Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lahirnya Sang Pewaris
Bulan-bulan berlalu setelah insiden memalukan di mal itu.
Zevanya tetap menjalankan rutinitasnya dengan hati yang jauh lebih berat.
Bayang-bayang wajah Arkananta Mahendra dan aroma maskulin yang sama persis dengan pria mabuk di hotel beberapa bulan lalu terus menghantuinya.
Namun, kehadiran Clarissa di sisi pria itu menjadi pengingat pahit bahwa mereka berada di dunia yang berbeda.
Kini, usia kandungannya telah menginjak enam bulan.
Perutnya semakin membuncit, membuat langkahnya kian melambat.
Zevanya tahu, ia tidak bisa lagi memaksakan diri.
Zevanya berdiri di depan cermin kecil di ruang staf, mengusap perutnya dengan lembut.
"Ibu harus kuat, Nak,"ucap zevanya.
Ia melangkah menuju ruangan Pak Danu.
"Pak, saya ingin mengajukan cuti panjang mulai besok. Kandungan saya sudah semakin besar, dan saya rasa sulit untuk terus berada di balik meja kasir."
Pak Danu mengangguk maklum. "Baiklah, Zevanya. Jaga kesehatanmu dan calon bayimu. Kamu sudah bekerja keras selama ini."
Setelah keluar dari ruangan itu, Zevanya duduk di kursi taman mal untuk terakhir kalinya.
Pikirannya melayang pada sosok Arkan.
“Pria itu... Arkananta Mahendra,” batin Zevanya.
“Aromanya, namanya, bahkan tatapan matanya... semuanya terlalu identik untuk disebut kebetulan yang sama.
Malam itu, ciri ciri pria yang meniduriku di hotel dalam keadaan mabuk semuanya ada di dia. Aku yakin, dialah ayah dari bayi yang kukandung ini.”
Zevanya memejamkan mata, membiarkan air mata tipis menggenang.
“Tapi untuk apa aku mengaku? Dia adalah pewaris takhta Mahendra Group, dan dia sudah memiliki calon istri dari keluarga Wijaya yang terpandang. Apa gunanya aku muncul dan belum tentu dia mengingat kejadian itu?”
Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya.
“Biarlah rahasia ini terkubur bersamaku. Malam kelam itu adalah kesalahanku juga. Aku akan menanggung anak ini sendirian.
Dia tidak butuh ayah yang tidak pernah menginginkannya. Biarlah Mahendra tetap dengan dunianya, dan aku dengan duniaku yang sederhana ini.”
Zevanya berdiri, meninggalkan mal itu dengan langkah pasti.
Ia tidak akan pernah melewati gedung mahendra lagi tempat yang bisa mempertemukannya dengan Arkan.
meski zevanya yakin dia adalah ayah dari bayi yang di kandungnya.
Baginya, Arkan hanyalah masa lalu yang harus ia lupakan.
Tiga bulan kemudian, di sebuah malam yang mencekam.
Langit seolah ikut merasakan perjuangan yang akan dihadapi Zevanya.
Hujan deras mengguyur atap seng kontrakannya,
menciptakan simfoni bising yang menemani rintihan kesakitannya.
Zevanya mencengkeram pinggiran tempat tidur kayu yang berderit.
Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya,
menyatu dengan air mata yang sesekali turun. Rasa sakit itu datang semakin sering,
seperti gelombang yang menghantam perut bawahnya tanpa ampun.
"Sakit... Nak, sebentar lagi ya... Ibu harus kuat," bisik Zevanya kesakitan.
Ia melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 02.00 malam.
Tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada sebuah tas kecil berisi perlengkapan bayi yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari di sudut ruangan.
Uang tabungan hasil jerih payahnya sebagai kasir dan pelayan hotel tersimpan rapi di dalam laci,
siap untuk membayar biaya persalinannya.
Dengan tenaga yang tersisa, Zevanya menyeret langkahnya keluar rumah.
Ia membungkus tubuhnya dengan jaket tebal, berusaha menembus hujan untuk mencari taksi atau ojek di mulut gang.
Namun, jalanan sepi. Hanya suara petir yang sesekali menggelegar.
Tepat saat ia sampai di bawah lampu jalan yang remang-remang,
rasa sakit itu memuncak. Zevanya jatuh terduduk di aspal yang dingin.
Air ketubannya pecah, menyatu dengan air hujan yang mengalir.
"Tolong... siapa pun... tolong saya..." rintih zevanya.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪