap langit malam dari balik jendela. Bintang-bintang mulai muncul, satu per satu, seperti lampu-lampu kecil di kejauhan.
---
Keesokan paginya, Aisha bangun dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada ketakutan yang mencekik, tidak ada kecemasan yang menggerogoti. Hanya ada kelelahan yang bercampur dengan lega.
Mia sudah ditahan lagi, kali ini dengan pengawasan yang lebih ketat. Arka sudah tidak dalam tahanan. Baskara sudah mulai tersenyum lagi, meski masih sering bertanya tentang Mia.
Aisha memasak sarapan di dapur apartemen Arka. Nasi goreng, telur mata sapi, dan jus jeruk. Menu favorit Baskara. Anak itu makan dengan lahap, meski lengannya masih digips.
“Bu, nasi gorengnya enak kayak dulu,” kata Baskara sambil menyuap.
“Ibu pakai resep yang sama. Ibu tidak pernah mengganti resep.”
Baskara tersenyum. Senyum yang lebar, yang dulu sering Aisha lihat sebelum semuanya hancur.
Arka bergabung di meja makan. Ia duduk di hadapan Aisha, mengambil sepiring nasi goreng.
“Terima kasih, Aisha,” katanya pelan.
“Sama-sama, Arka.”
Mereka makan bertiga di meja yang sama, di bawah atap yang sama, tanpa rasa takut yang mengintai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka terlihat seperti keluarga lagi.
Tentu saja, mereka bukan lagi keluarga yang utuh. Ada luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya. Ada kepercayaan yang mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu. Tapi setidaknya, mereka masih bisa duduk bersama, berbagi makanan, dan tersenyum.
Baskara menatap ayah dan ibunya bergantian. “Bu, Ayah, aku mau minta sesuatu.”
“Apa, Nak?” tanya Aisha.
“Aku mau kita liburan bareng. Kayak dulu. Ke pantai. Aku mau main pasir sama Ayah dan Ibu.”
Aisha menatap Arka. Arka mengangguk pelan.
“Iya, Nak. Nanti kita liburan. Tunggu tangan kamu sembuh dulu.”
Baskara tersenyum senang. Ia makan lebih lahap lagi, sesekali bercerita tentang teman-temannya di Surabaya, tentang sepeda barunya, tentang nenek yang ia rindukan.
Aisha mendengarkan dengan saksama, sesekali menimpali, sesekali tertawa. Arka juga ikut tertawa, meski matanya masih menyimpan luka.
Mereka bertiga adalah keluarga yang retak. Tapi retakan itu tidak lagi menganga. Perlahan, mulai tertambal.
---
Pukul sepuluh pagi, ponsel Aisha berdering. Pengacara Arka.
“Bu Aisha, ada kabar baik. Mia setuju untuk berdamai. Dia akan menjalani rehabilitasi psikologis dan tidak akan menuntut Bapak Arka. Asalkan Bapak Arka bersedia menjadi saksi untuk melaporkan keluarga angkatnya.”
Aisha menghela napas lega. “Itu kabar baik. Terima kasih.”
“Satu lagi, Bu. Mia minta maaf. Dia bilang dia tidak bermaksud menyakiti Baskara. Dia hanya sakit.”
“Aku tahu. Tolong sampaikan pada Mia bahwa aku memaafkannya.”
Panggilan berakhir. Aisha menatap Arka yang berdiri di balkon, memandangi langit Jakarta yang mulai cerah.
Mia akan dirawat. Mia akan mendapatkan keadilan. Dan Arka akan bebas.
Aisha berjalan ke balkon, berdiri di samping Arka.
“Semua akan baik-baik saja,” katanya.
Arka menoleh, tersenyum tipis. “Ya. Semua akan baik-baik saja.”
---
Di kamar, Baskara tertidur lagi setelah sarapan. Lengannya yang digips ia letakkan di atas bantal, wajahnya tenang tanpa rasa takut.
Aisha menatap anaknya dari pintu. Air matanya jatuh—bukan karena sedih, tapi karena lega.
Badai telah berlalu. Luka akan sembuh. Dan mereka, meski tidak lagi utuh, masih bisa tersenyum bersama.
---
Sore harinya, ketika Aisha sedang membereskan dapur, ponselnya berdering lagi. Nomor yang tidak ia kenali.
“Halo?”
“Aisha, ini Ren.”
Darah Aisha membeku. Ren. Pria yang memulai semuanya. Pria yang telah lama tidak ia dengar kabarnya.
“Apa yang kau inginkan, Ren?”
“Aku hanya ingin minta maaf. Aku tahu aku telah menghancurkan keluargamu. Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Tapi aku ingin kau tahu... aku menyesal. Aku benar-benar menyesal.”
Aisha terdiam. Kata-kata Ren mengalir, tapi ia tidak tahu apakah itu tulus.
“Ren, aku tidak bisa memaafkanmu sekarang. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku berterima kasih karena kau membantu polisi menemukan Arka dulu.”
“Aku hanya melakukan apa yang benar. Untuk pertama kalinya.”
“Itu sudah cukup. Jangan hubungi aku lagi.”
Aisha menutup telepon. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, berusaha menenangkan deburan di dadanya.
Ren minta maaf. Mungkin tulus, mungkin tidak. Tapi Aisha memilih untuk tidak peduli.
Ia sudah lelah menyimpan dendam. Ia sudah lelah menyalahkan orang lain. Yang ia ingin lakukan sekarang hanyalah fokus pada Baskara, pada masa depannya, pada kebahagiaan anak itu.
---
Malam harinya, ketika Baskara sudah tidur, Aisha berdiri di balkon apartemen. Udara Jakarta dingin, angin malam berhembus pelan.
Arka keluar, berdiri di sampingnya.
“Kau tidak tidur?”
“Aku tidak bisa. Masih banyak yang harus dipikirkan.”
“Seperti apa?”
“Seperti bagaimana aku akan membangun hidupku setelah semua ini. Seperti bagaimana aku akan menjadi ibu yang lebih baik untuk Baskara. Seperti bagaimana aku akan memaafkan diriku sendiri.”
Arka mengangguk. “Aku juga. Aku harus belajar memaafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi pada Mia.”
Mereka diam beberapa saat, menikmati malam yang sunyi.
“Aisha,” Arka memecah keheningan. “Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi. Tapi aku tahu, aku tidak ingin kehilanganmu sebagai teman. Baskara butuh kita berdua.”
Aisha tersenyum. “Aku juga. Kita bisa mulai dari awal. Bukan sebagai suami istri, tapi sebagai orang tua untuk Baskara.”
Arka mengulurkan tangannya. Aisha menjabatnya. Salaman itu sederhana, tapi penuh makna.
Mereka berdua berdiri di balkon, di bawah langit malam yang dipenuhi bintang. Masa lalu telah berlalu, luka masih tersisa, tapi masa depan terbentang di depan mereka.
Untuk pertama kalinya, Aisha tidak merasa takut.