“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Beni, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di dalam kamar rumahnya, Khale melamun sembari tangannya memainkan pena. Banyak sekali hal yang ia pikirkan seharian ini setelah acara launching tadi pagi. Salah satunya adalah wanita yang berhasil diingatnya. Helena. Mantan kuasa hukum Syafira saat gugatan kala itu.
“Aku tidak tahu dari mana kamu mengenal Helena dan timnya, Syaf. Rasanya kamu tak pernah punya kenalan pengacara sehebat mereka. Apakah dari Putra? Apa itu artinya kamu mengenal Putra sejak lama? Apa benar kamu meninggalkanku juga demi dia?” pikiran-pikiran itu seakan tak sanggup ia pikirkan sendirian.
“Ah!” teriak Khale menggenggam tangannya dan memukulkannya di meja. “Dengan kamu meminta Helena membohongiku atas tempat tinggalmu yang baru di luar kota, seakan itu semua sudah kalian rencanakan agar aku fokus mencarimu di sana. Ternyata, selama ini kamu di Jakarta! Setega itu kah kamu, Syaf? Jahatnya lagi kamu membawa anak-anakku!”
“Bisa jadi begitu, Khal.” Karina tiba-tiba masuk ke dalam kamar Khale seolah sedari tadi menguping, membuat ayah kembar itu merasa terganggu dan tak nyaman.
Sebelum pria di hadapannya itu marah, Karina memohon agar sebentar saja ia diizinkan berada di dalam kamar itu. Meletakkan kedua tangannya di atas kedua bahu Khale, Karina memosisikan tubuhnya setengah memeluk. Ia lalu membisikkan sesuatu. “Apalagi Putra memiliki banyak bisnis, mungkin Syafira tertarik namanya tercatat sebagai salah satu pemilik usahanya. Sekarang mungkin hanya kepala cabang, besok bisa saja cabang baru itu sudah atas namanya.”
Dengan lembut Karina memeluknya seolah ingin memberikan kehangatan dan kenyamanan. Namun hanya dalam hitungan detik Khale melepaskan pelukan sang mantan. Nuraninya masih belum bisa mempercayai asumsi mereka seandainya benar.
“Dari mana kamu tahu Syafira jadi kepala cabang?” pertanyaan Khale membuat Karina cukup gelagapan.
“A-aku tahu dari berita kantor Putra. Jaman sekarang hal itu bisa dicari. Aku juga bisa mencari apa saja bisnis seorang Putra Aryo Widjaja,” jawab Karina berusaha tenang.
Terdiam, Khale mematung.
“Kenapa kamu tak tunjukkan saja kalau kamu bisa bangkit dari pengkhianatannya dengan kita menikah dan hidup bahagia, dengan kamu tak lagi mencarinya juga anak-anakmu. Apa kamu masih bisa berpikir positif bahwa anak kembar itu adalah anakmu? Tak ada yang tahu bisa saja mereka anak Putra.” Karina kembali memeluk pria di hadapannya itu bahkan dengan lembut dan penuh gairah menciumnya.
Ciuman itu bahkan tak mendapat penolakan dari Khale.
“Apa kamu tak lelah berpuasa selama bertahun-tahun?” Karina mendorong tubuh mantan suami Syafira itu hingga terjatuh di atas kasur.
***
“Apakah dengan ini kamu masih tidak percaya mereka sudah menikah? Orang-orangku yang mencari tahunya.” Putra menyodorkan beberapa foto kebersamaan dan kemesraan Khale dan Karina, termasuk foto yang diambil dari luar jendela kamar saat mereka berduaan dalam satu ranjang.
“Dia bahkan sudah lama mengganti sosokmu di kamar kalian dulu, dengan wanita lain. Syaf, Khale hanya ingin membawa kembar darimu. Dia akan dengan mudah memindahkan hak asuh kembar darimu jika kamu hanya seorang single parent,” lanjut Putra.
Tak menjawabnya, Syafira terduduk lesu dan membisu. Sungguh ia tak ingin lagi mengetahui kabar mantan suaminya saat ini. Hal itu akan semakin menyayat hatinya.
“Om Bos!!!” panggil kembar pada Putra memecah keheningan pembicaraan kedua orang dewasa ini.
Berjongkok, Putra menyapa kembar begitu ceria. “Bagaimana rumah barunya? Lebih suka di sini apa di rumah yang lama? Bagaimana sekolahnya? Lebih suka sekolah di sekolah yang baru apa yang lama? Ah, lama sekali Om Bos tidak mendengar cerita kalian dan bermain bersama.”
Mengucapkan terima kasihnya, kembar merasa rumah dan sekolah baru mereka begitu menyenangkan dan terasa lebih baik dari yang lama. Mereka juga mengajak Putra untuk bermain di playground setelah sekian lama tidak pernah sama sekali. Bak sedang merayu, Khayra memasang wajah sedihnya.
Dengan semangat Putra membalas rayuan bocah cantik itu dengan mengajak mereka ke mall. “Sekarang ganti baju dan cepat lari ke mobiiilll.”
Berlari kegirangan, Khayra buru-buru menuju kamarnya untuk berganti baju, sementara Khanza masih berdiri mematung.
“Khanza tidak mau main?” tanya Putra kembali menjongkokan badannya.
“Sekolah baru memang bagus, tapi Khanza rindu sekolah yang lama. Khanza juga sudah lama tidak bertemu om itu,” ujar anak lelaki Syafira sendu.
Syafira yang masih berdiam tanpa reaksi, seketika menoleh ke arah anak tampannya itu saat menyebut om, yang ia ketahui tak lain pasti adalah Khale.
“Om itu orang asing, buat apa Khanza mau ketemu dia? Bisa jadi dia orang jahat,” sahut Syafira ketus dengan pandangan nanar.
Hanya menunduk, Khanza tak berucap lagi.
Sementara itu, di seberang jalan rumah Syafira, sebuah mobil tampak berhenti seperti sedang mengamati.
“Aku sengaja mencari tahu di mana rumah mantan istrimu itu setelah kamu mengatakan dia masih di Jakarta. Akhirnya aku tahu di mana dia tinggal, karena aku tak terlihat seperti sedang mengikutinya, tidak seperti anak buahmu yang tak becus itu,” ujar Karina yang kini sedang duduk di sebelah kursi kemudi, menoleh ke arah Putra.
Dari dalam mobil, dengan iri dan sesak Khale melihat Syafira keluar rumah bersama Putra yang tampak menggendong Khayra.
“Kalau kamu memang lebih pintar mengikuti, sekarang carikan aku informasi keberadaan sekolah kembar,” tutur Khale pelan.
Menelan salivanya kasar, Karina tak menyangka Khale malah memintanya mencari informasi sekolah kembar, padahal yang ia harapkan adalah Khale mau move on setelah melihat sendiri bahwa Syafira dan Putra berada di rumah yang sama.
***
“Aku tidak nyaman jika harus ada 2 bodyguard di depan ruangan kerjaku. Lagi pula, di bawah sudah ada 2 satpam. Aku tidak terlalu suka dengan keketatan ini, membuatku sulit fokus bekerja.” Syafira mengutarakan keresahannya karena Putra menjaganya begitu ketat.
“Cukup kembar saja yang kamu jaga, aku tidak perlu sebegininya. Aku sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku sendiri,” imbuhnya.
Menghela nafas perlahan, Putra menolak permintaan Syafira karena baginya, Khale bisa saja menemui Syafira dan nekat berbuat macam-macam demi merebut hak asuh kembar.
“Bagaimana pun aku masih pimpinanmu, Syaf. Kalau kamu tidak suka, kamu boleh mengundurkan diri, karena hanya ini posisi yang bisa kamu isi,” tutur Putra tegas.
Menaikkan alis kirinya, Syafira merasa Putra banyak berubah, dulu pria itu bahkan selalu menahannya untuk resign.
Mungkin bisa saja ia mundur dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan baru, tapi ia tahu tak akan semudah itu. Dulu saja ia diterima kerja karena bantuan Helena yang merupakan rekanan Putra. Namun, kalau harus resign dan tak segera dapat pekerjaan baru, ia takut tak bisa memenuhi kebutuhan kembar di masa mendatang, meski saat ini biaya sekolah kembar masih ditanggung oleh Putra.
Putra memandangi raut wajah Syafira yang tengah galau dengan senyum kemenangan.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh